Showing posts with label Sosialisme Religius. Show all posts
Showing posts with label Sosialisme Religius. Show all posts

21 September 2000

Meretas Jalan Keempat

::nur zaini mr, ketua lbpm el-nasr yogyakarta

Kapitalisme, sosialisme, dan sosial demokratik cenderung menafikan aspek batin manusia karena digerakkan oleh materialisme. Bisakah sosialisme religius menajdi alternatif?

Ketika badai krisis melanda Asia, termasuk Indonesia sejak pertengahan 1997, menggugah ingatan kita akan kelicikan kapitalisme. Bagaimana pun duka nestapa yang melanda bangsa ini tak lepas dari ekses sistem kapitalisme global.


Sementara itu sosialisme yang menempatkan diri sebagai sistem yang berseberangan dengan kapitalisme tetap saja termangu dalam mimpi utopisnya. Adalah Anthony Giddens yang telah merentangkan “jalan ketiga” sebagai alternatif dari kapitalisme dan sosialisme. Ia memperkenalkan ideologi sosial demokratik. Dalam pandangan Giddens, masyarakat harus kembali pada ajaran sosial demokrasi untuk mewujudkan kesejahteraan sosial tanpa melihat terminologi “kanan” dan “kiri” secara ideologi.

Capaian apa pun dari ideologi kapitalisme, sosialisme, dan sosial demokrat ala Giddens, semuanya digerakkan oleh nafas materialisme. Dalam konteks inilah kritik Ali Syari’ati sangat pedas. Menurut Syaria’ati ideologi-ideologi itu menafikan aspek batin manusia. Karena manusia Cuma dianggap sebagai sekrup penggerak mesin industrial materialisme, yang bekerja mekanis tanpa kesadaran. Pada titik ini manusia telah kehilangan eksistensi kemanusiaannya.

Untuk mengentaskan manusia dari kehinaan eksistensial itu, buku Sosialisme Religius ini mencoba meretas jalan keempat, yakni dengan mentransformasikan nilai-nilai sosial agama dalam pentas sejarah manusia. Ini bukan berarti melakukan “ayatisasi” secara formalistik dengan lebih mementingkan bentuk ketimbang isi seperti ditampilkan kalangan agamawan fundamentalis. Bukan pula melakukan pola penyesuaian idiom-idiom agama dengan perubahan sosial dan konstelasi politik yang ada.

Paradigma sosialisme religius dibangun dengan tiga pilar utama. Pertama, gerakan sosial yang memperjuangkan tatanan struktural yang berkeadilan. Menurut Ziaul Haque, dengan memahami ajaran-ajaran sosial agama, agama (Islam) dapat dinyatakan sebagai elan yang snagat revolusioner karena selalu menghendaki transformasi struktural. Agama selalu berusaha merombak struktur-struktur ketakadilan yang terjadi dalam masyarakat. Pada konteks ini kita memerlukan apa yang disebut Kuntowijoyo dengan ilmu sosial profetik.

Kedua, gerakan humanistik yang menyapa sesama manusia atas dasar kemanusiaan, bukan primordialisme yang sempit. Gerakan ini juga merupakan gerakan kritik atas kecenderungan tirani rasionalitas dan fatalisme atas gerakan formalitas rituan. Lebih dari itu, gerakan ini selalu memilih dialog sebagai jalan penyelesaian masalah, bukan penggalangan massa untuk menghancurkan kelompok yang berbeda. Sebab arus terdasar perwujudan masyarakat madani adalah tersedainya mekanisme untuk menyelesaikan konflik lewat universum wacana yang padat argumen dalam relasi kesederajatan.

Ketiga, religiusitas, yaitu spirit agama yang dilandasi oleh semangat pembebasan dan humanistik, yang beribadah kepada Tuhan dengan cinta dan soliter. Kecintaan itu tak hanya termanifestasikan pada Tuhan, tapi yang terpenting, tersebar pada seluruh manusia. Mengutip M Iqbal, “Kesadaran ibadah pecinta tak hanya kehendak Ilahi, tetapi juga secara aktif berusaha memahami, mencerap, dan menyebarkan sifat-sifat (cinta) Tuhan dalam gelombang sejarah.”

Karya yang sangat menarik ini merupakan bunga rampai dari percikan intelektual generasi muda yang brilian, yang oleh editornya, Muhidin M Dahlan, ditata dengan menarik sehingga sistematis dan mudah dipahami.

Buku yang dihiasi dengan gambar bulan bintang dan palu arit ini, pada bagian pembukanya menyajikan paparan M Hatta yang mengeksplorasi kapitalisme, sosialisme, dana gama, yang disertai beberapa prediksi dan catatan kritis.

Bagian pertama mencoba merentangkan varian sosialisme dan konsistensinya,baik secara teoretis maupun faktual dalam pergulatan ideologi dunia. Misalnya, sepertiditulis Bonnie Setiawan, yang dengan cerdas mencoba membongkar bisul-bisul neoliberalisme yang disokong kapitalisme global, dan menawarkan paradigma alternatif dari gerakan kiri secara menawan. Semua gerakan kiri yang ada, apa pun bentuknya, bagi Bonnie merupakan tenaga-tenaga ekstra penyelamat bumi dari penghisapan kapitalisme.

Bagian kedua menyuguhkan paparan teoretis dan historis kemungkinan sosialisme religius menjadi jalan baru dari kebuntuan jalan yang ada, seperti sosialisme dan kapitalisme. Secara teoretis M Rhomzy melakukan eksperimentasi atas sosialisme, kapitalisme, sosial demokrasi, dan agama.

Bagian ketiga menampilkan pikiran-pikiran tokoh sosialisme religius seperti Hassan Hanafi, Asghar Ali Engineer, Syariati, Muammar Qadhafi. Tokoh-tokoh ini secara genuine mengelaborasi signifikansi dan pertautan positif antara sosialisme dan agama. Hanafi misalnya mendeklarasikan manifesto Kiri Islam yang oleh M Mustafied disajikan dengan cekatan. Senada dengan Hanafi, Asghar Ali menabuh genderang teologi pembebasan yang diulas Islah Gusmian dengan cermat.

Pada bagian akhir, Awalili Rizqi mencoba menata kembali agama dan sosialisme dalam formulasi yang proposrsional. Dengan optimistis Awalil menyatakan bahwaformulasi itu diharapkan bisa dipakai untuk membaca kenyataan sosial, ekonomi, budaya, dan politik.

Adanya gagasan sosialisme religius ini memang memberi harapan bagi umat beragama untuk mengapresiasikan ajaran agama dalam pentas sejarah. Tapi gagasan ini juga mengundang nada sumbang dan pesimisme dipihak lain. Sebab agama dipandang terlalu abstrak untuk menyelesaikan problem sosial,ekonomi, politik, dan budaya yang nyata.

Terlepas dari hal itu, gagasan ini dapat turut meramaikan diskursus intelektual yang mengusung terciptanya formulasi ideologis yang baik untuk mengentaskan bangsa dan negara dari jurang kehinaan.

::dimuat di majalah panji masyarakat, 20 september 2000

21 May 2000

Sosialisme Religius, Suatu Jalan Keempat

::gus muh

Inilah buku pertama yang saya buat sekira tahun 2000. Sebuah buku yang dilahirkan dari mentalitas maniak diskusi. Di tahun 1998-2001, saya mengisi hari-hari dengan diskusi. Tiada hari tanpa diskusi; baik menghadiri diskusi yang dilakukan kelompok mahasiswa lain maupun diskusi yang dibuat sendiri.

Kelompok diskusi itu saya beri nama ‘Kelompok H-1’. Banyak sekali orang hadir di sini, khususnya tiap Jumat malam. Macam-macam tema diskusi dan macam-macam pembicara yang saya panggil. Setahu saya Gus Zen Rahmat Sugito pernah berdiskusi di sini. Waktu itu dia masih culun sekali. Seorang mahasiswa olahraga yang baru masuk kampus. Ra iso nulis, dan masih tahap belajar awal untuk nyontong-cocot-mawut yang sedikit intelek. Entah setan apa yang masuk ke otaknya, kok dia cerdas sekali hari ini. Hahahahaha....

Selain menjadi salah satu sayap pemikiran dinamis di HMI MPO IKIP Jogjakarta (bahkan HMI Cabang Jogja), kami juga disokong penuh oleh koran internal kami yang agresif: Goresan (buletin) dan Karangmalang Pos (koran tempel). Koran Karangmalang Pos ini adalah pionir (sebelum Bulaksumur Pos dan Balairung Koran di UGM ada) untuk koran komunitas yang menghubungkan antara masyarakat kampus (IKIP) dengan warga 4 kampung di sekitarnya (Karangmalang, Kuningan, Samirono, Gejayan). Bahkan kehadiran koran ini diikuti oleh komunitas lain seperti KAMMI.... Sayang koran ini mulai meredup sejak edisi membahas tuntas Hantu dan Titik-Titik Rawan Penampakannya di Kampus IKIP.

Jika pada kelompok lain semasa diskusi hanya berakhir pada hari diskusi itu sendiri, maka saya berinisiatif bagaimana jika sebuah diskusi diakhiri dengan buku. Tapi diskusi yang kami lakukan ini bukan diskusi biasa yang rutin dan reguler. Sebut saja ini diskusi besar. Atau diskusi tahunan.

Ada segelintir orang yang berperan besar dalam diskusi ini. Saya sendiri sebagai koordinator. Ada M Bakkar Wibowo yang mengantar surat dan sibuk mencari panitia. Ada Diana Dewi dan Nurul Hidayah yang menjadi tulang punggung di hari-hari diskusi besar ini. Dan ada Jarot Doso Purwanto, mantan wartawan Republika yang menjadi tempat saya mematangkan ide dan tema diskusi besar ini.

Diskusi ini kami namakan Pesantren Sosialisme Religius. Tema ini diangkat karena kami sebagai pelaksana diskusi adalah para aktivis Islam yang di saat yang sama ketemu sebuah suasana booming buku-buku kiri di Indonesia, terutama sekali di Jogjakarta. Nama ‘pesantren’ kami bawa-bawa untuk mengesankan bahwa ini pengajian, khalqah, dan bukan kongres atau apalah namanya. Karena pesantren, maka tempatnya pun di masjid kampus.

Tiga istilah: ‘pesantren’, ‘sosialisme’, ‘religius’ adalah perpaduan yang aneh. Dan itulah magnet yang coba kami tawarkan. Lalu kami mengundang para aktivis Islam (Sunni-Syiah), intelektual muda dari sudut kiri sekuler, maupun penulis muda. Kami juga mengundang sekira 20-an pesantren di sudut-sudut Jogjakarta. Saya sendiri yang kena tugas mengantar undangan berboncengan dengan Bono Kuswolo. Sementara M Bakkar Wibowo kebagian tugas menciduk satu per satu pembicara dari kos-kosan mereka dengan terlebih dahulu memfotocopy makalah mereka.

Diskusi itu berlangsung selama empat hari: 16-19 Februari 2000 di Masjid Al-Mujahidin Jogjakarta—di masjid ini pula empat tahun kemudian seorang khatibnya di mimbar jum’at menuduh saya sebagai antek Yahudi setelah menerbitkan buku Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur!

Inilah para pembicara yang kami undang itu:

>> Budi Irawanto
dengan makalah “Adakah Secercah Pijar bagi Sosialisme?”

>> Imam Yudhotomo
dengan makalah “Meretas Langkah Sosialisme Demokrasi”

>> M Ihsan Abdullah
dengan makalah “Sosial Demokrasi Kerakyatan: Menuju Revolusi Sejati”

>> Muhammad Romzy
dengan makalah “Ideologi dan Pseudo-Ideologi”

>> Jarot Doso Purwanto
dengan makalah “Lanskap Sosialisme Religius di Indonesia”

>> Ali Rizkatillah Audah
dengan makalah “Sosialisme Religius Imam ‘Ali Karamallahu Wajhahu: Sebuah Tafsir Nilai-nilai Sosialisme dalam Kitab Nahjul Balaghah”

>> Muhammad Mustafied
dengan makalah “Merancang Ideologi Gerakan Islam Progresif-Transformatif: Mempertimbangkan Islam Kiri Hassan Hanafi”

>> Islah Gusmian
dengan makalah “Teologi Pembebasan: Dari membela Tuhan Menuju Membela Manusia, Sekilas Gagasan Ali Asghar Engineer”

>> Kiky Fardiansyah Wijaya
dengan makalah “Tugas Rausyanfekr untuk Aksi Perubahan Sosial: Sebuah Risalah pemikiran Ali Syari’ati”.

Dari diskusi itulah terjelma buku Sosialisme Religius. Semua tulisan dikumpul, dirapikan. Ada juga naskah yang harus dimintai kepada penulis yang baru. Sebetulnya saya ingin sekali ada lima agama besar di Indonesia turut memberi sumbangsih bagaimana pertemuan kelima agama itu dengan sosialisme. Namun hanya Islam dan Katolik yang kami dapatkan penulisnya. Hindu, Budha, dan Protestan saya tak temukan penulis mudanya.

Inilah penulis-penulis yang saya undang untuk ikut bagian dalam buku ini:

>> Bonnie Setiawan dengan tulisan “Menyusuri Paradigma Alternatif Pasca Kapitalisme: Menimbang Tradisi Kiri”

>> Dadang Juliantara dengan tulisan “Teologi Agraria: Etika dan Politik bagi Jalan Keadilan Agraria”

>> Hajriyanto Y Thohari dengan tulisan “Koherensi Sosialisme dengan Agama”. Tulisan ini pernah dimuat di Kompas 8 Juni 1999. Pemuatan tulisan ini dalam buku atas izin penulisnya.

>> Suhendra dengan tulisan “Gerakan Sosio-Religius Yesus dari Nazareth: Suatu Penghampiran Sosiologis”

>> Awalil Rizky dengan tulisan “Sosialisme dan Agama, Bisakah Menjadi Sintesa Alternatif?”

Naskah-naskah terkumpul itulah kemudian saya pilah, saya konsultasikan, lalu saya buatkan benang merahnya dengan pengantar panjang. Karena buku ini memang tak dimaksudkan sebagai buku komersial, melainkan bunga rampai dari kelompok diskusi organisasi, maka semua penulisnya tak mendapat bayaran. Cukup diberi buku masing-masing penulisnya. Lagi pula mereka tak menyangka buku ini diterbitkan.

Karena ini buku pertama yang saya koordinatori pembuatannya—sejak dari masa pembuahan ide hingga berwujud menjadi buku—tentu saya tak tahu menahu bagaimana aturan main dalam menerbitkan buku. Ada orang mau membiayai penerbitannya saja sudah syukur tiada terkira.

Benar saja buku ‘yang bukan buku’ ini meledak dan naik cetak sampai 6 kali. Hahahaha, ternyata saya baru sadar bahwa saya ini punya potensi membuat buku-buku bestseller. Terutama sekali buku-buku yang orang akan berdiskusi sejak dari judulnya. Sebab buku ‘Sosialisme Religius’ ini yang mula-mula dibahas—dan ini sudah menjadi menu wajib diskusi—adalah mempersoalkan judulnya: apa hubungan antara sosialisme dan religius. Bisakah sosialisme dan religiusitas disatukan? Dan inilah buku yang menjadi jejak yang terdokumentasi bagaimana kemudian HMI MPO—khususnya Jogjakarta—berayun kuat dari kanan ke kiri. Padahal yang membikin ulah ini hanya sebagian orang. Pada kongres nasional setahun berikutnya, ide bahwa HMI MPO berayun ke kiri ini berhembus sangat kencang. Cabang Jogjakarta yang membawanya.

Yang kedua yang mencolok dari buku ini adalah sampulnya yang menggabungkan antara bulan-bintang-palu. Banyak orang penasaran. Mirip komunis ya..... Tapi yakinlah bahwa bukan saya yang membikin sampul ini. Penerbit pun cuma dapat jadinya saja. Pak Harry Wahyu alias ‘si Ong’-lah yang menafsirkan sosialisme-religius itu seperti ini. Mungkin Pak Ong ini punya penginderaan ke-10 ketika naruh ada pemuda yang pakai caping di sana. Lha, saya kan suka sekali pakai caping ke kampus. Hahahahaha....

Sosialisme Religius: Suatu Jalan Keempat?
Editor: Muhidin M Dahlan
Penerbit: Kreasi Wacana, Juli 2000
Tebal: 292 halaman