22 December 2014

Politik Ibu

Bersyukurlah, Hari Ibu tidak diambil dari Hari Jadi PKK atau Dharma Wanita, melainkan Hari Kongres Perempuan Pertama tahun 1928. Itulah sebabnya, menjadikan 22 Desember sebagai Hari Ibu menjadi momentum bagaimana perempuan memperjuangkan nasib mereka sendiri lewat jalan politik dan berserikat.
 

Jika 21 April diperingati sebagai pernyataan emansipasi yang bersandar pada Kartini secara personal, maka 22 Desember emansipasi adalah maklumat gerakan ibu-kolektif, ibu pertiwi.
Oleh karena itu, makna ibu bukan saja merujuk pada perempuan dewasa yang berumah tangga, melainkan juga perempuan berkesadaran politik dan mengerti bahwa hak-hak hidupnya mestilah diperjuangkan dengan jalan berserikat dan propaganda di koran.
 

Bukannya jalan politik ibu ini tanpa perdebatan sama sekali. Bahkan pada Kongres Perempuan Pertama 22 Desember 1928 di Yogyakarta itu terjadi tarik-ulur isu-isu yang menjadi konsern perjuangan. Terutama perdebatan panas yang tiada ujung soal sikap terhadap poligami.

21 December 2014

Pameran Ong Hari Wahyu: Menafsir Api Bumi Manusia

Ong Hari Wahyu akhirnya melunasi janji: mengeluarkan “buku” seperti yang dimauinya dalam pameran tunggal “Joyo Semoyo: Melunasi Janji” di Bentara Budaya pada medio Desember 2014.

Sebagai pionir senirupa sampul buku, sudah ribuan sampul dibuat Ong. Rupa-rupa penerbit yang memesannya: dari penerbit rumahan hingga penerbit industri. Dan semua pesanan itu dilayaninya, baik dengan layanan cepat maupun layanan lambat yang membikin si pemesan diliputi rasa was-was.
Puluhan tahun praktik senirupa dengan medium sampul buku itu dilakoni Ong yang membuatnya menjadi alamat yang ikonik. Terutama sejarah estetika buku di Yogyakarta maupun di Indonesia.
Salah satu ciri khas estetika Ong adalah old-picture. Terutama gambar lawasan kehidupan rakyat jelata dan pembesar-pembesar kolonial. Bahkan dalam titik ambang tertentu, lawasan menjadi pilihan estetik Ong. 

Dengan estetika lawasan, Ong mengemas masa lalu dengan kritik kekinian. Dan Ong menggunakan sampul buku sebagai siasat menghadirkan riwayat untuk menghidupkan hayat.

12 December 2014

Korupsi Pemimpin Umat Islam yang Unyu-unyu

Kiai Haji cum politisi dari Bangkalan, Madura, minggu lalu tertangkap tangan KPK. Langkah peruntungan Kiai Haji Fuad Amin ini berhenti di gas saat karier politiknya terus ia gas di Bangkalan. Lho, kok pemimpin umat jadi maling?

Tapi, umat sudah tak kaget lagi.

Penyebabnya, kliping korupsi “pemimpin umat” Bangkalan ini “tak ada apa-apanya”, walaupun KH Imam Buchori Cholil sudah sembelih sapi merayakan syukur atas penangkapan ini. Di media daring dan cetak saja, kabar pemimpin umat yang nyambi sebagai maling ini jadi berita sehari-hari yang nyaris kehilangan greget.

Antiklimaks dari pemimpin umat yang melakukan amalan “malam berzikir, siang mencuri” ini semua-muanya sudah diambil oper Departemen Agama (Pada medio 2005 Buya Syafii Maarif di rubrik “Resonansi” Harian Republika menyebut kementerian yang dihuni manusia-manusia paling paham agama ini sebagai kementerian terkorup di Indonesia). Yang menarik, umumnya hal-ihwal yang ditilep Pemimpin Umat Yang Mulia ini terkesan materi yang dekat dengan keseharian umat. Lucu-lucu jadinya.

08 December 2014

Karta Pustaka

Karta Pustaka akhirnya tutup pintu untuk selama-lamanya dari Kota Yogyakarta pada pekan pertama Desember 2014. Setelah beroperasi sejak Maret 1968, hari-hari pelelangan ribuan koleksi buku Karta Pustaka, tak hanya menyedot perhatian publik kota, namun juga mencatatkan bagaimana Yogya menjadi kuburan bagi perpustakaan yang dikelola yayasan.
 

Nasib Karta Pustaka yang memiliki arsiran dengan Kedubes Belanda mestinya sudah diprediksi, saat KITLV di Leiden terguncang oleh isu kebangkrutan pada 2011. KITLV adalah institusi arsip milik Belanda yang menyimpan dokumen-dokumen penting tentang sejarah Indonesia. Begitu pentingnya posisi KITLV sehingga kerap disebut pusat dari segala pusat narasi Indonesia.

30 November 2014

Guru Non-Vaksentral

KETIKA Hari Guru (Sekolah) lewat dalam linimasa, saya sedang berhadapan dengan buku utama terbitan Departemen Pendidikan Nasional berjudul "Seratus Tahun Perjuangan Guru Indonesia" (1908-2008).
 

Sekilas judul “Seratus Tahun” itu mengherankan saat kita mengetahui bahwa Hari Guru selalu dinisbahkan pada hari saat Kongres I Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) di Surakarta ditutup dengan pengesahan Anggaran Dasar, 25 November 1945. Sebagaimana jurnalis via PWI, sejak saat itu guru mengenang hari-jadi profesinya lewat kultur organisasi yang menaunginya.
 

Dalam Anggaran Dasar PGRI pasal IV (tentang anggota) disebut bahwa anggota PGRI adalah guru sekolah dan memiliki ijazah guru. Artinya, guru yang dimaksud adalah guru formal lembaga yang bernama sekolah dan bukan "guru bangsa".

27 November 2014

Kronik Ironis Film "Jokowi adalah Kita" di Ibukota RI dan sekitarnya

Media Indonesia, 20 November 2014, hlm 27


20 November || Tertulis di info film bahwa film "JaK" premiere di XXI untuk bioskop Pluit Village 1, Atrium, Metropole, Hollywood, TIM, Plaza Senayan, Citra, Puri, Kemang Village, Gading, Blok M Square, Daan ogot, Slipi, Gading, Sunter, Cipinang, Arion, Kalibata, Cibubur, Cijantung, Ekalokasari, Bogor Trade Mall, Bellanova, Galaxy, Detos, Depok, dan Cinere

21 November || Turun bebas dan basah kuyup dari layar

22 November || Tersisa di Blitz

23 November || Rontok semua tak tersisa. Bahkan kalah kedip dengan itu film "Salah Body"-nya si Sys Ns. Bioskop ibukota emang kejam


 
   
Media Indonesia 23 November 2014, hlm 24

Diplomasi Buku


 

Litografi itu terdapat di buku koleksi P.M. Subandrio berjudul Flowering Lotus: A View of Java karya Harold Forster (Longmans, Green and Co Ltd, 1958). Buku itu, bersama 200-an buku koleksi lainnya sang perdana menteri di era senjakala kekuasaan Sukarno, didapatkan Newseum Indonesia/Warung Arsip tersebar di pasar-pasar buku loak Jakarta. Di satu sisi kita berpikir bagaimana mungkin buku-buku penting dalam sejarah bacaan pejabat negara di sebuah era itu bisa terlempar di jalanan.
 

Tapi menyimak dari sejarah ironi buku, sudahlah, kabar ini hanya menambah deret panjang ironi koleksi buku tokoh bangsa, termasuk koleksi buku Sukarno, Hatta, Adam Malik, hingga P.K. Ojong. Tapi saya tak membicarakan soal tercecernya koleksi dengan sejarah panjang pengumpulan dan kedatangannya itu.

23 November 2014

Hatta, Bukittinggi, Buku

Perpustakaan Proklamator Bung Hatta - Bukittinggi

SAYA memasuki pelataran Perpustakaan Proklamator Bung Hatta pada pekan ketiga bulan November 2014 ketika warga kota Bukittinggi sedang menata aktivitasnya. Terletak di Gulai Banca, sebuah kawasan asri perbukitan dan satu kompleks dengan bangunan Balaikota, perpustakaan Sang Proklamator ini berdiri megah dan mewah. Semacam monumen bagaimana buku dan Hatta adalah satu kesatuan narasi yang tak terpisah. 

Dari tarikh yang terpatri di sebuah pigura yang dipajang di hall perpus yang berada di sisi kiri balaikota ini memberitahu bahwa saya terlambat datang sewindu untuk melihat bagaimana buku-buku Hatta mendapatkan rumah kembalinya yang pantas. Dengan kembalinya ikon Hatta ke Bukittinggi sekaligus menegaskan kota yang disebut Parisj van Andalas di Sumatera Barat ini menjadi kota bagi lahirnya sang pencinta buku garis-keras.

20 November 2014

Cargo Cult Papua dan Kapal Jokowi

PRESIDEN Joko Widodo selalu memberi ilustrasi Papua ketika berbicara tentang kapal kargo dan tol laut. Menurut Presiden, keberadaan kapal kargo adalah solusi keseteraaan ekonomi dan pasar barang antara pulau-pulau di Indonesia, termasuk Papua.
 

Bagi orang Papua, dan terutama sekali masyarakat rumpun Melanesia, kapal kargo bukan istilah baru. Cargo cult atau kargoisme justru menjadi inti dari semangat ratusan gerakan perlawanan di Papua.

16 November 2014

Parawisata

PRESIDEN Sukarno mengungkapkan kedongkolannya saat berpidato pada upacara penganugerahan penghargaan sayembara rencana Tugu Nasional di Istana Negara Jakarta, 17 November 1960. Pasalnya, jurnalis selalu menamakan kegiatan turisme yang dilakukannya sebagai sebuah “darmawisata”.

Sebelum warsa 60-an, kata “tour” memang sering diterjemahkan menjadi “darmawisata”. Padahal menurut Sukarno itu istilah yang keliru. Yang benar adalah pariwisata. Darmawisata itu mengembara yang diwajibkan, seperti halnya murid-murid sekolah yang melakukan “schoolwandeling” ke pelbagai situs wisata macam Kebun Raya, Cibodas, Gedung Merdeka, Monas, Museum Gajah, Candi Borobudur, dan sebagainya.