18 September 2014

Buku-Ajar

Buku-ajar bisa pula disebut buku teks, buku pokok, atau buku paket yang digunakan di sekolah (SD-SMA). Buku ini disediakan pemerintah dan diorganisasikan Pusat Perbukuan (Pusbuk) yang penulisan dan kontrolnya melibatkan pakar perguruan tinggi dan guru-guru di sekolah.

Buku-ajar Kurikulum 2013 (K-13) inilah yang menghebohkan publik perbukuan 2013-2014; bukan saja dari sisi konten, tapi juga distribusi. Enam triliun dana APBN yang dikucurkan untuk penggodokan K-13, pelatihan guru, penulisan buku, pencetakan, dan distribusi.
 

Dari segi konten buku, muncul letupan-letupan dari masyarakat; mulai dari isi yang vulgar, rasial, dan asal comot cerita tanpa izin dari penulis-asal. Letupan ini muncul mengindikasikan bahwa kontrol awal dan akhir buku-ajar ini tak berjalan semestinya. Kontrol awal dari penulis rendah barangkali karena dikejar target yang pada akhirnya mengambil jalan pintas; asal comot dari internet.

16 September 2014

Dari Ali Hingga Ahok: Politik Galak Jakarta

Basuki Tjahaja Purnama atau biasa dipanggil Ahok itu galak: galak kepada pegawainya, galak kepada DPRD, galak kepada preman pasar, dan galak kepada partai pencuil kedaulatan rakyat. 

Tapi soal pemimpin dengan politik galak, DKI Jakarta punya pengalaman. Tidak banyak. Hampir lima dekade silam Jakarta diperintah dengan cara yang galak oleh Ali Sadikin. Itu bukan sekadar kesan warga dan aparatus birokrasi. Bahkan Presiden Sukarno pun mengakui karakter bawaan Ali itu tahun 1966 ketika ditanya apa yang ditakuti dari Ali Sadikin: "Ali itu orang keras!"

14 September 2014

Dari Pustaka Adisoerjo ke Aditjondro

“Pustaka Aditjondro” adalah nama ruang koleksi di Indonesia Buku setelah 8 tahun memiliki ruang “Pustaka Adisoerjo”. Pustaka Adisoerjo (soerjo=mentari) adalah koleksi seluruh karya lengkap perintis jurnalistik nasional Tirto Adhi Soerjo seperti Medan Prijaji (1907), Soeloeh Keadilan (1908), Poetri Hindia (1908), dan sekaligus seluruh dokumentasi pers Indonesia dari masa ke masa. Karena itu gudang kerja kliping dan riset arsip Indonesia Buku berlabel “Pustaka Adisoerjo”.

10 September 2014

SBY dan Buku

Bagi Presiden SBY, buku itu penting. Termasuk rumah buku, yakni perpustakaan. Maka itu, Ibu Negara via Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (Sikib) ditugaskan membuat Rumah Pintar di pelbagai penjuru Nusantara. Jumlahnya sudah lebih dari setengah juta unit. Terkadang, dari segi bangunan, Rumah Pintar jauh lebih kinclong ketimbang gedung Perpusda yang tampak kusam dan kelelahan berhadapan dengan zaman.

Bagi Presiden SBY, buku itu mahkota seorang pemimpin. Maka ketika pulang dari muhibah keluar negeri mewakili negara dan bangsa, ia kerap singgah di toko untuk membeli beberapa buku penting tentang politik, manajamen kepemimpinan, dan biografi.

07 September 2014

Hario Kecik dan Serdadu Pemikir yang Terhempas

Pekan ketiga Agustus 2014 adalah hari pungkas Soehario K Padmodiwirio. Lahir 12 Mei 1921 di Surabaya, Hario Kecik – demikian ia akrab disapa – menggenapi nasibnya sebagai serdadu yang terhempas. 

Kecik salah satu bintang Pertempuran Surabaya 1945 dan tumbuh sebagai tentara Rakyat pembela Sukarno paling gigih. Terdidik di Sekolah Tinggi Ilmu Kedokteran (Ika Daigaku) dan menempuh pendidikan kemiliteran di Amerika dan Uni Soviet menjadikan Kecik bukan saja serdadu pemberani, namun juga sosok yang empatik dan sekaligus pemikir.

28 August 2014

Nama sebagai Merek Politik

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah tokoh pemasar inisial nama sendiri sebagai sebuah merek politik. Tak ada yang menduga bahwa singkatan namanya, SBY, seperti aksara biru yang tercetak di lambung roket yang melontarkan karir politiknya setinggi yang barangkali ia pun tak pernah menduganya.

Umumnya singkatan yang merupakan pengambilan huruf kapital pertama dari masing-masing kata yang secara khusus untuk penyebutan nama lembaga, seperti MPR, DPR, ABRI, PKK, dan seterusnya. Tapi SBY mengambil kelaziman itu untuk namanya. Sesuatu yang tak lazim. Justru ketaklaziman itu membawa keberuntungan politik enam tahun setelah merek itu disandangnya pada 1998 saat ia menjadi Kepala Staf Sosial Politik (Kassospol) ABRI.

21 August 2014

Politik Angkatan 45

Secara jujur Ketua Lembaga Sastra Indonesia (Lestra/LEKRA) Bakri Siregar (1980: 39) mengakui bahwa penemu label "Angkatan 45" adalah Rosihan Anwar. Label yang ditemukan jurnalis Pedoman pada Januari 1948 itu merujuk pada seniman-sasterawan yang terhimpun dalam "Gelanggang" yang didirikan 19 November 1946 atas usaha penyair Chairil Anwar. Sebagai manifestonya ditunjuklah "Surat Kepercayaan Gelanggang".

Label Angkatan 45 dalam perkembangannya menjadi label politik. Kamus Besar Bahasa Indonesia bahkan memberi pengertian pertama pada lema ini sebagai para pejuang kemerdekaan yang memelopori revolusi saat jelang Proklamasi; yang kemudian disusul (2) golongan seniman dan pengarang yang muncul sekira 1945.

16 August 2014

Foto dan Proklamasi

Jika foto adalah bukti autentik sebuah kehadiran (present) dalam sebuah peristiwa sejarah yang penting, maka foto adalah sebuah kekuatan legitimasi. Hanya dengan bukti selembar foto, keraguan tentang kehadiran bisa ditepis. Foto, walau hanya selembar dua lembar, adalah argumentasi yang mematikan ketimbang serangkaian penjelasan panjang yang berbelit-belit.

Dalam konteks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, misalnya, kata-kata pengakuan dan kesaksian menjadi samudera pasir yang berlimpah-limpah. Memoir, biografi, autobiografi, diktat, traktat, transkripsi rapat, kronik, penyelidikan ilmiah, prosa, naskah skenario adalah sejumlah bentuk gunungan kata-kata yang dibinding dan menjadi narasi Revolusi Kemerdekaan. Semua-muanya bertujuan satu: legitimasi kehadiran.

Namun tidak halnya dengan foto. Dalam peristiwa penting dan tonggak kemerdekaan seperti Proklamasi itu, Indonesia hanya mewarisi dua lembar foto. Satu foto saat Sukarno sedang membaca teks dengan posisi berdiri lebih maju ketimbang Hatta di sisi kiri dan Latief Hendraningrat di sisi kanan serta  20 orang lainnya dengan sosoknya tampak blur. Foto yang satunya lagi adalah close up saat bendera merah putih siap dikerek di tiang bambu.

Dua foto itu menjadi narasi besar tersendiri; dan sekaligus menciptakan rangkaian penjelasan tiada putusnya. Dalam proses pembuatannya saja, misalnya, terselubung heroisme yang tak terkira.

13 August 2014

Elegi Assaat

"Hukum Tatanegara Republik Indonesia oleh Mr. Assaat. Dipakai disekolah2 landjutan, amat disukai oleh mahasiswa2 Perguruan Tinggi Hukum. Siapa ta' kenal Mr Assaat? Bekas Ketua Parlemen Republik Indonesia (K.N.I.P.), bekas Acting Presiden R.I. dan bekas Menteri Dalam Negeri. Sekarang aktip kembali di Parlemen."  

Iklan buku akademik karya Assaat itu dipublikasikan majalah mingguan Nasional No 16 Th III, April 1952. Selain dibanderol dengan harga Rp 4,50, buku terbitan Bulan Bintang itu hendak menjual biokerja Assaat yang "tjukup keahliannja dan tjukup pula pengalamannja!".
 

Ya, Assaat dalam sejarah Republik Indonesia, seperti isi iklan itu, memang hanya berhenti sebagai penulis buku yang ahli dan berpengalaman belaka. Kehadirannya sebagai (Acting) Presiden R.I. tak ubahnya seperti elegi kalau bukan tragedi. Pasalnya, sosok yang lahir di Agam, Sumatera Barat, 18 September 1904 ini adalah "nokhtah semangka" (PSI-Masjumi) yang tak boleh ada dalam sejarah kepresidenan RI.

09 August 2014

Merdeka 69

Tahun 2014 kemerdekaan Indonesia yang diperingati tiap Agustus ganjil berusia 69 tahun. Angka 69 kerap diartikan sebagai sebuah formasi bercinta/kawin yang menjadi musabab terjadinya kelahiran.

Urusan kawin ini mungkin masalah sepele, terutama bagi Sukarno. Namun tidak bagi Mohammad Hatta. Bagi sang proklamator kalem ini, urusan kawin memiliki hubungan dengan urusan kemerdekaan. Hatta bahkan diperhadapkan pada opsi yang ribet: kawin dulu atau merdeka dulu.


Dalam pilihan ribet itulah lahir sumpah Hatta yang terkenal: tak akan kawin sebelum Indonesia merdeka. Lihat, Hatta menggandeng dalam satu tarikan sumpah antara kawin/seks dengan merdeka/politik. Dan Hatta menepati sumpahnya: ia kawin setelah Indonesia merdeka di usianya yang tak lagi muda.