Showing posts with label Biografi. Show all posts
Showing posts with label Biografi. Show all posts

30 July 2007

Pelacur Brontak!

::indrian koto

Kalau lagi kesal dan kepala lagi bekerja setegang begini, kelamin tidak bernafsu. Vagina mati rasa.

Aku yakin kau sudah membaca penggalan dari novel lelaki ini yang berjudul Jalan Sunyi Seorang Penulis yang sebelumnya berjudul Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta itu. Yup, dialah laki-laki yang konon darahnya halal engkau minum karena karyanya yang kontraversi itu. Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur dan Kabar Buruk dari Langit, itulah judul novelnya yang membuat dia ‘dihajar’ banyak pihak sekaligus melambungkan namanya.

Tidak, aku tidak akan bicara novel tersebut. Aku tak mau latah. Aku juga tidak akan bersoal tentang kebencian Taufik Ismail pada sastra Mazhab Selangkang (SMS) yang konon Muhidin M. Dahlan (nama penulis ini) termasuk di dalamnya. Sebuah karya sastra yang bercerita persoalan selangkang, birahi, dan wilayah ‘lendir’ lainnya sebagaimana Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, atau Binhad Nurrohmat.

Entahlah. Saya tidak tahu apa-apa. Saya bodoh kawan. Hei, jangan paksa saya berbicara perihal yang ‘mengerikan’ itu. No comment istilahnya.

Dia begitu ‘jauh’ rasanya. Ketika saya pertama kali berada di Yogyakarta tahun 2004, bukunya Pelacur-pelacur tadi sudah diributkan orang seiring dengan berkali-kalinya naik cetak. Novel itu salah satu dari sekian buku yang menjadi ‘teman wajibku’ setiap pagi dan sore hari di Rumahlebah. Saya harus membaca buku, setiap hari, sepanjang hari, mengejar banyak ketidaktahuanku pada dunia buku. Kau tahu, aku tinggal jauh di perkampungan terpencil, di mana orang-orangnya hidup nyaris tanpa buku bacaan. Tidak juga sebenarnya, ada Fredy S. Dan novel-novel sejenis bertebaran di mana-mana, yang dibaca bergiliran oleh kawan-kawan menjelang tidur di sudur kamar sambil berebut onani. Dan aku sudah lama bosan dengan bacaan ‘remeh’ semacam itu. Seperti film-filmnya Ineke Koesherawati, Sally Marcelina, setiap bab cerita berujung pada ‘kelamin’.

Bukan sok bijak. Aku sudah membaca eniaraw ketika kelas enam SD, jauh melampaui teman-teman seangkatan. Aku punya teman yang sepuluhtahunan lebih tua dariku yang hampir di setiap dompet mereka ada kartu remi bergambar orang setubuh. Aku menonton laser disk yang menayangkan gambar orang telanjang ketika duduk di bangku SLTP kelas satu akhir? Prestasi? Tentu saja, teman-teman seangkatanku mulai menontonnya lama setelah VCD player bertebaran di setiap rumah di kampungku, ketika aku sudah SMA.

Ah, aku sampai di mana? Ya, Muhidin M. Dahlan, tentang novelnya Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur. Seleraku aneh barangkali, ketika aku membaca keseluruhan cerita Nidah Kirani itu, aku merasa biasa-biasa saja. Tak ada birahi, tak ada nafsu atau sesuatu yang mengharuskan darahnya halal diminum. Aku berpikir, ini pasti memang cara bacaku yang buruk. Seburuk kabar dari langit, novel berikutnya dari Muhidin.

Bukan! Bukan karena aku tak lagi birahi karena bacaan dan film-film jorok tadi. Aku merasa Nidah Kirani berhak memperlakukan dirinya jadi apa. Aku tak menemukan geliat birahi, gerakan naik turun laki-laki di atas tubuhnya, keluar masuk, beradunya alat kelamin, kecipak airnya, lenguhan nikmat dan kata-kata jorok penuh birahi. Atau karena aku alpa halaman demi halaman yang kubaca. Sudahlah, kau tak usah bertanya ini lagi dan aku tidak akan berbicara sesuatu yang tidak kuketahui pasti.

* * *



Aku pertama kali melihat dirinya pada sebuah foto hitam-putih, sebuah photo close up yang sangat resmi di samping esai panjangnya yang dimuat di sebuah majalah kampus. Tulisan yang panjang dan rumit untuk saya waktu itu. Bukan, bukan lagi soal tulisan. Itulah pertama kali saya melihat sosoknya, sosok Muhidin M. Dahlan, lewat sebuah fotonya.

“Masa orang kayak begini diributkan? Tampangnya biasa aja tuh,” pikirku waktu itu dan kemudian mencoba melupakan dan menguburkannya dalam ingatanku. Masa bodoh dengan polemiknya di mana-mana, aku tak peduli soal darahnya yang kelak akan halal diminum. Toh segalanya ada resikonya kan? Dan dia memilih jalan itu.

Kau tahu, sejak itu dia mulai samar-samar dan menghilang dalam diri saya setelahnya. Dia sudah bolak-balik Yogya dan Jakarta, begitu cerita-cerita sepintas yang pernah kudengar. Dia sibuk di Rumah Bunga, kata yang lain. Tapi aku merasa masa bodoh, tak berniat sedikit pun ingin tahu apa itu rumah bunga. Bukannya aku merasa angkuh atau sombong, tapi bukankah seorang Muhidin begitu tenarnya saat itu? Dan apalah artinya seorang saya di matanya. Seorang bocah yang tak mengerti banyak hal, yang tak paham masalah penerbitan dan selangkangan.

Sampai kemudian bukunya yang entah keberapa terbit lagi, berjudul Adam Hawa aku sempat lagi membacanya. Soal kisah Adam dan Hawa. Memang agak keterlaluan fikirku. Tapi kemudian aku pikir haknya dia menulis buku yang kurus ini mau bicara apa saja. Bodoh amat. Tidak ada masalah buatku. Lalu aku berkata, “Berani sekali ini orang!” Sungguh, aku tidak tahu bicara dalam posisi apa. Benci? Apa urusanku dengan tulisan dia?

Kawanku Muchlis bercerita dia tinggal di Krapyak, dekat dengan Pondok Pesantren (Menulis) Hasyim Asy’ari yang lebih dikenal dengan Kutub yang waktu kukunjungi hampir tiap hari. “Kapan-kapan kau akan kuajak ke sana,” katanya.

Wah.. aku deg-degan. Sumpah jika bertemu dengannya. Tentulah wajahnya sangat menakutkan dnegan kulit legam, gemuk pendek dengan suara bariton. Tentu dia akan bicara satu-satu dan pendek-pendek saja mengingat dia penulis yang sedang banyak dibicarakan.

“Kapan-kapan ajalah...,” kataku mengelak.

Beberapa hari kemudian bukunya dibedah di Kutub. Karena di Kutub ini konon dia pernah pula berguru pada Gus Zainal Arifin Thoha “Dia tak datang, lagi di Jakarta (sombong sekali! pikir saya. Atau sibukkah dia?),” kata Ridwan teman saya yang sama-sama ikut membantu menjual bukunya di emperan kampus, ketika saya semester awal di perkuliahan. Ha, kau tahu aku kuliah sambil berjualan buku, kawan. Tapi itu dulu....

Setelah itu manusia ini hilang lagi. Lenyap begitu saja. Tak pula ada keinginanku untuk mengenalnya lagi karena dia orang sibuk, kawannya Pram dan bolak-balik Yogya-Jakarta. Gila....

* * * *



Siapa Berani Beli Cinta Dalam Karung? Sialan, novel Puthut EA yang rada konyol itu mengantarkan saya lagi pada orang ini. Dalam cerita itu tokoh-tokohnya nyata dan ada, dan si Muhidin termasuk salah satunya. Di sana diceritakan bagaimana dia meledek si Aku dan menantangnya menulis novel dalam beberapa waktu. Dia berani mempertaruhkan laptopnya. Gila... orang kaya juga dia... sampai akhirnya si Aku berhasil bikin novel dan si Muhidin dihadapkan pada kenyataan, menyerahkan laptopnya. Tapi dasar Puthut di novel itu baik hati, dia hanya menyuruh si Muhidin minum bir. Dan dia terpaksa meminumnya dengan sambil memejamkan mata dan diledek teman-temannya.

Kau bayangkan, dia terpaksa minum bir. Hanya bir, dan dia harus menelan bagai obat. Ah, bukankah orang ini menulis banyak soal selangkang, kenapa dengan minuman saja takut. Sebab aku ingat pesan Bang Aji “Perempuan mendekatkanmu pada minuman dan judi.” Nah... wah payah... ledekku.

Suatu hari kawanku bertanya, “Muhidin sudah mati ya?" aku kaget dan berkata inalillahi... O kenapa? “Kau baca aja novelnya. Kayaknya itu novel terakhirnya.” Aku lihat bukunya berjudul Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta. Masa dia mati? Barusan aku baca tulisannya di Media Indonesia tentang kisah seorang ngg.. sifi (kali) yang jatuh cinta pada seorang calon biarawati yang dimuat entah kapan.

Asu!! Makiku. Dia ternyata menipu dan kawanku tertipu. Dasar penulis. "Ini taktik agar bukunya laku," kataku kepada sang kawan. “Maksudmu?” tanyanya. “Dia sengaja bikin pengantar seperti ini agar pembaca percaya dia sudah mati dan orang-orang akan berebut membeli bukunya,” kataku dengan dongkol.

Setelah itu dia kembali hilang. Sampai kemudian Simbah AN Ismanto asu itu menceritakan soal dan pengalamannya di Jakarta dengan Muhidin aku makin penasaran dengan sosok ini. Kayak apa sih dia? Apalagi si Jejen keple itu berbuih-buih mengisahkan si Gus Muh (panggilan yang kemudian akrab dengannya, dan aku memanggil demikian) seolah tanpa ada endingnya. Wahh...!! soal buku dan kerja di Jakarta segala.

Suatu hari di tengah keinginan yang berlebihan bisa bertemu dan bersitatap dengan manusia ‘samar-samar’ ini (dia jarang ada di acara diskusi. Alasannya? Entahlah. Diskusi aku gak mau, sekilas itulah jawabannya dalam buku Jalan Sunyi Seorang Penulis tanpa memberi penjelasan apa-apa) tiba-tiba Ismanto (pake An, kawan) dan Ahmad Muchlish Amrin mengatakan Muhidin mau mengajak saya menggarap dongeng. Saya? Muhidin? Dongeng? Aduh, apa pula ini?

Soal garapan selesai. Tapi bertemu Muhidin? Aduh? Seperti apa ya orangnya? Sangarkah? Ganaskah? Tenangkah? Pendiam? Tak suka tersenyum dan tertawa apalagi berkata-kata? Jangan-jangan dia hanya main tunjuk dan berbahasa isyarat dengan tatapan mata jalang dan tentu aku tak akan berkutik lagi dengannya.

Asuuuuu!! Semuanya salah. Tidak kutemukan ketakutan itu sama sekali. Dan kau tahu, dia yang semula begitu samar, menakutkan, menjijikan, dan bukan urusan saya kini menjadi begitu penting. Tak tahu sebabnya. Tapi setidaknya dialah yang mengajarkan saya memperbaiki blog ini sehingga kau bisa membaca tulisan ini.

Dan Gus Muh, selamat jalan... semoga engkau sampai di rumah dengan selamat. Percayalah Dipa akan memaafkan keterlambatanmu malam ini. Sebuah tugas, engkau bisa beralasan, Oom koto yang ganteng itu minta waktu untuk mengajarkan, eh diajarkan memperbaiki templete blog.

26 June 2007

Pertemuan dengan Tuan Rushdie di (blog) Neraka

::m sulhanuddin, suara merdeka

Siapa perempuan pertama yang diciptakan tuhan sebagai pasangan Adam? Hawa? Bukan! Maia nama perempuan itu. Ia adalah perempuan pertama sebelum Hawa di Taman Eden. Ia perempuan yang cantik, molek, padat dan menggairahkan. Adam yang kalap termakan birahi akhirnya memerkosa Maia. Maia berontak, ia tak ingin takluk di bawah kekuasaan Adam. Ia ingin gaya bersetubuh perempuan di atas.

Gila, liar, begitulah sosok Muhidin M Dahlan, penulis novel “Adam dan Hawa” (2005). Dalam novel ini penulis mengisahkan awal penciptaan manusia dalam versi lain, yang tak pernah diceritakan di kitab suci manapun. Awal kejadian manusia itu dibangun dengan imajinasi yang nakal, mengusik dan tentu saja akan membuat berang sebagian orang. Bagaimana tidak, masak Adam diciptakan dari ketiak tuhan sebelah kanan!

Benar saja, tak lama setelah novel itu diterbitkan, penulis dihadiahi somasi oleh Majlis Mujahidin Indonesia (MMI). Muhidin dituduh telah meneror tuhan, menghina nabi muhammad, dan oleh karenanya dia harus minta maaf. Segenap sumpah serapah juga telah jauh hari dialamatkan kepadanya, ketika novelnya “Tuhan, Ijinkan Aku Menjadi Pelacur” (TIAMP) diterbitkan pada tahun 2003. Novel ini merupakan seri pertama dari trilogi “Adam dan Hawa” dan “Kabar Buruk dari Langit”.

TIAMP berkisah seorang muslim taat, berjilbab, yang hendak menjadi pelacur oleh karena kekecewaannya kepada tuhan. Terlebih setelah kehormatannya direnggut justru oleh ketua sebuah organisasi islam yang diharapkan akan memberinya pencerahan. Sedang “Kabar Buruk dari Langit” membongkar sejarah penyebaran agama Islam di Indonesia yang penuh intrik dan melibatkan pertumpahan darah antara golongan pemeluk islam syariat dan hakikat (penganut faham Wahdatul Wujud, manunggaling kawulo gusti).

Dalam sebuah diskusi bedah buku TIAMP di Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada (UGM), salah seorang pembicara dari Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menuduh Muhidin sebagai seorang marxis dengan kebencian kepada tuhan yang luar biasa. Muhidin disebutnya sebagai “Nabi Kegelapan” bahkan disumpahi masuk neraka dan murtad.

Siapakah Muhidin M Dahlan, benarkah tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepadanya itu?

Muhidin adalah seorang pendatang asal Sulawesi yang kini tinggal di kota pelajar Yogyakarta. Ia sempat kuliah di Jurusan Sejarah Peradaban Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga dan Teknik Pembangunan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Namun keduanya tak diselesaikan. Ia hanya mencicipi kuliah sampai semester tiga di UIN Sunan Kalijaga. Oleh rekan di kampusnya ia biasa disapa Gus Muh. Alumni Sekolah Teknik Mesin (STM) ini sebelumnya sangat awam dengan dunia sastra. Ia juga seorang muslim taat.

“Saya itu aktivis islam baik-baik. Dulu saya ingin sekali mendirikan negara islam. Tapi terbentur oleh wacana pluralisme Cak Nur dan 'komplotannya'. Jadilah saya urung niat. Saya pernah di PII, PMII, dan HMI MPO. Saya dapatkan di sana adalah perbenturan wacana keislaman yang plural: dari fundamentalisme ke sekularisme religius; dari kanan ke kiri. Dari wacana khilafah sampai sosialisme religius...” akunya.

Indrian Koto, penyair muda yang kini menjadi rekan karib Muhidin, menceritakan ihwal perkenalannya di blog dengan penulis yang memberikan kata pengantar dalam beberapa karya Pramoedya Ananta Toer itu. Waktu itu Koto masih duduk di semester awal di UIN. Sama seperti Muhidin, ia juga seorang pendatang di Jogja. Ia awam dengan kota ini. Kali pertama ia mengenal Muhidin dari sebuah foto close-up hitam-putih yang dipajang mendampingi esainya yang dimuat di sebuah majalah kampus.

“Masa orang kayak begini diributkan? Tampangnya biasa aja tuh,” pikirnya.

Selanjutnya, Koto diperkenalkan sosok Muhidin melalui sebuah cerpen Phutut EA yang salah satu tokohnya diduga Muhidin. Dalam cerpen itu diceritakan Muhidin diminta kawannya untuk meminum bir. Dia meminumnya sambil memejamkan mata. Tak urung, aksinya itu menuai ledekan dari teman-temannya.

“Kau bayangkan, dia terpaksa minum bir. Hanya bir, dan dia harus menelan bagai obat. Ah, bukankah orang ini menulis banyak soal selangkang, kenapa dengan minuman saja takut,” tulis Koto.

Begitulah Muhidin. Sosok yang terkesan liar itu, dalam kesehariannya ternyata tak se-"seram" dan se-"liar" seperti yang ditangkap oleh para pembaca dari beberapa karyanya yang kontroversial itu. Malah penolakan-penolakan atas karyanya di lain pihak justru melambungkan namanya. Novelnya TIAMP, per Maret 2007 telah dicetak ulang hingga 12 kali.

Tapi tak mudah Muhidin mencapai kesuksesannya ini. Ia harus melewati masa-masa sulit ketika novelnya itu menuai banyak kritik dari berbagai pihak. Ia harus bolak-balik Jogja-Jakarta. Ia menyiapkan tanggapan sejumlah kritik yang menyudutkannya. Bahkan, anda bisa membayangkan, betapa tegang dirinya, ketika dalam forum diskusi sebagian massa emosional, dan berteriak ingin membunuhnya!

“Menceritakan sisi lain dari dunia islam ini kan nggak mesti yang baik-baik saja, mentang-mentang dunia agama. Nah saya membidik dunia itu. Yang ngamuk-ngamuk itu, karena mereka tutup mata bahwa ada sisi lain dari jalan dakwah ini, ada negative film dari dunia yang seolah-olah 100 % suci dan benar ini,” terangnya.

Ide menulis Gus Muh datang dari mana saja. Novelnya TIAMP, seperti yang diakuinya, merupakan kisah nyata. Ini merupakan hasil wawancaranya dengan seorang teman yang aktif di organisasi pergerakan kampus, yang suatu kali ingin menjadi pelacur. Oleh karenanya novel ini dapat dirampungkannya dalam waktu yang relatif singkat. Satu minggu mentranskip hasil wawancara, seminggunya lagi menulis.

“Adam dan Hawa” lain lagi. Dia duduk setiap malam selama sepekan di depan Benteng Vredeburg Jogja sampai subuh, lalu menulis ulang kisah Adam yang tak terceritakan dalam Kitab Suci. Dengan hati berbunga-bunga dia menuliskannya, bahkan tertawa terbahak-bahak sendiri seperti orang gila di Malioboro. Untuk menangkap bentuk Pohon Quldi, dia melihat secara seksama pohon beringin di depan kraton itu.

Yang melelahkan adalah “Kabar Buruk dari Langit”. Penggarapan novel ini memakan waktu yang cukup lama jika dibanding dua novel sebelumnya. Tak hanya itu, ia harus mendaki Merapi. Untuk apa? Menulis!

“Nyaris tiap hari selama 10 bulanan menulis novel gemuk Kabar Buruk dari Langit. Tiap hari naik. Sendirian pakai tenda. Sesekali nginep. Tapi lebih banyak tidaknya. Kalau sudah nyaris tenggelam matari, baru turun. Ini penting karena butuh konsentrasi penuh. Novel ini tentang kesunyian,” kenangnya.

Kisah kontroversial Muhidin rupanya mengikuti jejak pendahulunya, Salman Rushdie. Penulis novel “Satanic Verses” (1988) ini sempat menghebohkan dunia islam. Dikisahkan, Jibril Farishta, salah seorang tokoh dalam novel itu, dalam sebuah mimpinya melihat tiga peristiwa penting berkait dengan Kenabian Muhammad dan Sejarah Arabiah, Keratuan Aisyah, dan Revolusi Khomeini. Dia menemukan malaikat Jibril dan Muhammad bergumul dalam ketelanjangan, berguling-guling di atas pasir putih dengan penuh nafsu. Karena keluguannya, Muhammad tidak tahu bahwa yang barusan bersamanya adalah setan yang menyamar. Dan telah membisikinya wahyu yang kemudian disebut Ayat-ayat Setan. Dan ayat-ayat ini yang didakwahkan Muhammad kepada umatnya.

“Keberanian (dan juga rasa nekad!) saya mengumpul dalam menuliskan sebagian manuskrip Kabar Buruk dari Langit dan Adam Hawa kala itu, tatkala bersamaan dengan usainya saya ‘ngaji’ kitab Tn Rushdie yang konon ‘berbahaya’ itu, The Satanic Verses,” tulisnya dalam blognya, akubuku.blogspot.com.

akubuku.blogspot.com disebutnya sebagai blog neraka. Berisi sehimpun ulasan atau komentar atas apa yang pernah ditulisnya dalam beberapa buku, baik fiksi maupun nonfiksi. Blog ini bukan hadir sebagai pembelaan atas karya-karyanya, tapi juga, di lain pihak dimuat ulasan-ulasan yang justru menyudutkannya. Baginya kritik harus dibalas dengan kritik, buku harus dijawab dengan buku. Tidak asal main tuduh apalagi dengan cara kekerasan.

“Ini bukan surga. Di sini, perkelahian selalu berlaku. Maka bertahanlah secara kreatif. Jangan merunduk. Kalaupun merunduk, janganlah terlalu terbenam. Kalaupun terbenam, janganlah terlalu lama...” pesannya kepada pembaca.

* Termuat di Harian Suara Merdeka, Semarang, edisi 10 April 2007 dan sekaligus di blog www.hanyaudin.blogspot.com

15 June 2007

"Saya adalah Nabi Kegelapan"

::edy zaques, pembelajar.com

Berani! Itulah kesan yang tertangkap pada sosok anak muda asal Sulawesi ini. Muhidin M. Dahlan, novelis yang lahir tahun 1978, ini telah mewarnai dunia sastra Indonesia dengan torehan pena yang tajam. Mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), ini memang telah gagal dalam menyelesaikan studinya di Universitas Negeri Yogyakarta dan IAIN Sunan Kalijaga. Namun, ia yang akrab dipanggil Gus Muh ini ternyata mampu berbicara melalui karya sastra.

Ia bahkan telah menggoresi hati sejumlah kalangan dengan beragam kesan. Betapa tidak? Penulis tak kurang dari tujuh novel ini sempat mengguncang dengan novel-novelnya seperti Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur (2003), Adam Hawa (2005), dan Kabar Buruk dari Langit (2005). Muhidin seperti membenarkan sinyalemen belakangan ini, bahwa telah muncul kembali cara-cara pemahaman dan penerjemahan nilai-nilai agama secara sempit atau sektarian.

Muhidin sendiri adalah “alumni” dari komunitas yang sangat membenci Pancasila dan menganggap membom gereja adalah sebuah prestasi. Tapi, ia berhasil memerdekakan diri dari belenggu indoktrinasi semacam itu. Berbekal kesadaran dan pencerahan yang diperolehnya, ia mulai melakukan otokritik. Namun, Muhidin tidak hendak menyatakan kritiknya itu dengan ramai-ramai demonstrasi di jalan. Ia memanfaatkan kekuatan dan ketajaman pena sebagai medium penggugah kesadaran dan penyebar daya otokritik. Muhidin menggugat dengan sastra, dengan tulisan, salah satu cara yang elegan dalam berpolemik.

Alhasil, dia bukan saja menerima komentar, sanggahan, atau kritikan, tapi juga memanen kecaman dan kutukan. Novelnya Adam dan Hawa telah membuat Majelis Mujahidin Indonesia gerah dan melayangkan somasi kepadanya. Lalu, di berbagai kesempatan bedah karyanya, Muhidin disumpahi dan dilaknat. Ia masih sedikit lebih beruntung ketimbang Ulil Abdala yang sempat dihadiahi fatwa hukuman mati oleh suatu kelompok muslim. Walau begitu, dalam sebuah diskusi karyanya Muhidin sempat dianugerahi gelar Nabi Kegelapan.Luar biasa!

Dengan segala kontroversinya, kehadiran Muhidin dengan karya-karya alternatifnya itu layak diapresiasi. Di tengah-tengah masyarakat yang lebih suka memaksakan “kaca buram” untuk melihat dan menilai diri sendiri, Muhidin membawakan semangkuk “air sastra” nan jernih yang bisa dipakai untuk berkaca dan mengkritisi diri. Berikut petikan wawancara Edy Zaqeus dari Pembelajar.com dengan Muhidin:

Anda dikenal sebagai salah satu penulis yang cukup berani “mengobok-obok” wilayah ketuhanan dalam novel-novel Anda. Mengapa mengambil posisi demikian?

Yang perlu ketahui awal-awal, saya dibesarkan di lingkungan masjid. Saya jadi takmir masjid beberapa tahun, dilatih berkhotbah, dan men-training anak-anak remaja untuk militan beragama. Dan, kalau bisa berprestasi membom gereja dan membenci Pancasila sedalam-dalamnya. Dan, pada satu titik balik, saya disadarkan bahwa apa yang saya lakukan adalah kebodohan diri saya sendiri yang memang tak kenal dunia luar. Tak kenal buku. Jogja telah memurtadkan saya atas semua apa yang saya panggul dari kemasalaluan saya, di kota udik Sulawesi sana.

Dalam beberapa karya Anda seperti Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur, Adam Hawa dan Kabar Buruk dari Langit, Anda berani sekali melakukan semacam otokritik dan pembongkaran terhadap kepalsuan-kepalsuan dalam kehidupan religiusitas. Apa tujuan Anda?

Ya, seperti saya bilang dari awal. Tujuan saya adalah mendialogkan kembali apa-apa yang berlalu, yang saya alami, dan apa-apa yang berada di hadapan saya. Terlalu naif bila ada orang bilang saya merusak nilai-nilai agama, mendidik anak-anak muda untuk berpaling dari agamanya yang besar ini. Saya ini siapa? Saya ini nggak ada apa-apanya dibanding para pengkhotbah agama itu. Muhidin itu siapa toh?

Anda tidak takut menghadapi reaksi kelompok-kelompok tertentu yang tidak setuju dengan pandangan-pandangan Anda tersebut?

Saya menganggap kelompok ini teman-teman saya. Sebab, saya juga punya hubungan ke mereka. Maklum, saya pernah bergiat di kelompok-kelompok pengajian dengan tarikan garis yang sama-sama militan. Tapi awalnya saya merinding juga ketika saudara-saudara seiman saya itu mencerca. Misalnya, sewaktu salah satu pembicara dari kelompok Hizbut Tahrir menyerang saya secara terus-menerus dalam bedah buku Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur! (TIAMP!) di Fakultas Hukum UGM. Sejak awal panitia sudah mentestimoni, bahwa diskusi akan panas. Sebab, beberapa hari sebelumnya sejumlah percetakan menolak mencetak pamflet diskusi buku itu. Dan benar saja, saya diserang dari samping dan depan. Hizbut Tahrir menuduh saya sebagai marxis dengan kebencian kepada agama yang aduhai... Saya adalah “nabi kegelapan”. Bahkan saya disumpahi masuk neraka dan murtad. Siapa yang nggak merinding dibilang murtad? Konsekuensi murtad itu berat lho! Mengikuti definisi salah satu intelektual Ikhwanul Muslimin, Yusuf Qardhawi, saya itu bila murtad akan diusir dari negara dan hak-hak saya dirampas paksa. Saya harus bercerai dengan istri saya, saya harus meninggalkan anak saya. Berat toh?! Dari peserta juga menyerang, membentak-bentak, dan suruh saya disembelih saja! Pusing saya menghadapinya. Bukan cuma itu, di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, saya dikeroyok oleh sekitar 1.500 peserta dan dikatai tukang fitnah yang kejam. Saya ini mereka tuduh telah mencemarkan kampus itu, yang mereka klaim sebagai latar cerita dan tokohnya kuliah di kampus itu. Dua kali saya disidang tim dosen untuk me-rechek soal kebenaran dalam buku itu. Setahun saya absen menulis gara-gara kasus buku ini. Setahun itu saya hanya sibuk menangkis serangan yang berulang-ulang dan itu-itu saja, ya di Jogja, Jakarta, Magelang, Malang, Jombang, Makassar, bahkan sampai Palu.

Lalu tentang Adam Hawa yang juga disomasi itu?

Ini yang tak terduga. Yang saya risaukan dan bikin saya deg-degan adalah nasib buku Kabar Buruk dari Langit, jangan-jangan diserang juga. Tapi tidak. Malah Adam Hawa yang kena jerat. Majelis Mujahiddin Indonesia yang memperkarakan novel itu dari resensi di Media Indonesia. Dan somasi itu bukan hanya kepada saya, tapi juga ke pemimpin redaksi Media Indonesia. Saya dituduh yang seram-seram, telah meneror Allah, menghina sejarah nabi, dan disuruh minta maaf. Siapa mau minta maaf? Enak saja mereka! Tapi nggak tahu kasusnya meredup gitu saja setelah kasus Lia Aminuddin membesar. Mungkin mereka sudah menangkap tokoh Taman Eden-nya di Jakarta Pusat, ha ha ha ha.

Pendapat Anda terkait ancaman hukuman mati terhadap Salman Rusdi, penulis novel Ayat-Ayat Setan atau kasus Ulil beberapa waktu lalu?

Ini soal kedewasaan beragama. Ini juga soal terlalu inferioritasnya umat Islam ini. Kalau memang agama ini kuat, masak hanya buku Rushdie dan ide nakal Ulil bisa luluh-lantak ini agama? Yang benar saja! Lemah betul ini agama kalau begitu... Bertandinglah yang fair. Jangan unjuk sana unjuk sini dengan menenteng pedang dan menggertak-gertak. Bantah dengan alat yang setimpal. Kalau Rushdie nulis buku, bantah dengan buku. Saya kira itu yang lebih dewasa. Tarunglah dengan buku, saudara...

Nilai-nilai apa yang sebenarnya Anda perjuangkan melalui novel-novel Anda selama ini?

Ingin menilai dan mengadili diri sendiri secara jujur dan terbuka. Bahwa, dalam tubuh umat Islam itu sendiri masalah bertumpuk-tumpuk dan boroknya juga banyak. Sejarah umat ini pun adalah sejarah yang dikobarkan dengan darah. Mengerikan sekali. Bahkan sisa-sisanya masih terlihat dengan banyaknya para penenteng pedang di pinggir-pinggir jalan.

Seberapa banyak penulis lokal yang memiliki pandangan atau visi perjuangan semacam itu?

Saya tak tahu persis. Tapi beberapa anak muda di NU dan Muhammadiyah juga gelisah dengan diri dan dalam perut organisasi yang selama ini melahirkan mereka. Dan ini sah-sah saja.

Dari sisi Anda sebagai seorang penulis, apa perbedaan utama di masa Orde Baru lalu dengan masa sekarang ini?

Kebebasan. Ya, kebebasan yang tiba-tiba saja datang membandang. Bahkan negara pun tak sanggup menahannya.

Dari sisi kebebasan berkarya, beraspirasi, dan beridiologi, apakah Anda melihat adanya tanda-tanda pergeseran otoritarianisme dari negara (vertikal) ke masyarakat (horisontal)?

Iya. Saya secara pribadi merasakannya bagaimana harus berhadapan langsung dengan masyarakat yang tiba-tiba lebih polisi dari polisi. Padahal, sejak kecil saya sudah takut lihat polisi, ha ha ha.... Tapi ini masih tataran wajar dalam sebuah masyarakat yang selama ini dikekang habis-habisan haknya untuk berpendapat. Ntar dewasa sendiri juga. Yang penting pemerintah harus kuat dan konsekuen dalam menegakkan hukum agar kepercayaan masyarakat ini kepada negara sebagai pelindung bisa pulih lagi.

Sekarang menyangkut proses kreatif. Faktor apa yang paling berpengaruh terhadap produktivitas menulis?

Ketegangan dalam diri sendiri. Kegelisahan yang mengambak-ngambak dalam pikiran. Semakin kuat keresahan itu, semakin mengalir tulisan itu. Lagi pula, saya nggak punya keterampilan lain selain menulis. Dan tentu saja bikin anak. Ha ha ha ha...

Dari mana ide-ide novel Anda datang?

Dari mana saja. Bahkan dari pertemuan tiba-tiba dengan seorang teman. Novel TIAMP! adalah novel yang jadi tatkala temanku yang berjilbaber pingin jadi pelacur. Lalu ia bercerita dengan sangat lancar seminggu lamanya di tiga kampus. Lalu saya tulis seminggu. Saya edit seminggu. Lalu jadi. Yang menguras tenaga banyak adalah Kabar Buruk dari Langit. Saya harus mendaki pundak Merapi. Di Kali Adem yang beberapa waktu lalu udah hangus itu, saya dirikan tenda kecil. Tiap hari begitu selama enam bulan, kecuali Minggu karena ramai,. Di sana saya mencatat kelebatan imajinasi dan juga catatan dari buku-buku sejarah tentang Islam Sufi di abad 17 di Indonesia. Novel Adam Hawa lebih ringan. Cukup saya duduk setiap malam selama sepekan di depan Benteng Vredeburg Jogja sampai subuh, lalu saya menulis ulang kisah Adam yang tak terceritakan dalam Kitab Suci. Dengan hati berbunga-bunga saya menuliskannya, bahkan tertawa terbahak-bahak sendiri seperti orang gila di Malioboro. Untuk menangkap bentuk Pohon Quldi, saya melihat secara seksama pohon beringin di depan kraton itu.

Anda termasuk cukup berani dan punya kekuatan dalam hal pemilihan judul-judul novel. Seberapa berpengaruhnya judul dalam sebuah novel?

Judul itu penting, tapi tak selamanya demikian. Ada juga judulnya biasa-biasa saja tapi menarik perhatian dan bahkan melegenda. Judul-judul buku Pram biasa-biasa saja, bukan? Tapi perbedaan karakter dan pengalaman setiap penulis menjadi pembeda bagaimana mereka menorehkan judul.

Anda percaya anggapan bahwa judul yang menohok atau kontroversial pasti menarik perhatian pembaca?

Bagi saya pribadi, judul-judul memukul dan mematikan yang demikian, seperti sudah sangat akrab dan mungkin menjadi karakter karya-karya saya. Bahkan dalam menuliskan esai sekalipun. Entah sebuah judul menarik perhatian pembaca atau tidak, saya tak terlalu memikirkannya. Karena sebelum bangunan cerita jadi, saya sudah mengutak-atik judul. Sebab, judul itu yang menjadi pemandu saya dalam menuliskan isi cerita itu. Jadi bukan tor atau bagan karangan kayak di SMP-SMA itu lho, tapi judul. Nah, untuk bisa sampai ke tangan pembaca, biarlah penerbit punya urusan itu. Sebab bagi saya, menulis itu kerjaan penulis. Mereka disebut penulis kalau menulis. Benar kan, begitu? Soal bagaimana judul, kembalikan ke setiap penulis yang macam-macam karakternya itu.

Siapa atau karya-karya apa yang paling mempengaruhi Anda?

Pramoedya Ananta Toer. Dia master saya. Mas Edy, saya itu sampai 2001 satu masih menyimpan ketaksukaan yang akut pada sastra. Bayangkan, sebelum-belum itu saya tak suka sastra. Kasihan sekali. Itulah, karena di sekolah STM dan dalam kelompok organisasi yang saya masuki itu, sastra itu nggak disentuh sama sekali. Bacaan sehari-hari ya Quran dan buku-buku agama. Itu pun buku fiqih. Juga ideologi kebencian terhadap ideologi Pancasila. Jadi wajar kalau di kampus dulunya saya heran, kenapa ada orang masuk jurusan sastra Indonesia? Memalukan sekali saya itu. Tapi Pram menyelamatkan saya dari kebencian barbar itu. Walau saya berbeda sama sekali dengan tema-tema yang dipilih Pram, tapi spirit menulisnya yang gigih dan tak kenal lelah menjadi pendorong untuk menulis cerita. Dan saya tahu, karya-karya saya nggak bagus. Tapi Pram menasehati, tulis terus apa yang kamu alami, jangan takut dikritik, lama-lama mereka juga akan melirikmu. Makanya, ketika master itu meninggal, saya dan beberapa kawan persembahkan sebuah buletin edisi khusus untuk Pram. Pengantar keberangkatan kepada seorang guru.

Dalam dunia kepenulisan, ada dikotomi klasik: penulis idealis dan penulis nonidealis alias pasar. Pendapat Anda?

Nggak ada! Dan saya tak percaya dengan dikotomis itu. Itu kerjaan kritikus. Dan itu hak mereka. Benar-benar saja. Kalau saya ditanya, ya semuanya saya perlakukan sama. Karya Akmal Basral yang intelektuil sama saja derajatnya dengan karya Fredy S yang sering membuat basah celana itu. Tinggal suka-suka pembaca memilih. Terkadang orang butuh kesegaran, maka mereka membaca yang ringan-ringan saja. Kan dunia ini tak harus dipenuhi oleh karya-karya Sutan Takdir Alisjahbana yang supraberat itu, tapi juga novel Motinggo Busye yang sering bikin jakun naik-turun, itu harus ada. Untuk keseimbangan anatomi tubuh. Masalahnya, produksilah sebanyak-banyak buku, sebanyak-banyaknya cerita. Jangan takut overload. Kita butuh sebanyak-banyaknya penulis.

Sebagai penulis, Anda meletakkan diri di “posisi” mana?

Ha ha ha, saya ini hanya, kalau boleh meminjam pendapat Emha Ainun Nadjib, penulis kelas slilit. Tahu slilit, kan? Itu lho, sampah kecil yang menyergap di sela-sela gigi. Di situlah posisi saya. Kecil, jelek, ampas, bau, tapi jelas sangat mengganggu kenyamanan Anda sebelum ia dilenyapkan. Bahkan, bisa membuat Anda sakit gigi. Tapi walau begitu, slilit bisa menghidupi ribuan orang lho. Lha, sampai-sampai ada industri tusuk gigi kan? Ini juga soal, kenapa tidak dinamakan tusuk slilit? Kan yang ditusuk slilit. Bahkan menyebutnya pun orang malu. Nah, Mas Edy, di situ itu posisi saya. Menyebutnya pun orang malu.

Definisi penulis yang sukses dan berarti menurut Anda?

Kalau saya membikin Anda sakit gigi beberapa hari....ha ha ha .... Akhir cerita saya jarang berakhir bahagia, seperti orang sakit gigi.

Ok, karya apa lagi yang sedang Anda siapkan?

Novel psikologi. Beberapa waktu lalu saya berjumpa seorang perempuan cantik, putri kiai di pesantren Bekasi yang sekarang kuliah di Ciputat. Saya sudah mewawancarainya di Bogor. Diam-diam dia berencana membunuh ibunya sendiri. Itu tema yang sedang saya garap sekarang. Semoga slilit yang ini tak membikin orang sakit gigi. Judulnya: Kalian Harus Tahu Kenapa Aku Membunuh Ibuku. [ez]

Sumber: http://www.pembelajar.com/wmview.php?ArtID=657&page=1 Diposting pada 18 Juli 2006 - 01:46 oleh: Editor (Edy Zaques).