27 September 2011

#8 Kediri (Bag 3): Banser, Algojo-Algojo Yang Dikirim Tuhan

30 Agustus 2011 | Gelaran Buku Jambu, Kediri | Km 302 | Pkl 20.35

Gelaran Buku Jambu Kediri ternyata menyimpan sebuah buku kecil karya Hairus Salim HS berjudul “Kelompok Paramiliter NU”. Sebuah buku yang mengulik sejarah lahirnya Banser (Barisan Ansor Serbaguna), dan terutama sekali aksi-aksi fisiknya saat menggelar pembunuhan besar-besaran atas kader dan simpatisan PKI di Kediri.

1 Syawal di bulan September. Saat silaturahmi dengan keluarga Plemahan Kediri rampung, saya bergegas ke Gelaran Jambu. Sebuah perpustakaan komunitas—satu-satunya di Kampung Jambu, Kecamatan Kayen Kidul (sebelumnya masuk dalam Kecamatan Pagu). Letaknya berhadapan dengan masjid. Di komunitas inilah pelbagai kegiatan literasi dalam kampung dihidupkan. Pelatihan menulis sastra, membaca bersama, dan bahkan kegiatan kesenian dihelat di komunitas yang bersekutu dengan sebuah madrasah yang hanya seteriakan jauhnya.

Awalnya saya hanya menumpang mengetik catatan-catatan mudik yang terserak di sepanjang perjalanan sebelumnya dan juga mencari buku sejarah yang ditulis Hermawan Sulistyo (2000) untuk mengonfirmasi ingatan saya sewaktu di Alun-Alun Kota. Saat itulah saya tak sengaja menjumpai buku kecil berwarna hitam yang ditulis Hairus Salim HS berjudul “Kelompok Paramiliter NU”

Buku yang diterbitkan LKiS pada 2004 ini seperti buku yang menyerahkan dirinya tepat saat dibutuhkan. Betapa tidak buku hasil riset untuk kebutuhan tesis Hairus Salim di Jurusan Antropologi UGM ini memberikan uraian bagaimana Banser/Ansor NU lahir dan tumbuh di gelanggang sejarah, terutama hubungannya dengan konflik paling keras dengan PKI.

Ketika Hermawan Sulistyo membabar secara mengesankan bahwa Banser/Ansor adalah algojo terdepan dalam pembantaian kader dan simpatisan PKI, maka Hairus Salim memberikan gambaran yang cukup utuh bagaimana kiprah Banser/Ansor ini. 

Buku ini boleh disebut sebagai “buku putih” Banser/NU bersampul hitam dengan ilustrasi karikatur seseorang berperut gendut berseragam umumnya militer dengan jari tangan kiri mengepit sebatang kretek. Sosok itu duduk bersama seorang lagi yang berseragam seperti penabuh drum band.

Dari ilustrasi itu saja, tampak bahwa Banser/Ansor terbayang mirip-mirip militer. Mirip tapi sesungguhnya tidak. Yang paling gamblang saja, sebagaimana tergambar di karikatur itu, mana mungkin militer yang aktif berbadan tambun seperti ini. Sebab umumnya serdadu bertubuh atletis untuk mendukung tugas-tugasnya di lapangan yang membutuhkan gerak cepat dan tangkas.

Ilustrasi di sampul itu menggambarkan Banser/NU adalah paramiliter yang bersahaja. Bayangan bahwa mereka adalah kekuatan inti paramiliter dalam teater pembantaian di Jawa Timur nyaris tak ada. Termasuk di Kediri tentu saja.

Ciri yang kerap dilekatkan pada Banser/Ansor ini adalah tradisi kanuragan, jago silat, bahkan kebal senjata tajam. Seiring dengan waktu, ternyata “Banser tidak cukup hanya sekedar kebal, tidak bisa disebut Banser kalau hanya sekedar kebal, tapi Banser selain kebal juga harus profesional”. (h. 97)

Demikianlah, dengan “ilmu kebal dan profesional” itu, Banser/Ansor menjadi mesin pembunuh paling diandalkan oleh tentara menghadapi kekuatan PKI dan ormas-ormasnya yang linglung oleh informasi yang datang sepotong-sepotong dari peristiwa pembunuhan jenderal-jenderal di Jakarta pada 1 Oktober. Sebelum RPKAD datang, sebelum ada konfirmasi dukungan penuh dari serdadu diterima, Banser/Ansor tak bisa bergerak jauh selain menggertak lawannya dengan pawai massa.

Banser adalah lembaga semi-otonom dari Ansor, organisasi pemuda yang berafiliasi dengan NU (Nahdlatul Ulama). Ansor berdiri tahun 1930, empat tahun setelah pendirian NU. Pertama kali didirikan mereka menyandang nama Nahdlatus Syubban (Kebangkitan Pemuda), kemudian berubah menjadi Persatuan Pemuda Nahdlatul Ulama (PNU, 1931), dan berubah lagi menjadi Ansor Nahdlatul Ulama (ANU, 1931), dan terakhir Gerakan Pemuda Ansor (Pemuda Ansor, 1949) yang dipakai hingga kini. (h. 27)

Banser didirikan pada tahun 1962. Tujuannya secara formal adalah untuk memberikan pengamanan kegiatan-kegiatan partai NU dan perlindungan fisik kepada para pendukungnya. Kendati demikian, tujuan tersembunyinya adalah untuk menyiapkan konfrontasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). (h. 37)

Dari risetnya dari beberapa literatus Hairus Salim secara blak-blakan menyebut hubungan  yang intim antara Banser dengan militer. Ketika Jenderal Nasution meresmikan Badan Kerja Sama Pemuda Militer (BKPSM), Pemuda Ansor menjadi satu dari empat organisasi kepemudaan yang menandatangani ikrar jika negara memanggil karena situasi darurat perang.

Rupanya, tahun 1965 ditafsir tentara sebagai “darurat perang” yang dengan demikian Banser/Ansor terpanggil. Bukan hanya membantu militer, tapi berada di garis terdepan dalam “penyelamatan negara” atas “pemberontakan” yang dilakukan PKI, sebagaimana sebelumnya juga terjadi pada 1948 di Madiun.

Di titik ini, militer menangguk sukses besar memakai tangan Banser/Ansor membantai lawan politiknya paling kuat, yakni PKI. Di Kabupaten Kediri, Banser/Ansor dengan kecakapan “ilmu kebal dan profesional” menjadi algojo-algojo yang seakan mendapatkan dirinya sebagai utusan Tuhan menghancurkan bromocorah-bromocorah komunis yang mengganggu kiai yang menjadi patron hidup mereka dunia akhirat.

Sebelum melakukan operasi pembunuhan, mereka melakukan gemblengan dan khidzib, latihan ritual untuk mendapatkan kekebalan. Misalnya, dengan makan telur mentah yang ditulis kalimat suci dalam Bahasa Arab. Sebelumnya mereka berwudhu sebagai simbol penyucian spiritual. Selain ritual makan telur, di antara mereka menerima kemampuan spiritual (dan fisik) dengan menyerukan “Ya Allah… Ya Latief, … Ya Latief…” secara berulang-ulang. Ritual ini mereka lakukan di pesantren-pesantren yang dipimpin kiai-kiai makrifat, kiai-kiai yang sudah terkenal karena mencapai kebijaksanaan spiritual yang tinggi. (h. 100)

Prinsip Banser/Ansor di masa-masa “negara darurat perang” sederhana saja, sebagaimana posisi mereka sebagai sayap nonintelektual dalam organ pemuda NU, adalah “kepruk dulu, persoalan belakang”; atau “kalau menang mendapat kalungan bunga, kalau kalah mendapat tali gantungan”.

Secara dramatis, Hermawan Sulistyo menggambarkan macam-macam dan “aneh-aneh” perlakuan algojo-algojo muda Banser/Ansor dalam ritual penyembelihan kader dan simpatisan PKI. Jika setelah membunuh satu orang dan sang algojo muda merasa pusing dan mual diberikan tips oleh algojo yang sudah berpengalaman agar menjilati darah si komunis. Ritual jilat darah si manusia korban itu bertujuan pembebasan diri agar arwah orang-orang komunis tidak mengejar-ngejar.

Selain itu, ritual menjilati darah dipercaya memberi suntikan semangat untuk membantai korban berikutnya dan berikutnya. Untuk menunjukkan keberanian, warga yang berafiliasi politik ke PKI itu dipotong alat kelaminnya, kuping, atau jari-jarinya.

Sederet kekejian lainnya masih bisa dipanjang-panjangkan untuk memberi efek teror bahwa komunisme harus enyah dari bumi Kediri, walaupun di tanah ini kaum merah ini paling diminati kaum tani dalam “pesta demokrasi” 1955.

Tapi, baiklah, saya tutup dulu buku Hairus Salim “Kelompok Paramiliter NU” ini karena Gelaran Buku Jambu didatangi banyak tamu. Dan ketika saya menyinggung bahwa saya sedang menyusun catatan mudik tentang pembunuhan besar-besaran orang-orang PKI di Kediri, saya dijanjikan untuk “silaturahmi” keesokan harinya pada sekira tujuh rumah warga Desa Jambu yang “diambil” Banser/Ansor cum tentara dan tak pernah lagi kembali. Mereka wassalam selamanya.


* Seri catatan mudik #syawalitumerah
Post a Comment