13 August 2008

Lihat dari Karya Sastranya saja....

::kisdiantoro, tribun jabar

BANDUNG, TRIBUN- Muhidin M Dahlan mengaku tak menyangka bahwa buku karyanya berjudul "Tuhan Ijinkan Aku Menjadi Pelacur!" mengundang banyak reaksi.

Di Jawa Timur dan Jawa Tengah buku ini dilarang beredar, namun sempat dibahas di berbagai perguruan tinggi yang ada di sana.

"Saya tidak menyangka buku ini akan menjadi fenomena karena terus terang, dalam menulis buku ini saya hanya beritikad menulis pengalaman rekan saya, bukan untuk merusak aliran agama apalagi sampai menyinggung agama Islam," jelas Muhidin dalam bedah buku yang diselenggarakan Universitas Islam Bandung (Unisba) di Aula Unisba dalam rangka Parade Bedah Buku Milad Unisba ke 50, Selasa (12/8).

Lebih lanjut diceritakan dia, tulisan dalam bukunya menceritakan pengalaman tentang luka seorang muslimah yang membuat hatinya begitu frustasi, marah, putus asa hingga menentang Tuhan dengan keputusannya menjadi pelacur yang ditokohkannya ke dalam seorang gadis bernama Nidah Kirani.

Sepanjang buku ini pembaca diajak untuk mengikuti alur hidup Kiran secara kronologis yang dibagi ke dalam beberapa fase, fase pencarian identitas, kecewa atas inkonsistensi yang didapatinya dalam sebuah 'gerakan' Islam yang ada di Kampusnya hingga fase petualang ke dunia berbada yaitu dunia free sex, narkoba hingga akhirnya menjerumuskan diri ke dunia itu.

"Belasan kali novel ini didiskusikan, belasan kali pula saya memanen sumpah serapah dari berbagai pihak. Umumnya saya dituding sebagai penghina agama dengan kualitas kebencian yang luar biasa," terangnya.

Dosen Pascasarjana UIN Gunung Djati, Bambang Q Anees yang dihadirkan sebagai pembahas buku tersebut mengatakan buku yang sarat dengan kontrofersi itu memang langsung ketahuan dari judulnya.

"Kalau dilihat dari isinya maka sebetulnya buku ini jangan dikaitkan dengan kehidupan nyata, apalagi syarat dengan kontroversi tertutama dengan Agama Islam. Buku ini sebaiknya hanya dilihat dari karya sastranya saja, apalagi buku ini seperti novel yang tentunya syarat dengan kontribusi si penulis untuk memberikan opini dalam tulisannya sehingga menarik untuk dibaca," terangnya. (pin)

Selasa , 12 Agustus 2008 , 19:02:00 wib

8 pengintip neraka:

timur matahari said...

salam kenal mas.. mas koment ya puisi aku kalau sempat.. gak maksa kok.. manatau aku bisa minta ilmu mas..he..he.. tuhan izinkan aku jadi penyair

Referensi said...

maz numpang lewat yahh...dan sedikit ikut nimbrung...sebenarnya kita kalo menilai sebuah buku jangan hanya dari judulnya doang kita musti membacanya terlebih dahulu...setelah itu fahami apa makna yang terkandung dalam buku tersebut, baru komentar dan jangan sekali-kali menganggap karya orang lain itu rendahan kalo anda sendiri belum bisa membuatnya...

terima kasih..atas kesempatannya salam kenal

ablehvansolo said...

Mas,Nulis memang bagian drai idiologi. Tulisan anda menunjukkan idiologi anda. Ya, kalau panjenengan mempunyai tanggung jawab moral yang anda akan memahami mengapa mereka menolak.hehehehe......!!!!

esha said...

Salam kenal Gus Muh
Slamat berpuasa..
Link saya Ya:
http://kandangpadati.wordpress.com

Binhad said...

Pak pengarang, lain kali jika ada yang mau minta izin jadi pelacur jangan ke tuhan, tapi ke sarkem aja, pasti diizinkan deh.

Gus Muh said...

Binhad? perasaan pernah denger nama ini. tapi di mana ya? tapi kayak2nya penyair cabul itu ya. cuma dengar2 sih....

Binhad said...

Gus Muh, aku punya teman dari timur tengah. Aku punya usul novelmu diterjemahkan ke Bahasa Arab. Siapa tahu edisi Bahasa Arab novelmu itu nanti bisa selaris Ayat-ayat Cinta.

dewa api said...

gus muh melebarkan sayap ke bdg