24 May 2015

Jokowi dan Infrastruktur (Buku)

Mimpi besar Presiden Yang Terhormat Jokowi dalam frase “kerja, kerja, kerja” pada akhirnya kita tahu adalah infrastruktur. Menurut kamus Tesaurus Bahasa Indonesia (2006), padanan kata infrastruktur adalah prasarana. Dan kata “prasarana” ini tak dipakai. Lebih keren infrastruktur, sekeren infrared dan ultraviolet.

Infrastruktur ini tentu saja bukan lagi berada dalam taraf impian. Sebab 2015, terutama bulan Mei, bukan musim debat capres, melainkan saat turunnya gelontoran triliunan dana untuk belanja infrastruktur.

Hitung-hitungan yang beredar, Jokowi mengantongi kertas daftar belanja infrastruktur sebesar lebih kurang Rp 5.500 triliun. Hanya seiprit dari dana gulita Bank Century atau fulus yang diembat Eddy Tanzil di Bapindo tahun 1995.

23 May 2015

Hari Buku Nasional

Sandaran penentuan Hari Buku Nasional sama dengan pers, melekat pada organisasi pegiatnya. 


Sudah lazim diketahui, peringatan Hari Buku Nasional 17 Mei bersandar pada dua “aliran” yang berbeda. Yang pertama menautkannya pada hari jadi orgaan penerbit IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia), 17 Mei 1950.

Pendapat kedua menautkan Hari Buku Nasional diambil pada kronik peresmian gedung Perpustakaan Nasional RI di Jl Salemba Jakarta Pusat, 17 Mei 1980. Pendirian gedung ini diinisiasi Ibu Tien Soeharto yang sekaligus menghibahkan tanah 16,000 meter persegi dan gedung berlantai sembilan dari Yayasan Harapan Kita yang dipimpinnya.

10 May 2015

Geger Keraton Yogyakarta

Di pekan pertama dan kedua #BulanPKI #BulanRevolusiMei, halaman muka Kedaulatan Rakyat (KR) selalu dihiasi berita kisruh dalam kamar-kamar Keraton Yogyakarta. "Hapus Gelar Khalifatullah: Sabdaraja Timbulkan Pro-Kontra", demikian KR naruh judul besar dengan foto utama Sang Raja dengan uniform agung.

Belum rampung narik napas, KR menyorongkan lagi judul besar lain ke muka pembacanya: "Arah Suksesi Sabdaraja, Raja Perempuan", dengan foto Presiden “Marhaen” RI Jokowi, Menteri Puan “Marhaen” Maharani, dan Menteri Rini yang sedang terkagum-kagum dengan angin di Pantai Samas—gak jauh dari Desa Mangiran yang legendaris sebagai desa pembangkang itu, dan tak jauh-jauh amat dari penjara si marhaen Tukijo Kulon Progo.

07 May 2015

Jokowi dan Marhaenisme

Katakanlah Presiden yang Terhormat Jokowi adalah petugas partai bernama PDIP. Benarkan sajalah bahwa PDIP--dan di dalamnya Jokowi--adalah pewaris sah ajaran politik Sukarno. 

Dan itu bisa dengan mudah kita konfirmasi, selain genetika darah Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, juga bisa dibaca dari frase-frase yang dilekatkan dalam paras pemerintahan Jokowi: "nawacita", "kabinet kerja", "trisakti". Frase-frase yang pernah menjadi lingua franca politik di era Sukarno itu dihidupkan kembali di Istana Merdeka hari ini.

Mestinya, jika ingin menghidupkan genealogi gagasan dan isme Sukarno, maka hidupkan dalam kebijakan harian sukma ideologi yang dicetuskannya dan menjadi jargon majalah yang dibuatnya: Marhaenisme. Apa dan siapa kaum marhaen itu?

26 April 2015

Seabad Bintang Mataram dan Industri Pusaka

Antara djam 9 malam, pertemuan conferentie laloe diboeka oleh voorzitter comite toean Daslam Hadiwasito. Hal mana ada satoe tanda bahoea soedah sampai temponja dalam kalangan Indonesier diadakan matjam itoe badan persatoean. (Bintang Mataram, April 1930)

Medio April 1930. Tujuh bond (klub amatir) sepakbola hadir di Jogjakarta untuk bertanding dalam sebuah kejuaraan di Alun-Alun Utara.

Bukan pertandingan di lapangan berpagar gedheg (anyaman bambu) tersebut yang kemudian dikenang sejarah, namun pertemuan ketujuh pengurus klublah yang kemudian dicatat menjadi fase penting yang melahirkan PSSI. Organ sepakbola boemiputra yang keluar dari bond-bond sepakbola bikinan Belanda. 

Bintang Mataram menjadi saksi bagaimana PSSI itu lahir dari lapangan berpagar gedheg di era: “Kapan Djokja djadi terang? Itoe boleh toenggoe 100 tahoen lagi”. 

Kini, di sini, April 2015, organisasi sepakbola yang disaksikan koran Bintang Mataram yang tahun ini usianya satu abad itu dibekukan.

19 April 2015

KWAA: Jurnalis Progresif Asia Afrika Bersatu!

Ketika semangat KAA di ulangtahunnya ke-60 di tahun 2015 ini lebih menampakkan diri konferensi untuk bertukar kabar investasi dan bisnis-perjalanan (turisme) ketimbang isu geopolitik, saya teringat kaum jurnalis.

Dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 jurnalis dan penulis adalah darah utama yang membikin Dasasila Bandung -- atau lebih dikenal “Spirit Bandung” -- bergaung luas. Tapi jurnalis bukan sekadar pewarta dan penonton peristiwa. Dengan bersandar pada “Spirit Bandung” 1955 itu jurnalis Asia-Afrika membangun solidaritas sewindu setelahnya. Solidaritas itu bernama Konferensi Wartawan Asia Afrika (KWAA).

18 April 2015

Chelsea Islan Penyelamat Loper Koran

“Si Budi Kecil kuyup menggigil. Menahan dingin tanpa jas hujan. Di simpang jalan Tugu Pancoran. Tunggu pembeli jajakan koran” – Iwan Fals, Sore Tugu Pancoran (1985)

Ketika memberi sambutan untuk syukuran filmnya, Guru Bangsa Tjokroaminoto, di Studio 5 Empire XXI, Jl Solo, Yogyakarta, di akhir pidatonya yang secara keseluruhan layak quote tepuk tangan, Pak Garin Nugroho merasakan tenggorokannya tercekat. Beliau lalu memilih cepat-cepat melempar menyerahkan mik kepada kru.

14 April 2015

Jokowi dan Kemkominfo

Setelah kasus KPK vs BG dua bulan silam itu, "kesan baik" Presiden Jokowi mengalami turbulensi yang hebat. Bukan saja guncangan itu terjadi dengan PDIP, pegiat antikorupsi, relawan pendukung, namun guncangan itu merembet tergerusnya "kesan baik" Jokowi dengan pers.

Puncak retaknya hubungan itu disimbolkan dengan ketakhadiran Presiden Jokowi di Hari Pers Nasional (HPN) di Batam, 9 Februari. Ketakhadiran itu simpul, Jokowi mengalami retak yang mendalam dengan media.

Jokowi yang selama ini dikenal sebagai "media darling" tiba-tiba saja terjun bebas dari batu mulia menjadi besi kehilangan pamor. Senyumnya kecut di depan layar televisi. Ucapan-ucapan pendeknya yang biasanya disambut dengan "tafsir positif" menjadi tawar.

11 April 2015

Air Mata Ibu Mega


“Voting itu bukan budaya kita, tetapi budaya Barat yang diimpor yang dibawa ke tempat kita” — Megawati Soekarnopoetri, Ketua Umum PDIP, 1999-2020.

Dengan berlinang airmata, Ibu Mega membuka Kongres PDIP IV di Bali yang dengan aklamasi memilih diri beliau menjadi Ketua Umum (lagi). Jika dunia belum kiamat pada 2020, insya Allah Ibu Mega, tetap anggun dan teduh di sana.

“Kini perhatian bangsa Indonesia tertuju ke Bali karena apa yang dihasilkan dalam kongres akan menjadi tonggak baru perjalanan perjuangan bangsa dan partai,” seru Ibu Mega di atas mimbar setelah mengucap Merdeka! Merdeka! Merdeka!

30 March 2015

Dua Hari untuk Film Nasional

Jamak diketahui syuting pertama film besutan Usmar Ismail, “Darah dan Doa” atau populer dikenal “The Long March” dijadikan sandaran penetapan Hari Film Nasional. Tapi Hari Film yang kita peringati setiap tahunnya ini tak berlangsung mulus di era perkubuan politik film hingga pemerintahan Sukarno tumbang.

Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik adalah satu kubu. Kubu lain adalah sutradara-sutradara kiri yang berafiliasi politik pada semangat Asia Afrika; termasuk di dalamnya Sukarnois di lingkaran BMKN/PNI, PKI, Lekra.

Posisi Usmar dalam perkubuan politik film ini ambigu. Terutama Usmar. Di satu sisi, ia adalah eksponen Lesbumi-NU yang menjadi sekutu dalam lingkar Nasakom. Mestinya posisinya “aman” saat politik Sukarno condong ke kiri. Sebab bagaimana pun NU adalah saudara politik PKI dan PNI di bawah Sang Bapak Pengasuh.