17 August 2016

Obituari Den Mojo

Saat detik-detik Proklamasi berlangsung secara LIVE di semua saluran televisi dan akun-akun media sosial menayangkan komentar-komentar terbaik, terkritis, terharu, terbajingan, ternyinyir di saluran media sosial, Den Mojo (tak memilih) mati!


Tanpa iringan kokok sebagaimana tentara yang tak pernah menang perang itu lakukan saat seorang serdadu mati, Den Mojo terpojok dalam kandangnya dalam posisi tertelungkup. Sendiri. Kesepian. Proses penyerahan dirinya dari sukma kehidupan duniawi jauh dari heroisma, misalnya lewat sebuah pertarungan paling berdarah dalam gelanggang sabung. Ia hanyalah pejantan yang sehari-harinya hidup bersama alam ayam; jika berahi, gelisah; jika alam malam menunjuk pukul 23.00, 01.45, 03.15, dan 04.00, ia berkokok seperti toa di masjid-masjid. Masya Allah.

14 August 2016

Wajah Indonesia dan Seni (di) Airport

Bingkai judul media daring (dalam jaringan) yang menjadi viral sepanjang Jumat (12/8) atau sepekan sebelum Republik Indonesia merayakan ulang tahun ke-71 memang bikin bulu kuduk meremang: D.N. Aidit hadir di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten.

Bayangkan, di terminal penumpang yang baru dibuka 9 Agustus itu hadir –dalam bahasa intelijen kita, ”poster”– wajah Aidit. Saya pertegas, supaya bikin merinding warga ibu kota, di beranda depan Republik Indonesia hadir ”momok” yang melahirkan sebuah rezim bernama Orde Baru. Momok itu adalah Aidit, hantu itu adalah PKI. 

Munculnya pun bukan di hutan-hutan sawit di Sumatera atau Sulawesi Barat, melainkan di paras depan Indonesia. Saya mempersalahkan media daring yang menjadi penyambung histeria dangkal itu? Tidak! Sebab, itu adalah gambaran watak umum bagaimana republik ini mendaras sejarah Indonesia. Dan di Terminal 3 Ultimate itu kita dihadapkan kepada sejarah Indonesia dalam medium visual bernama lukisan. 

Lukisan, Bapak Polisi, bukan poster! Bukan pula selebaran gelap! 

D.N. Aidit adalah Wajah Tokoh ke-35 dari 400-an Tokoh yang Dilukis Galam Zulkifli dalam "The Indonesian Idea" yang Dicopot dari Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten

Dari 400-an wajah tokoh yang dilukis secara manual (tanpa teknologi sablon atau pun proyektor) dengan cermat dan presisi, justru wajah D.N. Aidit yang berukuran "kecil" itu yang menyebabkan lukisan berjudul "The Indonesia Idea" (ID) itu diturunkan secara paksa dari dinding Terminal 3 Ultimate Bandar Udara Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten, (Jumat, 12 Agustus 2016).

Dalam susunan tokoh yang dilukis, D.N. Aidit adalah wajah ke-35 yang dilukis Galam Zulkifli setelah Mas Marco Kartodikromo. Wajah pertama yang ada di kanvas adalah H.O.S. Tjokroaminoto, disusul Sutan Sjahrir, Hasyim Asy'ari, Achmad Dahlan, dan Tan Malaka. Sementara wajah tokoh paling terakhir adalah Kak Seto Mulyadi.

Berikut croping susunan wajah yang dilukis Galam Zulkifli yang saya ambil dari video proses lahirnya lukisan "The Indonesian Idea" yang berdurasi 58 menit, 18 detik. (Muhidin M. Dahlan)
H.O.S. Tjokroaminoto (Wajah Tokoh ke-1)

Sutan Sjahrir (Wajah Tokoh ke-2)

K.H. Hasjim Asj'ari (Wajah Tokoh ke-3)

K.H. Achmad Dahlan (Wajah Tokoh ke-4)

Tan Malaka (Wajah Tokoh ke-5)

D.N. Aidit (Wajah ke-35)

Kak Seto (Wajah Tokoh Terakhir)

Baca ulasan khusus lukisan yang menggegerkan ini: "Sejarah Indonesia dan Seni (di) Airport" oleh Muhidin M. Dahlan. 




26 July 2016

Karl Marx: Demi Cewek, Ia tak Segan Berduel hingga Alis Matanya Terluka

Apa lagi yang Anda harapkan dari seorang pemuda usia 19 tahun. Pemburu cewek, anggur, dan menyanyi. Belum genap 20 tahun itu telah mengumumkan dirinya sebagai seorang ateis dan subversif.

Kutipan ini menunjukkan bahwa Marx bukan hantu. Ia adalah seperti remaja dengin desir darah seumumnya. Mabuk juga. Pemburu cewek juga. Nyanyi juga.

Seperti halnya remaja badung pada umumnya, tentu saja ia emoh ke gereja dan mulailah disandangnya tudingan: Subversif. Di usia berapa? Di usia 20 tahun!


24 July 2016

Sukarno dan Olimpiade: Sumbangan Kiri Indonesia untuk Dunia

Tak ada gelora apa-apa saat atlet-atlet Indonesia berangkat atas nama negara ke gelanggang Olimpiade Rio de Jeneiro, Brasil. Berlaga di pentas olahraga internasional yang menjadi induk dari seluruh arena adalah sebuah kebanggaan. Bukan hanya atlet dengan target mendapatkan panggung dan medali, tapi juga memundaki kehormatan bangsa dan negara. Olimpiade adalah perjumpaan seluruh bangsa yang mendiami planet bumi dalam satu momentum bersama yang bernama olahraga.

Memang, menjadi aneh ketika ingar-bingar dan harapan mencucuk langit tak pernah lagi kita temui saat atlet-atlet terbaik nasional di pelbagai cabang olahraga keluar dari pintu keberangkatan bandar udara Soekarno-Hatta untuk mengambil peran di panggung olimpiade. Ketiadaan prestasi dan olahraga yang dimaknai sebagai rutinitas belaka sebagai bangsa menjadikan keberangkatan ke olimpiade tak ubahnya sekadar menggugurkan hak berpartisipasi.

Di gelanggang olimpiade, bukan saja minim prestasi, tapi kita tunasemangat sebagai bangsa besar yang pernah mengagendakan sebagai negara yang disegani di bidang keolahragaan, sejajar dengan Tiongkok, Korea, Rusia, hingga Amerika Serikat.
Izinkan saya "mendongengkan" sebuah masa di mana Indonesia, tak hanya menebal-nebalkan mimpi dengan memperpanjang tidur di gelanggang olahraga dunia, tapi juga menyusun langkah-langkah taktis dan mendasar yang dimulai dari mental yang disebut Presiden Sukarno "sport-minded".

21 July 2016

Kumis Turki

Kudeta Turki di Jumat keramat pekan ketiga di bulan Juli memang sudah gagal. Faktanya: Presiden Recep Tayyip Erdogan kembali ke tampuk kekuasaannya yang diikuti penangkapan, pemenjaraan, dan pembunuhan terorganisasi atas semua lawan politiknya. 

Dan, warga negara Indonesia--juga dunia--kaget dan gaduh atas malapetaka politik di Turki.

Saya tak terlalu kaget ketika warga (Muslim) Indonesia kaget, ribut, riwil, atau entah apalah sebutannya saat berhadapan dengan frase "Turki". Sebab secara historiografi, Indonesia memiliki memori yang unik atas negara perbatasan Eropa dan Asia ini. Keunikan posisi Turki ini dalam memori (orang) Indonesia bisa disandingkan dengan relasi kulturalnya yang harmonis dengan negara perbatasan benua lainnya (Asia dan Afrika), Mesir.


Apa yang disumbang Turki untuk aksi pro kemerdekaan Indonesia? Tentu saja gagasan pan-islamisme yang disadur pemikir cum pelaku pergerakan nasional awal. Tirto Adhi Soerjo, bapak dari para bapak bangsa, di Pembrita Betawi sejak awal abad sudah berteriak untuk berkiblat ke Turki. Koran bertarikh 16 April 1902 itu memuat kronik yang disusun Tirto betapa Turki dengan gagasan besar pan-islamisme bisa menjadi ilham bagaimana membangun pangkal konsolidasi kekuatan pribumi lewat cara baru yang berbeda sama sekali dengan jalan Diponegoro yang melahirkan Java Oorlog.

13 July 2016

Guru Sang Peng(h)ajar

Peristiwa yang mendudukkan guru sebagai pesakitan di Jawa Timur menarik gerbong perhatian publik nasional. Para guru menunjukkan solidaritas yang kukuh bahwa metode mendidik mereka kepada anak didik yang ”bermasalah” tidak layak dikriminalisasikan.

Bahkan, ada meme (baca: mim) yang menyerang balik orang tua murid di media sosial yang menjadi viral: jika tak mau anak dididik, bikin sekolah sendiri, (h)ajar sendiri, buatkan ijazah sendiri.

Sekilas pesan meme yang dibagi banyak guru tersebut benar, tapi menunjukkan pandangan atas konstitusi yang kian mengalami rabun jauh. Sekalipun para guru pembela guru yang ”ringan tangan” itu mogok dari seluruh sekolah, kewajiban negara untuk menyediakan sekolah yang layak dan guru yang baik bagi warga negara tidak akan berkurang sedikit pun karena UUD mengamanatkannya demikian.

Jadi, marilah berpikir lebih jernih. Peristiwa yang menghebohkan tersebut bisa jadi adalah gunung es kekerasan yang selama ini terus-menerus diproduksi dan dipraktikkan dalam institusi sekolah kita. Peristiwa guru mencubit murid itu seharusnya tidak menjadi aksi balas dendam para guru di media sosial yang bersekutu meng(h)ajar balik murid-murid nakal.

05 July 2016

Comite Central PKI Mengucapkan Selamat Hari Raya 1 Sjawal

Inilah isi ucapan resmi CC PKI terkait perjumpaan Hari Raya dan Hari Buruh pada 1 Mei:

Central Comite Partai Komunis Indonesia 
menyampaikan selamat kepada seluruh kaum buruh dan Rakyat pekerja Indonesia berhubung dengan hari 1 Mei, hari persatuan dan kemenangan kaum buruh. Hidup persatuan kaum buruh!

Central Comite Partai Komunis Indonesia mengucapkan selamat Hari Raya Idulfitri 1376 H kepada Rakyat Indonesia yang beragama Islam.

Hidup kerjasama dan persatuan seluruh Rakyat Indonesia yang terdiri dari bermacam-macam aliran keagamaan dan politik!


Jakarta, 1 Mei 1957, 1 Syawal 1376

Central Comite
Partai Komunis Indonesia
Sekretaris Jenderal

(D.N. Aidit)

04 July 2016

Jurnalistik dan Sepak Bola

Di setiap pertandingan akbar sepak bola, baik levelnya dunia maupun benua atau bahkan laga ter-domestik (tarkam), jurnalistik adalah pilar penting. Di antara teriakan dan dengung suara parau suporter sepanjang pertandingan, di sana ada jurnalis yang duduk tekun mengamati, mencatat, memotret, merekam. 

Serupa pertapa, jurnalis dengan jumlah yang minimalis dan duduk di beberapa sudut lapangan itu dengan segala peralatan yang melekat di tubuhnya menjadikan sepak bola bergemuruh ke seluruh dunia. Bahkan, membuat panik penduduk yang berada di pojok negeri dengan jalanan makadam dan berlumpur di mana asupan listrik yang minimalis dan tangkapan sinyal parabola menjadi cerita menyedihkan.

Sepak bola dengan jurnalistik menjadikan dunia tahu Cristiano Ronaldo menjadi manusia setengah dewa bagi bocah di Aceh yang saat berseragam Portugis di Euro 2016 dan nyaris seuruh Piala Dunia yang dilewatinya selama ini terus menampilkan performa yang melempem ketimbang saat mengenakan jersey klub.

04 June 2016

Warisan Kiri yang Siap Dihancurkan!

Ketika di bulan Mei sekelompok ormas dan didukung segelintir purnawirawan TNI seperti Kivlan Zen menuding-nuding patung warisan komunis di jantung ibu kota Jakarta.

Patung yang lebih dikenal publik dengan "Tugu Tani" itu terletak di lingkaran strategis. Pertemuan antara Menteng-Cikini, Senen, Thamrin, dan Gambir. Patung pak tani bercaping dengan membawa senjata laras panjang dan bu tani membawa bakul ini berdiri di area yang luas dan di bawahnya bunga-bunga berbagai warna penyerap karbondioksida tumbuh subur.

Tudingan bahwa ini patung kiri adalah benar adanya. Patung karya seniman Manizer Bersaudara ini adalah sumbangan Uni Soviet kepada Indonesia. Bahkan pada saat diresmikan pada 1963 oleh Sukarno, tampak hadir Wakil Perdana Menteri Anastas Mikoyan.