24 October 2014

Kultur Lebah Pekerja

SEHARI setelah Joko Widodo (Jokowi) diambil sumpahnya sebagai presiden ke-7 RI, halaman depan media cetak menabalkan sebesar-besarnya judul-kepala dengan frase “kerja”. 

Solo Pos (“Ayo Bekerja!”), Suara Merdeka (“Selamat Bekerja, Presiden Rakyat!”), Pikiran Rakyat (“Lupakan Pesta, Saatnya Bekerja”), Kedaulatan Rakyat (“Bekerja, Bekerja, Bekerja!”), Koran Merapi (“Kerja, Kerja, Kerja”), dan Tempo (“Kerja, Kerja, Kerja!”) adalah sekian media cetak yang secara verbal memilih frase “kerja” untuk menunjukkan bagaimana karakter pemerintahan Jokowi periode 2014-2019.

Frase “kerja” adalah cara Jokowi menyorongkan apa yang menjadi ciri khasnya. Tapi banyak yang salah paham kemudian bahwa mereka yang bekerja adalah antiwacana dan pemikiran yang sifatnya reflektif. Kerja adalah pasase yang kerap dianggap menjauh dari kultur ilmiah. 

Kultur kerja Jokowi ini mengingatkan pada Maurice Maeterlinck, nobelis sastra 1911 asal Belgia yang menulis buku legendaris: The Life of the Bee (1954, 168 hlm). Buku tipis yang aslinya terbit dalam bahasa Perancis pada 1928 ini adalah salah satu buku klasik yang membedah secara menarik bagaimana kultur kerja lebah yang disebutnya sebagai “the foundation of the city”

20 October 2014

Jokowi, si Manusia Harian

JIKA Joko Widodo (Jokowi) adalah buku, maka ia adalah buku representasi dari massa. Menyebut frase "massa" kita memperhadapkannya secara vis a vis dengan bangsawan asali, bangsawan pemikir, dan sekaligus elite militer. Tiga jenis kelas itulah yang secara bergantian menjadi piranti utama kepemimpinan politik nasional dan menguasai birokrasi pemerintahan.

18 October 2014

Riwayat Orang Biasa | Subandi (1960-2014) | #RIP

KABAR dari gang kedua di Dusun Kembaran RT 2, Tamantirto, Kasihan, Bantul, subuh hari 18 Oktober itu buruk dan mengagetkan. Salah satu kepala tukang Dusun Kembaran meninggal dunia. Tak ada kabar bahwa lelaki paruh baya yang kerap dipanggil Pak Bandi itu mengidap penyakit yang mengantarnya ke alam baka.

Betapa tidak, ia masih menyelesaikan pekerjaan terakhirnya membuat atap rumah dan pengecatan terakhir di rumah tetangga persis di belakang rumah saya. Dua hari sebelum mangkatnya saya masih bercakap-cakap dengannya di atas atap sambil ia terus mengayunkan palu.

Selain mengerjakan atap rumah tetangga di belakang rumah saya, Pak Bandi mengerjakan salah satu rumah di Kadipiro. Siang di belakang rumah, malam di Kadipiro. Artinya, ia bekerja hampir 17 jam. Siang dan malam.

Dugaan inilah yang menjadi musabab kabar buruk itu datang subuh hari: Pak Bandi kelelahan. Ia rehat sejenak saat jelang magrib setelah seharian bekerja. Lalu melanjutkan pekerjaan yang sama di Kadipiro malam hari. Pulang mandi. Makan penganan yang disediakan untuknya di Kadipiro yang dibungkusnya pulang. Minum. Lalu tidur. Subuh sudah terbujur kaku dan dingin.

Kembaran pun gempar. Tukang paling berbakat itu seperti hilang tiba-tiba.

17 October 2014

Raffi Ahmad, Denny JA, dan Ironi di Bulan Oktober

“Negara ini adalah negara hukum. Apa artinja ini? Bahwa tiap2 pelanggaran hukum jang merugikan, harus diadili setjara setimpal. Dan dalam hal percobaan kudeta 17 Oktober ini, jang terdjadi bukanlah pelanggaran biasa, yang terdjadi jalah suatu kedjahatan politik! Adilkah djika pengadilan Republik mengampuni kedjahatan ini?” – Editorial Harian Rakjat, 17 Februari 1955, hlm 1

Saya sedang membaca runtutan editorial Harian Rakjat/PKI sepanjang Februari 1955 tentang upaya pemutihan peristiwa “17 Oktober”, ketika di media sosial gaduh oleh kriminalisasi dua sastrawan Indonesia oleh staf khusus Denny Januar Ali.

Peristiwa “17 Oktober” yang terjadi tahun 1952 adalah tonggak kekalahan bintang serdadu paling bersinar di tubuh Angkatan Perang, A.H. Nasution. Tepat ketika Prabowo Subianto berulang tahun yang pertama. Tujuh bulan sebelum pemilu 55, perwira-perwira Angkatan Perang berunding di Yogyakarta untuk memutihkan “dosa-dosa politik” Nasution terhadap Sukarno dalam peristiwa yang disebut PKI “Kudeta 17 Oktober.”

Kutukan 17 Oktober

KETIKA Prabowo Subianto merayakan ulang tahunnya yang pertama, 17 Oktober 1952, sejumlah jenderal di bawah komando Kolonel A.H. Nasution melakukan “show force” di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Ini parade militer yang tak biasa. Anda tahu Medan Merdeka Utara bukan trek-trekan kendaraan lapis baja yang biasa sebagaimana saban Sabtu dini hari kita dapati jalan ring satu RI ini menjadi adu balap geng motor. Pasca Revolusi dan negara sedang di gerbang politik liberal, semua tank diparkir di barak.

16 October 2014

Daftar Skripsi dan Studi yang Mengulas Sejumlah Buku Muhidin M Dahlan

Buku "Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur" adalah buku yang paling banyak direspons oleh mahasiswa dari Banten hingga Gorontalo untuk dijadikan tugas akhir. Tidak kurang 20 skripsi sudah dituliskan untuk buku yang pertama kali diterbitkan pada November 2003 di Yogyakarta itu. Berikut ini adalah daftar skripsi mahasiswa dari seluruh kampus di Indonesia yang mengaji buku-buku yang saya tulis. [gusmuh]

13 October 2014

Mega dan Buku

TAK ada seorang pun yang bisa membantah bahwa Megawati Soekarnoputri adalah politisi paling senior di Indonesia saat ini. SBY masih mengejar karir militernya di negeri Balkan saat Mega sudah beradu nyali melawan arus keyakinan Orde Baru yang mabuk-kepayang menikmati masa-masa puncak kejayaannya. 

Lima tahun menjadi pusat dari narasi gravitasi politik oposan (1993-1998) tak juga menarik banyak peneliti untuk serius menuliskan kiprah Megawati. Kecuali buku tipis kumpulan liputan jurnalis Santoso dkk Megawati Soekarnoputri: Pantang Surut Langkah (ISAI, 1996, 176 hlm). Buku itu merekam dua episode paling genting dan penting dalam sejarah politik Megawati, yakni kisruh Kongres IV PDI di Medan pada Juli 1993 dan penyerbuan kantor PDI pada Juli 1996.

04 October 2014

Haji dan Revolusi

SALAH SATU adegan paling dramatis dalam ritus haji adalah perang besar di Mina saat tarikh-sejarah menunjuk 10 Zulhijah. Seperti Kurusetra, Mina menjadi gelanggang revolusi bagi jutaan pahlawan-pahlawan tauhid untuk pemurnian tatanan masyarakat dari kekuatan tiga watak setan yang disimbolkan oleh tiga berhala dalam ritus jumrah.

Melempar jumrah adalah tindakan konkrit dan kolektif meruntuhkan tiga kekuasaan dalam tiga berhala yang saling berkait satu dengan lainnya. Berhala ula, wushta, dan uqba adalah perlambangan dari tiga watak kuasa yang selalu ada dalam imperium kekuasaan despotik manusia di mana pun di bumi ini.

01 October 2014

Little Farm | Tiga Induk Petelur Cebolang

BANTUL (Kembaran, Kasihan) -- Ada tiga induk petelur di Little Farm, Dunia Ayam
Kembaran RT 02, Tamantirto, Kasihan, Bantul. Ketiganya silih berganti bertelur. Pencatat hanya memberikan kode pada setiap telur yang dihasilkan di mana pada hari ke-14, telur-telur itu dimasukkan ke mesin tetas cap "cemani" (cepat mandiri idamanku, *duh nama mesin ini*).



Little Farm | Perjuangan 'Mentas' Cebolang Generasi Ketiga

BANTUL (Kembaran, Kasihan) - Tanggal 29 September, 30 September, dan 1 Oktober adalah tiga hari yang dibutuhkan bagi 11 telur cebolang generasi ketiga untuk mentas. Dan dari 11 telur itu, tak satu pun yang jadi telur busuk. Semuanya jadi baby ayam. Sebut saja 11 Baby Gestok.

Ke-11 telur itu diproduksi Misin White dan Binal-13. Untuk menghemat waktu, maka yang ditugaskan mengerami hanyalah Binal-13, sementara Missin White dipacu untuk terus bertelur dan bertelur.

Tugas Binal-13 hanya sampai pada hari ke-18; sementara pengeraman hari ke 19, hari ke 20, dan hari ke 21 diserahkan kepada mesin tetas cebolang.