05 August 2015

Soeharto dan Muhammadiyah

Muhammadiyah tak pernah lupa pada pengakuan Soeharto sebagai warga Muhammadiyah. Karena itulah di Edisi Khusus Suara Muhammadiyah (SM) untuk Muktamar ke-47 Makassar diperlukan satu artikel spesial yang mengingatkan hubungan manis itu.

Soeharto pada pembukaan muktamar di Stadion Lam Pineung, Banda Aceh, tahun 1995 membuat pengakuan yang isinya: "Tanpa tedheng aling-aling, saya ini bibit Muhammadiyah yang ditanam di bumi Indonesia; dan alhamdulillah memperoleh kepercayaan masyarakat Indonesia untuk memimpin pembangunan nasional. Semoga apa yang saya lakukan ini tidak mengecewakan warga Muhammadiyah". (SM No 15, Th 100)

31 July 2015

Buku sebagai Mantel Kejahatan

Kita memang menunggu KPK membuktikan O.C. Kaligis menjadikan buku sebagai “sandi” kejahatan suap dalam perkara operasi tangkap tangan di PTUN  Medan. Kode buku ini mencuat dari pengakuan “ajudan” Kaligis, Yagari Bhastara Guntur. Dari nyanyian sumbang Gerry itulah buku diketahui dijadikan wadak menyimpan uang siluman yang dibawa Yurinda Tri.
 

Memakai “sandi buku” ini menarik pada dua perihal. Pertama, buku menunjukkan bahwa O.C. Kaligis adalah seorang yang sangat terpelajar. Bukan cuma itu saja, Kaligis di tengah kesibukannya yang luar biasa dikenal sebagai laki-laki yang doyan menerbitkan buku. Allahu Akbar, Kaligis telah menulis 78 judul buku. Belum termasuk rencananya membukukan cerita 10 istrinya. Jadi, menggunakan sandi buku dalam melakukan kejahatan suap direken-reken bisa mengelabui mata elang sang pemburu.

24 July 2015

(Masih) Bersetia dengan Blogspot

Saya tetap memakai domain blogspot.com ini dan tak lagi terpikir untuk menggantinya. Pernah terpikir untuk menggantinya menjadi berbayar supaya saya terlihat lebih keren, mentereng, dan sudah berduit. Tapi sayang urung. Bukan karena apa, di saat yang sama berkelebat di pikiran saya membuat radio buku berbasis internet dan website-nya.

Maka saya dahulukan belanja domain radiobuku.com dan sekaligus mengganti web indonesiabuku.com karena ketakmampuan saya dan lembaga di mana saya bernaung mengerjakannya secara sekaligus.

23 July 2015

Politik (Musik) Rhoma Irama

Sama sekali tak mengagetkan ketika Rhoma Irama memutuskan mendirikan partai sendiri (Idaman) pada Juli 2015 setelah sekian tahun terkesan sebagai petualang dari satu partai ke partai lain; dari PPP ke Golkar, dan terakhir (terjegal) di PKB pada pemilu 2014. 

Rhoma Irama memang lebih dikenal dengan musisi. Ia adalah sang immortal; sang raja yang menjadikan dangdut menjadi genre musik terhormat. Untuk soal musik ini, majalah musik terkemuka Rolling Stone menobatkan Rhoma Irama dua kali. 

Pada 2008, Rhoma terpilih menjadi satu dari 25 musisi paling berpengaruh sepanjang sejarah musik Indonesia (Rolling Stone, No 43). Lalu 2010, Rhoma Irama kembali masuk dalam daftar sepuluh besar “The 50 Greatest Indonesia Singers” yang disusun secara cermat Rolling Stone. Dalam testimoninya di edisi khusus itu Ahmad Dhani menyatakan bahwa “Rhoma Irama bukan cuma seorang konsepsi musik dangdut, tetapi ia adalah konseptor bagi dirinya sendiri”.

19 July 2015

Jokowi dan Seribu Tahun Mahapralaya

PADA 1016, nyaris seribu tahun silam, Dharmawangsa Teguh dibunuh sekeluarga, keratonnya dibakar, dan serat-serat yang disalin para kawi ikut binasa. Peristiwa kekacauan sosial—yang pada 2016 nanti berusia seribu tahun—dikenal dengan Tragedi Mahapralaya. Suatu masa ketika aksara yang diproduksi kawi-kawi terhormat itu dihancurkan dan kekuasaan budi terjungkat.

Masa Dharmawangsa Teguh di Kediri kerap disebut sebagai revolusi pengetahuan awal. Hal itu ditandai dengan penyalinan secara sistematis serat-serat oleh para kawi dan empu. Di masa dinasti ini cendekia (kalangwan, empu) diajeni. Dari situ kita menyaksikan lahirnya serat-serat penting.

Dinasti Dharmawangsa abad 10 ini juga untuk pertama kalinya diperkenalkan stempel kerajaan Garudamukha. Setelah Tragedi Mahapralaya 1016 M yang membuat Dharmawangsa Teguh dan keluarganya terbunuh, Airlangga yang baru saja menikah dengan putri Dharmawangsa Teguh dititipkan kalung dan cap kerajaan yang kemudian dalam dinastinya dikembangkan menjadi Garuda Wisnu pada babakan sejarah selanjutnya. 

13 July 2015

Jokowi dan Kebudayaan Kelontong

Pos Dirjen Kebudayaan masih kosong di Senayan. Negara masih menunggu seorang yang memiliki kapabilitas untuk menghela seperti apa cetak biru kebudayaan kita melangkah; setidaknya lima tahun ke depan. Dirjen kebudayaan ini sekaligus menjadi cerminan postur (infrastruktur) kebudayaan macam apa yang bakal ditampilkan Presiden Terhormat Jokowi.

Begini. Sebelum sampai ke titik ini, saya mengingatkan lagi ribut-ribut soal “kebudayaan” beberapa bulan silam. Kira-kira begini kata seorang menteri ketika mengomentari soal kebudayaan: (1) tak ada sumbangan kebudayaan itu pada kehidupan negara dan bangsa; dan karena itu (2) kebudayaan hanya memboroskan anggaran.

05 July 2015

Seabad Soeara Moehammadijah

Jika Anda bertanya pers apa yang tertua di Indonesia dan masih terbit saat ini, maka tak usah ragu menjawabnya: Soeara Moehammadijah (SM).

SM -- awal terbit tertulis: Soewara Moehammadijah – merupakan majalah paling tua yang pernah terbit dan tak pernah terhenti terbitannya hingga kini. Terbit pertama kali di Yogyakarta pada 1915, SM mengusung slogan awal: “Organ ini memuat keterangan tentang Agama Islam, diterbitkan sebulan sekali berbetulan dengan tanggal 1 bulan Belanda dan memuat keterangan lain-lainnya yang perlu”.

01 July 2015

Ojong dan Buku

Ketika orang-orang dengan "gempita" menyambut separuh abad umur salah satu koran nasional terbesar di Indonesia, saya teringat buku milik Auwjong Peng Koen. Ini bukan perihal buku biografi jurnalis tangguh yang lebih dikenal dengan nama PK Ojong ini, Hidup Sederhana Berpikir Mulia. Ini soal sejumlah koleksi bukunya yang berceceran di lapak-lapak buku bekas di Jakarta.

Sudah bukan rahasia, PK Ojong adalah pengoleksi buku. Ia menjadi jurnalis dengan kaya-wawasan mula-mula karena ia pencinta buku. Karena itu, menyusuri jejak pikiran PK Ojong, tak bisa hanya bersandar pada melihat amal usaha jurnalistiknya, antara lain mengulik kisah kehadiran Star Weekly, Intisari, dan Kompas

30 June 2015

Menu Ramadan di Meja Makan Komunis

Komunis itu gak ber-Tuhan, kan? Kalau gak bertuhan, gak mungkin ikut puasa Ramadan dan pasti emoh dengan idul fitri.

Sabar. Jangan asal nyamber. Mesti tabayyun. Sebelum ke soal menu Ramadan dalam keluarga Kuminis, kita selesaikan dulu urusan habluminallah ini. Kalau ini gak selesai, sukar kamu saya ajak beranjak ke penganan puasa atau kue lebaran.

28 June 2015

Jurnalisme Sepeda

Dalam satu dekade terakhir, sepeda yang mulai tergeser ke pinggir saat revolusi leasing sepeda motor mengalami pasang, kembali mendapatkan tempatnya. Namun bukan sebagai alat transportasi biasa, melainkan (ber)sepeda hadir menjadi gaya hidup di tengah gencarnya promosi green city dan hidup sehat. Momentumnya bisa dilacak saat jargon "Bike to Work" (B2W) dikampanyekan komunitas pekerja kerah putih di kota megaurban seperti DKI Jakarta.

Untuk "menghormati" segelintir kepentingan masyarakat itu, koran-koran cetak memberikan lembar halaman khusus untuk dunia sepeda dan segala pernik-kronika-kenangan komunitas/individu yang menghidupkannya. Sebut saja Harian Pikiran Rakyat (Minggu) yang tiap pekan menghadirkan cerita sepeda di seantero Bandung dan Jawa Barat di rubrik "Back to Bose". Atau Jawa Pos (Minggu) menampilkan hal-ihwal sepeda, mulai dari shop, teknologi, hingga cerita-cerita unik penjelajahan dengan sepeda di halaman "Cycling Sunday".

Berbeda dengan kedua koran itu, Harian Kompas justru menyatukan sepeda sebagai moda transportasi jalur lambat/life style sekaligus bagian dari metode peliputan jurnalistik yang sudah melekat dalam kultur redaksi mereka: ekspedisi bertema tanah dan air di Nusantara.