27 November 2014

Kronik Ironis Film "Jokowi adalah Kita" di Ibukota RI dan sekitarnya

Media Indonesia, 20 November 2014, hlm 27


20 November || Tertulis di info film bahwa film "JaK" premiere di XXI untuk bioskop Pluit Village 1, Atrium, Metropole, Hollywood, TIM, Plaza Senayan, Citra, Puri, Kemang Village, Gading, Blok M Square, Daan ogot, Slipi, Gading, Sunter, Cipinang, Arion, Kalibata, Cibubur, Cijantung, Ekalokasari, Bogor Trade Mall, Bellanova, Galaxy, Detos, Depok, dan Cinere

21 November || Turun bebas dan basah kuyup dari layar

22 November || Tersisa di Blitz

23 November || Rontok semua tak tersisa. Bahkan kalah kedip dengan itu film "Salah Body"-nya si Sys Ns. Bioskop ibukota emang kejam


 
   
Media Indonesia 23 November 2014, hlm 24

Diplomasi Buku


 

Litografi itu terdapat di buku koleksi P.M. Subandrio berjudul Flowering Lotus: A View of Java karya Harold Forster (Longmans, Green and Co Ltd, 1958). Buku itu, bersama 200-an buku koleksi lainnya sang perdana menteri di era senjakala kekuasaan Sukarno, didapatkan Newseum Indonesia/Warung Arsip tersebar di pasar-pasar buku loak Jakarta. Di satu sisi kita berpikir bagaimana mungkin buku-buku penting dalam sejarah bacaan pejabat negara di sebuah era itu bisa terlempar di jalanan.
 

Tapi menyimak dari sejarah ironi buku, sudahlah, kabar ini hanya menambah deret panjang ironi koleksi buku tokoh bangsa, termasuk koleksi buku Sukarno, Hatta, Adam Malik, hingga P.K. Ojong. Tapi saya tak membicarakan soal tercecernya koleksi dengan sejarah panjang pengumpulan dan kedatangannya itu.

23 November 2014

Hatta, Bukittinggi, Buku

Perpustakaan Proklamator Bung Hatta - Bukittinggi

SAYA memasuki pelataran Perpustakaan Proklamator Bung Hatta pada pekan ketiga bulan November 2014 ketika warga kota Bukittinggi sedang menata aktivitasnya. Terletak di Gulai Banca, sebuah kawasan asri perbukitan dan satu kompleks dengan bangunan Balaikota, perpustakaan Sang Proklamator ini berdiri megah dan mewah. Semacam monumen bagaimana buku dan Hatta adalah satu kesatuan narasi yang tak terpisah. 

Dari tarikh yang terpatri di sebuah pigura yang dipajang di hall perpus yang berada di sisi kiri balaikota ini memberitahu bahwa saya terlambat datang sewindu untuk melihat bagaimana buku-buku Hatta mendapatkan rumah kembalinya yang pantas. Dengan kembalinya ikon Hatta ke Bukittinggi sekaligus menegaskan kota yang disebut Parisj van Andalas di Sumatera Barat ini menjadi kota bagi lahirnya sang pencinta buku garis-keras.

20 November 2014

Cargo Cult Papua dan Kapal Jokowi

PRESIDEN Joko Widodo selalu memberi ilustrasi Papua ketika berbicara tentang kapal kargo dan tol laut. Menurut Presiden, keberadaan kapal kargo adalah solusi keseteraaan ekonomi dan pasar barang antara pulau-pulau di Indonesia, termasuk Papua.
 

Bagi orang Papua, dan terutama sekali masyarakat rumpun Melanesia, kapal kargo bukan istilah baru. Cargo cult atau kargoisme justru menjadi inti dari semangat ratusan gerakan perlawanan di Papua.

16 November 2014

Parawisata

PRESIDEN Sukarno mengungkapkan kedongkolannya saat berpidato pada upacara penganugerahan penghargaan sayembara rencana Tugu Nasional di Istana Negara Jakarta, 17 November 1960. Pasalnya, jurnalis selalu menamakan kegiatan turisme yang dilakukannya sebagai sebuah “darmawisata”.

Sebelum warsa 60-an, kata “tour” memang sering diterjemahkan menjadi “darmawisata”. Padahal menurut Sukarno itu istilah yang keliru. Yang benar adalah pariwisata. Darmawisata itu mengembara yang diwajibkan, seperti halnya murid-murid sekolah yang melakukan “schoolwandeling” ke pelbagai situs wisata macam Kebun Raya, Cibodas, Gedung Merdeka, Monas, Museum Gajah, Candi Borobudur, dan sebagainya.

12 November 2014

Kontrakan (Wakil) Rakyat

Sebulan setelah DPR RI 2014-2019 dilantik, masalah pembangunan gedung baru parlemen mengemuka lagi. Berbeda dengan Maret 2011 yang isu pembangunan gedung baru ditolak keras oleh publik, kali ini berlangsung lamat-lamat. 

Membangun gedung baru seperti harapan laten dalam sejarah rumah parlemen Indonesia. Sebab pada kenyataannya rumah wakil rakyat itu tak ada jika rumah yang dimaksud adalah rumah yang sebagaimana awalnya dirancang, dibangun, dan diperuntukkan untuk wakil rakyat atau gedung parlemen; sebagaimana istana untuk presiden yang dirancang, dibangun, dan diperuntukkan untuk pemimpin negara.
 

Kronik parlemen menunjukan, sejak parlemen ini bersidang pertama kali dilantik pada 29 Agustus 1945, parlemen kita adalah parlemen tak berumah. Parlemen kontrakan. (Sekretariat DPR-GR, 1970 dan Syatria, 1995)

10 November 2014

Poster Bung Tomo

"Jamput! Ujok muruki aku. Ayo siap-siap nggepuk Inggris!" - Hasanuddin, Komandan PTKR

Foto/poster Bung Tomo berambut gondrong yang berhadapan dengan mikropon dengan urat muka menegang dan jari telunjuk tangan kanan menusuk langit adalah poster yang wajar. Poster itu selalu hadir ketika kalender Republik memasuki November. Poster Bung Tomo itu seperti mewakili bagaimana semangat kepahlawan yang tergelar di Surabaya itu sesungguhnya tergambarkan.
 

Tapi di sinilah masalahnya. Foto yang kadung publik anggap sebagai sesuatu yang wajar itu menyimpan narasi yang (di)gelap(kan). Foto itu tak pernah ada saat lima babak pertempuran Surabaya digelar: insiden bendera Hotel Yamato (19 September 1945), rapat raksasa Tambaksari (21 september 1945), pelucutan senjata tentara Jepang (29, 30 September, dan 1 Oktober 1945), pertempuran tiga hari melawan tentara Sekutu Inggris (28-30 Oktober 1945), dan pertempuran 10 November 1945.
 

Koran dwibahasa (Indonesia-Tiongkok) Nanyang Pos pada 1947 justru memberi kesaksian yang mengagetkan. Disitir dari Yudhi Soerjoatmodjo (2000), koran itu memuat beberapa bingkai foto Bung Tomo di mana mikropon, tenda bergaris-garis, dan seragam yang dipakai sama dengan properti yang ada dalam poster "pertempuran Surabaya". Bunyi keterangan foto itu: "Rapat oemoem di Malang jang baroe ini, mengoempoelkan pakaian-pakaian boeat korban-korban Soerabaja. Jang lagi berbitjara pemimpin pemberontak toean Soetomo".

09 November 2014

Politik Kuburan

TRAGEDI perang saudara di Indonesia paling besar di abad 20 bermula dari kuburan. Penggalian jenazah "7 pahlawan revolusi" dari kuburan di Lubang Buaya hingga iring-iringan jenazah para jenderal pada 1965 adalah rundown karnival-muram yang menjadi titik-tanda dimulainya operasi pembantaian massal.
 

Lubang Buaya dan Kalibata adalah dua kuburan. Tapi yang pertama menjadi simbol puncak dan sekaligus dalih pembuka adegan demi adegan horor politik. Sementara Kalibata adalah kuburan kehormatan bagi mereka yang berjasa bagi nusa dan bangsa.
 

Lubang Buaya dan Kalibata adalah narasi bagaimana pembelahan politik kuburan dilakukan. Simbol itu dipermainkan sedemikian rupa untuk menunjukkan amaliah sebuah kaum apakah bermoral bejat atau terhormat.

04 November 2014

Bahaya Laten Kodok Jokowi

“Kodok di Surapati dipindah ke Istana. Supaya kalau malam ada suara kodok. Kwang-kwong, kwang-kwong, kwang-kwong. Kan enak, jadinya fresh otaknya. Masa tiap hari dengarnya sepeda motor, bus, mobil” – Presiden RI Joko Widodo

Hidup memang tak selalu tampak seperti diharapkan. Kita berharap presiden Indonesia yang tampil terkini punya sosok yang gagah, tapi semesta politik menyerahkan sosok Joko Widodo. Tinggi, kurus, seperti kebanyakan tukang-tukang kayu dan bangunan di sekitar Kita.

Begitu pula kita barangkali berimpi-impi kalau bisa Presiden RI itu serigala mimbar: suaranya lantang, stok kosa-kata Inggris-Indonesianya di atas rata-rata, dan artikulasi setiap kata diucapkannya mantap. Tapi yang diberikan sistem demokrasi yang kita hormati bersama adalah seorang yang lebih memilih banyak kerja, kerja, kerja ketimbang berpidato di depan massa atau sibuk gelar rapat ini dan itu.

Demikian pula kita barangkali menyimpan ekspektasi yang demikian besar bahwa berita yang selalu diproduksi dari Istana Negara adalah kabar-kabar gagah seperti Presiden memiliki kuda-kuda nomor satu dengan perawatan terbaik yang bila menaikinya tampak si joki gagah betul.

Namun yang muncul justru yang tak pernah disangka-sangka, hewan peliharaan sang presiden adalah kodok.

02 November 2014

Mega dan Buku

TAK ada seorang pun yang bisa membantah bahwa Megawati Soekarnoputri adalah politisi paling senior di Indonesia saat ini. SBY masih mengejar karir militernya di negeri Balkan saat Mega sudah beradu nyali melawan arus keyakinan Orde Baru yang mabuk-kepayang menikmati masa-masa puncak kejayaannya. 

Lima tahun menjadi pusat dari narasi gravitasi politik oposan (1993-1998) tak juga menarik banyak peneliti untuk serius menuliskan kiprah Megawati. Kecuali buku tipis kumpulan liputan jurnalis Santoso dkk Megawati Soekarnoputri: Pantang Surut Langkah (ISAI, 1996, 176 hlm). Buku itu merekam dua episode paling genting dan penting dalam sejarah politik Megawati, yakni kisruh Kongres IV PDI di Medan pada Juli 1993 dan penyerbuan kantor PDI pada Juli 1996.