01 July 2015

Ojong dan Buku

Ketika orang-orang dengan "gempita" menyambut separuh abad umur salah satu koran nasional terbesar di Indonesia, saya teringat buku milik Auwjong Peng Koen. Ini bukan perihal buku biografi jurnalis tangguh yang lebih dikenal dengan nama PK Ojong ini, Hidup Sederhana Berpikir Mulia. Ini soal sejumlah koleksi bukunya yang berceceran di lapak-lapak buku bekas di Jakarta.

Sudah bukan rahasia, PK Ojong adalah pengoleksi buku. Ia menjadi jurnalis dengan kaya-wawasan mula-mula karena ia pencinta buku. Karena itu, menyusuri jejak pikiran PK Ojong, tak bisa hanya bersandar pada melihat amal usaha jurnalistiknya, antara lain mengulik kisah kehadiran Star Weekly, Intisari, dan Kompas

30 June 2015

Menu Ramadan di Meja Makan Komunis

Komunis itu gak ber-Tuhan, kan? Kalau gak bertuhan, gak mungkin ikut puasa Ramadan dan pasti emoh dengan idul fitri.

Sabar. Jangan asal nyamber. Mesti tabayyun. Sebelum ke soal menu Ramadan dalam keluarga Kuminis, kita selesaikan dulu urusan habluminallah ini. Kalau ini gak selesai, sukar kamu saya ajak beranjak ke penganan puasa atau kue lebaran.

21 June 2015

Galeano dan Histeria Amerika Latin

Copa America ke-44 di Chile kini bergulir tanpa Eduardo Galeano; sebagaimana Uruguay yang berlaga tanpa si penggigit Luiz Suarez. Galeano wafat di usia 74 tahun di kota kelahirannya, Montevideo, Uruguay; 61 hari sebelum pluit kick off Copa America 2015 ditiup Nestor Pitana di Santiago.

Eduardo Hughes Galeano (1940-2015) adalah sosok masyhur dalam sepakbola. Tapi kemasyhurannya bukan ia peroleh dari anugerah kaki-kaki Tuhan hasil tempaan tanah lapang Amerika Latin, melainkan lewat tangannya. Dan semuanya bermula dari mimpi buruk: kaki terkutuknya ditolak oleh bola dan bikin malu di lapangan. 

Galeano menuliskan mimpinya itu yang mengingatkan kita pada kakidasi Franz Kafka yang masyhur: “Ketika saya terbangun, saya menyadari bahwa saya memiliki kaki kayu dan aku ditakdirkan untuk menjadi penulis. Dengan menulislah, saya bisa melakukan dengan tangan apa yang saya tak pernah bisa lakukan dengan kaki.” 

15 June 2015

Arie, Angeline, Monumen Kasih Sayang

Tak ada respons publik yang begitu gempita tentang kematian tak wajar seorang bocah kecuali kematian yang dialami Arie Hanggara (Jakarta, November 1984) dan Angeline (Denpasar, Mei 2015).

Kematian bocah tak wajar memang bukan domain Arie-Angeline (A-A). Tiap tahun rubrik “Hukum & Kriminal” di koran cetak maupun daring mengabarkan terbunuhnya anak-anak. Tapi tak pernah seheboh A-A. 

Angeline merajai tren topik di twitter dan tak henti-hentinya berseliweran di linimasa facebook di hari penemuan mayatnya, 10 Juni 2015, yang dikubur di pekarangan rumahnya. 

14 June 2015

Belajar Bandel Temukan Rahmat Pusaka

Buku Habis Galau Terbitlah Move On (HGTM) J Sumardianta--kerap dipanggil Pak Guru--berisi 40 tulisan yang terbagi dalam dalam 10 bagian! Dan ke-40 tulisan yang terserak ini dipayungi satu semangat: kerja tulus untuk meraih kebahagiaan! 

Klise memang terdengar. Namun ketulusan dan hidup penuh syukur itu diulas dengan cara yang tak biasa. Sebagaimana enigma frase "tulus" itu sendiri dalam tindakan hidup sosial. “Tulus itu dicaci tidak tumbang; dipuji tidak terbang,” kata Anies Baswedan. (h 294)

Tulus adalah kristalisasi dari proses energi “Angkatan Kelima” yang memenangkan persaingan karakter-dalam dari ringkusan hidup harian yang keras. Prinsip dasar semangat "Angkatan Kelima" adalah melihat hidup bukan melulu deret ukur masalah, melainkan misteri yang terus-menerus disingkap oleh jiwa penerabas.

07 June 2015

Sukarno Si Perokok Baik

Bisa menangis itu koran-koran yang sudah menghabiskan berhalaman-halaman menerangkan tentang pemikiran dan sepak-terjang Sukarno, Pancasila, dan segala tetek-bengeknya di tanggal ulang tahunnya 6 Juni (1901-2015). Jurnalis dan penulis kolom-kolom itu makan teman ati saat tahu bahwa rakyat Presiden Joko Widodo lebih tertarik dengan antusiasme, yang masaolo warbyasa-nya, pada soal “kacangan”: di kota mana Sukarno lahir, Blitar atau Surabaya?

Ini mirip dengan soal yang juga tak habis-habis di dua kabupaten bertetangga di Jawa Timur: Gunung Kelud itu punya siapa, orang Blitar atau Kediri?

Persatuan Indonesia

“Tua dan muda, yang laki dan yang puteri kaum Muslim, Christian dan Budha, yang beragama atau tidak, insyaflah bahwa hanya persatuan yang kokoh dari bangsa kita semua dapat mendatangkan Indonesia Merdeka” - Persatoean Indonesia, 20 Mei 1930, No 50, h 131-132

Sejak bibit pergerakan politik tertanam di Hindia Belanda pada dekade awal abad 20, tak ada satu pun koran yang terbit di Indonesia yang namanya kemudian ditabalkan dalam asas sebuah negara kecuali Persatoean Indonesia.

Koran yang pertama kali terbit pada 15 Juli 1928 di Jl Pintoe Ketjil 46, Batavia itu menjadi penahbisan Sukarno kepada publik tentang proyek besar dan utamanya bernama “Persatoean Indonesia”.

24 May 2015

Jokowi dan Infrastruktur (Buku)

Mimpi besar Presiden Yang Terhormat Jokowi dalam frase “kerja, kerja, kerja” pada akhirnya kita tahu adalah infrastruktur. Menurut kamus Tesaurus Bahasa Indonesia (2006), padanan kata infrastruktur adalah prasarana. Dan kata “prasarana” ini tak dipakai. Lebih keren infrastruktur, sekeren infrared dan ultraviolet.

Infrastruktur ini tentu saja bukan lagi berada dalam taraf impian. Sebab 2015, terutama bulan Mei, bukan musim debat capres, melainkan saat turunnya gelontoran triliunan dana untuk belanja infrastruktur.

Hitung-hitungan yang beredar, Jokowi mengantongi kertas daftar belanja infrastruktur sebesar lebih kurang Rp 5.500 triliun. Hanya seiprit dari dana gulita Bank Century atau fulus yang diembat Eddy Tanzil di Bapindo tahun 1995.

23 May 2015

Hari Buku Nasional

Sandaran penentuan Hari Buku Nasional sama dengan pers, melekat pada organisasi pegiatnya. 


Sudah lazim diketahui, peringatan Hari Buku Nasional 17 Mei bersandar pada dua “aliran” yang berbeda. Yang pertama menautkannya pada hari jadi orgaan penerbit IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia), 17 Mei 1950.

Pendapat kedua menautkan Hari Buku Nasional diambil pada kronik peresmian gedung Perpustakaan Nasional RI di Jl Salemba Jakarta Pusat, 17 Mei 1980. Pendirian gedung ini diinisiasi Ibu Tien Soeharto yang sekaligus menghibahkan tanah 16,000 meter persegi dan gedung berlantai sembilan dari Yayasan Harapan Kita yang dipimpinnya.

22 May 2015

Dua Prosedur Meredam Ayam Galak untuk Jokowi

Saya sangat khawatir ayam-ayam saya menggelar pemberontakan jika terus-menerus hidup dalam kurungan besi yang kukuh, rapat, dan sempit di sisi kiri rumah saya di Bantul. Saya ngeri sendiri membayangkan pemberontakan mereka sebagaimana serangkaian percobaan pembangkangan ayam-ayam betina pimpinan Nona Ginger dalam film animasi Chicken Run. (2000, Sutradara: Peter Lord dan Nick Park; dan melibatkan 360 nama kru).

Tapi saya bukan Tuan dan Nyonya Tweedy yang berprinsip: yang tak bertelur harus mati! Betul, saya kerap dilamun godaan untuk berubah menjadi jagal. Beberapa kali malah sudah saya lakukan. Tapi bukan demi telur, tapi untuk mengurangi kapasitas kandang yang terbatas dan demi peruntukan daging yang tak seberapa. Maklum, ayam-ayam saya itu jenis pesolek. Dagingnya sedikit, bulunya yang banyak. Dan saya bukan peternak bulu. Apalagi musang berbulu tangkis seperti karya instalasi Bambang Toko.