28 August 2014

Nama sebagai Merek Politik

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah tokoh pemasar inisial nama sendiri sebagai sebuah merek politik. Tak ada yang menduga bahwa singkatan namanya, SBY, seperti aksara biru yang tercetak di lambung roket yang melontarkan karir politiknya setinggi yang barangkali ia pun tak pernah menduganya.

Umumnya singkatan yang merupakan pengambilan huruf kapital pertama dari masing-masing kata yang secara khusus untuk penyebutan nama lembaga, seperti MPR, DPR, ABRI, PKK, dan seterusnya. Tapi SBY mengambil kelaziman itu untuk namanya. Sesuatu yang tak lazim. Justru ketaklaziman itu membawa keberuntungan politik enam tahun setelah merek itu disandangnya pada 1998 saat ia menjadi Kepala Staf Sosial Politik (Kassospol) ABRI.

21 August 2014

Politik Angkatan 45

Secara jujur Ketua Lembaga Sastra Indonesia (Lestra/LEKRA) Bakri Siregar (1980: 39) mengakui bahwa penemu label "Angkatan 45" adalah Rosihan Anwar. Label yang ditemukan jurnalis Pedoman pada Januari 1948 itu merujuk pada seniman-sasterawan yang terhimpun dalam "Gelanggang" yang didirikan 19 November 1946 atas usaha penyair Chairil Anwar. Sebagai manifestonya ditunjuklah "Surat Kepercayaan Gelanggang".

Label Angkatan 45 dalam perkembangannya menjadi label politik. Kamus Besar Bahasa Indonesia bahkan memberi pengertian pertama pada lema ini sebagai para pejuang kemerdekaan yang memelopori revolusi saat jelang Proklamasi; yang kemudian disusul (2) golongan seniman dan pengarang yang muncul sekira 1945.

16 August 2014

Foto dan Proklamasi

Jika foto adalah bukti autentik sebuah kehadiran (present) dalam sebuah peristiwa sejarah yang penting, maka foto adalah sebuah kekuatan legitimasi. Hanya dengan bukti selembar foto, keraguan tentang kehadiran bisa ditepis. Foto, walau hanya selembar dua lembar, adalah argumentasi yang mematikan ketimbang serangkaian penjelasan panjang yang berbelit-belit.

Dalam konteks proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, misalnya, kata-kata pengakuan dan kesaksian menjadi samudera pasir yang berlimpah-limpah. Memoir, biografi, autobiografi, diktat, traktat, transkripsi rapat, kronik, penyelidikan ilmiah, prosa, naskah skenario adalah sejumlah bentuk gunungan kata-kata yang dibinding dan menjadi narasi Revolusi Kemerdekaan. Semua-muanya bertujuan satu: legitimasi kehadiran.

Namun tidak halnya dengan foto. Dalam peristiwa penting dan tonggak kemerdekaan seperti Proklamasi itu, Indonesia hanya mewarisi dua lembar foto. Satu foto saat Sukarno sedang membaca teks dengan posisi berdiri lebih maju ketimbang Hatta di sisi kiri dan Latief Hendraningrat di sisi kanan serta  20 orang lainnya dengan sosoknya tampak blur. Foto yang satunya lagi adalah close up saat bendera merah putih siap dikerek di tiang bambu.

Dua foto itu menjadi narasi besar tersendiri; dan sekaligus menciptakan rangkaian penjelasan tiada putusnya. Dalam proses pembuatannya saja, misalnya, terselubung heroisme yang tak terkira.

13 August 2014

Elegi Assaat

"Hukum Tatanegara Republik Indonesia oleh Mr. Assaat. Dipakai disekolah2 landjutan, amat disukai oleh mahasiswa2 Perguruan Tinggi Hukum. Siapa ta' kenal Mr Assaat? Bekas Ketua Parlemen Republik Indonesia (K.N.I.P.), bekas Acting Presiden R.I. dan bekas Menteri Dalam Negeri. Sekarang aktip kembali di Parlemen."  

Iklan buku akademik karya Assaat itu dipublikasikan majalah mingguan Nasional No 16 Th III, April 1952. Selain dibanderol dengan harga Rp 4,50, buku terbitan Bulan Bintang itu hendak menjual biokerja Assaat yang "tjukup keahliannja dan tjukup pula pengalamannja!".
 

Ya, Assaat dalam sejarah Republik Indonesia, seperti isi iklan itu, memang hanya berhenti sebagai penulis buku yang ahli dan berpengalaman belaka. Kehadirannya sebagai (Acting) Presiden R.I. tak ubahnya seperti elegi kalau bukan tragedi. Pasalnya, sosok yang lahir di Agam, Sumatera Barat, 18 September 1904 ini adalah "nokhtah semangka" (PSI-Masjumi) yang tak boleh ada dalam sejarah kepresidenan RI.

09 August 2014

Merdeka 69

Tahun 2014 kemerdekaan Indonesia yang diperingati tiap Agustus ganjil berusia 69 tahun. Angka 69 kerap diartikan sebagai sebuah formasi bercinta/kawin yang menjadi musabab terjadinya kelahiran.

Urusan kawin ini mungkin masalah sepele, terutama bagi Sukarno. Namun tidak bagi Mohammad Hatta. Bagi sang proklamator kalem ini, urusan kawin memiliki hubungan dengan urusan kemerdekaan. Hatta bahkan diperhadapkan pada opsi yang ribet: kawin dulu atau merdeka dulu.


Dalam pilihan ribet itulah lahir sumpah Hatta yang terkenal: tak akan kawin sebelum Indonesia merdeka. Lihat, Hatta menggandeng dalam satu tarikan sumpah antara kawin/seks dengan merdeka/politik. Dan Hatta menepati sumpahnya: ia kawin setelah Indonesia merdeka di usianya yang tak lagi muda.

27 July 2014

Pelras dan Kesepian Narasi Bugis

Dalam pungkas hayatnya, 19 Juli, Christian Pelras mangkat dalam kesunyian akut. Ketika imaji Indonesia di media daring/cetak dan media sosial semua-muanya tersedot dalam lubang hiruk-pikuk politik, ada satu peneliti dan penulis par excellence yang berjalan sendiri menuju keharibaan-Nya. 

Dan sepotong kabar kematian Pelras justru saya peroleh dari setelah bertanya ke sana ke mari dan berujung pada web daring berbahasa Prancis letelegramme.fr tertanggal 22 Juli, "Ethnologie. Mort de Christian Pelras". (Terimakasih M Ridwan Alimuddin a.ka. Iwan Mandar)
 

Lahir pada 17 Agustus 1934, antropolog lulusan Sorbonne Prancis ini selama 40 tahun mengaji dunia orang Bugis dalam keseluruhan aspeknya; asal-usul, migrasi dan gesekan kultur dan sosialnya, politik, dan ikhtiarnya meluruskan sejumlah persepsi orang luar yang meleset tentang Bugis.
 

Totalitas kebugisan itu yang kemudian dituangkan Pelras dalam buku The Bugis yang diterjemahkan pada 2006 oleh EFEO & Nalar, Manusia Bugis. Sebuah buku babon yang selalu dirujuk oleh peneliti saat membahas ihwal tradisi Bugis.

25 July 2014

Kapitan Perahu

Pidato pertama Presiden Terpilih Joko Widodo disampaikan di atas "Pinisi" di Dermaga IX Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, sesaat setelah KPU menetapkannya sebagai Presiden RI masa jabatan 2014-2019. 

Memilih tempat pidato perdana di geladak perahu besar "Pinisi" adalah penegasan diri bahwa ia adalah Kapitan Perahu. Kapitan adalah pemimpin perahu yang menjelajahi samudera mahaluas, sebagaimana jejak yang telah ditorehkan Pinisi. Pinisi adalah salah satu leluhur kapal-kapal tradisional meniti buih dan badai samudera yang menghembalang senantiasa.

20 July 2014

Warga dan Dokumentasi

SUDAH terlalu sering kita dengar tudingan bahwa warga dan komunitas masyarakat memiliki nilai rendah dalam soal perhatian terhadap arsip dan dokumen. Sudah begitu jamak—komplementer dengan dakwaan soal minat baca—warga menjadi objek tentang minat arsip/dokumentasi dalam uar negatif. Karena perhatian rendah, maka perlu sekali pemerintah dan instansi terkait membuatkan program peningkatan minat arsip/dokumentasi.

Ada satu yang dilupakan, warga memiliki persepsi sendiri apa makna arsip/dokumentasi dan bagaimana cara mengerjakan dan menghidupkannya. Hal lain yang juga dilupakan adalah bahwa warga memiliki kekuatan sendiri membaca dokumentasi/arsip.

Warga hanya perlu sentuhan teknologi terkini atau penciptaan momentum bersama dalam perayaan. Dan itu, tak membutuhkan sebuah simposium yang spesifik dalam tema, akbar dalam perhelatan, dan bertahun-tahun dalam waktu; cukup dengan mendempet dalam program-program di tingkat desa.

17 July 2014

Ilusi Koalisi Permanen

JIKA Prabowo Subianto mampu merealisasikan praktik politik “koalisi permanen” yang dideklarasikannya bersama PKS, PAN, Gerindra, Golkar, PPP, dan PBB, maka ia menjadi suksesor terbesar dalam sejarah politik nasional. Bahkan bisa dipastikan ia figur lebih besar dari Sukarno, si pemahat gagasan besar persatuan nasional di mana ide itu pernah diolok-olok sekondannya Hatta sebagai per-sate-an nasional.


Secara genealogis, tak ada satu pun koalisi yang permanen di panggung politik nasional. Segera setelah Pemilu 29 September 1955, Ketua PKI DN Aidit mewacanakan koalisi “persatuan dan perdamaian” yang terdiri dari PNI, NU, PKI, dan partai-partai gurem pendukung Sukarno. Kita tahu kemudian koalisi “persatuan dan perdamaian” itu saling bergesekan dengan keras di sidang-sidang konstituante. Koalisi itu hancur lebur bersama-sama dengan dibeslahnya Dewan Konstituante oleh Sukarno dan Nasution.

16 July 2014

Jokowi Menang di Kampung Saya

Keluarga batih saya tinggal di empat kampung, empat kecamatan, empat kabupaten, empat provinsi. Dan di semua sebaran itu, dimenangkan sepenuh-penuhnya oleh kandidat Joko Widodo dan Jusuf Kalla dengan angka yang meyakinkan. 
Ibu saya tinggal di Desa Tondo, Kec Sirenja, Kab Donggala, Sulawesi Tengah dan sekaligus menjadi tempat berkumpulnya semua keluarga batih. Dari semua saudaranya yang berjumlah belasan orang, tinggal ibu, si bungsu, yang masih sehat dan hidup kini. Selain kedua orangtua, kakak dan adik juga tinggal di desa ini.

Bapak saya berasal dari Desa Bambalamotu, Kec Bambalamotu, Mamuju Utara, Sulawesi Barat. Semua keluarga batih ayah saya, termasuk keponakan-keponakannya berkumpul di desa laut ini. Pada Desember 2013 saya mengunjungi kembali kampung mandar di gigir pantai ini atau 1/4 abad silam ketika saya terakhir kali bermain di sana. Saat 1/4 abad silam itu, satu-satunya moda transportasi yang tersedia adalah perahu motor atau perahu layar dari Pelabuhan Donggala-Bambalamotu.

Mertua saya berasal dari Desa Jambu, Kec Kayen Kidul, Kab Kediri, Jawa Timur. Semua keluarga batih istri saya berkumpul di desa yang hanya beberapa kelokan dari "Kampung Bahasa" Pare ini. Di desa ini juga kegiatan sastra kampung di Kediri hidup.

Adapun saya tinggal dan menetap di Dusun Kembaran, Desa Tamantirto, Kec Kasihan, Kab Bantul, DIY. Sebuah kampung yang dialiri sungai kontheng dan sungai cemplung. Salah satu padepokan seni terkenal di kampung ini adalah Padepokan Seni Bagong Kusudiardja. Seniman sepuh yang melegenda juga tinggal di kampung yang berada di kaki bukit sempu, Djoko Pekik.