20 July 2014

Warga dan Dokumentasi

SUDAH terlalu sering kita dengar tudingan bahwa warga dan komunitas masyarakat memiliki nilai rendah dalam soal perhatian terhadap arsip dan dokumen. Sudah begitu jamak—komplementer dengan dakwaan soal minat baca—warga menjadi objek tentang minat arsip/dokumentasi dalam uar negatif. Karena perhatian rendah, maka perlu sekali pemerintah dan instansi terkait membuatkan program peningkatan minat arsip/dokumentasi.

Ada satu yang dilupakan, warga memiliki persepsi sendiri apa makna arsip/dokumentasi dan bagaimana cara mengerjakan dan menghidupkannya. Hal lain yang juga dilupakan adalah bahwa warga memiliki kekuatan sendiri membaca dokumentasi/arsip.

Warga hanya perlu sentuhan teknologi terkini atau penciptaan momentum bersama dalam perayaan. Dan itu, tak membutuhkan sebuah simposium yang spesifik dalam tema, akbar dalam perhelatan, dan bertahun-tahun dalam waktu; cukup dengan mendempet dalam program-program di tingkat desa.

17 July 2014

Ilusi Koalisi Permanen

:: gusmuh

Jika Prabowo Subianto mampu merealisasikan praktik politik “koalisi permanen” yang dideklarasikannya bersama PKS, PAN, Gerindra, Golkar, PPP, dan PBB, maka ia menjadi suksesor terbesar dalam sejarah politik nasional. Bahkan bisa dipastikan ia figur lebih besar dari Sukarno, si pemahat gagasan besar persatuan nasional di mana ide itu pernah diolok-olok sekondannya Hatta sebagai per-sate-an nasional.

Secara genealogis, tak ada satu pun koalisi yang permanen di panggung politik nasional. Segera setelah Pemilu 29 September 1955, Ketua PKI DN Aidit mewacanakan koalisi “persatuan dan perdamaian” yang terdiri dari PNI, NU, PKI, dan partai-partai gurem pendukung Sukarno. Kita tahu kemudian koalisi “persatuan dan perdamaian” itu saling bergesekan dengan keras di sidang-sidang konstituante. Koalisi itu hancur lebur bersama-sama dengan dibeslahnya Dewan Konstituante oleh Sukarno dan Nasution.

Manifesto Politik lalu diluncurkan Presiden Sukarno bersamaan dengan pembentukan koalisi baru yang permanen pada 17 Agustus 1959. Koalisi permanen ala Sukarno itu dinamakan “Front Nasional” dan dikukuhkan dengan beleid Perpres No 13 Tahun 1959.

16 July 2014

Jokowi Menang di Kampung Saya

:: gusmuh

Keluarga batih saya tinggal di empat kampung, empat kecamatan, empat kabupaten, empat provinsi. Dan di semua sebaran itu, dimenangkan sepenuh-penuhnya oleh kandidat Joko Widodo dan Jusuf Kalla dengan angka yang meyakinkan. 

Ibu saya tinggal di Desa Tondo, Kec Sirenja, Kab Donggala, Sulawesi Tengah dan sekaligus menjadi tempat berkumpulnya semua keluarga batih. Dari semua saudaranya yang berjumlah belasan orang, tinggal ibu, si bungsu, yang masih sehat dan hidup kini. Selain kedua orangtua, kakak dan adik juga tinggal di desa ini.

Bapak saya berasal dari Desa Bambalamotu, Kec Bambalamotu, Mamuju Utara, Sulawesi Barat. Semua keluarga batih ayah saya, termasuk keponakan-keponakannya berkumpul di desa laut ini. Pada Desember 2013 saya mengunjungi kembali kampung mandar di gigir pantai ini atau 1/4 abad silam ketika saya terakhir kali bermain di sana. Saat 1/4 abad silam itu, satu-satunya moda transportasi yang tersedia adalah perahu motor atau perahu layar dari Pelabuhan Donggala-Bambalamotu.

Mertua saya berasal dari Desa Jambu, Kec Kayen Kidul, Kab Kediri, Jawa Timur. Semua keluarga batih istri saya berkumpul di desa yang hanya beberapa kelokan dari "Kampung Bahasa" Pare ini. Di desa ini juga kegiatan sastra kampung di Kediri hidup.

Adapun saya tinggal dan menetap di Dusun Kembaran, Desa Tamantirto, Kec Kasihan, Kab Bantul, DIY. Sebuah kampung yang dialiri sungai kontheng dan sungai cemplung. Salah satu padepokan seni terkenal di kampung ini adalah Padepokan Seni Bagong Kusudiardja. Seniman sepuh yang melegenda juga tinggal di kampung yang berada di kaki bukit sempu, Djoko Pekik.

15 July 2014

Gebrak News, Suara News, VOA-Islam Menuding Budiman Sudjatmiko PKI di Gedung Parlemen

Gebrak News, Suara News, dan VOA-Islam serempak menuding anggota parlemen dari PDI-P Budiman Sudjatmiko sebagai "(kader) PKI menyusun Kekuatan Menyusup di DPR". Berikut ini tiga klipingnya:

Partai tanpa Kultur Penerbitan

:: gusmuh

Pemimpin partai datang hanya membawa sambutan, bukan bacaan kepada kader. Pemimpin membawa kepekan pidato, bukan refleksi pemikiran yang bernas dan mendalam. Pemimpin berpidato, Rakyat mendengar. Begitu saja. Bukan pemimpin menulis, rakyat membaca dan meresapinya.

Bahkan Sukarno yang jika berbicara menggetarkan, membakar semangat, kata-kata dan pilihan diksinya merasuk hingga tulang sumsum, masih berpikir bahwa yang ditinggalkannya kepada rakyatnya adalah tulisannya yang berapi-api, bukan suaranya. Maka dalam suasana pergerakan yang serba susah bergerak, dipimpinnya "perusahaan" jurnalistik yang dipimpinnya sendiri seperti Persatoean Indonesia, Soeloeh Indonesia Muda, Fikiran Ra'jat, serta buku-buku brosur. 

Ya, begitu banyak pemimpin partai yang lebih peduli pada fesyen Sukarno, tapi melupakan tradisi Sukarno membuat lembaga penerbitan dan tulisan. 

10 July 2014

Poster Politik

:: gusmuh

Hari pencoblosan dua kandidat Presiden RI memang sudah berlalu dan meninggalkan rumusan angka dan kelebatan persentase dalam kosakata tiap hari. Tapi pemilu 2014 menyisakan kegembiraan yang lain, yakni lahirnya beragam warna poster politik dari seniman visual.

Poster adalah plakat yang berisi lembar gambar dan teks yang disiarkan kepada publik. Berbeda dengan publikasi seperti buku, brosur, poster merupakan pesan singkat yang impresif lewat warna dan kata. Tujuannya tak hanya mempengaruhi, melainkan menggerakkan persepsi.

07 July 2014

Seniman Berpolitik

:: gusmuh

"1000 kali seniman tak berpolitik, 1000 kali pula politik mencampuri seni dan seniman" - Amir Pasaribu 

Kutipan dari komposer musik legendaris Indonesia itu saya temukan dari kliping koran tua Harian Rakyat edisi 13 April 1957. Kutipan itu berumur 57 tahun jika diukur dari masa saat Glenn Fredly, Bimbim Slank, dkk "mengorganisasi" musisi untuk menjadi relawan real politik Indonesia di Pemilu Indonesia ke-12.

Amir tahu dan sadar bahwa frasa "seniman berpolitik" adalah posisi! Seniman yang disebutnya sebagai pal di tengah kehidupan bangsa dan masyarakatnya, bukanlah spectateur atau penonton, melainkan pemikir, peserta. Yakni, peserta yang bergiat menyelamatkan bangsanya dari kerugian.

Lihat, ketika Indonesia berada dalam pencarian model politik kebudayaan yang tepat, Amir tak mengikuti pandangan minor: "hai, djangan kamu berpolitik, karya senimu akan merosot". Amir justru mengambil sikap seniman berpolitik karena, sebagaimana dirumuskan dengan tegas oleh Njoto pada pidato budaya di Kongres Lekra Solo pada Februari 1959, "djika kita menghindarinja (politik), kita akan digilas mati olehnja".

05 July 2014

Media Partai


:: gusmuh

Menjadi partai, mestinya disadari lebih awal, adalah pertarungan menuju singgasana kekuasaan. Partai bukan seperti paguyuban sosial atau perkumpulan berbasis keagamaan yang imun dari cita-cita politik kuasa. Maka orang yang memasuki partai adalah pribadi yang menyiapkan dirinya sedemikian rupa sebagai kandidat penguasa untuk menjalankan mesin sebuah rezim.


Sebagai kandidat pengendali sebuah rezim, maka secara reguler partai dihadapkan pada momentum pemilu dan kampanye kepada publik untuk menyosialisasikan misi, visi, inovasi, prestasi, dan rekam jejak prestasi partai dan pribadi-pribadi yang diusungnya untuk duduk di kursi kekuasaan.


Sampai pada titik ini partai membutuhkan media dengan jangkauan keterbacaan yang bukan saja impresif, melainkan juga meluas dan menjangkau sembilan pulau besar Nusantara dan ribuan pulau kecil lainnya.


Inilah yang membedakan partai-partai besar peserta pemilu 1955 dan pemilu sesudahnya, termasuk juga kini. Di Pemilu 1955, setiap partai, terutama partai yang memiliki basis pendukung yang massif, sadar betul dengan kondisi bahwa memiliki media (massa) sendiri itu penting, sepenting kekuasaan itu sendiri.

28 June 2014

Politik Kutipan


:: gusmuh

Warisan pemikiran sesungguhnya adalah serangkaian kutipan. Yang dimaksud kutipan di sini adalah pernyataan pendek yang diambil dari sebarisan panjang paragraf dari tulisan atau sekian panjang tuturan yang dinarasikan.


Kutipan adalah mata rantai pembentukan peradaban di mana kita terus-menerus tersambung oleh masa silam yang merupakan tali pusar asali. Lewat kutipan, pemikiran masa silam diwariskan, dikuatkan, diinovasikan. Kalimat-kalimat kunci penting dalam inovasi yang pernah ada terus hidup tatkala ia dijadikan kutipan bagi generasi terkini untuk membantunya memperkuat agumentasi.


Demikianlah kutipan menjadi salah satu memetika. Jika gen atau genetika disebut-sebut sebagai kunci pembentuk pertumbuhan fisik kita, maka meme (mim)/memetika adalah virus pembangun pemikiran/ide. Meme/mim, oleh karena itu, bukan cuma soal gambar-gambar yang lucu yang kita baca nyaris tiap detak waktu di lini masa media sosial.

27 June 2014

Pemilu 55 dan Lobi PKI untuk Gelora Bung Karno

:: gusmuh
Di Indonesia, secara genealogis, sepak bola diproduksi oleh daya politik yang kemudian bermetamorfosis sedemikian rupa dengan kompleksitas sejarahnya hingga kini menjadi arena niaga.
 

Karena urusan politik, maka untuk pertama kalinya di Pemilu 1955 sepak bola bagian yang tak terpisahkan dari kampanye politik oleh partai. Artinya, Golkar bukan menjadi partai pertama yang sadar bahwa sepak bola itu "penting" diurus sepanjang Orde Baru selama tiga dasawarsa. Ada sumur yang jauh lebih panjang di mana partai tak kalis di arena olahraga populis sejagad ini.
 

Di Pemilu 1955, sebagaimana lini masa yang terekam, satu-satunya partai yang secara eksplisit menyatakan keberpihakannya pada sepak bola adalah Partai Komunis Indonesia (PKI). Kesadaran PKI bahwa "sepak bola itu penting diurus dengan bagus" bukan hanya teori belaka, tapi teraplikasi dalam tindakan politik yang nyata.