30 October 2014

Gotong-Royong dalam Zaken Kabinet

JANGAN membayangkan kerja atau zaken dalam nama kabinet Presiden Joko Widodo (Jokowi) adalah kerja sebagaimana dipahami sehari-hari: datang bekerja seharian, pulang jika waktunya tiba, begitu setepat-tepatnya. Lalu terima upah/gaji. 

Kabinet Kerja memiliki jejak historis yang jauh dan bukan sesuatu yang datang ujug-ujug. Sebagaimana frase “nawacita” dan “trisakti”, pemakaian istilah “Kabinet Kerja” menjadikan kita dengan mudah berkesimpulan bahwa Jokowi bersemangat mereaktualisasikan kembali jejak Sukarnoisme dalam manajemen kenegaraan.

Dan kita tahu kabinet kerja adalah nama kabinet Sukarno pasca ia “membereskan” Dewan Kostituante via Dekrit 5 Juli 1959. Dewan Konstituante yang ditugaskan merumuskan dasar negara dianggap Sukarno terlalu cerewet, banyak omong, dan menghasilkan omong-kosong yang tak berkesudahan.

Menjawab omong-kosong parlemen yang berlarut-larut itulah Sukarno membuat antitesis dalam manajemen pemerintahannya di era Demokrasi Terpimpin. Boleh dibilang zaken-kabinet yang dibayangkan Sukarno berlawanan dengan parlemen tukang cerewet dan menghabiskan energi berwacana. Walaupun kita tahu, Sukarno tak lebih banyak omong ketimbang Dewan Konstituante yang dikritiknya.

26 October 2014

Kultur Bahari

Sejak debat capres hingga Joko Widodo menjadi presiden terpilih, wacana kemaritiman mengalami pasang naik. Apalagi, salah satu titik utama perhatian Jokowi adalah membangun poros maritim sebagai kekuatan ekonomi baru Indonesia.

Yang terjadi kemudian nyaris istilah maritim menjadi kata tunggal untuk membahas apa pun soal laut. Padahal, istilah maritim hanya berkait dengan jalur perniagaan dengan menggunakan lintasan/pelayaran laut. Karena itu titik berat maritim adalah segala sesuatu yang terkait dengan tata kelola niaga laut seperti ketersediaan dermaga-dalam yang representatif dan penambahan kapal “tol/petikemas” laut. 

24 October 2014

Kabinet Jokowi Kabinet Ayam Jantan Den Mojo

“Sudah bolak-balik saya katakan, saya bangun kabinet kerja” — Presiden Joko Widodo

Dan koran/majalah yang saya baca keesokan hari setelah pelantikan yang gegap-gempita 20 Oktober memasang judul-kepala di halaman pertama: “Kerja, Kerja, Kerja!” (Tempo), “Bekerja, Bekerja, Bekerja!” (Kedaulatan Rakyat), “Kerja, Kerja, Kerja” (Koran Merapi), “Ayo Bekerja!” (Solo Pos), “Selamat Bekerja, Presiden Rakyat!” (Suara Merdeka), dan “Lupakan Pesta, Saatnya Bekerja” (Pikiran Rakyat).

Betapa pun para redaktur itu bolak-balik menyusun kalimat, tetap saja intinya “Kerja”. Tapi pertanyaannya, mau kerja apa? Karena menurut kamus, kerja itu bisa diikuti apa saja, seperti kerja sambilan, kerja sampingan, dan kerja musiman. Bisa jadi, kalau tak mawas mencari sosok “yang berkarakter dan orisinal” (istilah Presiden Jokowi), frase kerja di kementerian bisa berubah menjadi “kerja musiman” dan bukan pengabdian yang tulus ikhlas untuk Ibu Pertiwi.

Maka dari itu, Presiden Jokowi berpayah-payah memberi penjelasan tambahan bahwa, “Saya tidak mau orang (ca-men) datang dengan program awang-awang, tataran konsep, wacana. Saya mau yang operasional, ada target. Bicara kedaulatan pangan, ya harus jelas berapa kilometer dibangun dalam setahun, berapa hektar lahan baru dibuka.”

Saya lebih suka memakai kata “produktif”. Sebab dalam hukum S-P-O-K, semua predikat umumnya kata kerja. Misalnya, “Saya bermimpi”. Bermimpi itu adalah kerja dalam hukum yang menjadi prinsip pengajaran di program “Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar” yang diampu Bapak J.S. Badudu saban Rabu di layar kaca kebanggaan masyarakat 80-an, TVRI. Jadinya, kerja yang di-jelentreh-kan Bapak Presiden bisa berubah menjadi bumerang. Melamun, betapapun negatif orang memandangnya, tetap saja kata kerja, bukan?

Produktif, selain bermakna banyak secara kuantitatif, juga terkait dengan manajemen waktu dan target yang dicapai. Bukan awang-awang, seperti kata Bapak Presiden.

Mencari pendamping hidup itu kerja mulia. Tapi dia akan menjadi pencarian sia-sia dan menjatuhkan “semangat petarung” yang dibangun sejak dari niat (frase yang yang dipakai Bapak Presiden dalam mencari ca-men) apabila tak pernah ada kejelasan, berapa lama pencarian itu berlangsung dan dengan cara apa meraihnya. Memangnya, mencari jodoh gak butuh ongkos dan tenaga, po? Sementara usia terus diringkus waktu.

Belajarlah dari ayam jantan saya yang hanya butuh semalam untuk menaklukkan hati pasangannya yang di jam-jam awal, naujubillah, lari dan liar bila didekati. Karena dalam jiwanya ada insting petarung dan penakluk, maka Tuhan membalas usahanya. Sangkil, mangkus, dan pagi keduanya sudah berproduksi secara bersama-sama (kawin).

Bapak Presiden Jokowi membayangkan mental sosok menterinya di Kabinet Produktif itu mungkin seketuk-sebunyi dengan bagaimana Pram memahami garis lurus produktivitas ke korupsi: “Mental bangsa ini konsumtif, tidak produktif. Akibatnya mental konsumtif ini melahirkan benua korupsi.”

Bagaimana Pram mengewajantahkan kultur produktif dalam hidup hariannya?

Alkisah, suatu sore anak tertua sastrawan Pramoedya Ananta Toer menanam bunga di halaman. Pram sebagai pemegang kekuasaan eksekutif paling tinggi di rumahnya tidak melihat perbuatan mulia itu, tertidur setelah seharian lelah bekerja di ladang. Keesokan paginya, astaga, saat turun ke tanah dilihatnya bunga-bunga. Tanpa berpikir panjang lagi, dicabutinya semua bunga itu. Kata Pram, bunga itu tidak produktif.

Pikiran Pram cepat, pendek, dan khas eksekutor, sebagaimana Presiden Jokowi adalah kepala eksekutif tertinggi dalam hukum tata negara. Pikirannya tidak mendakik-dakik, seperti memberi pemaknaan bahwa bunga adalah tanaman kiriman Ilahi agar hidup harian yang sumpek memiliki jeda; bunga adalah pernyataan kehalusan budi manusia sebagai makhluk pecinta. Untuk menegaskan bahwa bunga itu tumbuhan tak produktif, keesokan harinya, Pram mengganti bunga malang itu dengan tanaman cabe dan tomat.

Tidak hanya bunga saja menjadi korban dari “mental produktif” yang menyala-nyala dalam diri Pram, tapi juga kolam renang. Ya, di halaman rumah Pram yang berlantai lima di Bojong Gede itu tergeletak sebuah kolam renang 3 x 6 meter. Setiap Sabtu dan Minggu kolam itu dipergunakan cucu-cucunya untuk mandi, bergembira, dan bersenang-senang setelah sebelumnya semua keceriaan itu dirampas dengan biadab oleh Jakarta.

Mungkin semangat berproduksi yang menggelegak terus menggelitiki waham Pram, dengan sepihak ia memutuskan mengubah peruntukkan kolam renang itu, menjadi; kolam ikan. Tak lupa ia lepas beberapa ekor angsa yang dibelinya di pinggiran jalan raya untuk menjadi penghuni kolam renang yang mula-mula biru-bersih itu.

Pram berpikir, kolam renang kok tidak produktif. Menghabiskan begitu banyak tenaga untuk mengurasnya. Dengan menanam ikan di kolam renang, pikir Pram, kolam itu bisa berproduksi dan memberi protein harian bagi dia dan keluarganya yang hidup semata dari honor tulisan. Cucu-cucunya pun, apa boleh bikin, mengubah kesenangan bermain dalam air, menjadi makhluk tepian air yang sabar: memancing.

Khas berpikir Pram yang “produktif” itu khas berpikir Presiden Jokowi yang suatu hari bilang, “Kalau dikasih tantangan nyata di depan mata tapi jawabannya (ca-men) akademis (maksudnya ndakik-ndakik dan tak memberi solusi-operasional), ya tidak bisa masuk.”

Apalagi, pemerintahan Presiden Jokowi ini butuh duit sangat besar untuk menjalankan programnya. Kalau bajeting itu terganjal oleh palu parlemen, sosok petarung dan bermental produktif yang dibayangkan Presiden Jokowi tidak langsung jatuh semangat.

Bagi petarung yang bermental produktif, kekurangan bukan untuk ditangisi, tapi dicarikan jalan keluarnya secepat-cepatnya, semisal menggenjot penerimaan pajak dan menaikkan BBM. Ups.

Contoh paling melatanya begini. Anda tahu honor di mojokdotco itu kecilnya berlipat-lipat dibandingkan dengan menulis di web yang dikelola Denny Januar dan Fatin Hamama. Tapi orang produktif dan berprinsip tidak lalu memaki-maki pendiri web ini, tapi selalu berkata pada dirinya sendiri: tidak apa, biar kecil asal dipakai untuk kehidupan produktif insya Allah berkah.

Maka membeli sepasang ayam dari honor itu adalah salah satu pilihan produktif, ketimbang jor-joran dihabiskan beli pulsa untuk telepon cem-ceman, ongkos internetan untuk skype dan chatting via FB tiap malam, biaya bioskop, bill restoran, ongkos parkir di perpus Malioboro, dan membeli buku mahal di Gramedia untuk merampok hati sang pujaan.

Tak tahunya, si dia yang diincar sepenuh ikhtiar dan menghabiskan honor yang tak seberapa dari mojokdotco itu berstatus masih resmi pacar orang. Lalu stress dan merenggut kemampuan menulis selama berminggu-minggu. Nah, siapa yang rugi?

Pada akhirnya hidup yang produktif adalah banyak kerja banyak akal. Jika tampak sedikit naif, tak apa, maafkan saja.



Post-Script: Nama si cebolang (cebol anggun) ini Den Mojo yang merupakan akronim ” Deni dari Mojok”. Saat tulisan ini dimuat, Den Mojo sudah membuahi betina tercintanya dan, plung, hadirlah dua telur. Den Mojo adalah pejantan produktif dan berpikir ces ces ces. Alih-alih nyari penyakit di dunia kesuasteraan, hari-hari Den Mojo semata dihabiskan untuk bercinta dan berproduksi.

* Pertama kali dipublikasikan di situs daring mojok.co, 24 Oktober 2014

Kultur Lebah Pekerja

SEHARI setelah Joko Widodo (Jokowi) diambil sumpahnya sebagai presiden ke-7 RI, halaman depan media cetak menabalkan sebesar-besarnya judul-kepala dengan frase “kerja”. 

Solo Pos (“Ayo Bekerja!”), Suara Merdeka (“Selamat Bekerja, Presiden Rakyat!”), Pikiran Rakyat (“Lupakan Pesta, Saatnya Bekerja”), Kedaulatan Rakyat (“Bekerja, Bekerja, Bekerja!”), Koran Merapi (“Kerja, Kerja, Kerja”), dan Tempo (“Kerja, Kerja, Kerja!”) adalah sekian media cetak yang secara verbal memilih frase “kerja” untuk menunjukkan bagaimana karakter pemerintahan Jokowi periode 2014-2019.

Frase “kerja” adalah cara Jokowi menyorongkan apa yang menjadi ciri khasnya. Tapi banyak yang salah paham kemudian bahwa mereka yang bekerja adalah antiwacana dan pemikiran yang sifatnya reflektif. Kerja adalah pasase yang kerap dianggap menjauh dari kultur ilmiah. 

Kultur kerja Jokowi ini mengingatkan pada Maurice Maeterlinck, nobelis sastra 1911 asal Belgia yang menulis buku legendaris: The Life of the Bee (1954, 168 hlm). Buku tipis yang aslinya terbit dalam bahasa Perancis pada 1928 ini adalah salah satu buku klasik yang membedah secara menarik bagaimana kultur kerja lebah yang disebutnya sebagai “the foundation of the city”

20 October 2014

Jokowi, si Manusia Harian

JIKA Joko Widodo (Jokowi) adalah buku, maka ia adalah buku representasi dari massa. Menyebut frase "massa" kita memperhadapkannya secara vis a vis dengan bangsawan asali, bangsawan pemikir, dan sekaligus elite militer. Tiga jenis kelas itulah yang secara bergantian menjadi piranti utama kepemimpinan politik nasional dan menguasai birokrasi pemerintahan.

18 October 2014

Riwayat Orang Biasa | Subandi (1960-2014) | #RIP

KABAR dari gang kedua di Dusun Kembaran RT 2, Tamantirto, Kasihan, Bantul, subuh hari 18 Oktober itu buruk dan mengagetkan. Salah satu kepala tukang Dusun Kembaran meninggal dunia. Tak ada kabar bahwa lelaki paruh baya yang kerap dipanggil Pak Bandi itu mengidap penyakit yang mengantarnya ke alam baka.

Betapa tidak, ia masih menyelesaikan pekerjaan terakhirnya membuat atap rumah dan pengecatan terakhir di rumah tetangga persis di belakang rumah saya. Dua hari sebelum mangkatnya saya masih bercakap-cakap dengannya di atas atap sambil ia terus mengayunkan palu.

Selain mengerjakan atap rumah tetangga di belakang rumah saya, Pak Bandi mengerjakan salah satu rumah di Kadipiro. Siang di belakang rumah, malam di Kadipiro. Artinya, ia bekerja hampir 17 jam. Siang dan malam.

Dugaan inilah yang menjadi musabab kabar buruk itu datang subuh hari: Pak Bandi kelelahan. Ia rehat sejenak saat jelang magrib setelah seharian bekerja. Lalu melanjutkan pekerjaan yang sama di Kadipiro malam hari. Pulang mandi. Makan penganan yang disediakan untuknya di Kadipiro yang dibungkusnya pulang. Minum. Lalu tidur. Subuh sudah terbujur kaku dan dingin.

Kembaran pun gempar. Tukang paling berbakat itu seperti hilang tiba-tiba.

17 October 2014

Raffi Ahmad, Denny JA, dan Ironi di Bulan Oktober

“Negara ini adalah negara hukum. Apa artinja ini? Bahwa tiap2 pelanggaran hukum jang merugikan, harus diadili setjara setimpal. Dan dalam hal percobaan kudeta 17 Oktober ini, jang terdjadi bukanlah pelanggaran biasa, yang terdjadi jalah suatu kedjahatan politik! Adilkah djika pengadilan Republik mengampuni kedjahatan ini?” – Editorial Harian Rakjat, 17 Februari 1955, hlm 1

Saya sedang membaca runtutan editorial Harian Rakjat/PKI sepanjang Februari 1955 tentang upaya pemutihan peristiwa “17 Oktober”, ketika di media sosial gaduh oleh kriminalisasi dua sastrawan Indonesia oleh staf khusus Denny Januar Ali.

Peristiwa “17 Oktober” yang terjadi tahun 1952 adalah tonggak kekalahan bintang serdadu paling bersinar di tubuh Angkatan Perang, A.H. Nasution. Tepat ketika Prabowo Subianto berulang tahun yang pertama. Tujuh bulan sebelum pemilu 55, perwira-perwira Angkatan Perang berunding di Yogyakarta untuk memutihkan “dosa-dosa politik” Nasution terhadap Sukarno dalam peristiwa yang disebut PKI “Kudeta 17 Oktober.”

Kutukan 17 Oktober

KETIKA Prabowo Subianto merayakan ulang tahunnya yang pertama, 17 Oktober 1952, sejumlah jenderal di bawah komando Kolonel A.H. Nasution melakukan “show force” di depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat. Ini parade militer yang tak biasa. Anda tahu Medan Merdeka Utara bukan trek-trekan kendaraan lapis baja yang biasa sebagaimana saban Sabtu dini hari kita dapati jalan ring satu RI ini menjadi adu balap geng motor. Pasca Revolusi dan negara sedang di gerbang politik liberal, semua tank diparkir di barak.

16 October 2014

Daftar Skripsi dan Studi yang Mengulas Sejumlah Buku Muhidin M Dahlan

Buku "Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur" adalah buku yang paling banyak direspons oleh mahasiswa dari Banten hingga Gorontalo untuk dijadikan tugas akhir. Tidak kurang 20 skripsi sudah dituliskan untuk buku yang pertama kali diterbitkan pada November 2003 di Yogyakarta itu. Berikut ini adalah daftar skripsi mahasiswa dari seluruh kampus di Indonesia yang mengaji buku-buku yang saya tulis. [gusmuh]

04 October 2014

Haji dan Revolusi

SALAH SATU adegan paling dramatis dalam ritus haji adalah perang besar di Mina saat tarikh-sejarah menunjuk 10 Zulhijah. Seperti Kurusetra, Mina menjadi gelanggang revolusi bagi jutaan pahlawan-pahlawan tauhid untuk pemurnian tatanan masyarakat dari kekuatan tiga watak setan yang disimbolkan oleh tiga berhala dalam ritus jumrah.

Melempar jumrah adalah tindakan konkrit dan kolektif meruntuhkan tiga kekuasaan dalam tiga berhala yang saling berkait satu dengan lainnya. Berhala ula, wushta, dan uqba adalah perlambangan dari tiga watak kuasa yang selalu ada dalam imperium kekuasaan despotik manusia di mana pun di bumi ini.