Showing posts with label Mojok. Show all posts
Showing posts with label Mojok. Show all posts

25 October 2016

Zen RS: Keple von Karangmalang

Di antara puluhan ribu kader HMI MPO di seluruh Indonesia yang berusia di antara 20 hingga 40 tahun, barangkali Zen RS adalah penulis esai terbaik. Tanpa tanding!

Anda tak salah, Zen RS memang kader organ hi-hi (hijau-hitam) dalam pengertiannya yang sesungguh-sungguhnya. Ia adalah kader milenial. Memasuki gerbang perjuangan umat di awal tahun 2000 di Kampus Karangmalang a.k.a IKIP atawa Universitas Negeri Yogyakarta.

02 January 2016

Lima Teladan Retro untuk Resolusi 2016

Saya hampir tak dapat bagian untuk melakukan tabulasi soal apa yang keren dan bangsat di tahun 2015. Kronik peristiwa penting 2015 dan segala keperihannya sudah dibikin Kompas, Tempo, Kedaulatan Rakyat, Nova, Misteri, dan Kokok Dirgantara. Ketika semua sudah menampilkan yang terbaik yang mereka kuasai, saya tiba-tiba ingat kemampuan saya yang sampai saat ini masih saya miliki: menggali sumur masa lalu yang bisa sampai di bulan Januari 1900.

Untuk itu, izinkan saya memberi Anda bayangan resolusi di 2016 lewat cerita teladan sejumlah lelaki muda pemberani yang sialnya dilahirkan oleh sebuah kurun bernama “1915”.

24 November 2015

Wahai Khidir, Bimbinglah Yakusa HMI di Jalanmu!

Marilah memahami Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) secara jernih. Mungkin Anda menganggap bahwa HMI yang berdiri sejak 1947 (HMI47) itu sehimpunan mahasiswa rakus uang ketimbang dermawan, lebih suka pesta ketimbang zikir, jadi garong restoran ketimbang laskar shaum, produsen pemasok menteri penghuni lapas daripada pencetak penghuni surga, atau calon-tepat pembikin bangkrut BUMN macam Pelni ketimbang penggerak usaha dagang untuk anak-anak yatim dan mahasiswa tunaasmara.

Marilah memahami HMI sebagai himpunan dua bilangan: bilangan genap (MPO, dengan Ketua Umum Pertama: Kanda Eggy) dan himpunan bilangan prima (DPO, dengan Ketua Umum Pertama: Kanda Azhar).

Saya mengajak Anda semua memahami kembali dua watak HMI agar tidak tergelincir pada pandangan yang penuh syak-wasangka. Toh, seusai keduanya Kongres (MPO/Tangerang dan DPO/Pekanbaru), semuanya kembali baik-baik saja.

11 November 2015

Tak Ada Bung Tomo di Pertempuran 10 November

Pertempuran 10 November yang kemudian bertiwikrama menjadi “hari pahala-wan” adalah salah satu pertempuran paling mematikan dalam sejarah perang di Indonesia. Arek-arek Suroboyo bertempur habis-habisan untuk melawan sebuah ultimatum pendudukan setelah 84 hari kemerdekaan diproklamasikan secara hikmat di Jakarta Pusat.

Dan, Allahu Akbar, lahirlah sosok tokoh yang luar biasa jasanya dalam pertempuran paling mematikan itu. Namanya Sutomo. Dipanggil Bung Tomo, mungkin agar manusia pilihan jago nyangkem di mikrofon tidak melulu dimonopoli Bung-Yang-Satu-Itu; Bung yang ditegur Si Bung dari Surabaya ini pada akhir tahun 50-an karena mempraktikkan poligami di Istana Negara.

Mengherankan sebetulnya bagaimana nama Bung Tomo ini ujug-ujug jadi ikon utama pertempuran 10 November. Dalam prosesi penentuan 10 November dijadikan Hari Pahlawan, beberapa pemimpin inti laskar pemuda di depan Sukarno di Jakarta justru menihilkan siapa pahlawan utama dalam peristiwa yang menewaskan ratusan ribu orang dan melantakkan seluruh infrastruktur kota. Siapa gerangan si utama yang baik atau su-tomo itu, ya arek-arek Suroboyo secara keseluruhan.

02 October 2015

Jenderal Besar H.M. Soeharto: Syuramkan Nasib si Merongos!

Ya, Jenderal Besar H.M. Soeharto adalah pemimpin besar dalam operasi pembantaian massal kaum kominis 1965 di seantero Jawa dan Bali, yang sekaligus jadi jalan pembuka pelengseran si Macan Asia-Afrika. Jika Panglima Besar Sukarno menjadi penggali Pancasila, maka Jenderal Besar Soeharto lewat 1 Oktober memaklumkan dirinya menjadi penyuci Pancasila agar tetap sakti. Cuma itu saja? Tentu saja tidak.

Jenderal Besar H.M. Soeharto adalah juga pemimpin tertinggi militer dalam operasi pendudukan Timor Timur—yang kemudian jadi kerikil yang mengganggu diplomasi Indonesia di luar negeri. Ya, Jenderal Besar H.M. Soeharto tahu dan merestui serdadu-serdadu loyalnya menembaki preman-preman dalam operasi petrus, serta aksi penembakan di Tanjung Priok, dan Talangsari.

Anda bisa menganggukkan kepala seraya berkata ya, ya, ya, dan ya bila terus menderet segala macam peristiwa yang berurusan dengan intimidasi, pembunuhan, dan pembantaian,yang dilakukan secara sistematis dengan melibatkan lalar ijo dan aparatus birokrasi.

31 August 2015

Ki Hadjar Dewantara: Nakal Harus, Goblok Jangan

Dear Bung Hadjar,

Situ keren, Bung! Bikin sekolah Taman Siswa, tapi siswa-siswa kumunis boleh ikut belajar dan dapat ijazah resmi pula. Anak situ sendiri juga bebas memilih jadi wartawan amplop kanan atau kiri; dan Bung menerima dengan lapang dada saat akhirnya pilihan anak jatuh menjadi jurnalis kominis.

Situ bahkan dengan selo-nya nerjemahin lagu “Internasionale” yang na’udzubillah itu ke dalam bahasa Indonesia. Lebih kafah lagi, situ jadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pertama setelah Indonesia Merdeka. Dan kafah di atas kafah, eh, tanggal kelahiran Bung diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Enak betul di zaman Bung, tapi kami yang ngenes: kami peringati Bung tanpa mata pelajaran marxisme, tanpa palu arit, tanpa internasionale.

Tapi kan hari ini bukan Hari Pendidikan Nasional? Bung betul, ini memang bukan hardiknas, tapi masih di pekan Ultah Mojok, dan jarak antara hari pendidikan dan Hari Mojok hanya 118 hari jarak cinta.

17 August 2015

Kemerdekaan Indonesia Lahir dari Hoax

17 Agustus 1945 adalah tonggak Indonesia lahir sebagai negara. Beragam kisah heroik digambarkan—tepatnya diulang-ulang—di sana. Juga amanat-amanat upacara yang terus direproduksi tiap tahun yang menasehati kita agar hidup bersih, tertib, disiplin, teratur, hemat, dan pemberani.

Hidup berani sih bisa diterima. Tapi kalau disuruh teratur dan tertib untuk “mengenang arwah para pendahulu kita”, tunggu dulu. Karena kemerdekaan lahir tidak selalu segaris lurus dengan akhlak-akhlak terpuji seperti keteraturan dan ketertiban. Sebaliknya, kemerdekaan kita didapatkan dari keserampangan dan kesembronoan.

Teks proklamasi justru lahir dari kesembronoan. Teks yang panjangnya tak lebih dari status facebook generasi-nunduk itu dibikin tergesa-gesa seperti orang yang pupnya sudah “bukaan delapan” tapi tetap dipaksa duduk menyelesaikan satu kalimat lagi. Jadilah frase “dan lain-lain” alias itu kita terima sebagai “warisan adiluhung bangsa”.

19 July 2015

Berlebaran bersama Central Comite Partai Komunis Indonesia

ABAIKAN sejenak bahwa jelang Lebaran, La Ode Ida, senator berpengalaman dan cendekiawan Muslim asal Sulawesi Tenggara, memaki-maki kominis karena terusik berita entah siapa yang bikin tentang Presiden Yang Terhormat Jokowi bakal meminta maaf kepada keluarga PKI.

Lantaran kominis itu atheis. Karena atheis, maka keluarga Indonesia yang saleh-salehah akan terguncang dengan ritus pemaafan.

Abaikan juga bahwa, di tengah-tengah kaum muslim sedang khusyuk berpuasa, PSSI yang sedang terlunta-lunta rezeki legalitasnya ujug-ujug marah besar kepada pelatih Indra Sjafri karena mereka jatuh perbawa disejajarkan dengan kominis. PSSI sepertinya ingin bilang, wujud mereka lebih berlian ketimbang kominis terkutuk itu.

09 July 2015

Rokok Lebih Berbahaya daripada Nuklir

Salah satu jurusan perkuliahan keren—di kampus-kampus kebanggaan calon mertua anak bangsa macam ITB dan UGM—yang nasib mahasiswanya paling syuram adalah jurusan Teknik Nuklir. Sebetulnya mahasiswa Filsafat juga. Yang terakhir ini gak ada hubungan sama negara para filsuf, Yunani yang sedang berhikmat ke kiri dan menemukan kepala mereka dalam setahun terakhir dijitak ramai-ramai oleh ultras kapitalisma dan pasarisma di seantero benua biru.

Bayangkanlah kamu bernasib (terjebak) jadi mahasiswa Nuklir ini. Praktik keilmuanmu di lapangan selalu menjadi momok bagi masa depan manusia. Catat, (((MOMOK MASA DEPAN MANUSIA))).

Kuliah di mana mas? Nuklir. Jleb. Kemudian hening. Yang terbayang adalah kehancuran spesies. Hiroshima, Chernobyl, dan insiden-insiden kecil kebocoran tangki radiasi di Jepang adalah deret memori kekelaman. Mahasiswa Nuklir tiba-tiba menemukan diri mereka seperti jelmaan Syiwa. Mahasiswa nuklir tiba-tiba menemukan diri depan cermin kos tak ubahnya jelmaan malaikat Israfil si peniup sangkakala akhir peradaban.

30 June 2015

Menu Ramadan di Meja Makan Komunis

Komunis itu gak ber-Tuhan, kan? Kalau gak bertuhan, gak mungkin ikut puasa Ramadan dan pasti emoh dengan idul fitri.

Sabar. Jangan asal nyamber. Mesti tabayyun. Sebelum ke soal menu Ramadan dalam keluarga Kuminis, kita selesaikan dulu urusan habluminallah ini. Kalau ini gak selesai, sukar kamu saya ajak beranjak ke penganan puasa atau kue lebaran.

07 June 2015

Sukarno Si Perokok Baik

Bisa menangis itu koran-koran yang sudah menghabiskan berhalaman-halaman menerangkan tentang pemikiran dan sepak-terjang Sukarno, Pancasila, dan segala tetek-bengeknya di tanggal ulang tahunnya 6 Juni (1901-2015). Jurnalis dan penulis kolom-kolom itu makan teman ati saat tahu bahwa rakyat Presiden Joko Widodo lebih tertarik dengan antusiasme, yang masaolo warbyasa-nya, pada soal “kacangan”: di kota mana Sukarno lahir, Blitar atau Surabaya?

Ini mirip dengan soal yang juga tak habis-habis di dua kabupaten bertetangga di Jawa Timur: Gunung Kelud itu punya siapa, orang Blitar atau Kediri?

22 May 2015

Dua Prosedur Meredam Ayam Galak untuk Jokowi

Saya sangat khawatir ayam-ayam saya menggelar pemberontakan jika terus-menerus hidup dalam kurungan besi yang kukuh, rapat, dan sempit di sisi kiri rumah saya di Bantul. Saya ngeri sendiri membayangkan pemberontakan mereka sebagaimana serangkaian percobaan pembangkangan ayam-ayam betina pimpinan Nona Ginger dalam film animasi Chicken Run. (2000, Sutradara: Peter Lord dan Nick Park; dan melibatkan 360 nama kru).

Tapi saya bukan Tuan dan Nyonya Tweedy yang berprinsip: yang tak bertelur harus mati! Betul, saya kerap dilamun godaan untuk berubah menjadi jagal. Beberapa kali malah sudah saya lakukan. Tapi bukan demi telur, tapi untuk mengurangi kapasitas kandang yang terbatas dan demi peruntukan daging yang tak seberapa. Maklum, ayam-ayam saya itu jenis pesolek. Dagingnya sedikit, bulunya yang banyak. Dan saya bukan peternak bulu. Apalagi musang berbulu tangkis seperti karya instalasi Bambang Toko.

10 May 2015

Geger Keraton Yogyakarta

Di pekan pertama dan kedua #BulanPKI #BulanRevolusiMei, halaman muka Kedaulatan Rakyat (KR) selalu dihiasi berita kisruh dalam kamar-kamar Keraton Yogyakarta. "Hapus Gelar Khalifatullah: Sabdaraja Timbulkan Pro-Kontra", demikian KR naruh judul besar dengan foto utama Sang Raja dengan uniform agung.

Belum rampung narik napas, KR menyorongkan lagi judul besar lain ke muka pembacanya: "Arah Suksesi Sabdaraja, Raja Perempuan", dengan foto Presiden “Marhaen” RI Jokowi, Menteri Puan “Marhaen” Maharani, dan Menteri Rini yang sedang terkagum-kagum dengan angin di Pantai Samas—gak jauh dari Desa Mangiran yang legendaris sebagai desa pembangkang itu, dan tak jauh-jauh amat dari penjara si marhaen Tukijo Kulon Progo.

18 April 2015

Chelsea Islan Penyelamat Loper Koran

“Si Budi Kecil kuyup menggigil. Menahan dingin tanpa jas hujan. Di simpang jalan Tugu Pancoran. Tunggu pembeli jajakan koran” – Iwan Fals, Sore Tugu Pancoran (1985)

Ketika memberi sambutan untuk syukuran filmnya, Guru Bangsa Tjokroaminoto, di Studio 5 Empire XXI, Jl Solo, Yogyakarta, di akhir pidatonya yang secara keseluruhan layak quote tepuk tangan, Pak Garin Nugroho merasakan tenggorokannya tercekat. Beliau lalu memilih cepat-cepat melempar menyerahkan mik kepada kru.

11 April 2015

Air Mata Ibu Mega


“Voting itu bukan budaya kita, tetapi budaya Barat yang diimpor yang dibawa ke tempat kita” — Megawati Soekarnopoetri, Ketua Umum PDIP, 1999-2020.

Dengan berlinang airmata, Ibu Mega membuka Kongres PDIP IV di Bali yang dengan aklamasi memilih diri beliau menjadi Ketua Umum (lagi). Jika dunia belum kiamat pada 2020, insya Allah Ibu Mega, tetap anggun dan teduh di sana.

“Kini perhatian bangsa Indonesia tertuju ke Bali karena apa yang dihasilkan dalam kongres akan menjadi tonggak baru perjalanan perjuangan bangsa dan partai,” seru Ibu Mega di atas mimbar setelah mengucap Merdeka! Merdeka! Merdeka!

13 March 2015

Hello Kitty Halo Bantul

Setelah kasus pembunuhan “misterius” jurnalis Syarifudin alias Udin 18 tahun silam, tahun 2015 Bantul kembali menjadi penyumbang isu nasional dengan kasus tato “Hello Kitty”.

Sewon, tempat kejadian perkara, tentu tidak asing dengan tato. Maklumlah, tato adalah anak kandung seni. Dan sekolah seni legendaris itu, ISI namanya, pondasi gedung-gedungnya bercokol kuat di Sewon. Mahasiswa ISI tatoan dianggap biasa, lumrah. 

Namun bukan soal tato dari ISI yang menyumbang isu nasional. Hatta sudah berkali-kali seniman-seniman menyelenggarakan acara tatoan seperti Tattoo Merdeka di hari kemerdekaan, tahun lalu. Bukan pula tato yang merayapi seluruh jengkal kulit Bob Sick yang menaikkan hit Bantul 2015, melainkan tato unyu Hello Kitty yang menempel di kulit pemudi harapan bangsa yang masih berseragam putih abu-abu.

26 February 2015

Palu Arit Anindya Kusuma Putri

“Yang ia butuhkan syair kesejukan. Bukan hinaan dan cibiran. Buka matamu, inilah kenyataan. Buka hatimu, jangan hanya terdiam. Aku ada. Ada. Ada.” ~ God Bless, Syair untuk Sahabat.

Sebagaimana lirik God Bless, Anindya Kusuma Putri, Sang Putri Kita, saat-saat ini butuh syair kesejukan, bukan hinaan, apalagi airmata nasional. Sang Putri Kita mesti dikuatkan bahwa foto baju yang dipakainya bersablon palu-arit itu tak bersalah sama sekali. Anggap saja ini cobaan pertama dari popularitas yang sedang diraihnya dengan susah payah.

Ya, Sang Putri Kita jelas sosok populer saat ini. Tiga kali dalam sepekan ia menyabet gelar popularitas itu dari dunia daring.

Pada 20 Februari, pesta pemilihan Sang Putri Kita yang dihelat stasiun teleisi swasta menjadi tren topik di twitter berbarengan dengan tren kebrengsekan maskapai singa air yang tiada tandingannya dalam sejarah penerbangan di negeri bawah angin ini. Pada 21 Februari, kemenangan Sang Putri Kita masuk dalam 10 besar berita terpopuler online di portal-portal berita terkemuka di Indonesia.

Rehat 2 hari, Sang Putri Kita kembali masuk dalam berita terpopuler online. Bahkan, jadi terpopuler nomor satu, setelah foto Sang Putri Kita memakai kaos bersablon palu arit. Keterpopuleran senyum Sang Putri Kita bersama kaos ikoniknya itu beririsan dengan aura negativa Tony Abbott dan berita bakar begal di Pondok Aren.

16 February 2015

Kanda Eggi Sudjana yang Baik dan Benar

“Waspadai, bangkitnya gerakan neo-PKI, kita tidak boleh memberi kesempatan bagi mereka untuk kembali melukai keutuhan NKRI. Diberi sedikit kuasa saja, sudah pasti sadis. Sejarah mencatat, HMI, NU, Muhammadiyah dan TNI AD inilah yang menjadi musuh utama PKI.” – Kanda Eggi Sudjana, 2014

Bagi penonton program perkelahian politik di televisi, nama Kanda Dr. Eggi Sudjana, S.H, M.Si tentu tidak asing. Terutama bagi pencinta dan pembela Jokowi, nama Kanda Eggi Sudjana adalah hama yang direkomendasikan berada di saf depan yang layak mati disantap pestisida produksi revolusi hijau.

Bagi mereka yang berpikir pendek, nama Kanda Eggi gampang sekali digelincirkan jadi durjana. Penisbahan yang keterlaluan dan ahistoris. Kanda Eggi Sudjana itu kader terpilih di organisasi mahasiswa Islam dengan moto Yakusa. Yakusa adalah akronim, tapi dalam diri Kanda Eggi, Yakus(z)a mudah dijorokin artinya sebagaimana alamat yang melekat di kata itu; bajingan tengik yang ditakuti gengster kriminil.

04 February 2015

Tisu Basah Fredy S di Bareskrim Polri

Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un. Indonesia Raya kehilangan satu lagi pengarang berbakatnya: Bambang Eko Siswanto, atau lebih dikenal dengan nama pena Fredy S. Fredy pergi diam-diam dalam keriuhan jagat raya. Ia bahkan tak mengganggu linimasa media sosial yang biasanya jika ada penulis terkenal mangkat menjadi barisan parade panjang dengan membawa pamflet bertuliskan #RIP.

Fredy S memang tidak seperti Sitor Situmorang atau Pramoedya Ananta Toer yang kematiannya diabadikan media massa seantero negeri dan karya-karyanya bisa dibacakan berhari-hari. Fredy kalis dari semua itu. Bahkan katalog Perpustakaan Nasional Republik Nasional (PNRI) emoh merekam karyanya karena mungkin dianggap buku jorok; seberapa puluh pun judul yang ditulis Fredy.

28 January 2015

Ibu Megawati yang Konsisten sampai Pikun

“Untuk saat ini hanya Ibu Megawati yang kami yakini tetap tepat memimpin kami agar bisa solid.” ~ Rieke Diah Pitaloka, penulis dua buku puisi.

Konsistensi adalah sikap tetap sama dari awal sampai akhir. Lebih lengkapnya ini menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: kon.sis.ten (a) tetap (tidak berubah-ubah).

Pernyataan penyair dan sekaligus kader-tengah-jalan Rieke Diah Pitaloka yang saya kutipkan di atas adalah bukti konsistennya Ibu Mega. Bagi Ibu, menjadi Ketua Partai itu harus konsisten. Dari awal sampai akhir.

Ketika teman-teman seangkatannya sudah tinggal tenang duduk di beranda rumah sambil ngemong cucu, memelihara tanaman, memberi makan ikan lohan, beternak ayam ketawa, atau berlari-lari kecil tiap pagi di gang kecil, Ibu Mega tetap tegak di singgasana partai. Seperti Ratu Elizabeth yang anggun.