::engkos kusnadiSaya punya bukti, nukilan pengalaman beberapa orang (dalam negeri) yang sukses melewati fase hidupnya bersama buku.
Kata Jacob Oetama: “Membaca masih merupakan jalan dan sarana ekpresi diri berkomunikasi serta terus maju melalui pencerdasan dan percerahan”.
Kata Fuad Hassan: “Betapa bahan bacaan yang kita cerna semasa anak atau remaja cukup membekaskan pengaruh pada perkembangan minat dan pendewasaan kita selanjutnya sebagai pribadi.”
“Membaca merupakan fungsi yang sangat penting artinya bagi kemajuan tingkat peradaban manusia”, kata Ajip Rosidi, “tidak semua buku yang saya beli sempat saya baca, bahkan kebanyakan belum sempat saya baca. Tetapi dengan adanya buku tersebut dalam koleksi, maka jika suatu waktu memerlukan informasi mengenai hal yang diuaraikan dalam buku itu, saya tidak sukar mencarinya. Karena sejak muda saya memutuskan untuk hidup menjadi pengarang maka buku merupakan keperluan yang harus selalu ada disamping saya.”
Menurut Azyumardi Azra, “Buku merupakan salah satu sumber terpenting dalam pembentukan pandangan dunia (wordview), cara berpikir, karakter dan tingkah laku saya sehari-hari. Buku bagi saya adalah teman setia, yang selalu mendampingi atau ikut bersama saya dirumah, dan diperjalanan.”
Budi Darma berkata: “Bacaan yang baik adalah ketika selesai membaca tidak berarti selesai segalanya, tapi justru merupakan awal dari pengembaraan pikiran, perasaan, dan naluri pembaca. Karena itulah, berbagai bacaan yang baik yang mampu memukau saya, akan meninggalkan kesan yang sukar terlupakan. Pengembaraan yang ditawarkan oleh bacaan yang lain inilah yang kemudian menambah wawasan saya.”
Franz Magnis-Suseno bilang, “Saya menyadari bahwa membaca itu betul-betul menjadi sorga bagi saya. Membaca itu tidak hanya memperluas cakrawala, melainkan juga merupakan pelepasan emosional dan membantu mengatasi kesulitan-kesulitan. Membaca juga berarti membiarkan diri tertarik keluar dari penjara perhatian berlebih pada diri sendiri, melihat dunia, manusia, mengalami tantangan, terangsang dalam fantasi, bersemangat untuk melakukan sesuatu.” (Bukuku Kakiku, Kompas Gramedia)
Judul Buku: Para Penggila Buku (Seratus Catatan di Balik Buku)
Penulis : Diana AV Sasa & Muhidin M Dahlan
Penerbit: I:Boekoe, Jogjakarta (2009)
Tebal: 667 halaman, 24 cm
Harga: Rp 200.000
ISBN: 978-979-1436-14-4
Engkos Kosnadi (Rama Prabu), Pendiri/Peneliti Kaoem Dewantara Institute
Blog: http://ramaprabu.multiply.com
FB: Rama Prabu
Resensi ini dimuat di Oase Kompas Edisi 12 Juni 2009
.:bacalengkap:.
.:kembali:.
::engkos kosnadiBuku para penggila buku ini sepertinya diarahkan untuk “provokasi” bagi pembaca pemula mau memulai menggilai buku, membacanya dan yang telah jadi “kutubuku” lebih meningkatkan kemampuan dan kegilaannya baik sebagai penulis handal maupun kolektor.
Banyak patahan tulisan didalamnya yang terus mendorong-dorong, merayu-rayu dan mengangkat adrenalin ke puncak tertinggi untuk bersama “mencintai buku”.
Yang manarik ada pada sebuah kutipan yang mengatakan “bila anda ingin sekali membaca sebuah buku, tetapi belum ada yang menulisnya maka anda harus menulis”.
Nah ini bukti rayuan dan bujukan itu! Lantas apakah benar aktivitas membaca berkait erat dengan membaca?
Sebelumnya kita harus tahu bahwa membaca adalah proses untuk memperoleh pengertian dari kombinasi beberapa huruf dan kata.
Juel (1988) mengartikan bahwa membaca adalah proses untuk mengenal kata dan memadukan arti kata dalam kalimat dan struktur bacaan.
Hasil akhir dari proses membaca adalah seseorang mampu membuat intisari dari bacaan.
Membaca memang bagi kebanyakan dari kita intensitasnya terkalahkan oleh kebiasaan “mendengar” dan “melihat”.
Judul Buku: Para Penggila Buku (Seratus Catatan di Balik Buku)
Penulis : Diana AV Sasa & Muhidin M Dahlan
Penerbit: I:Boekoe, Jogjakarta (2009)
Tebal: 667 halaman, 24 cm
Harga: Rp 200.000
ISBN: 978-979-1436-14-4
Engkos Kosnadi (Rama Prabu), Pendiri/Peneliti Kaoem Dewantara Institute
Blog: http://ramaprabu.multiply.com
FB: Rama Prabu
Resensi ini dimuat di Oase Kompas Edisi 12 Juni 2009
.:bacalengkap:.
.:kembali:.
::engkos kosnadi"Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh dikemudian hari."
Saya orang yang sering tertegun membaca pernyataan Pramoedya Ananta Toer ini.
Ya, kekuatan tulisan-kedahsyatan kata-kata dimana ujaran lama berkata Scipta Manent verba Volant (yang tertulis akan tetap mengabdi, yang terucap akan berlalu bersama angin).
Kembali pada kuasa buku, kita tanya saja dari manakah Eropa menjadi kuasa seperti sekarang?
Muasal pencerahan Eropa setelah dark age (era kegelapan) yang melingkupinya, tak juga lagir dari pernyataan Immanuel Kant, “We heiss aufklarung?” tahun 1784 di Berlin.
Atau kegetiran hidup Galileo yang diinkuisisi dan dikafirkan oleh gereja dan Copernikus tak dengan sendirinya mendendangkan paradigma helio sentries yang datang dari langit.
Atau bahkan Rene Descartes tak serta merta mencetuskan postulat cogito ergo sum tanpa musabab. Para penggagas pencerahan itu mesti berterimakasih pada rahib-rahib di biara ordo Santo Benediktus yang penuh dengan labirin perpustakaan.
Hampir seluruh hidupnya diabdikan untuk menyalin naskah-naskah kuno menjadi buku. Para rahib ini mentranskrip khazanah peradaban Islam, Persia, Yunani, serta belahan dunia lain, lantas menerjemahkan dalambahasa ibunya.
Tugas utama mereka mencari naskah dan mentransfer ilmu ke tradisi Eropa. Mereka dengan semangat-semangat yang tak kunjung dirundung putus, mengembara ke Negeri Timur Jauh.
Sambil berziarah, mengumpulkan naskah, menyalin dan menetbitkannya.
Akhirnya warisan pengetahuan itu terselamatkan dengan rapi. Kelak transkrip naskah-yang telah menjadi buku--itulah yang ditelan oleh filosof dan ilmuwan Eropa masa pencerahan untuk menandai suatu era: Modernitas Eropa! (Scipta Manent! Mengabadikan Pengetahuan Lewat Buku, Balairung, 2001).
Judul Buku: Para Penggila Buku (Seratus Catatan di Balik Buku)
Penulis : Diana AV Sasa & Muhidin M Dahlan
Penerbit: I:Boekoe, Jogjakarta (2009)
Tebal: 667 halaman, 24 cm
Harga: Rp 200.000
ISBN: 978-979-1436-14-4
Engkos Kosnadi, Pendiri/Peneliti Kaoem Dewantara Institute
Blog: http://ramaprabu.multiply.com
FB: Rama Prabu
Resensi ini dimuat di Oase Kompas 12 Juni 2009
.:bacalengkap:.
.:kembali:.
::nantoDirekomen kawan yang kerja di toko buku sejak masih di Bandung. Menghebohkan katanya. Ketemunya 1-2 tahun lalu.
Saya cuma ingat kawan-kawan di SMA. Kawan yang terlibat dengan organisasi yang ada dalam buku ini. Begitu mencintanya, namun entah yang apa yang dicinta. Yang ada adalah selain dirinya, semua nista. Beruntung kami akhirnya bisa berkarib kembali, menerima masing-masing dengan apa adanya.
Satu kalimat saya untuk meyakinkan seorang dari mereka untuk datang ke acara silaturahmi angkatan, "yang lalu adalah yang lalu, kita datang ke sana sebagai sesama alumni SMA 1. Hanya itu!" Penegasan dari kami bahwa api yang pernah dia kibaskan telah lenyap dalam sekejap tangan bersalaman. Semoga itu yang meyakinkan dia untuk datang.
Pelajaran moral: Bila mencari dengan hati yang marah, bersiaplah menjadi terbakar.
Klik di sini untuk melihat cas cis cus buku ini di Good Reads Indonesia.
.:bacalengkap:.
.:kembali:.
::h tanzilBuku ini keren banget! Cocok banget untuk para penggila buku! Bukan kutubuku kalau belum baca buku ini.

Buku ini berisi 100 esai tentang buku, ini bab2 besarnya:
1. Kisah Buku
2. Klub Buku
3. Musuh Buku
4. Guru Buku
5. Revolusi Buku
6. Film Buku
7. Rumah Buku
8. Tokoh buku
Semua ditulis dengan kalimat2 yang enak dibaca, dan menggugah semangat kita untuk semakin menggilai buku.
Klik di sini untuk mengetahui lebih lanjut baik-buruknya buku ini. Khususnya debat soal harga buku.
.:bacalengkap:.
.:kembali:.
::engkos kusnadiSeratus catatan di buku ini pula yang hendak membuka selubung tabir tentang buku, dari semua pusparagam pandang walau beberapa tema tak tersuguhkan seperti bagaimana cerita resensor (peresensi), bagaimana tren perpustakaan digital yang sedang merebak, blog dan facebook dalam tradisi menulis kontemporer yang terkesan luput dari amatan.
Memang, banyak cerita-buku sejenis yang telah tampil dijagad perbukuan dan bagi para penggila buku. Tapi buku ini menjadi salah satu buku yang wajib dibaca.
Buku yang tak gampang doyong inilah yang meramu semua rempah-rempah tentang buku dari mulai cerita tentang buku, kota buku, klub buku, penulis dan bagaimana menjadi penulis, ruang-ruang perpustakaan, yang merana, musuh-musuh buku dan masih banyak kisah menarik seputar buku.
Hanya sayang buku yang mengadopsi mencetak semua kata yang mengandung kata “anda” dengan A besar seperti dilakukan The Secret ini dikeluhkan berharga lumayan mahal oleh beberapa penggila buku tapi selebihnya inilah buku yang membaca buku!
Membaca itu wajib dan menulis adalah keharusan!
Judul Buku: Para Penggila Buku (Seratus Catatan di Balik Buku)
Penulis : Diana AV Sasa & Muhidin M Dahlan
Penerbit: I:Boekoe, Jogjakarta (2009)
Tebal: 667 halaman, 24 cm
Harga: Rp 200.000
ISBN: 978-979-1436-14-4
Engkos Kosnadi (Rama Prabu), Pendiri/Peneliti Kaoem Dewantara Institute
Blog: http://ramaprabu.multiply.com
FB: Rama Prabu
Resensi ini dimuat di Oase Kompas Edisi 12 Juni 2009.
.:bacalengkap:.
.:kembali:.
::engkos kosnadiSebuah penelitian Stanford Research Institute pernah melakukan sebuah penelitian tentang effective communication dan menemukan bahwa ada empat keterampilan dengan masing-masing bobotnya, yaitu listening skill (50 %), expression skill (25 %, dengan komposisi 30:70 untuk verbal:body language), reading skill (15 %) dan wraiting skill (10 %).
Reading skill menempati bobot 15 % tetapi menurut Sudhamex AWS bahwa membaca itu sesungguhnya kasus intrapersonal communication (solliloqui) dan bukan interpersonal communication.
Jadi dapat ditafsirkan bahwa peran membaca itu tidak hanya melalui melalui “reading skill” melainkan pula “listening skill” dalam hal ini karena mendengar disini adalah terhadap suara hati (inner voice) kita sendiri.
Itulah membaca, tapi manfaat apa sesungguhnya yang didapat dari bacaan?
Sebuah studi mengatakan membaca membawa bekal manfaat yang tidak sedikit seperti menghilangkan kecemasan dan kegundahan.
Ketika sibuk membaca, seseorang terhalang masuk ke dalam kebodohan, kebiasaan membaca membuat orang terlalu sibuk untuk bisa berhubungan dengan orang-orang malas dan tidak mau bekerja.
Dengan sering membaca, orang bisa mengembangakan keluwesan dan kefasihan dalam bertutur kata.
Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir; membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.
Dengan membaca, orang mengambil manfaat dari pengalaman orang lain: kearifan, kebijaksanaan para sarjana.
Artinya, dengan sering membaca, orang mengembangkan kemampuannya; baik untuk mendapat dan memproses ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan aplikasinya dalam hidup.
Membaca membantu seseorang untuk menyegarkan pemikirannya dari keruwetan dan menyelamatkan waktunya agar tidak sia-sia, dengan sering membaca, orang bisa menguasai banyak kata dan mempelajari berbagai tipe dan model kalimat.
Lebih lanjut lagi ia bisa meningkatkan kemampuannya untuk menyerap konsep dan untuk memahami apa yang tertulis “di antara baris demi baris” (memahami apa yang tersirat). (”Don’t be Sad”, DR. Aidh bin Abdullah al-Qarni, MA).
Tapi dengan itu lantas kita percaya begitu saja kalau belum ada yang mempraktekan?
Judul Buku: Para Penggila Buku (Seratus Catatan di Balik Buku)
Penulis : Diana AV Sasa & Muhidin M Dahlan
Penerbit: I:Boekoe, Jogjakarta (2009)
Tebal: 667 halaman, 24 cm
Harga: Rp 200.000
ISBN: 978-979-1436-14-4
Engkos Kosnadi (Rama Prabu), Pendiri/Peneliti Kaoem Dewantara Institute
Blog: http://ramaprabu.multiply.com
FB: Rama Prabu
Resensi ini dimuat di Oase Kompas Edisi 12 Juni 2009.
.:bacalengkap:.
.:kembali:.
::engkos kosnadiKini dunia telah berubah sejak Guttenberg melatari fondasi khasanah transliterasi dunia, manusia diajak merembesi huruf ke mana-mana kesemua ideologi, ilmu pengetahuan, nasionalisme dan segala turunannya dibahasakan.
Dengan buku penemuan dan kemajuan bias dirayakan atau meminjam bahasa Gus Muh sang penulis buku ini “diupacarai”.
Dengan kata lain kebudayaan berkembang, kasus sosial-politik yang membuncah, ideologi dan religiusitas personal dibangun, dikembangkan, dibentuk diatas titisan-titisan huruf yang dikelola dicetak masal.
Inilah sebuah usaha untuk mencegah lunturnya ingatan, manusia dulu mengabadikan dengan papyrus, rontal, prasasti.
Dan kini dengan buku pengetahuan tersimpan, disistematisasikan, diawetkan, dibaca dan akan melahirkan tanggapan…dan inilah kerja wacana, kerja membentuk peradaban apalagi kini di era digital semuanya terlihat lebih mudah dan indah!
Judul Buku: Para Penggila Buku (Seratus Catatan di Balik Buku)
Penulis : Diana AV Sasa & Muhidin M Dahlan
Penerbit: I:Boekoe, Jogjakarta (2009)
Tebal: 667 halaman, 24 cm
Harga: Rp 200.000
ISBN: 978-979-1436-14-4
Engkos Kosnadi (Rama Prabu), Pendiri/Peneliti Kaoem Dewantara Institute
Blog: http://ramaprabu.multiply.com
FB: Rama Prabu
Resensi ini dimuat di Oase Kompas Edisi 12 Juni 2009
.:bacalengkap:.
.:kembali:.
::aditya n. widiadiProvokatif dan Agitatif. Itulah kata yang pas untuk menilai judul buku ini. Namun, justru disinilah letak kekuatan buku ini untuk menarik mata pembaca agar memelototi kata demi kata dalam setiap halaman, dengan pertanyaan yang senantiasa membebani kepala “benarkah lekra tak pernah membakar buku?”
Terlebih, tema bakar-membakar buku adalah trend kekinian bagi pihak-pihak yang merasa berkuasa untuk melenyapkan buku-buku yang dianggap mengganggu “ketertiban umum” dan kelanggengan kekuasaan.
Pembakaran, atau minimal pelarangan buku bukanlah dominasi kebijakan orde lama, orde baru, ataupun masa reformasi sekarang. Hampir di sepanjang sejarah umat manusia sejak mengenal budaya tulis, selalu terdapat pihak yang keblinger untuk membakar “puncak-puncak peradaban” demi melanggengkan posisinya dalam panggung sejarah. Dan apapun alasannya, membakar buku adalah “dosa besar.”
Buku ini disusun dengan menggunakan sumber tunggal dari Harian Rakjat, sebuah surat kabar harian yang pertama kali terbit 31 Januari 1951 dan menjadi corong Partai Komunis Indonesia (PKI). Harian yang terakhir terbit pada 3 Oktober 1965 ini, memiliki edisi khusus hari minggu yang dinamakan Lembar Kebudayaan. Melalui wadah inilah para budayawan Lembaga Kebudajaan Rakjat (Lekra) menuangkan berbagai kerja budayanya dalam bentuk cerita pendek, sajak, dan sebagainya.
Penulis bekerja dengan memanfaatkan data-data yang terdapat dalam edisi Harian Rakjat yang selamat dari “pembantaian massal,” namun “terpenjara” dalam ruang khusus perpustakaan yang berlabel “bacaan terlarang” dan telah menjadi santapan lezat rayap selama 30 tahun lebih. Hanya dengan ketekunan, penulis bisa merekam hampir seluruh artikel berita kebudayaan yang menjadi konsens Lekra. Hasilnya tidak mengecewakan, selain menghasilkan buku ini, mereka juga menyusun dan menyunting buku “Gugur Merah” yang merupakan himpunan 450 puisi dari 111 penyair Lekra, serta buku “Laporan dari Bawah” berisi 100 cerita pendek yang termuat dalam lembar kebudayaan Harian Rakyat dalam kurun 15 tahun. Maka buku ini sangat tepat dikatakan sebagai trilogi tuntas mengenai sejarah dan hasil karya Lekra sebelum lembaga ini disemayamkan secara paksa dalam liang sejarah.
Meski mengandalkan satu sumber utama, dua orang penulis muda ini mampu menyajikan seluk beluk Lekra secara lengkap. Lekra sebagai organisasi dikupas tuntas dari sudut ideologi, genesis, asas, karya, dan geraknya dalam sejarah. Organisasi yang lahir 17 Agustus 1950 ini menyatukan “seniman2 pedjuang” atau “pedjuang2 seniman” dalam satu keyakinan saat berkarya, bahwa politik sebagai panglima. Ruang kerja Lekra meliputi bidang susastra, film, senirupa, seni pertunjukan, seni tari, musik, dan perbukuan yang kesemuanya diabdikan untuk tujuan politik. “Politik tanpa kebudayaan masih bisa jalan, tapi kebudayaan tanpa politik tidak bisa sama sekali.”
Sempurna bukan berarti tanpa celah. Kelemahan yang nampak pada buku ini, meski bukan dikategorikan sebagai kesalahan metodologi, adalah keputusan penulis untuk menggunakan sumber tunggal utama yang berasal dari Harian Rakjat. Sartono Kartodirdjo, sudah sejak lama mengingatkan agar penggunaan surat kabar sebagai sumber sejarah dilakukan secara kritis. Peringatan ini terkait dengan unsur subjektivitas, kekurangtelitian, ketergesahan, kedangkalan, dan kecenderungan pemuatan sensasi dalam pemberitaan surat kabar. Lebih-lebih telah jelas sikap Harian Rakjat sebagai corong politik PKI. Maka penggunaan sumber ini hanya bisa disiasati dengan kritis melalui penggunaan sumber-sumber lain sehingga bisa memperlebar pandangan dalam melihat masa lalu.
Keputusan penulis untuk tidak memanfaatkan para budayawan Lekra yang masih hidup sebagai sumber data juga patut disesalkan. Dengan apologi penulis bahwa tokoh-tokoh Lekra yang masih hidup “boleh jadi ingatan mereka sudah tak terlalu bersih-jernih” dan “dicuci oleh penyiksaan,” maka mereka tidak dijadikan informan. Padahal para pelaku sejarah ini lebih tahu banyak segala tentang Lekra, karena mereka adalah pelaku yang hidup sejaman dan merasakan langsung menjadi anggota Lekra.
Penulis mungkin memang telah menyelamatkan berbagai data dan informasi penting dalam lembaran koran tua Harian Rakjat yang dimakan rayap. Sayang sekali penulis tidak berminat menyelamatkan data dan informasi penting dalam ingatan para pelaku, yang boleh jadi segera dimakan waktu. Koran langka mungkin bisa diselamatkan dengan cetak ulang, tapi pelaku sejarah tidak akan pernah bisa dicetak ulang!
Lantas, benarkah Lekra tak pernah membakar buku? Pertanyaan yang senantiasa terngiang dalam telinga sejak membaca judul buku, baru terjawab pada bagian akhir buku ini. Secara tertulis, memang tidak terdapat bukti—setidaknya berdasar informasi yang termuat dalam Harian Rakjat—bahwa Lekra pernah menginstuksikan untuk membakar buku lawan-lawanya, seperti karya Manifes Kebudayaan (Manikebu).
Secara organisasi, mungkin Lekra tidak pernah menginstruksikan untuk membakar buku. Tapi secara perseorangan, mungkin ada anggota-anggota Lekra yang membakar buku. Membakar buku dan semua karya mereka sendiri yang bisa dijadikan bukti untuk mengeksekusi penulisnya. Untuk yang satu ini, membakar buku tidak dikategorikan dosa besar!
Judul Buku : Lekra Tak Membakar Buku: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965
Penulis: Rhoma Dwi Aria Yuliantri & Muhidin M Dahlan
Penerbit: Merakesumba, Yogyakarta
Cetakan: Pertama, September 2008
Tebal: 580 halaman
.:bacalengkap:.
.:kembali:.
::gus muhAku ingat kisah Inem pada saat ribut pernikahan Ulfa dengan si Puji yang ngaku kyai itu -- Maria Andriana (28/12/2008)Di belakang Perpustakaan PATaba (Pramoedya Ananta Toer Anak Blora). Sebuah rumah sederhana bercat putih kusam yang menghadap ke timur. Dari kawan muda yang selalu menemaniku, Beene Santoso, putra tunggal Pak Soesilo Toer, mengatakan bahwa keluarga guru ini, Mastoer, pernah memiliki seorang babu yang tinggalnya di belakang rumah tua ini. Jaraknya hanya satu wuwungan.
Dan teringatlah sepotong nama: INEM. Nama ini berada di cerita ke-3 dari 11 cerita dalam “Cerita dari Blora”.
Dalam cerita itu digambarkan ia seorang jongos kecil di sebuah keluarga guru di Blora. Usianya baru 6 tahun ketika bekerja di rumah Ndoro-nya. Lahir dari seorang emak yang kerjanya membatik. Sementara bapaknya pengadu jago dan pembegal kayu jati di antara Blora dan Rembang. Walau dikenal penjahat, bapak si Inem ini tak pernah ditangkap lantaran keluarga emak Inem adalah polisi.
Ia kawin pada usia yang sangat belia: 8 tahun. Tapi tak pernah bahagia. Saban malam ia berteriak-teriak kesakitan lantaran digeluti suaminya, si Markaban yang dari keturunan kaya. “Kerjanya tiap malam menggelut saja. Inem takut, Ndoro. Dia begitu besar. Dan kalau menggelut kerasnya bukan main hingga Inem tak bisa bernapas….” Keluhnya kepada Ndoro putrinya.
Saya nggak tahu apa yang dimaksud Pram dengan “menggeluti” itu. Apa memukuli atau mengajaknya bercinta. Dan Inem tereak-tereak karena dipukuli atau karena disodok oleh benda besar yang mengerikan dari dalam celana Markaban. Saban malam. Maklum, Inem adalah anak ingusan. Tapi si tokoh kecil aku dalam kisah "Inem" itu selalu mendengar lolongan dari babunya itu. Ditanyakannya kepada ibunya kenapa ada orang setelah kawin harus tereak-tereak kesakitan. Apa semua orang kawin harus begitu.
Dan suatu hari muncullah jongos kecil itu di hadapan Ndoro putrinya. Mengadukan sakit dan ratapnya. Hilang sudah ranum wajah kecilnya. Yang ada wajah pucat. Sayang, Ndoro putri menolaknya dengan alasan barangkali saja si Markaban menggelutinya keras-keras karena ia tak patuh. Lalu Inem pulang lagi. Ia berusaha mengabdi sepolos-polosnya untuk lakinya.
Setahun berikutnya Inem menghadap lagi. Kali ini ia bilang: ia sudah janda. Janda belia. Sembilan tahun. Ini cerita nelongso sekali. Hidup jongos kecil ini seperti ditakdirkan menjadi sasaran pukul siapa pun: emaknya, adiknya yang laki-laki, pamannya, tetangganya, bibinya, ayahnya, juga si Markaban suaminya.
Jika si Inem adalah tokoh nyata, maka Pram telah merekam sepotong penyiksaan dari belakang rumahnya sendiri—seorang yang bekerja untuk keluarganya. Kemudian lolongan sakit itu mengutuki jalan hidupnya sendiri yang dipukuli penjara tiga orde pemerintahan: Belanda, Karno, dan Harto.
Sebut saja jalan menyelimpang itu sebagai kutukan Inem dari belakang rumah.
.:bacalengkap:.
.:kembali:.
::gus muh
Sudah tujuh tahun buku “Cerita dari Blora” berdiri gagah di satu deretan rak karya Pramoedya Ananta Toer. Dan selama waktu panjang itu pula karya yang terbit pertama kali 1952 ini tak pernah kureken. Walau A Theew dan HB Jassin merayu-rayu mengatakan bahwa cerita itu adalah cerita-cerita terbaik dalam kepengarangan awal Pram.
Aku baru terusik setelah tujuh tahun kemudian ketika di pekan terakhir Desember 2008 aku menyongsong Blora dengan "gagak rimang" merahku dalam jarak ratusan kilometer dari Jogjakarta. Membawa satu-satunya buku untuk kubaca dalam kota itu; selain karena aku ingin memulai 2 penulisan buku tentang Pram pada 2009: “Pramulopedia: Pramoedya Ananta Toer dari A-Z” (dikerjakan dengan telaten bersama Nurul Hidayah), “Pramoedya Ananta Toer: Laskar Merah Lentera” (kiprah Pram selama mengasuh rubrik “Lentera” Bintang Timur; ditulis bersama Rhoma Dwi Aria Yuliantri).
Dan inilah “Cerita dari Blora”. Ia menjadi segulungan peta dan semacam buku kompas yang menuntunku untuk membaca kota ini. Bahkan ketika pertama kali melewati gerbang “Blora Mustika” dari arah Ngawi-Bojonegoro-Cepu, Pram sudah menyambut di Alun-Alun kecil kota yang juga sungguh mungil ini.
Alun-Alun masih basah. Sesorean itu disirami hujan kehijau-hijauan yang mengangkuti lumpur-lumpur ke sungai.
Sambil makan jagung pedas, menonton dengan bosan murid-murid SMP yang baris-berbaris, dan menyipit segerombol polisi dengan postur-postur kecil ngepos di depan kantor bupati yang menghadap selatan, kuminta Pram berkisah tentang alun-alun ini. Dengan suara yang serak dan perlahan, Pram mengatakan sambil menyitir dongengan nyi Kin yang membantu keluarganya:
“Bupati yang memerintah kabupaten Blora itu ndoro Kanjeng Said. Suatu kali kota kami mengalami musim hujan dobel. Kali Lusi meluap melampaui tepinya. Kota kami yang aman dan damai digenangi air banjir yang mengandung lumpur. Dan karena alun-alun kota kami terletak pada salah sebuah pucuk pegunungan, gumpal tanah ini akhirnya merupakan pulau di antara laut air yang luas. Penduduk daerah kami digiring oleh air ke alun-alun. Mereka membawa anak, kerbau, sapi, dan diri sendiri. Dan barangsiapa tak cepat-cepat pergi akan digulung oleh air dan dibawa ke muaranya. Hujan terus jua jatuh dengan lebatnya. Rumah ndoro bupati penuh sesak oleh manusia. Ndoro bupati ke luar dari rumahnya dan membawa sebilah cemeti. Dipecutnya air yang menjilati tepi alun-alun sambil memantrai. Dan perlahan-lahan tapi pasti air pun dimulai surut dan kembali masuk di kali Lusi.”
Kantor bupati yang diceritai itu kutengok. Tampak menyeramkan. Bangunannya besar. Megah. Dinding pagarnya tebal. Di sisi kirinya didirikan kemah polisi untuk jaga-jaga hari Natal. Kubayangkan juga tiba-tiba bupati Said yang masyhur muncul dari sana. Gagah memegang cemeti sementara para kawulo duduk rapi berjongkok melihat penguasa mereka menantang banjir laknat. “Keharuman ndoro kanjeng Said itu tetap dalam kenang-kenangan penduduk kota kami yang kecil itu,” kata Pram.
Tapi bukan RM Said sekarang di sana. Yang ada RM Yudhi Sancoyo yang bertakhta setelah Bupati Basuki Widodo meninggal dunia karena sakit lever pada Sabtu malam 21 Juli 2007 di rumah pribadinya Semarang. Tak ada yang menaonjol dan magis yang terpancar dari sosok ini. Kecuali bahwa ia pernah digugat perdata senilai Rp2 miliar lebih oleh CV Intermed karena merasa dirugikan terkait lelang pengadaan mobil puskesmas keliling dan motor DKK Blora tahun anggaran (TA) 2008.
Bupati RM Yudhi juga pernah duduk sebagai saksi atas sangkaan korupsi pada Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Blora M Warsit, Sumarso. Sang terdakwa menanyakan tanggung jawab sang bupati atas kasus dugaan korupsi pos tunjangan anggaran DPRD dari APBD 2004 Kabupaten Blora senilai Rp 5,6 miliar di mana saat itu RM Yudhi menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Blora mendampingi M Warsit.
Karena itu barangkali di milis blora.com muncul kesangsian dari warganya. “Mending ra sah ono bupatine wae blora isine gur janji2 thok pas di tageh ngmonge lali politik itu BULL SHIT hahahahahhahahahahhaha.”
Yang lain menyahuti: “Yen diganti koyo jamn mbiyen opo kuwi adipati piye ?, opo diceluke ario penangsang ben dadi kerajaan ae.”
.:bacalengkap:.
.:kembali:.
::gus muh
Judul Buku: Seabad Pers Kebangsaan: Bahasa Bangsa, Tanah Air Bahasa
Supervisi: Taufik Rahzen
Koordinator Riset dan Penulisan: Muhidin M Dahlan
Periset: Agung Dwi Hartanto, Arahman Topan Ali, Argus Firmansah, Dian Andika Winda, Iswara N Raditya, Mahtisa Iswari, M Yuanda Zara, Petrik Matanasi, Reni Nuryanti, Rhoma Dwi Aria Yuliantri, Sunarno, Tunggul Tauladan
Penerbit: I:BOEKOE, Desember 2008
Tebal: 1184 halaman (edisi hitam putih)
Ukuran: 15x24 cm (hardcover)
Karena hanya cetak terbatas, maka penerbit hanya menerima pesanan. Untuk pemesanan hubungi: 081328690269 (Ria/Jakarta) dan 08886854721 (Nurul/Jogja)
CUPLIKAN PENGANTAR
Kebangsaan adalah sebuah proses panjang dan melelahkan ihwal perumusan apa yang disebut identitas untuk pemuliaan manusia. Karena itu kebangsaan kerap disandingkan dengan perjuangan mencipta kondisi tumbuhnya situasi kemanusiaan yang di kemudian hari memadat menjadi semangat baru bernegara, yakni nasionalisme.
Perjuangan itu mengambil banyak bentuk dan varian dalam skema perjuangan. Sebelum abad 20, skema perjuangan dominan dilakukan lewat cara-cara peperangan dan adu pasukan di medan laga. Namun dalam dasawarsa pertama abad 20, pola perjuangan memasuki titik perubahan yang cukup signifikan. Titik perubahan itu dipicu oleh sebuah kesadaran baru tentang jalan cetak atau jalan pers. Sekaligus jalan pers ini menjadi semacam pembeda dengan jalan nasionalisme yang ditempuh India yang bertumpu pada hirarki kasta atau nasionalisme Rusia yang memperjuangkan perbenturan kelas dan melahirkan komunisme atau Inggris yang lahir dari gilda dan pasar para borjuis.
Tesis bahwa bangunan kebangsaan kita dididirkan dari tradisi pers bisa dilihat dari fakta sejarah bahwa nyaris seluruh tokoh kunci pergerakan kebangsaan dan nasionalisme adalah tokoh pers. Dan posisi mereka dalam struktur pers umumnya pemimpin redaksi (hoofdredakteur) atau paling rendah adalah redaktur. HOS Tjokroaminoto yang kita kenal sebagai salah satu “guru pergerakan” adalah pemimpin redaksi Oetoesan Hindia dan Sinar Djawa. “Tiga Serangkai” Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, dan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo menukangi De Express.
Semaoen diusianya 18 tahun sudah memimpin Sinar Djawa yang kemudian berubah menjadi Sinar Hindia. Maridjan Kartosoewirjo menjadi reporter dan redaktur iklan di Fadjar Asia. Sebelum berkonsentrasi mengurus dasar pendidikan, Ki Hadjar Dewantara adalah pemimpin redaksi Persatoean Hindia dan bahu-membahu bersuara dalam majalah Pemimpin.
Adapun Soekarno menjadi pemimpin redaksi Persatoean Indonesia dan Fikiran Ra’jat. Setelah pulang dari Belanda dan menjadi pemimpin redaksi majalah Indonesia Merdeka dalam Perhimpunan Indonesia (PI), Mohammad Hatta dan dibantu Sjahrir menakhodai Daulat Ra’jat. Bahkan Amir Sjarifuddin dalam Partindo menjadi pemimpin redaksi Banteng, serta masih banyak lagi.
Walau tingkat pendidikan mayoritas rakyat masih rendah, para tokoh pergerakan itu sadar bahwa lembar pers bisa dijadikan medium mengampanyekan ide-ide nasionalisme selain mimbar-mimbar pertemuan. Dengan pers pula pesan dan gagasan memiliki tingkat aksesibilitas dengan cakupan luas, terutama di kancah internasional. Selain itu, dan ini menjadi ciri dari masa percobaan ini, bahasa Indonesia memungkinkan dibentuk dan diberi rumah baru.
Yang menjadi soal kemudian kapan permulaan pertama yang dengan kesadaran penuh menjadikan pers sebagai alat pergerakan dan menjadi kuda tunggangan pembibitan semangat membuat rumah bagi bahasa dan usaha menyatukan kolektivitas tanah dan air dalam semesta kesadaran berbangsa. Peritesis itu kemudian mempertemukan kita dengan sepotong nama Tirto Adhi Soerjo dan Medan Prijaji yang terbit pertama kali di Bandung pada 1907. Tahun 2007 adalah tepat seabad suratkabar mingguan dengan motto di kepala korannya: ja’ni swara bagai sekalian Radja2 Bangsawan Asali dan fikiran dan saudagar2 Anaknegri, lid2 Gomeente dan Gewestelijke Raden dan saudagar bangsa jang terprentah lainnja.”
Menjadikan Medan Prijaji sebagai patok Seabad Pers Kebangsaan dialasdasari pertimbangan sebagai berikut: Pertama, bahwa Medan Prijaji berfungsi sebagai pers, baik tugasnya sebagai jurnalistik yang memberi kabar sekaligus mengadvokasi publiknya sendiri dari kesewenang-wenangan kekuasaan maupun kemauan untuk membangun perusahaan pers yang mandiri dan otonom. Terkait dengan tugasnya yang pertama ini, Tirto mesti berhadapan muka dengan kekuasaan kolonial yang bengis. Sekaligus Medan Prijaji dengan keberbedaannya itu berkesempatan gentayangan dan berkaok-kaok di daratan Eropa. Karena dianggap sebagai jurnalis paling berbahaya dan menunggang kuda petarung yang tak suka basa-basi seperti Medan Prijaji, Tirto kemudian menjadi incaran.
Kedua, visi Medan Prijaji yang tereksplisitkan dalam jargonnya yang beridentitaskan kebangsaan itu memberi implikasi pada keindonesiaan hari ini setelah Medan Prijaji tak ada. Kebangsaan yang dimaksudkan di sini adalah kebangsaan yang diikat oleh dialektika antara kolektivitas tanah air dan bahasa. Dari hubungan dialektika inilah muncul bangsa. Ketiga, konsepsi kebangsaan itu dibangun dengan cara sistematis. Selain jalan pers dengan mendirikan perusahaan yang menopang jalannya pers, Tirto juga turut memulai pergerakan lewat jalan berorganisasi. Titik tuju dua tradisi yang disatukan itu adalah penyemaian kesadaran berbangsa. Dari tangan Tirto lah muncul embrio organisasi yang bercorak seperti Boedi Oetomo, yakni ketika pada 1906 atau dua tahun sebelum Boedi Oetomo, ia mendirikan Sarekat Prijaji. Dan Tirto pulalah rancangan pertama Sarekat Islam yang melahirkan banyak sekali tokoh pergerakan, baik kiri, tengah, maupun kanan, saat dia mengonsep Sarekat Dagang Islamijah di Bogor dan kemudian dikembangkan Samanhudi di Surakarta. Tirtolah yang menyatukan tradisi pergerakan dan tradisi pers untuk satu tujuan, yakni kesadaran berbangsa.
Keempat, karena dilakukan secara sistematis itulah maka posisi dan tindakan Tirto bukan sekadar sebagai historical piece atau irisan sejarah yang biasa, tapi membuat momentum sejarah di mana sejarah menjadi patok untuk aksi sejarah ketika semua peristiwa berkumpul pada saat itu dan orang menilai peristiwa itu sebelum dan sesudah peristiwa itu berlangsung.
Medan Prijaji memberi dampak besar dan menginspirasikan gerak selanjutnya. Bahwa sudah ada yang terbit duluan, itu tidak jadi soal. Namun kita berbicara dampak bagi pembentukan mandat kebangsaan. Pada saat Medan Prijaji itulah momentum sejarah dipetakan dan perang terbuka di media massa diserukan. Bertitik tolak dari situ pulalah gerakan-gerakan kebangsaan itu mulai mengkristal, membangun gerakan kebudayaan dengan kantong-kantong organisasi modern, memaksimalkan pers sebagai alat perjuangan.
Dan kelima, Pramoedya Ananta Toer adalah orang yang dengan jernih melihat kehidupan semasa Tirto dan Medan Prijaji. Dari usaha Pram itulah pribadi ini diketahui dunia internasional dan ribuan lapisan masyarakat kita hari ini. Karena itu mengajukan namanya karena pribadi ini yang paling mudah diterima masyarakat.
Kelima alasan itulah kemudian mengukuhkan bahwa patok pers kebangsaan adalah Medan Prijaji dan Tirto Adhi Surjo menjadi pemancang patok itu. Dengan memancangkan patok ini paling tidak kita menarik dua hal: (1) memiliki protagonis atau tokoh idola yang diteladani baik di dunia pers maupun dalam pergerakan; (2) kita bisa menafsirkan sejarah Indonesia dalam perspektif yang baru.
Dengan mengambil Tirto Adhi Soerjo sebagai model, maka polemik bahwa Indonesia dibangun oleh kalangan Jawa atau kalangan Islam itu bisa diselesaikan. Dan itu menjadi sumbangan berarti bagi pembelahan bangsa yang panjang ini, sebagaimana kita saksikan di sidang-sidang konstituante bagaimana pembelahan negera Islam dan negara nasionalis terjadi. Kalis melihat soal itu, kita pun terdorong ke sistem Demokrasi Terpimpin yang berakhir tragis pada peristiwa G 30 S.
Orang selalu mengatakan bahwa gerakan yang pertama kali berlingkup nasional itu adalah Sarekat Islam. Yang lain mengatakan bahwa yang pertama adalah Boedi Oetomo yang berarti Jawa. Orang tak sadar bahwa kedua gerakan yang dipertentangkan itu lahir dan bermuara pada sumur yang sama, yakni Tirto Adhi Soerjo.
Jadi tujuan Tirto/Medan Prijaji adalah memerdekakan. Dia dengan jelas memberitahu konsepsi kebangsaan itu tidak dibangun berdasarkan atas suku dan agama, tapi gerakan intelektual, kesadaran bahasa, dan keyakinan bertanah air. Jadi jika dicari semua gerakan itu, terutama gerakan nasionalis dan gerakan Islam, bersumbu pada sumur yang sama.
BUKU INI DITERBITKAN sebagai sebuah penghargaan atas kerja Tirto Adhi Soerjo yang mangkat dengan tragis pada 7 Desember 1918. Dikerjakan siang malam oleh sembilan sejarawan muda (partikelir) di bawah usia 25 tahun selama dua tahun.
Sebagai sebuah perayaan tradisi pers Indonesia, buku ini menuliskan kembali 365 mini-biografi pers Indonesia. Bukan hanya cetak, tapi juga elektronik, bahkan tradisi pers di internet. Diriset dari pers yang terbit di hampir seluruh daerah, pelbagai bahasa (Indonesia, Jawa, Sunda, Belanda), dan seluruh kurun (1907-2007—bahkan sampai merentang lebih jauh pada 1744).
Sekaligus buku ini menandai sebuah maklumat bahwa 7 Desember adalah tonggak Hari Pers Indonesia, tepat di hari ketika Tirto wafat di mana dalam sepanjang hidupnya sudah meneguhkan tugas dan posisi pers: bagaimana pers mesti berhadapan dengan kekuasaan, bagaimana pers mesti membangun perniagaan untuk bisa bertahan dan hidup sehat, serta bagaimana mestinya keberpihakan pers terhadap masyarakat lemah dalam membangun kritisisme dan sekaligus mendorong keswadayaannya.
DAFTAR PERS INDONESIA YANG DIRISET
MEDAN PRIJAJI
Koran Pertama Penyuluh Kebangsaan ~ 1
BATAVIASE NOUVELLES
Yang Pertama yang Dibreidel ~ 5
SELOMPRET MELAJOE
Terompet Bisnis Kaoem Pedagang ~ 8
TJAHAJA SIJANG
Dari Penginjil ke Sekuler Progresif ~ 11
PEMBRITA BETAWI
Terbit di Ujung Abad ~ 14
PERTJA BARAT
Satire untuk Padang ~ 17
BINTANG BATAVIA
Koran Putih untuk Rakyat Hindia Belanda ~ 20
RETNODHOEMILAH
Sepoetjoek Soerat Boeat Pembatja ~ 23
PEWARTA BORNEO
Internasionalisme Borneo ~ 26
BINTANG HINDIA
Bangsa Osoelan dan Piekieran ~ 29
PERNIAGAAN
Berdagang Politik ~ 32
SOENDA BERITA
Dari Tjianjur Mengasah Ketajaman Pena ~ 35
SINAR ATJEH
Si Putih Manis dari Ujung Barat ~ 39
SOELOEH KEADILAN
Adik Kandung Mas Medan ~ 43
TJAHAJA TIMOER
Terbit di Antara Kaum Pembatik ~ 46
POETRI HINDIA
Kekasih Cantik dan Alus Mas Medan ~ 49
DJAWI HISWARA
Martodharsono dan Geger Surakarta ~ 53
PANTJARAN WARTA
Anak Hindia Soedah Berapi ~ 57
PEWARTA DELI
Hulu Bagi Jurnalis-Jurnalis Tangguh ~ 60
SINPO
The Bodyguard from Batavia ~ 63
AL-MOENIR
Saudara Mudanya al-Manar ~ 66
MEDAN GOEROE HINDIA
Hak Sekolah untuk Semua ~ 70
OETOESAN MELAJOE
Koran Utusan Kaum Adat ~ 73
TJAJA HINDIA
Nasionalisme Bangsa (Basa) Indonesia ~ 77
DE EXPRES
Ik ben Indisch, Ik ben Indonesier!!! ~ 80
OETOESAN HINDIA
Hidup Mati untuk Sarekat Islam ~ 83
SAROTOMO
Koran Kritis Dituduh Rasis ~ 87
SOENTING MELAJOE
Disini, Nama Roehana Koeddoes Terpahat ~ 91
SAUDARA HINDIA
Berbagi Ilmu di Majalah ~ 94
BINTANG TIONGHOA
Ada Sawo Matang di Koran Kuning ~ 97
DOENIA BERGERAK
Koran Pamflet untuk Aktivis Berkepala Batu ~ 101
POETRI MARDIKA
Si Gadis Intelek Boedi Oetomo ~ 104
SELOMPRET HINDIA
Tereaklah! ~ 107
BINTANG MATARAM
Gelitik-Menggelitik di Pojok Halaman ~ 110
MEDAN BOEDIMAN
Pandai dan Terampil untuk Karaharjan Negeri ~ 114
MEDAN MOESLIMIN
Hidoep Kaoem Moeslimin Sedoenia ~ 117
SOEARA MOEHAMMADIJAH
Hampir Seabad Bernapas di Bawah Matahari ~ 120
BENIH MARDEKA
Karena Critic itu Menghibur, Toean! ~ 124
HINDIA MOEDA
Visi Perubahan di Lampung ~ 127
IEN PO
Koran dengan Strategi Pemasaran Kreatif ~ 130
NERATJA
Didik Nasionalisme Lewat Jalan Pendidikan ~ 134
SINAR DJAWA
Antara SI, Semaoen, dan Radikalisme Pers ~ 138
BARGA WASTRA
Ksatria Manggis dari Cirebon ~ 142
JONG SUMATRA
Tiada Bahasa, Hilanglah Bangsa ~ 145
PEREMPOEAN BERGERAK
Dari Deli untuk Kesetaraan ~ 148
PERSATOEAN HINDIA
‘De Expres Jilid II ~ 152
SINAR PASOENDAN
Duta Rakyat Pasundan untuk SI Semarang ~ 155
TERADJOE
Mustika Negeri dari Hilir Musi ~ 158
BOEDI OETOMO
Satrija Djawa Sedjati ~ 161
KENG PO
Mustika Negeri dari Hilir Musi ~ 164
JONG JAVA
Dari Jawa untuk Tanah Air ~ 168
MASA BAROE
Ratu Adil dari Bandoeng ~ 172
PEMIMPIN
Jurnalisme Berkelahi yang Berakhir di Bui ~ 175
BENIH PENGETAHOEAN
Dari Kabar Pertukangan Hingga Pergerakan ~ 178
DOENIA BAROE
Konang-konang dalam Benderang Kapitaal ~ 181
MATAHARI
Berkobar-kobar Mendjilat ka Kiri ~ 185
PEMBERITA INDIA
Pengingat yang Diabaikan ~ 188
PERSATOEAN
Nasionalisme Turki untuk Penduduk Hindia ~ 191
BANDERA ISLAM
Patok-patok Merukunkan Islam ~ 194
FADJAR ASIA
Lebih Dekat dengan Tojkro, Salim, dan Wirjo ~ 197
HALILINTAR
Pontianak Diguntjang ‘Petir’ ~ 201
KEMADJOEAN HINDIA
Lahir Setelah Oetoesan Hindia Wassalam ~ 204
OETEOSAN RA’IAT
Dari Dakwah Mimbar ke Dakwah Koran ~ 208
PAHLAWAN
Juru Damai, Redakan Tikai ~ 211
RA’JAT BERGERAK
Misbach Ditangkap dan Medja Redactie Tergontjang!!! ~215
SARASO SAMALOE
Satu Rasa Minang-Pariaman ~ 218
SIN JIT PO
Di Sini si Fjamboek Berduri Pernah Jadi Redacteur ~ 221
SIPATAHOENAN
Nasionalisme Dari Paguyuban Sunda ~ 224
WARTA TIMOER
“Spion” Pembela Kaum Lemah ~ 227
BINTANG BORNEO
Manisfest Nasionalisten op Borneo ~ 230
BOEMIPOETERA
Sang Penakluk Malaise ~ 233
INDONESIA MERDEKA
Seruan Merdeka dari Perhimpunan Indonesia ~ 236
KAOEM KITA
PKI Menipu Sarekat Islam ~ 240
PELITA ANDALAS
Cahaya Terang Tionghoa-Bumiputera ~ 243
SOEARA HINDIA
Dari Dagang hingga Perempuan ~ 246
BERANI
Barang Siapa Jang Bentji Pada Kita ialah Moesoeh Kita! ~ 249
CHABAR MINGGOEAN
Ada yang Menggigit di Feuileton ~ 252
DJAWA TENGAH REVIEW
Jurnal Berita yang Tak Bias dan Biasa ~ 255
DOENIA BAROE
Semesta Tionghoa untuk Indonesia ~ 258
FIKIRAN
Penyambung Lidah Rakyat Minahasa ~ 261
HINDIA BAROE
Iklan Menjepit Haji Agus Salim ~ 264
NJALA
Ra’jat Mengadoe Didjawab dengan Kelewang ~ 267
PENJOELOEH
Memojokkan Polisi Kolonial Dapat Teguran Bestuur ~ 270
PERSATOEAN RA’JAT
Kaoem Miskin dari Segala Bangsa dan Agama Bersatoelah ~ 273
SWARA PUBLIEK
“Doesta” yang Bilang Pers Peranakan Ta’ Nasionalist ~ 276
TEMPO
Sebarisan Penganjur Dari Koran Jogja ~ 280
TJAHJA PALEMBANG
Menerangi Kebusukan ~ 284
BINTANG TIMOER
Yang Membujur lalu yang Melintang Patah ~ 287
HAN PO
Jadikanlah Kami Indonesiamu Juga ~ 290
PEMBERITA
Berayun Bersama Perlawanan Merah ‘26 ~ 294
PERSAUDARA’AN
Pemantik Semangat Kemajuan Rakyat ~ 297
PERTJA SELATAN
Bangoenlah Wong Palembang! ~ 300
SINAR BORNEO
Jurnalisme Scolastik dari Pontianak ~ 303
SINAR INDONESIA
Hakim Bagi Musuh Kaum Proletar ~ 306
SOEARA BORNEO
Kabar dari Negeri Mandau ~ 309
SOEARA MOERID
Penegak Surau di Padang Pandjang ~ 312
SOEARA TAMAN SISWA
Pejuang Pendidikan Bangsa Indonesia ~ 315
SOELING HINDIA
Mengaloen Oentoek Indonesia Raja ~ 318
SOELOEH INDONESIA
Jurnal Politik Kaum Cerdik Cendekia ~ 321
TJAHAJA DJOMBANG
Setitik Api dari Djombang ~ 325
BOEMI MELAJOE
Dari Selatan Pulau Perca Mengeja Indonesia ~ 328
MIMBAR CELEBES
Pergerakan dan Kritik Budaya ~ 331
MATAHARI INDONESIA
Iwa Pun Dikurung di Belakang Matahari ~ 334
PELITA BANGKA
Surat Kabar Pertama di Bangka ~ 338
PERSATOEAN INDONESIA
Pekik Nasionalisme Soekarno ~ 341
PEWARTA MADIOEN
Dulu Sekedar Reclame Sekarang Moweat Segala Brita ~ 344
SOEARA KITA
Banggalah Berbahasa Indonesia ~ 347
ISTERI
Utusan Perikatan Perempoean Indonesia ~ 351
ISTRI MERDIKA
Memori Masa Lalu dan Cermin Kini ~ 354
PEWARTA MENADO
Seruan dari Utara Celebes ~ 357
SIN TIT PO
Persemaian Jiwa Indonesia ~ 360
SINAR DELI
Dalam Arus Besar Pergerakan ~ 363
SINAR LAOETAN
Jalan Belakang Menuju Kebebasan ~ 366
SOEARA TIMOER
Berjuang untuk Ibu Timur ~ 369
FADJAR INDONESIA
Reportase Perbudakan Kolonial di Mandar ~ 372
PERGERAKAN
Pembela Peranakan di Belakang Tembok ~ 375
SEDAR
Penentang Keras Poligami ~ 378
INDONESIA MOEDA
Yang Muda, yang Berkarya ~ 382
SOEARA KAOEM
Agoes Salim dan Persatuan Kaum Muda ~ 385
RA’JAT
Si Pedagog dari Madura ~ 388
BARISAN KITA
Di Mangkasar Matahari Molai Bertjahaja ~ 391
DAULAT RA’JAT
Mengembalikan Pergerakan ke Jalur Pemikiran ~ 394
LENTERA
Kaoem Iboe Wadjib Tempoer ~ 398
AKSI
Apa Tuan Seorang Nasionalist ~ 401
MEDAN RA’JAT
Koran Islam Semua Paham ~ 405
OETOESAN INDONESIA
Dari Kiri ke Nasionalis ~ 408
SOEARA MERDEKA
Ketika Gerakan Pemuda dan Pemudi Sama Pentingnya ~ 412
SOEARA OEMOEM
Dari ‘Studie Club’ ke ‘Parindra’ ~ 416
SOELOEH KAOEM MOEDA
Sajian Untuk Kaum yang Dilarang Berhutang ~ 419
SURYA
Sekutu Soekarno dari Andalas ~ 422
API RA’JAT
Api juang berkubar-kubar dalam Tungku ~ 425
ASIA BAROE
Naga di Bumi Pasundan ~ 428
BANTENG
Jago Tarung dari Partindo ~ 431
FIKIRAN RA’JAT
Kaoem Marhaen, Inilah Madjalah Kamoe! ~ 434
MENJALA
Organ PNI Sembunyi Tangan ~ 437
SENDJATA RA’JAT
Penyokong Pergerakan yang Radikal ~ 440
ADIL
Menuntun Umat, Mengawal Lahirnya Reformasi ~ 443
PENJEBAR SEMANGAT
Untuk Bangsa Kita Kaum Kromo ~ 447
PEMANDANGAN
Mozaik Nasionalist Indonesia ~ 450
POEDJANGGA BAROE
Pandu Kebudayaan Indonesia ~ 454
WARTA KEMADJOEAN
Figur Pembebasan bagi Rakyat ~ 457
MINAHASSA POST
Bukan (Lagi) Kroni Kolonial ~ 460
OETOESAN
Figur Pembebasan bagi Rakyat ~ 463
SINAR SUMATRA
Ketika Melayu Ingin Modern ~ 466
SOELAWESI
Nyemprot, tapi bukan Propaganda ~ 469
TABOEH
Nasionalisme dari Negeri Asing ~ 472
ISTERI INDONESIA
Kami Hanya Perkumpulan Sosial ~ 475
PENJEDAR
Penyadar di Kala Tak Sadar ~ 478
SOEARA PARINDRA
Gaung Bergabung Menuju Persatuan ~ 481
TJAJA BOGOR
“Obat Kuat” Buat Bogor ~ 484
NATIONALE COMMENTAREN
Trengginasnya Orang Manado! ~ 487
PENOENTOEN PIKIRAN
Memperjuangkan Borneo ~ 490
PEWARTA OEMOEM
Mengenalkan Pemimpin dan Bangsa Lewat Pidato ~ 493
SEPAKAT
Penjajahan, Perang, dan Kesadaran ~ 496
SEROEAN
Gorontalo Minta Diperhatikan ~ 499
SINAR BAROE
Juru Bicara Saudara Tua ~ 502
DJAWA BAROE
Kumpulkanlah Biji Jarak ~ 505
PESAT
Santun Dalam Kata, Bijak Dalam Berita ~ 509
REPOEBLIK
Suplemen Nasionalisme dalam Berita Perang ~ 512
BERITA INDONESIA
Koran Propaganda Kemerdekaan ~ 515
BINTANG MERAH
Dengan Jurnal Kembali ke Atas Panggung ~ 518
DJAJABAJA
Mulut Jawa Prabu Karno ~ 521
KEDAULATAN RAKJAT
Saksi Jatuh Bangunnya Pemerintahan Indonesia ~ 524
MERAH POETIH
Pentingnya Uang Bagi Negara Merdeka ~ 528
RRI
Sekali di Udara, Tetap di Udara ~ 531
MERDEKA
Barisan Pembela Soekarnoisme yang Dihempas Soekarno ~ 534
HIDUP
Dari Katolik untuk Indonesia ~ 537
PANDJI RA’JAT
Koran Gratis untuk Indonesia ~ 541
PEMBANGOEN
Njalakan Api Persaoedaraan Bangsa-Bangsa ~ 544
SUARA MASJARAKAT
Penerang dari Malang ~ 547
SOEARA MERDEKA
Siapa Pengkhianat, Siapa Pembela Revolusi ~ 550
SOELOEH MERDEKA
Seiya Sekata, Sahabat Sejati Republiken ~ 553
BAKTI
Ksatria Baret dalam Berita ~ 556
BERNAS
Koran untuk Kota Pendidikan ~ 559
GELOMBANG ZAMAN
Penggiring Badai Revolusi ~ 562
GELORA RAKJAT
Nasionalisme dalam Lembaran Koran ~ 566
GEMA MASSA
Kesetiaan yang Pahit ~ 569
MASJARAKAT BAROE
Geliat Damai Staat van Beleg ~ 572
NUSANTARA
“Harian Got dan Fasis” ~ 575
PELITA RAKJAT
Suratkabar Berhaluan Nasionalis ~ 578
BINTANG INDONESIA
Lentur Mewartakan Perekonomian ~ 581
MIMBAR UMUM
Koran Medan, Berita Jakarta ~ 584
MINGGU PAGI
Dua Jilid Perlawanan Seniman Malioboro ~ 587
PEDOMAN RAKJAT
Penghadang Jalan Kudeta ~ 590
PENABOER
Dari Jakarta Menabur Kasih ~ 593
PENINDJAU
Kecak-kecak Warna Politik ~ 596
PENOENTOEN PERDJOEANGAN
Dari Bukitinggi Menyusun Strategi ~ 599
SIASAT
“Jalan Puisi” dalam (Berita) Politik Indonesia ~ 603
TROMPET MASJARAKAT
Tiada Hari Tanpa Meja Hijau ~ 607
WAKTOE
Enak Dibaca dan Penting ~ 610
WARTA EKONOMI
Mencari Format Ekonomi yang Berkeindonesiaan ~ 613
WASPADA
Di Bawah Bayang-Bayang ‘Sang Godfather’ ~ 616
GEMA SUASANA
Eksodus Sastra Kritik ~ 619
KESATUAN INDONESIA
Sadar Satu Sebangsa ~ 622
HIKMAH
Karena Komunis Harus Ditendang! ~ 625
MESTIKA
Media Intrik Nir Partai ~ 629
PEDOMAN
Presiden Soeharto: “Pedoman...Pateni wae...” ~ 632
PERDAMAIAN
‘Proces Sedjarah’ Sebagai Tonggak Ingatan ~ 635
SIKAP
Diplomasi Kuat Bangsa Berdaulat ~ 639
SUARA INDONESIA
Keseimbangan Informasi dan Hiburan ~ 642
SUMBER
Kesatuan Indonesia Sebagai Harga Mati ~ 645
WARTA INDONESIA
Keteguhan dalam Pergolakan ~ 648
ABAD BARU
‘Pudjangga Baru’ van Medan ~ 652
DUNIA EKONOMI
Menyapa Kaum Papa Lewat Media ~ 655
HARIAN UMUM
‘Pak Pentol’ dan Benteng Kewarasan ~ 659
INDONESIA RAYA
Berkali-kali Dibredel Baru Mati ~ 662
DJAWA POST
Sebuah Anomali Pers Melayu Tionghoa ~ 666
MEKAR
Tetap Setia pada Bu Fat ~ 670
SUNDAY COURIER
Rupa-Rupa Politik di Hari Minggu ~ 673
TANAH AIR
Mengabdi dengan Setia Kepada Tanah Air ~ 676
ABADI
Hidupnya tak Seabadi Namanya ~ 679
PENGHARAPAN
Hikayat Sepotong Kisah Korupsi ~ 683
RAKJAT BERDJOANG
Daerah Berontak, Siapa Dalang? ~ 686
SUARA MERDEKA
Koran Daerah Bernapas Nasional ~ 689
UTUSAN INDONESIA
Tahu Menghargai Pahlawan ~ 692
BASIS
Jurnalisme Seribu Mata ~ 695
HARIAN RAKJAT
Di Bawah Pukulan dan Sabetan Palu Arit ~ 699
IPPHOS
Sejarah dalam Selembar Foto ~ 703
KOMPAS
Nugroho Notosusanto Berhasrat
Memperdalam Keinsafan ~ 706
MARHAEN
Si Penyambung Lidah Karno di Makassar ~ 709
MINGGUAN HARAPAN
Bedil Berpeluru Civic Mission ~ 712
PEMUDA
Kenapa Mesti Mesti Menyembah Pada Angkatan Tua ~ 715
PUTERA SAMUDERA
Para Penjaga Laut ~ 718
STAR WEEKLY
Di Satu Putaran Jalan Hidup PK Ojong ~ 721
TEGAS
Tanah Rencong Menuntut “Kemerdekaan Kolonial” ~ 724
MIMBAR INDONESIA
Secangkir Kopi dan Berita Hangat di Sore Hari ~ 727
OLAHRAGA
Pengabar Krida Negara ~ 730
INDONESIA
Dari Idrus Hingga Armijn Pane ~ 733
SULUH INDONESIA
Karena Buku Belajar Memahami Soekarnoisme ~ 736
SURABAYA POST
Terbit Sore dengan Jurnalisme Putih ~ 739
DUTA MASJARAKAT
Bintang Sembilan di Tengah Prahara’ 59 ~ 742
WARTA BANDUNG
Bersama Belok Kiri ~ 745
MINGGUAN SADAR
Media Hiburan Melek Politik ~ 748
PROKLAMASI
Soekarno Kawin Lagi ~ 751
REPUBLIK
Djelek-djelek Tetap Djakarta Kite ~ 754
BUSINESS NEWS
Setia Memediasi Kebijakan Ekomomi ~ 757
SI KUNTJUNG
Legenda Majalah Anak ~ 760
IBU
Bukan “Perempuan”, Tapi “Wanita” ~ 763
PELOPOR
Kabar Buruk Buat Bung Karno ~ 766
REPUBLIK
Res Publica di Kota Atlas ~ 769
SKETSMASA
Dengan Berita Mencerdaskan Bangsa ~ 772
POS INDONESIA
Banyak Cara Berkelit dari Jeratan Delict ~ 775
SELECTA
Diberangus Hanya Karena Mengatai Soeharto Bukan Anak Petani ~ 778
WARTA
Ibu Maju, Bangsa Maju ~ 782
PANDJI MASYARAKAT
Penyambung Lidah Tradisi Islam Reformis ~ 785
DUTA PANTJASILA
Algojo Pengikis Separatis ~ 788
SASTRA
Kiri Kanan Jadi Lawan ~ 791
SINAR HARAPAN
Harga Sebuah Keberanian ~ 794
TVRI
Si Pionir yang Terengah di Pasar Siar ~ 797
BAHTERA AMPERA
Di Laut (Kapan) Kita Jaya ~ 800
INDEPENDENT TJENDRAWASIH
Menulis Irian Barat dari Jakarta ~ 803
INTISARI
Yang ‘Seksi’ yang ‘Berdisi’ ~ 806
ANGKATAN BERSENDJATA
Di Bawah Lindungan Para Jendral ~ 809
BALI POST
Dari “Pengemban Pancasila” hingga “Matahari dari Bali” ~ 812
BERDIKARI
Di Tengah Kurun Pembersihan PKI ~ 815
BERITA YUDHA
Lolos Dari Surat Keputusan ~ 818
DWIKORA
Gagal Memediasi Bung Karno dan Rakyat ~ 821
KOMPAS
Jurnalisme Anggun Dari Palmerah ~ 824
NUSA PUTERA
Yang Selamat dari Badai ~ 828
WARTA BERITA ANTARA
Lumbung Informasi, Terbit Pagi-Sore ~ 831
API ISLAM
Berwajah Islam, Berotak Pancasila ~ 835
GALA
Jitu Mengail Pengiklan ~ 838
HARIAN KAMI
Amarah dari Sebuah Angkatan ~ 841
HORISON
Di tengah Sengkarut Langit Sastra Indonesia ~ 844
KARTIKA
Pasukan Pengawal Orde Baru di Jawa Tengah ~ 847
MASA KINI
Di Kota Pelajar Membangun dan Mendidik ~ 850
MERTJU SUAR
Matahari Pagi di Jogjakarta ~ 853
PELOPOR BARU
Requiem Senja di Koran Sore ~ 856
PIKIRAN RAKYAT
Raja Koran di Tatar Pasundan ~ 859
PELOPOR JOGJA
Dua Era Membela Pancasila ~ 862
NUSA TENGGARA
Melihat Nusa Dari Cara Pandang Tenggara ~ 865
AKTUIL
Yang Kreatif yang Laris ~ 868
OPINI INDONESIA
Tukang Minyak Jualan Koran ~ 871
D&R
Ada Detektif di Pers ~ 874
ELSHINTA
“News and Talk” 24 jam Non Stop ~ 877
REVOLUSIONER
Jangan Main-main dengan Baju Loreng ~ 880
SINGGALANG
‘Jurus 4 Pendekar’ ~ 883
EKSPRES
Yang Kritis yang Dilindas ~ 886
TRUBUS
Membangun Indonesia Berswadaya ~ 889
MEDIA INDONESIA
Koran dengan Editorial yang “Galak” ~ 892
MIMBAR MASYARAKAT
Saksi Bisu Matinya Pers Indonesia ~ 895
POS KOTA
Bertarung dalam Isu-isu Urban ~ 898
SINAR INDONESIA BARU
Ramuan Sang Tabib ~ 901
KENDARI POS
Awalnya Koran Beringin ~ 905
BANJARMASIN POST
Membelah Arus Kapuas ~ 908
BERITA BUANA
Memulai Hari di Siang Bolong ~ 911
NYATA
Lebih dari Sekadar Hiburan bagi Wanita ~ 915
PRISMA
Rumah Kelahiran Cendekiawan Eksos ~ 918
SUARA KARYA
Bunyi Bising dari Balik Beringin ~ 921
TEMPO
Dari Berita ke Cerita ~ 924
FEMINA
Ratu Majalah Wanita Indonesia ~ 929
KARTINI
Pernah Seatap dengan Madonna ~ 932
MONITOR
Arswendo dan Sang Nabi di Tabloid Iher ~ 935
TOPIK
Kalem dalam Tutur Kata, Objektif dalam Berita ~ 938
DIAN
Membangun Manusia Pembangun ~ 941
HARIAN DUTA
Corong Orba di Pucuk Rencong ~ 944
LAMPUNG POST
Lampung, Pers, dan Kepercayaan ~ 947
PELITA
Bintang yang Berkali-kali Terbentur Dinding ~ 951
JAKARTA JAKARTA
Jurnalisme Sastra Fotografi ~ 954
FAJAR
Menjadi Matahari di Kota Angin Mamiri ~ 957
JAWA POS
Menanam Radar di Setiap Kota ~ 960
SARINAH
Pesona yang Tak Lekang ~ 963
THE JAKARTA POS
Dipersembahkan untuk Pembaca (Berbahasa) Asing ~ 966
BOLA
Nasionalisme di Lapangan Hijau ~ 969
BISNIS INDONESIA
Dari Bekas Bengkes Hingga Wisma ~ 972
SABILI
Mujahid Tahan Kritik ~ 975
JAMBI INDEPENDENT
Dari Satu Kantor ke Kantor Lainnya ~ 978
INFO KOMPUTER
Swalayan Maya di Musim Digital ~ 981
PONTIANAK POST
Tonggak dan Tombak Rakyat Kalimantan Barat ~ 984
PRIORITAS
Mati Dini Si Bayi Ajaib Dari Gondangdia ~ 987
HARIAN SURYA
Kala Seniman Berebut Surat Keputusan Penguasa ~ 990
WAWASAN
Koran Sore dengan Gaya Blak-blakan ~ 993
EDITOR
Membangun Indonesia dengan Kritik ~ 996
MANADO POST
Lahir dari “Baku Belante” ~ 1000
SRIWIJAYA POST
Untuk Wong Kito di Bumi Sriwijaya ~ 1003
RCTI
Televisi Pertama Swasta Indonesia ~ 1007
SUARA PEMBARUAN
Sepotong Hikayat si Pemain Pengganti ~ 1010
KALTIM POST
Dari Oost Borneo untuk Indonesia Timur ~ 1013
NOVA
Inspirasi Wanita Indonesia ~ 1016
SERAMBI INDONESIA
Bertahan dari Pelbagai Hempasan ~ 1019
WARTA EKONOMI
Memikat dan Mengikat dengan Peringkat ~ 1023
YOGYA POST
Yogya dan Kopi Sore Ala Emha ~ 1027
FORUM KEADILAN
Membincangkan Delik dan Perkara ~ 1030
ULUMUL QUR’AN
Cendekiawan Muslim Menjawab Tantangan Zaman ~ 1033
RIAU POS
Mengembalikan Kejayaan Raja Ali Haji ~ 1037
TRIJAYA
Mengudara Lebih Dari Sekadar Musik ~ 1040
POS KUPANG
Oase di Padang Gersang ~ 1043
ANTV
Lima Jam Lalu Jadi Bintang ~ 1046
DETIK
Kami Akan Tetap Berpikir Merdeka ~ 1049
CENDRAWASIH POS
Obor di Rimba Gelap Papua ~ 1052
KALTENG POS
Di Antara Rimba dan Sungai ~ 1055
REPUBLIKA
Harian Islam Generasi Ketiga ~ 1058
GATRA
Lahir dari Geger Breidel ~ 1061
KALAM
Menolak Keseragaman Kebudayaan ~ 1064
SCTV
(Dari) Satu untuk Semua ~ 1068
INDOSIAR
Awalnya Menjanjikan ~ 1072
PERSPEKTIF
Masa Depan Blog Pada Isinya ~ 1075
KONTAN
Menyuarakan Kemandirian ~ 1078
JURNAL PEREMPUAN
Dari Jurnal ke LSM Profesional ~ 1081
SOLOPOS
Koran Muda di Kuburan Pers ~ 1085
MALANG POST
Ikon di Kandang “Singo Edan” ~ 1088
DETIK.COM
Karena Waktu Jantung Informasi ~ 1091
CEK & RICEK
Baca Gosip atau Fakta ~ 1094
AMBON EKSPRES
Untuk yang Mencintai dan Menjaga Ambon ~ 1097
FLORES POS
Bertahan tanpa Naungan Konglomerasi ~ 1100
PADANG EKSPRES
Membangun Pers Lokal ~ 1103
KBR 68H
Mengudara dari Sabang sampai Merauke ~ 1106
PANTAU
Empat Format dan Sembilan Elemen Jurnalisme ~ 1110
RAKYAT MERDEKA
Kembalinya “Jurnalisme Mimbar” ~ 1113
METRO TV
Barometer Berita Tanpa Jeda ~ 1116
GAUNG NTB
Maju Terus Berkata Benar ~ 1120
LAMPU MERAH
Dari Judul Ketahuan Isi ~ 1123
TRANS TV
Ini Tentang Televisi dan Bakso ~ 1126
KORAN TEMPO
Pelopor Trend Baru Koran Kompak ~ 1129
ATVLI
Dari Aceh Sampai Papua Berjajar Layar Kaca ~ 1132
PULSA
Lembar Ragam Telepon Genggam ~ 1136
TOPSKOR
Mengolah Raga Sepanjang Kala ~ 1139
SEPUTAR INDONESIA
Datang Pagi Datang Sore ~ 1142
PANYINGKUL
Jurnalisme Warga dari Makassar ~ 1145
JURNAL NASIONAL
Mediasi Publik-Republik ~ 1148
.:bacalengkap:.
.:kembali:.
::bagja hidayatBuku yang merekam gempita kesenian Lembaga Kebudayaan Rakyat. Dokumentasi penting, tak ada wawancara.
Laporan dari Bawah (Sehimpun Cerita Pendek Harian Rakjat 1950-1965)
Tebal: 558 halaman
Lekra Tak Membakar Buku (Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965)
Tebal: 582 halaman
Gugur Merah (Sehimpun Puisi Harian Rakjat 1950-1965)
Tebal: 966 halaman
Penulis: Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan
Penerbit: Merakesumba Yogyakarta
JIKA Fuad Hassan menyebut cerita pendek Indonesia pada akhir 1960-an penuh warna ungu karena mengeksplorasi renungan, kesedihan, dan rasa frustrasi, bolehlah disebut jika sastra satu dekade sebelumnya menggelorakan warna kesumba. Tiga buku ini merekam bagaimana seniman yang tergabung dalam Lembaga Kebudayaan Rakyat merayakan ”realitas sepersis kenyataan”.
Pada Lekra Tak Membakar Buku, kita bisa merasakan bagaimana para seniman ”kiri” itu mencoba merumuskan definisi ”sastra Indonesia” berdasarkan filsafat realisme-sosialis. Buku ini ditulis berdasarkan 15 ribu artikel yang terbit di Harian Rakjat pada 1950-1965. Dari sana kita tahu bagaimana Lekra didirikan, Harian Rakjat diterbitkan, sampai hal-hal sederhana tapi asyik: petinggi Partai Komunis Indonesia macam Aidit-Njoto-Lukman menjajakan sendiri koran mereka di stasiun dan pelabuhan.
Sayangnya, dokumentasi penting ini tak dilengkapi wawancara seniman-seniman yang masih hidup, yang namanya menggelanggang, untuk memberikan konteks. Sebab, di Lekra juga ada penulis nonkomunis, yang menganggap integrasi politik dan seni sangat susah diterapkan. Alhasil, penyusun buku ini merayakan asumsi mereka sendiri ketika memberikan komentar dan kesimpulan atas pidato, reportase, dan laporan-laporan wartawan Harian Rakjat tentang kesenian pada kurun itu.
Barangkali itu karena buku-buku ini diterbitkan dengan tujuan ”memberi panggung kepada mereka yang dibungkam”. Kita tahu, sejak peristiwa G30S, berita dan karya sastra seniman ”kiri” tak lagi punya tempat. Maka konteks tak perlu lagi karena sumber tunggal itu sudah menjadi ”kebenaran” sendiri. Tumpukan 15 ribu artikel itu ditemukan di sebuah perpustakaan di Yogyakarta yang terkunci di sebuah ruangan terlarang, menguning, dan aus dimakan rayap.
Sebagai dokumentasi, tiga buku ini menjadi penting karena memberikan gambaran utuh bagaimana seniman Lekra melahirkan karya-karyanya. Kedua penulis terasa ingin meyakinkan bahwa seniman Lekra dan kesenian kiri tak senajis dan sedangkal yang dikira orang. Tak semua puisi menyajikan kebanalan realitas. Ini tampak antara lain pada beberapa puisi Agam Wispi dan H.R. Bandaharo.
Kita pun paham mengapa, misalnya, terjadi perdebatan sengit kubu Lekra dengan seniman yang berhimpun dalam Manifes Kebudayaan. Dari buku Gugur Merah (menyajikan 425 puisi dari 111 penyair) dan buku Laporan dari Bawah (menghimpun 97 cerita pendek dari 61 penulis), kita mengerti mengapa seniman Manifes menolak seni kesumba macam itu: puisi hanya alat memuji Rakyat, cerita hanya reportase yang tak mengejutkan ketimbang sebuah liputan di koran. Realitas pun kehilangan ketajaman dan misterinya. Setiap puisi atau cerita nyaris tak bisa dibedakan tema, gaya, dan penulisnya.
Amarzan Ismail Hamid, yang 15 puisi dan tiga ceritanya dimuat di buku ini, mengatakan pada zaman itu para penulis tak memiliki bahan bacaan yang melimpah sebagai referensi. Bahkan karya-karya realisme-sosialis dari Uni Soviet yang menjadi kiblat penulis Lekra tak tersedia di toko buku. ”Apalagi sastra Eropa Timur itu susah dipahami,” katanya. ”Para penulis ingin menjadi Marxis tapi tak membaca dan tak memahami ideologinya.”
Buku Nikolai Chernishevsky, Hubungan Seni dan Realitet, memang sampai ke sini pada 1962 lewat terjemahan Oey Hay Djoen. Sayangnya, kata Amarzan, pandangan Chernishevsky yang menempatkan realitas lebih sempurna ketimbang karya seni justru sedang dikritik di Soviet ketika paham ini mulai diserap di Indonesia.
Hal lainnya: penyusun buku ini agaknya lupa mendefinisikan Rakyat yang selalu ditulis dengan ”R” itu. Rakyat macam apa yang memenuhi benak para penulis itu ketika menulis puisi atau cerita, atau bagi pelukis ketika melukis? Rakyat di buku ini sesosok makhluk gaib yang tak jelas rupa dan bentuknya. Rakyat hanya disebut dalam jargon rumusan ideologi kesenian.
Apa pun itu, seperti terbaca di halaman pengantar, penyusun buku ini hanya menghimpun dan memberikan tempat kepada sastra 1960-an yang pernah mengharubirukan sastra Indonesia. Bukan telaah sastra dari dua sisi.
.:bacalengkap:.
.:kembali:.
::gus muh
Buku ini adalah himpunan karya-karya yang pernah dituliskan Tirto Adhi Soerjo, bapak dari bapak bangsa Indonesia, sang dinamo pergerakan nasional, perintis penyadaran bangsa agar bergegas bangun dari tidur untuk segera menanggalkan nasib sebagai bangsa yang terprentah. Dinukil langsung dari suratkabarnya:
Pembrita Betawi, Soenda Berita, Medan Prijaji, Soeloeh Keadilan, serta
Poetri Hindia.
Kurun edar koran-koran yang memuat tulisan-tulisan Tirto ini--setelah melalui proses pengetikan ulang dengan penyesuian ejaan demi memudahkan pembaca dan dituangkan kembali dalam bentuk buku ini--berkisar antara tahun 1902-1909.
Menyusuri seluruh tulisan Tirto, tahulah kita ia adalah pribadi yang kompleks. Ia seorang jurnalis terlatih dan penulis yang tajam tanpa basa-basi, pejuang pers, penggerak organisasi, alkemis, kronikus, dan sekaligus sastrawan.
Dalam praksis politik, Tirto mempraktikkan strategi politik dua kaki (kooperatif dan nonkooperatif); dengan korannya ia bisa galak dengan feodalisme dan kolonialisme. Namun di sisi lain ia juga bisa intim dengan Gubernur Jenderal dan aparaturnya sebelum ia kena vonis sebagai Pribumi yang paling berbahaya bagi politik Hindia jika dibiarkan terus bebas.
Bahkan dari pribadi inilah muasal tiga tradisi pergerakan yang selama berdekade-dekade lamanya saling menghantam dan membunuh.
Ia pendiri Sarekat Dagang Islamijah yang kemudian bermetamorfosis menjadi Sarekat Islam yang kemudian membelah lagi menjadi gerakan Islam (Tjokro dan Salim) dan komunis (Semaun). Ia juga pendorong bagi lahirnya Boedi Oetomo yang bermetamorfosis menjadi pergerakan-pergerakan yang berorientasi nasionalis.
Nah, mengambil sosok Tirto sebagai teladan artinya kita coba menenggang pembelahan yang begitu kronis dalam sejarah ideologi bangsa ini.
Judul: Tirto Adhi Soerjo: Karya-karya Lengkap
Penyusun/Penyunting: Muhidin M Dahlan dan Iswara N Raditya
Penerbit: I:BOEKOE, Desember 2008
Tebal:1064 hlm
Ukuran: 15x24 cm
* Dicetak terbatas hardcover. Untuk pemesanan hubungi: 081328690269 (Ria/Jakarta) dan 08886854721 (Nurul/Jogja)
.:bacalengkap:.
.:kembali:.
::gus muh
“Apa faedahnya menyekolahkan gadis-gadis? Biar diajar terbang ke langit sekalipun, kalau tidak pandai memasak nasi dan sayur, maka suaminya tidak akan menyenanginya.” Dengan kesal Soendari menanggapi, “Ah,ah, kalau memang demikian watak laki-laki, maka lebih baik dia kawini saja tukang masak Gubenur Jenderal, pastilah setiap hari dia akan makan enak.” (Raden Ayu Siti Soendari, jurnalis Poetri Hindia)Buku ini adalah dokumentasi seabad perjalanan pers perempuan di Indonesia. Tarikh ini dihitung dari lahirnya Poetri Hindia yang terbit pertama kali pada 1 Juli 1908. Suratkabar yang didirikan Tirto Adhi Soerjo ini menjadi laboratorium sosial bagi lahirnya jurnalis-jurnalis perempuan generasi awal.
Dari biografi seratus pers perempuan inilah kita bisa menimbang kembali pelbagai anggapan lemahnya posisi tawar maupun peran strategis perempuan dalam dunia pers.
Catatan biografi pers perempuan ini menunjukan bahwa dalam kurun waktu yang demikian panjang—dari pembentukan sampai menjadi Indonesia—perempuan memainkan peran, mengambil posisi, dan bertindak di gelanggang politik, ekonomi, pendidikan, dan membangun barikade pertahanan keluarga.
Sebagai wujud dari keterlibatan semua momentum itu, buku ini dikerjakan segelitir perempuan muda dengan cara didaktik dan kronikal, merekam biografi pers-pers perempuan Indonesia dari masa ke masa (1908-2008); dari belpagai daerah, pelbagai organisasi, dan dari pelbagai bahasa (Indonesia, Jawa, Sunda Melayu, Arab, dan Belanda) yang mewarnai perjalanan sejarah pers Indonesia.
Untuk pemesanan hubungi: 081328690269 (Ria/Jakarta) dan 08886854721 (Nurul/Jogja)
Judul: Seabad Pers Perempuan: Bahasa Ibu, Bahasa Bangsa
Penulis: Rhoma Dwi Aria Yuliantri, et. al.
Penerbit: I:BOEKOE, Desember 2008
Tebal: 406 hlm
Ukuran: 15x24 cm
Harga: Rp 300.000 (hardcover dan hanya dicetak terbatas)
Disc: 20%
.:bacalengkap:.
.:kembali:.
::muhammad muhibbuddinDalam perjalanannya sebagai bangsa, Indonesia diwarnai oleh peristiwa-peristiwa besar, heorik dan dramatis. Namun sayang, oleh kepentingan politik, sebagian dari peristiwa-peristiwa besar itu banyak yang ditutup-tutupi, ditelikung, dimisterikan dan bahkan dihilangkan jejak-jejaknya.
Inilah barangkali ketidakjujuran para pembuat sejarah. Jiwa tidak jujur terhadap sejarah semacam ini telah lama menjadi langgam dan gaya kekuasaan rezim ORBA. Selama 32 tahun ORBA bercokol, banyak fakta sejarah diputar balikkan, dinihilkan dan dimatikan demi melanggengkan kekuasaan.
Fakta sejarah utama yang menjadi target pembrangusan politik ORBA adalah sejarah yang berkaitan dengan gerakan kiri. Hampir seluruh gerakan kiri, mulai dari gerakan kebudayaan, intelektual, politik dan kemasyarakatan oleh ORBA dianggap sebagai ancaman bagi stabilitas keamanan negara sehingga harus dimusnahkan.
Seluruh fakta, data dan realitas sejarah yang pernah ditancapkan oleh kaum kiri tidak boleh disingkap apalagi dibaca dan dipelajari oleh generasi anak bangsa selanjutnya. Semuanya itu harus tertutup dari akses publik.
Lekra sebagai lembaga kebudayaan yang pernah bergandengan tangan dengan PKI adalah salah satu korban dari pelarangan itu. Sebagai institusi kebudayaan yang mengusung tema-tema kerakyatan dan kemanusiaan, dalam perjalanan sejarahnya, sedikit banyak, Lekra telah menorehkan catatan emas dalam lembar sejarah pengabdian kepada bangsa dan negara.
Namun semua itu seolah kosong, nihil dan tak berbekas sama sekali karena jejak-jejak sejarah Lekra telah dikubur sedemikian dalam oleh rezim ORBA. Inilah mengapa buku seperti Lekra Tak Membakar Buku hasil karya Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M.Dahlan yang sekarang ini baru terbit perlu diapresiasi. Buku-buku semacam ini mencoba membongkar unsur sejarah kiri yang coba di hapus dari ingatan bangsa Indonesia, tertmasuk sejarah Lekra.
“Jasad sejarah” Lekra yang hampir hancur dan tinggal penggalan-penggalan rangkanya itu oleh penulisnya mulai digali dan coba dirangkai dan ditampilkan kembali. Buku itu sejatinya difungsikan sebagai arena panggung untuk mendemonstrasikan rangkaian jasad Lekra itu kepada publik.
Karena memang sudah berada dalam timbunan “bungker sejarah” yang lama, data-data sejarah Lekra yang masih bisa diselamatkan itu hanya sebagian dan dari satu sumber, koran Harian Rakjat. Di dalam koran itu diterangkan bahwa peran para aktivis Lekra sangat bergemuruh terjadi pada tahun 1950-1965. Untungnya masih ada Harian Rakjat yang mampu merekam dan menyelamatkan kiprah dan gemuruhnya para aktivis Lekra tersebut meskipun secara fisik koran itu sudah mulai dijadikan santapan empuk oleh rayap.
Dari buku ini kita disosdori oleh sebuah fakta bahwa meskipun telah dipersepsikan sebagai organisasi terlarang oleh ORBA, ternyata Lekra juga mempunyai cita-cita dan kiprah yang luhur terhadap eksistensi negara Indoensia. Perjuangan Lekra diilhami oleh semangat revolusi untuk melawan segala macam bentuk imperialisme dan kolonialisme.
Lekra sendiri didirikan tepat 5 tahun sesudah revolusi Agustus pecah, di saat revolusi tertahan oleh rintangan hebat yang berujud pada persetudjuan KMB. Pada saat ini revolusi Indonesia mulai mengalami dekadensi. Lekra muncul untuk mencegah kemrosotan revolusi itu ke arah yang lebih parah.
Sikap Lekra dalam dunia kebudayaan sudah jelas yakni membela dan memperjuangkan kehidupan rakyat dari penindasan kaum imperialis. Konsepsi Nasional kebudayaan menurut Lekra sama sekali bukan bersandar pada kesatuan pandangan hidup dan keyakinan aliran seni. Sebab, mustahil hal itu mewujud. Konsepsi kebudayaan nasional memberikan kebebasan yang sepenuh-penuhnya kepada setiap pandangan hidup dan keyakinan seni dengan syarat mendahulukan kepentingan nasional, kepentingan rakyat banyak.
Pada Mukaddimah yang direvisi pada tahun 1959, tugas dan kedudukan rakyat dipertegas, “bahwa Rakjat adalah satu2nja pentjipta kebudayaan, dan bahwa pembangunan kebudayaan Indonesia baru hanja dapat dilakukan oleh Rakjat…..Lekra berpendapat bahwa setjara tegas berpihak pada Rakjat, adalah satu2nja djalan bagi seniman, sardjana2 maupun pekerdja kebudayaan lainnya untuk mencapai hasil2 yang tahan udji dan tahan waktu.”
Asas dan Metode lekra dan kombinasi1-5-1
Karena sebagai organisasi kebudayaan, maka Lekra juga mempunyai asas dan startegi perjuangan untuk mencapai tujuan dan impian-impiannya. 1-5-1 adalah simbol dari sikap berkesenian yang dikembangkan oleh Lekra yang menempatkan “Rakjat sebagai satu2nja pentjipta Kebudayaan”. Gerakan 1-5-1 menjadi jangkar tengah dan sekaligus rujukan visi bagi seluruh pekerjaan kreatif yang ditempuh. Di sana ada politik, idiologi, filsafat, seni , arah kepemimpinan, serta metode kerja dalam mencipta karya-karya kreatif di bidang kebudayaan. (h 25)
Angka satu di depan adalah arti bahwa perjuangan Lekra menempatkan politik sebagai panglima. Kemudian 5 di tengah adalah dasar kerja dan perjuangan Lekra: meluas dan meninggi, tinggi mutu idiologi dan tinggi mutu artistik atau 2 mutu, tradisi baik dan kekinian revolusioner, kreativitas individual dan kearfian massa, realisme sosial dan romantik revolusioner. Untuk melakukan lima hal itu dibutuhkan metode: turun ke bawah. Metode Turba ini disimbolkan dengan angka satu di akhir.
Prinsip politik sebagai panglima ini disetujui Lekra dengan alasan bahwa politik adalah obor agar sebelum melakukan penggarapan seni seseorang harus mengkajinya terlebih dahulu dari perspektif politik.
Menurut Lekra kesalahan politik membawa madharat jauh lebih besar daripada kesalahan artistik. Inilah yang diingatkan oleh pentolan lekra, Njoto yang menyatakan bahwa “Djika kita menghindarkannja, kita akan digilas olehnja…”Bagi Njoto, seniman yang berpolitik itu ibarat pelajar yang menuntut ilmu sambil berolahraga. Politik tak ubahnya sebuah olahraga, negoisasi hak dan kewajiban berkesenian, bangkit dan turut bangsa dan rakyatnya jika diserobot bangsa lewat jalan perusakan. Dalam kaitannya dengan politik ini, secara politis, orientasi gerak Lekra lebih mendukung konsep Soekarno tentang Manipol/Usdek.
Buku ini memang hanya terangkat dari satu sumber suratkabar. Namun satu pelajaran yang bisa ditarik dari terbitnya buku ini adalah bahwa sudah saatnya sekarang kita bersikap berani, terbuka dan jujur terhadap sejarah. Sebenarnya masih banyak fakta yang dulunya dinyatakan terlarang oleh rezim tertentu masih tertimbun dalam bungker sejarah Indonesia.
Dan saatnya sekarang itu kita gali dan kita tunjukkan apa adanya ke publik. Buku ini sudah mempelopori untuk berani menggali dan mengungkap timbunan fakta sejarah yang dulunya dilarang itu dan sudah barang tentu ditunggu usaha-usaha sejenisnya agar kita tidak selamanya tersesat dalam kegelapan sejarah kita sendiri.Berani?!
* Penulis adalah pecinta buku tinggal di Yogya, aktif dalam komunitas BACA PPM.Hasyim Asy’ari Yogyakarta.
.:bacalengkap:.
.:kembali:.
::asep sambodjaWawancara Asep Sambodja dengan penyusun buku
Lekra Tak Membakar Buku, Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan.
Apa yang melatarbelakangi Muhidin dan Rhoma melakukan penelitian dan kemudian menyusun buku Lekra Tak Membakar Buku?“Lekra tak Membakar Buku” kami susun setelah melalui riset panjang tentang pers-pers yang hadir di Indonesia dari tahun 1908-2007. Dari riset ini kami temukan banyak hal yang unik dan menarik dari koran-koran Indonesia itu. Salah satunya kami bertemu dengan begitu banyak koran-koran kiri yang tumbuh dan tumbang dari masa ke masa. Salah satu koran yang kemudian cukup akrab dengan kami adalah
Harian Rakjat. Koran milik Partai Komunis Indonesia ini cukup menarik dan unik dengan menyuguhkan banyak hal tentang budaya dan sastra, puisi/cerpen setiap terbitannya, film, senirakyat dan kegiatan yang dilakukan oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) difasilitasi dengan sangat mewah oleh
Harian Rakyat. Keunikan inilah yang kemudian menarik-narik kami untuk meriset lembar budaya yang dimiliki
Harian Rakjat.
Berapa lama Anda melakukan penelitian dan menyusun buku itu?
Ini sebetulnya buku sampingan. Karena secara bersamaan kami mengerjakan banyak sekali program penulisan/riset sejarah secara kolektif. Jadi selama 1 tahun kami melakukan riset Seabad Pers Kebangsaan 1907-2007, Tanah Air Bahasa: Seratus Tokoh Pers Indonesia, Kronik Seabad Kebangkitan Indonesia 1908-2008 (berisi catatan tentang peristiwa hari ke hari yang tebalnya 1,7 meter), Almanak Abad Partai Indonesia, DIA.RI Partai Politik: Seratus Jalan Parlementer, dan Seabad Pers Perempuan 1908-2008. Selingan dari semua riset itu adalah trilogi Lekra Tak Membakar Buku, Gugur Merah, dan Laporan dari Bawah. Kalau dikalkulasi dalam hitungan matematis dari proses pencarian data, penulisan, edit dan cetak kira-kira memakan waktu 3,5 bulan (April-Agustus 2008).
Bisa diceritakan suka dukanya?
Proses penulisannya barangkali cukup unik. Muhidin awalnya sejak 3 tahun lalu berangan-angan ingin menulis tentang pembakaran buku Lekra yang ia ragukan bagaimana Lekra dan terutama sekali Pram yang berpikir sangat didaktik ihwal buku bisa melakukan pembakaran buku secara terbuka dan penuh sorak. Salah satu esainya DIBALIK BUKU Jawa Pos (“Lekra Membakar Buku?”) untuk memperingati 58 Tahun Lekra, ditanggapi dengan serius Taufiq Ismail yang menegaskan bahwa kabar Lekra membakari buku bukan soal remang-remang lagi, tapi terang-benderang, walau tak pernah bisa membuktikan seperti apa posisi Lekra dalam kobaran api itu. Tiga tahun berselang, bertemulah Muhidin dengan Rhoma Aria dalam tim Seabad Pers Indonesia yang memang Rhoma Aria bertugas mereview biografi koran-koran kiri/komunis yang terpilih dalam tabulasi riset. Termasuk Harian Rakjat. Nah dari diskusi yang ndak serius entah siapa yang mengawali keduanya kemudian bersepakat menulis tentang lembar kebudayaan Harian Rakjat dan Pembakaran Buku. Tahap pengumpulan data inilah tahap yang paling berat, tidak mudah dan gampang untuk meriset koran-koran kiri. Kami mesti izin sana sini dan waktu yang diberikan cukup sempit, korannya pun dalam kondisi tak tertata dan dimakan rayap, bahkan dihiasi kotoran tikus yang aduhai baunya. Dalam waktu 3 hari (kira-kira waktu yang diberikan sebelum koran itu diangkut dan dipindah entah ke mana) kami bisa mengakses Harian Rakjat. Tiga hari tiga malam bekerja tanpa henti. Pada hari ke-2 Muhidin tumbang di bawah kutukan cacar air. Karena korannya ndak lengkap kami harus mengumpulkan dari berbagai tempat dan lokasi. Setelah diverikasi barulah kami menulis. Proses inilah yang memakan energi cukup besar kurang lebih 18 jam setiap hari kami harus menulis, maklum karena buku ini ditulis oleh dua otak maka wajarlah ada sedikit-sedikit bumbu beda pendapat. Karena buku ini adalah proyek pribadi, maka tahap-tahap berikutnya kami lakukan sendiri. Karena anggaran yang kami kumpulkan dari gaji kecil-kecilan itu hanya cukup untuk biaya layouter kami edit buku ini sendiri dan alhasil masih banyak salah sana sini. Untuk membuat sampul pun kami akhirnya meminta tolong pada salah satu teman kami dengan sebungkus rokok.
Kenapa Anda tertarik meneliti Harian Rakjat?
Sebetulnya kami tertarik dengan banyak media bukan hanya Harian Rakjat saja. Alasan utama sebetulnya pada posisi Harian Rakjat. Ia adalah koran politik terbesar untuk masanya, tapi juga sangat getol menyiarkan nyaris seluruh ekspresi budaya rakyat sehingga koran ini hampir saja “dikutuk” menjadi koran budaya. Setelah menyigi dan membandingkan dengan koran Bintang Timur milik Partai Rakjat Nasional, Harian Rakjat lebih menonjol dalam soal pemberian ruang isu-isu kebudayaan. Terutama sekali para pekerja budaya yang bernaung di bawah Lekra.
Bagaimana dengan surat kabar atau majalah yang berafiliasi dengan PKI lainnya?
Banyak kok SK yang berbau kiri Selompret Masjarakat, Bintang Timur, Nyala, Mowo dsb. Bintang Timur sendiri, misalnya, sewaktu Kongres Lekra I, tak banyak tuh berita Lekra. Baru intensif kemudian pada Oktober 1962 sewaktu Pram masuk dalam barisan dan memunculkan lembar budaya "Lentera".
Kenapa Anda memberi judul buku Lekra Tak Membakar Buku?
Mungkin ini soal minat. Kami berdua aktif di Indonesia Buku yang ideologinya adalah memang buku. Hahahaahahaha. Lagipula bab Pembakaran Buku inilah yang ditulis pertama kali. Bagian ini semacam lokomotif yang menarik bab-bab lainnya yang berturut-turut ditulis: seni musik, film, seni rupa, sastra, seni pertunjukan, mukadimah, seni tari, dan khotimah. Kalau bukan karena bab ini, barangkali tak ada buku ini. Jadi untuk memberi “penghormatan”, maka majulah bab ini menjadi judul buku yang diikuti judul kecilnya: Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat.
Apakah itu tidak terlalu provokatif?
Masalah judul buku yang dipikirkan waktu itu adalah buat semenarik mungkin, dan buat orang ingin tahu isinya. Ndak ada niatan provokasi sama sekali.
Kenapa tidak menggunakan judul lain? Misalnya, Lekra dan Warga Sastra Dunia yang kesannya lebih netral?
Subbab “Warga Sastra Dunia” pun ditulis paling belakangan sebagai tambahan ketika melihat peran serta Lekra dalam Konferensi Sastrwan Asia-Afrika dalam dua kali event. Dan kali ketiga sebagai tamu pertemuan eksekutif KSAA di Bali. Dan soal netral, Lekra tak mengenal kata netral. Yang dia kenal adalah Politik adalah Panglima.
Apa reaksi Anda setelah mengetahui Gramedia tidak bersedia mendistribusikan atau menjual buku Anda?
Kaget saja sih. Tapi sudah terlatih ditolak (buku Muhidin M Dahlan Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur selama 2 tahun ditolak oleh Gramedia setelah muncul reaksi negatif dari sebagian kalangan organ Muslim. Tapi setelah reda mereka baru terima lagi). Ya, anggap saja, Gramedia kan juragan buku. Di mana-mana saudagar buku tak mau usahanya digropyok oleh masayarakat lantaran benturan ideologi. Dari dulu.
Alasan apa yang membuat Gramedia melakukan hal itu?
Menurut distributor kami, Gramedia menolak karena ada “logo palu arit” dan alasan kedua SARA seperti yang tertera dalam surat perjanjian baku Gramedia dan suplier. Di mana ada unsur SARA-nya kami juga nggak tahu.
Kenapa Anda tidak bersedia mengganti gambar palu arit?
Kami sudah menutupi “palu-arit”nya dengan kertas yang dilakban. Jadi inilah edisi “Palu Arit yang Diperban”. Jelek sekali cover itu sekarang. Tapi paling tidak sebagai dokumentasi sejarah (buku), bahwa ada sebuah buku yang sampulnya babak-belur dipukuli saudagar buku….. hahahahah.
Pelajaran apa yang Anda dapati dari peristiwa ini?
Di mana-mana bahwa saudagar tetaplah saudagar. Walau pun itu saudagar buku. Jangan harap ada pemihakan ideologis. Ia akan membela sebuah kaum jika kaum itu bisa membikinnya kaya raya. Jika tidak, ya memang begitu watak saudagar.
Apa yang bisa dibanggakan dari sastrawan-sastrawan Lekra?
Orang-orang Lekra ini mewariskan kepada kita bagaimana harus berorganisasi yang kukuh. Semuanya dijalankan dengan mesin organisasi. Acuannya tentu saja bahwa dengan bersekutu dalam organisasi kita lebih kuat. Apalagi ancaman untuk situasi masa itu memang terang-benderang. Amerika menginvasi di mana-mana, termasuk Vietnam. Beberapa petinggi negara Asia-Afrika terbunuh di depan mata PBB seperti yang dialami Patricia Lumumba (Konggo). Hal lain adalah, jalan yang ditempuh oleh Lekra bukan jalan para pemabuk, orang-orang salon yang berjalan dan berkeliaran dalam masyarakat dengan langkah gontai nggak keruan. Garis kerja mereka ketat dan diputuskan lewat sebuah aturan main yang juga sangat ketat: konggres, konferensi nasional, pleno. Seluruh perkembangan kerja kolektif dievaluasi dalam pertemuan-pertemuan itu. Garis strategi ideologi kebudayaannya pun dirumuskan dengan jelas yang kemudian terangkum dalam kode: 1-5-1. Termasuk metode kerja seluruh bidang budaya yang digeluti yang kemudian menginsipirasi banyak insitusi sesudahnya untuk menirunya: Turba (turun ke bawah). Ada program Kuliah Kerja Njata, ABRI Masuk Desa…. Dan sebagainya. Bahkan di organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) ada istilah Turba untuk menggambarkan pengurus besarnya mengunjungi pengurus-pengurus wilayah.
Barangkali orang-orang Lekra inilah potret nyata cendekiawan organik yang dihilangkan paksa dalam raut gerakan intelektual Indonesia.
Begitu saja dulu. Terimakasih.
Citayam, 30 November 2008
.:bacalengkap:.
.:kembali:.
::peranita sagalaApa yang kuuraikan tentang buku ini, takkan cukup mewakili curahan isi kepalaku setelah membacanya.
Lekra tidak membakar buku.
Entah karena daya ingatku yang memang pas-pasan, entah karena minatku pada sejarah kala SMA dulu lebih terpesona pada kisah-kisah kerajaan yang terekam bagai dongeng cinderela ala Indonesia di memoriku. Aku nyaris tak punya ingatan sedikitpun dengan adanya LEKRA di negara ini, apa lagi geliatnya dalam : Rakyat, Revolusi dan Indonesia.
Buku ini seolah membawa potongan sejarah yang pernah di paksa hapus dari pelajaran sejarah bangsa Indonesia. Merekam sejarah pada masa demokrasi terpimpin, yang identik oleh "gempa politik" pemberontakan G 30 s PKI.
Ada semangat yang sangat kental di masa ini, yang mungkin sudah amat langka di negeri ini. Semangat memperjuangkan rakyat, semangat untuk membangun karakter rakyat Indonesia.
Kalau pro kontra RUU Pornografi yang kemudian di telah di sahkan di semangati oleh upaya penyelamatan generasi penerus, Lekra ternyata telah jauh mendahului kerja-kerja DPR meski tak berfikir bahwa persoalan pornografi perlu di jawab dengan Undang-undang.
Lekra menggali budaya Indonesia. Langkah pertama pendiriannya pada kongres I Lekra jusru mengumpulkan karya cipta budaya di seluruh Indonesia. Seni Tari, dongeng, seni lukis. Di perkenalkan sebagai warisan negeri yang mesti di jaga.
Seni mestilah berpihak pada rakyat, karena seni lahir dari kehidupan.
Seni jenis ini lah yang kian hilang dari peredaran masa kini, di ganti kisah cinta-cintaan bertema kekerasan, perebutan harta dan iri hati.
Lekra memposisikan Sastra dan sebagai alat yang penting dalam revolusi yang membentuk karakter bangsa. oleh karenanya setiap karya yang tidak memberikan kontribusi pada tujuan tersebut layak di hujat.
.:bacalengkap:.
.:kembali:.
::h tanzilJika kita mendengar kata Lekra, maka yang langsung terpikirkan oleh kita adalah sebuah lembaga kebudayaan bentukan PKI yang pernah membikin ricuh panggung budaya Indonesia di era Demokrasi Terpimpin (1950-1965), tukang ganyang, pembuat onar, pemicu konflik tak berkesudahan dengan para sastrawan Manifes Kebudayaan (Manikebu), dan telibat pembakaran buku-buku di depan Kantor USIS (Pusat Informasi Amerika).
Stigma negatif yang ditempelkan pada Lekra ini terus melekat dalam benak kita dan keterlibatan Lekra dalam pembakaran buku yang sebenarnya tak terbuktikan itu telah menjadi mitos abadi karena hal ini terus ditulis di berbagai media dan dikisahkan oleh para sastrawan-sastrawan senior penandatangan Manifestasi Kebudayaan ketika menggambarkan situasi politik dan budaya Indonesia di tahun 50-60an.
Mitos tersebut seolah tak terbantahkan karena suara-suara mantan aktifis Lekra yang menyangkalnya telah dibungkam ketika penguasa orde baru ‘menjahit’ mulut para lawan-lawan politiknya. Tak hanya itu, secara sengaja sejarah dan kiprah Lekra di ranah budaya Indonesia dikerdilkan hingga yang tercatat sekedar pertarungan antara dua kubu dalam isu kesusasteraan nasional : Lekra vs Manikebu.
Lalu apa dan bagaimana sesungguhnya Lekra ? Apa saja yang telah dikerjakannya selama lembaga kebudayaan ini menguasai panggung budaya Indonesia selama lima belas tahun (1950-1965)?. Tak banyak yang mengetahuinya karena tak satu bukupun yang secara komprehensif pernah menulis tentang Lekra hingga akhirnya terbitlah buku bertajuk “Lekra Tak Membakar Buku” karya Muhidin M Dahlan dan Rhoma Dwi Aria Yuliantri.
Buku ini bisa dikatakan buku yang paling komprhensif mengenai Lekra yang disusun secara sistematis dalam sepuluh bab plus daftar singkatan /akronim, lampiran, dan indeks. Dimulai dari bab Mukadimah yang mencatat situasi menjelang Kongres I Lekra (1959) ketika seluruh aspek kehidupan masyarakat Indonesia harus segaris dengan Manifestasi Politik (Manipol)-nya Soekarno. Demikian pula dengan sikap berkebudayaan yang arahnya sudah jelas : “Seni untuk Rakyat” dan “politik adalah panglima kebudayaan”. Dalam Konggres-nya inilah Lekra mencoba merumuskan berbagai aksi nyata di lapangan kebudayaan yang memihak Rakyat, anti imperialis, dan anti feodal!
Masih dalam bab yang sama, diungkapkan pula kelahiran dan peran Lekra secara umum sebelum dibahas secara detail di bab-bab berikutnya. Satu hal yang menarik adalah terungkapnya bahwa Lekra bukanlah salah satu organ PKI seperti yang selama ini banyak diasumsikan orang. Hal ini tampak saat diselenggarakannya Konferensi Sastra dan Seni Revolusioner (KSSR) yang sepenuhnya dilakukan oleh PKI. Memang dalam kenyatannya banyak seniman-seniman Lekra ikut terlibat , namun kapasitas mereka sebagai seniman “progresif revolusioner” dan bukan sebagai Lekra secara institusi. Jika Lekra memang organ resmi PKI tentu saja konferensi ini akan dilaksanakan oleh Lekra sebagai lembaga kebudayaan yang paling siap dan kompeten untuk menyelenggarakannya, atau setidaknya nama Lekra akan selalu disebut-sebut. Pada kenyataannya hingga resolusi KSSR diumumkan, Lekra tak pernah disebutkan sebagai bagian dari PKI.
Karena itulah buku ini menyebutkan secara gamblang bahwa: “ Lekra tak pernah menjadi underbow PKI. Lekra adalah organisasi merdeka yang tak masuk dalam kendali komando PKI…Walau tak bisa dipungkiri bahwa banyak pekerja budaya komunis yang menjadi anggota Lekra di pucuk-pucuk pimpinannya. “ (hal 61).
“Menyebut Lekra bersih sama sekali dari pengaruh PKI adalah kesalahan fatal, tetapi menyebutnya menginduk kepada PKI juga keliru. Lebih tepat hubungan itu adalah hubungan kekeluargaan ideologi..(hal 63)
Selain itu terungkap pula bahwa Pramoedya Ananta Toer bukanlah komunis. Hal ini terungkap ketika PKI hendak melakukan “pemerahan total” pada Lekra melalui konggres KSSR . “..bahkan Nyoto yang pendiri Lekra pun menolak “pemerahan total“ Lekra dengan pertimbangan hengkangnya tenaga-tenaga potensial Lekra yang non-Komunis seperti Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontani, dan sebagainya.” (hal 62)
Setelah bab Mukadimah, buku ini membahas mengenai Riwayat Harian Rakjat yang merupakan terompet PKI dan Koran politik nasional terbesar pada masanya, dan tempat dimana sastrawan-sastrawan Lekra mengisi secara penuh lembar-lembar kebudayaannya yang merupakan sumber utama dari lahirnya buku ini.
Kemudian mulailah buku ini membahas semua kerja Lekra dan pemikiran-pemikiran seniman Lekra diberbagai bidang kebudayaan yang dibagi secara bab per bab mulai dari sastra, film, seni rupa, seni pertunjukan, seni tari, musik, dan buku. Dari berbagai bahasan dalam buku ini akan terlihat bahwa para Lekra sangat militan dalam melaksanakan kerja budaya yang segaris dengan prinsip Manipol yang menentang kebudayaan imperialis dan sepenuhnya memihak sekaligus memberdayakan kebudayaan Rakyat. Di tangan Lekra beberapa seni dan kebudayaan rakyat yang telah terkurung dalam kebudayaan feodal (wayang, tari-tarian keraton, dll) yang tadinya hanya dipentaskan di kalangan dan tempat-tempat tertentu, kini dikembalikan pada rakyat sehingga semua rakyat bisa menikmati dan mengembangkannya.
Lekra juga membabat habis semua bacaan-bacaan, film, musik yang tidak sesuai dengan garis kebijakan Manipol termasuk karya-karya sastrawan Manikebu. Sebagai gantinya, Lekra menumbuhkembangkan bacaan, film, dan musik yang sesuai dengan jiwa revolusioner. Dalam berbagai simposium kebudayaannya Lekra mencatat dan menginventarisir semua kesenian-kesenian rakyat dan mengurus hak ciptanya. Kalau saja apa yang dikerjakan Lekra tak terkubur oleh sebuah prahara politik di tahun 65 mungkin kini tak ada ceritanya kalau kesenian reog ponorogo, dan beberapa lagu daerah diklaim sebagai milik budaya negara tetangga kita.
Dalam bidang musik, selain mengecam musik ngak-ngik-ngok yang dianggap tidak sesuai dengan kepribadian nasional, Lekra juga sangat prihatin terhadap perilaku anak-anak kecil yang menyanyikan lagu-lagu dewasa yang liriknya cengeng dan cinta-cintaan. Karenanya Lekra membahasnya secara khusus dalam Konferensi Lembaga Musik Indonesia (LMI/Lekra). Kondisi ini tampaknya tak jauh berbeda dengan keadaan sekarang dimana anak-anak tak memiliki lagu-lagu yang sesuai dengan usia mereka sehingga tak heran kalau kita mendengar anak-anak menyanyikan lagu –lagu cinta orang dewasa.
Di bidang buku, kita akan melihat bagaimana saat itu pameran-pameran buku tak sekedar ajang bisnis semata, melainkan menjadi ajang propaganda politik melalui buku-buku yang dipamerkan. Secara menarik kita akan diajak melihat siapa-siapa saja yang ikut dalam pemeran buku yang saat itu bernama “Gelanggang Buku” dan buku-buku apa saja yang dipamerkan. Hal ini mungkin bisa berguna bagi penyelenggara pameran buku di masa kini yang umumnya hanya memindahkan aktifitas toko buku ke dalam pameran.
Kemudian dibahas pula politik sebagai panglima buku, politik buku pelajaran, lembaga penerbitan buku Lekra, dan bab khusus “Lekra tak membakar buku” yang berisi fakta-fakta bahwa Lekra tak pernah membakar buku dan melarang peredaran buku-buku yang notabene adalah wewenang Kejaksaan Agung. Berdasarkan guntingan-guntingan Koran Harian Rakjat yang menjadi dasar buku ini, kedua penulis buku ini sampai pada kesimpulan bahwa “tak satupun individu yang menyebutkan bahwa Lekra secara keorganisasian maupun individu-individu ikut serta dalam pembakaran buku” (hal 476)
Masih banyak sepak terjang Lekra yang akan kita dapat di buku ini. Pada intinya buku ini memang mengupas habis kerja-kerja kreatif yang dihasilkan Lekra selama 15 tahun (1950-1965) di bidang kebudayaan sebelum lembaga ini dibekukan dan seluruh kegiatannya dihapus dari memori dan sejarah bangsa Indonesia.
Kini kita patut bersyukur, karena kiprah Lekra yang telah dengan sengaja dihilangkan dari sejarah bangsa ini kembali terkuak dan dapat dibaca oleh semua orang. Ini semua berkat ‘kegilaan’ dua penulis muda yang dengan tekun menyelisik sekitar 15 ribu artikel kebudayaan di Harian Rakjat selama 1.5 tahun yang tersimpan dalam ruang terlarang untuk dibaca di sebuah perpustakaan di Jogya. Artikel-arttikel itu terpaksa mereka salin karena lembar koran yang sudah usang sebagian besar sudah tak memungkinkan lagi untuk di foto copy.
Dari ribuan artikel yang mereka baca dan salin inilah mereka dan menyusunnya sehingga menjadi sebuah buku utuh yang enak dibaca, . “Kami hanya mengatur tempo dan menggilir siapa yang naik panggung duluan dan siapa yang kena giliran berikutnya. Untuk memberi suasana dan raut wajah dan suara semasa, maka kami sebanyak mungkin mengiringi kembali seluruh bahasan dengan kutipan langsung dari potongan-potongan berita braksen ejaan lama itu?” (hal 6).
Tampaknya kegilaan ide dan ketekunan kerja yang dilakukan Muhidin dan Rhoma Dwi Aria tak sia-sia. Buku yang awalnya diprediksi oleh kedua penulisnya hanya akan setebal duaratusan halaman ternyata menggelembung menjadi hampir 600 halaman karena semakin meluasnya temuan-temuan baru yang mereka temukan untuk diungkapkan. Jangan menciut melihat ketebalannya, karena walaupun tebal dan bersumber dari ribuan artikel-artikel yang berdiri sendiri namun kedua penulis berhasil merangkainya menjadi sebuah buku yang sistematis, runut, tak bertele-tele, dan enak dibaca. Lampiran-lampiran risalah rapat, hasil komunike, struktur organisasi, dan sebagainya merupakan bonus bagi mereka yang berniat meneliti lebih dalam mengenai Lekra.
Melihat lengkapnya bahasan dalam buku ini tampaknya inilah buku tentang Lekra yang paling komprehensif yang pernah diterbitkan di Indonesia semenjak Lekra berdiri hingga kini. Namun demikian ada yang mengkritik buku ini karena hanya bersumber dari guntingan-guntingan artikel lembar kebudayaan Harian Rakjat tanpa mencari sumber lain berupa wawancara terhadap pelaku sejarah yang masih hidup atau sumber-sumber kepustakaan lain.
Selain itu, ketika saya selesai menamatkan buku ini, saya bertanya-tanya mengapa judul bukunya “Lekra tak Membakar Buku”, padahal yang dibahas lebih dari sekedar jawaban atas pernyataan tersebut. Menurut saya judul tersebut mengecilkan luasnya cakupan yang dibahas dalam buku ini.
Ketika kedua hal tersebut saya tanyakan pada salah seorang penulisnya (Muhidin M Dahlan), ia mengatakan bahwa tak adanya narasumber dari para tokoh sejarah dalam menyusun buku ini sudah disadarinya sejak awal, “Itulah kelemahan sekaligus kekuatan buku ini”, ungkapnya. Wawancara terhadap tokoh-tokoh Lekra yang masih hidup dilakukan hanya sebatas konfirmasi nama, tak bisa lebih dari itu, faktor usia tampaknya menjadi kendala karena mungkin ingatan mereka sudah tak jernih lagi.
Sedangkan untuk judul, Muhiddin menjelaskan bahwa dalam proses kreatifnya ia cenderung mengambil judul bab yang paling kuat. Selain itu bab “Lekra tak Membakar Buku” adalah yang ditulis paling awal ketika buku ini dikerjakan, dan dari bab inilah maka pembahasannya menjadi semakin berkembang. “Tidak ada bab itu sebagai pemicunya , maka tidak akan ada buku Lekra.”, demikian imbuhnya.
Kritik lainnya untuk buku ini adalah hurufnya yang terlalu kecil dan beberapa kesalahan cetak sehingga mengganggu kenyamanan membaca. Untuk ukuran huruf mungkin ini salah satu cara untuk menyiasati agar buku ini tidak bertambah ‘gemuk’ yang tentunya akan mengakibatkan harganya menjadi mahal dan sulit dijangkau oleh khalayak ramai.
Terlepas dari baik buruknya buku ini, saya berani mengatakan bahwa buku ini buku merupakan karya monumental yang mendokumentasikan penggalan sejarah berkebudayaan di Indonesia. Karenanya buku ini wajib dimiliki dan dibaca oleh para pecinta sejarah, pemerhati, dan pelaku gerakan kebudayan Indonesia. Kiprah Lekra selama lima belas tahun tampil apa adanya dalam buku ini. Ada yang buruk, ada pula yang baik. Yang buruk bisa menjadi pelajaran agar hal serupa tak terulang kembali. Sedangkan apa yang baik dari kerja kreatif Lekra setidaknya dapat menjadi inspirasi dan bisa dijadikan contoh dalam mengembangkan kebudayaan kita saat ini.
Yang pasti buku ini akan membuka mata kita bahwa sejarah Lekra tak sekedar berisi polemik tak berkesudahan dengan pengusung Manifes Kebudayaan. Lekra bukan hanya diisi oleh orang-orang yang haus kuasa, tukang boikot, tukang cela, dan pembuat onar panggung kebudayaan, tapi Lekra adalah sebuah lembaga kebudayaan yang telah memberi warna dan sumbangsih yang luar biasa bagi kebudayaan Indonesia sebelum tragedi nasional menumbuk dan menghancurkan semua hasil kerja keras yang dipupuk selama 15 tahun tanpa henti itu.
Cover yang Dipermasalahkan
Baru saja sehari terpajang di toko-toko buku, tiba-tiba Toko Buku Gramedia menarik seluruh buku Tilogi Lekra Tak Membakar Buku dan mengembalikan pada penerbitnya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Usut punya usut ternyata mereka khawatir dengan cover buku “Lekra Tak Membakar Buku” yang memuat gambar ‘palu arit’ yang merupakan lambang PKI. Mereka tampaknya khawatir karena pelarangan logo PKI hingga kini belum dicabut oleh pemerintah. Karenanya TB Gramedia bersikukuh tak mau memajang buku ini jika covernya belum diganti.
Sebenarnya lambang PKI pada buku ini tak terlalu kentara karena hanya berupa gambar timbul (embossed) tanpa bingkai dan warna, nyaris tak terlihat terutama dari jarak jauh. Sehingga sekilas yang terlihat hanyalah cover putih polos dengan judul buku berwarna merah di bagian bawahnya.
Sebenarnya desain cover seperti ini menggambarkan keberadaan Lekra dengan PKI. Lekra bukanlah salah satu organ PKI, tapi tokoh-tokoh Lekra adalah orang-orang yang juga tergabung dalam PKI. Jadi dibilang PKI bukan, dibilang bukan PKI juga salah.
Awalnya penerbit maupun penulisnya tetap ingin mempertahankan cover tersebut, namun tampaknya daripada buku ini tersendat peredaraannya dan di sweeping oleh pihak-pihak tertentu sehingga kesempatan masyarakat untuk membaca buku ini menjadi terhalang, akhirnya diambil jalan kompromi. Daripada membuang-buang waktu dan dana untuk mengganti cover baru, maka ditutuplah lambang palu aritnya dengan kertas putih.
Akhirnya buku monumental ini kini tersaji dengan wajah yang tambal sulam, hal yang buruk dan tak memenuhi kaidah estetika sebuah buku….
@h_tanzil
.:bacalengkap:.
.:kembali:.
::dini haiti zulfanyPssstt… bukan saya ‘aku’ di situ heheheh. Itu judul novelnya Muhidin M Dahlan yang waktu itu saya ceritain. Nah, jadi ceritanya, sekarang saya dah dapet sedikit mood nih untuk review pendapat saya tentang novelnya Gus Muh. Tapi sebelumnya, izinkan saya cerita sedikiiiit aja yah kenapa saya sampai ‘kedapetan’ novel ini.
Berawal dari jalan-jalan sendirian di TB Gramedia Bandung, muter-muter, bolak balikin buku, baca-baca, yaah ritual yang biasanya saya lakukan di TB Gramedia AYani Megamal saya terapkan juga di kota orang :D. At a glance ngebaca judul sebuah buku: Tuhan, Izinkan aku menjadi pelacur! reflek tangan saya ngambil buku itu. Ternyata bukan buku, tapi novel. Beda kan ya buku ma novel? hehe. Oke, kita anggep aja beda yak.
Trus, saya baca ringkasan di belakangnya: DIA seorang muslimah yang taat. Tubuhnya dihijabi oleh jubah dan jilbab besar. Hampir semua waktunya dihabiskan untuk salat, baca Al-Qur’an, dan berzikir. Dia memilih hidup yang sufistik… bla bla bla. Bagian ini belum berhasil merangsang saya untuk merogoh uang membawa pulang buku ini. Sampai pada bagian: Bahkan terkuak pula sisi gelap seorang dosen Kampus Matahari Terbit Yogyakarta yang bersedia menjadi germonya dalam dunia remang pelacuran yang ternyata anggota DPRD dari fraksi yang selama ini bersikukuh memperjuangkan tegaknya syari’at Islam di Indonesia. NAH!
Barulah saya teramat ingin membaca novel ini dengan nyaman di pembaringan. Maka, saya masukkan ia ke dalam keranjang yang sudah penuh berisi buku-buku. Dan sekarang, well done, terbaca habis sudah cerita fiksi yang katanya diangkat dari kisah nyata tersebut. Well, frankly writing *hehe biasanya kan frankly speaking, tapi karena ini saya nulis, bukan ngomong, jadinya frankly writing :p* di tengah penghayatan dalam membaca kisah di novel ini, mau tidak mau saya teringat pendapat panjang lebar yang ditulis kak fitri.
Novel ini, as a whole menceritakan tentang seorang aktivis akhwat yang dalam pandangan saya, tidak ikhlas ketika bertarbiyah! Sebuah generalisasi menyedihkan sesungguhnya, saat akhat dipandang tidak lebih baik daripada pelacur hanya karena sekelumit kasus *yang barangkali banyak di mata mereka yang belum melihat akhwat yang tidak munafik*. Dan di sini, saya tidak sama sekali menyatakan bahwa saya tidak munafik, pun tidak pula menyatakan saya munafik. Saya mengambil filosofi kupu-kupu, bermetamorphosis untuk menjadi ‘cantik’, bukan malah metamorphosis mundur seperti yang terjadi pada Nidah Kirani dalam novel ini. Wallahu’alam bishsawab.
Nah, kenapa bisa saya nyatakan dia tak ikhlas bertarbiyah? Oke, let me guess. Dalam bab pertama novel ini, yang di situ tertulis sebagai pengakuan kesatu, Gus Muh secara eksplisit meletakkan lokasi kejadian di sebuah masjid bernama Masjid Tarbiyah. Aktivitas yang terjadi saat Nidah Kirani berada di area dalam kisah itu juga bisa saya rasakan hawa tarbiyahnya. Tapi, sayangnya, saat Nidah sedang semangat-semangatnya, teman satu pengajiannya, Rahmi, pulang ke daerahnya. Nidah jadinya gak punya temen yang sefikroh lagi deh sama dia. Ghirah untuk terus melanjutkan pengajian amat sangat besar. Namun, ghirah ini tidak diiringi dengan suntikan pemahaman terhadap apa yang sedang ia geluti *saya juga sebetulnya sama sekali gak dalem pemahamannya. Shirah Nabawiyah aja belon abis dibaca. Fiqih dakwah juga belon baca waaargh*.
Menurut saya sih, dengan kekurangpahaman mendalam itu, Nidah jadi ikut aja waktu di’sodorin’ tawaran untuk ikut jamaah sama rekan sepengajiannya yang sukses merekrutnya buat masuk ke jamaah itu. Saya ga tau pasti, jamaah apa yang dimaksud oleh Gus Muh dalam ceritanya itu. Hanya bisa nebak-nebak aja, diskusi sama temen-temen. Ga berani juga menjudge bahwa jamaah yang dimaksud adalah jamaah ini atau jamaah itu.
Anyway, sampai di tengah-tengah cerita, saya malah seakan melihat pada sebuah cermin terbalik. Cerita Nidah Kirani ini malah bertolak belakang sama cerita saya. Kalo Nidah kecewa sama jamaah trus keluar dan ‘buat onar’ serta menantang Tuhan dengan cara maen-maen sama banyak pria *yang katanya ikhwan dalam novel ini*, kalo saya justru kecewa sama banyak pria trus keluar dari permainan itu dan masuk jamaah hehe. Insya Allah, jamaah saya ga seperti jamaahnya Nidah Kirani.
Di akhir buku ini, ada beberapa pendapat tentang novelnya Gus Muh ini. Ada yang pro, ada yang kontra. Bisa diliat di sini deh beberapa pandangan tentang novel ini. Kalo saya sendiri, sama sekali tidak marah, tidak kontra, dengan novel ini. Entah kisah nyata atau tidak, hanya Allah yang tau. Dari fraksi manakah yang ‘main-main’ sama Nidah Kirani dalam novel ini, saya juga tidak tau. Dari fraksi manapun dia, entah kisah fiksi atau non-fiksi novel ini, saya tetap berusaha ambil ibrah dari cerita ini. Toh segalanya bisa diambil ibrahnya, kan?
Intinya sih, kalo menurut saya, saat kita menjalani sebuah jalan yang sudah kita yakini kebenarannya dari hati, jalani dengan ikhlas. Jangan berdakwah karena orang, berdakwah karena ada bang ini atau kak itu, berdakwah ikut-ikutan, tapi berdakwahlah karena Allah saja *Ya Allah, semoga saya ikhlas berdakwah di jalan ini*.
Saat ini, secara pribadi, kadang memang suliiiiit sekali menemukan keikhlasan menduduki hati. Tapi saya manusia, yang selalu ingin ikhlas seperti sahabat-sahabat Nabi yang bisa ikhlas, seperti Hasan Al Banna yang ikhlas berjuang demi tegaknya panji-panji Islam di bumi Allah SWT ini. Do’akan saya teman-teman…
.:bacalengkap:.
.:kembali:.
::habibahJudul di atas saya pasang sebagai refleksi saya orang awam terhadap novel ”Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur”. Memoar luka seorang muslimah. Karya Muhidin M Dahlan.
Mengungkap satu kenyataan yang mungkin benar-benar terjadi. Dialah seorang gadis bernama Nidah Kirani, bercita-cita memasuki Islam secara kaffah, bergabung dengan teman-temannya dalam sebuah jamaah aliran keras untuk mendirikan Daulah Islamiyah di Indonesia.
Kiran, seorang muslimah yang taat. Tubuhnya dihijabi oleh jubah dan jilbab besar, hampir semua waktunya dihabiskan untuk salat, baca Qran, dan berzikir. Dia memilih hidup yang sufistik, hidup sederhana, makan seadanya di sebuah pesantren mahasiswa.
Perjalanan selama tiga tahun ikut berjuang dalam jemaah tidak membuat Kiran bertambah kuat keislamannya tapi sebaliknya, pertentangan daya nalarnya yang kritis dengan kondisi riil dalam organisasi yang tidak lain hanya berisi dogma-dogma yang tertutup membuat dirinya memberontak dan ingin keluar dari kungkungan jemaah tersebut.
”pada akhirya ibadahku pun kembali merosot kalaupun aku terlihat menjalani ibadah, itu sekedar menjalani ritual keagamaan saja. Tubuhku saja lenggak-lenggok menghadap kiblat, namun hatiku tidak ikut dalam ritual itu. Aku sudah sebagaimana kebanyakan ibadah awam. Ibadahpun mulai malas, sekali duakali ketika azan maghrib sudah melantun rasa kosong manghampiriku, hatiku nelangsa tak tahu berbuat apa. (h.65)
Dalam keadaan kosong itulah Kiran terjerembab dalam dunia hitam. Ia memutuskan untuk keluar dari pos jamaahnya. Mengontrak kamar kos yang seadanya di pinggiran Malioboro. Ia lampiaskan frustasinya dengan free sex dan mengonsumsi obat-obat terlarang. Katanya ”aku hanya ingin Tuhan melihatku, lihat aku Tuhan, kan kutuntaskan pemberontakanku kepada-Mua” katanya setiap kali usai bercinta yang dilakukannya tanpa ada secuilpun rasa sesal.
Lihatlah Kau, apa yang Kau lakukan selama ini. Aku sudah berinfak sekian banyak, bahkan lebih besar dari yang lain, di jalan yang Engkau ridai, kalau malam aku dirikan salat, untuk mengabdi kepada-Mu semata, tapi mengapa semua itu berujung dengan kekecewaan.(h.100)
Oh kakak-kakakku, oh ibu, oh bapak, aku rela menipu kalian. Telah kukuras semua harta untuk infak setiap minggunya, dari kerja payah kalian. Untuk apa infak itu? Untuk infak jamaah, untuk perjuangan suci umat islam.
Rasa kecewa yang besar membuat kiran gelap hati, hingga membuat terjerembab dalam dunia hitam, pil-pil haram itu telah menjadi temannyaa, free sek adalah hiburannya. Tak ada lagi ibadah yang dulu selalu dilakukannya. Yang ada hanya perasaan benci dan kecewa dengan tuhan yang dilampiaskan dengan pil dan free seks.
Dari petualangan seksnya itu tersingkap topeng-topeng kemunafikan dari para aktivis yang meniduri dan ditidurinya—baik aktivis sayap kiri maupun sayap kanan (Islam)—yang selama ini lantang meneriakkan tegaknya moralitas. Bahkan terkuak pula sisi gelap seorang dosen Kampus Matahari Terbit Yogyakarta yang bersedia menjadi germonya dalam dunia remang pelacuran yang ternyata anggota DPRD dari fraksi yang selama ini bersikukuh memperjuangkan tegaknya syariat Islam di Indonesia.
Aku mengimani iblis. Lantaran sekian lama ia dicaci, ia dimaki, dimarginalkan tanpa ada satupun yang mau mndengarnya. Sekali-kali bolehlah ku mendengar suara dari kelompok yang disingkirkan, kelompok yang dimarginalkan itu, supaya ada keseimbangan informasi. (h.11)
Hingga akhir cerita tak ada penyesalan atas apa yang kiran lakukan. Dia semakin mantap menempuh jalannya sebagai pelacur, dia katakan:
Oh tuhan izinkan aku mencintai-Mu dengan cara yang lain...(h.253).
Terserah Kamu Tuhan, aku tak perduli lagi......(h.252)
Demikian...
Bagaimana dengan Anda?
.:bacalengkap:.
.:kembali:.
::rengganisIni gara-gara provokasi teman, makanya ak beli novel karangan Muhidin M Dahlan. Dalam promosinya temenku bilang ada novel keren, kisah nyata dan settingnya di Gunungkidul. Aku kalo udah denger2 yang berbau Gunungkidul langsung gimana gitu heheheh
Tapi cukup lama aku nyari novel ini, karena memang sempat diberedel dan menghilang begitu saja. Harus nyari dan ngubek2 loakan buat dapetin novel ini. Kenapa kemudian diberedel??? Yah karena dengan gamblang novel ini menggambarkan “ pemberontakan” mahasiswa di Kampus yang terkenal dengan kampusnya orang baik-baik yang berakhlak mulia di Yogyakarta.
Tapi, beruntung pas lg main di tempat temen di Yogyakarta aku liat itu novel yang sudah kumuh, halaman demi halaman udah rontok gak melekat lagi. Kalo dibuka byak dipastikan kertas-kertas akan beterbangan. Ak baca ngebut karena sehari mesti kelar, gak boleh dipinjam dan dibawa pulang. Aku maklum, lha wong nyarinya aja sulitnya minta ampun…. Aku baca halaman demi halaman… Novel ini menarik karena memuat protes pada realitas sosial yang sarat pada kemunafikan. Di sini, diceritakan pergulatan seorang perempuan dengan idealisme tinggi, namun akhirnya menemukan kemunafikan yang luar biasa dalam pertemuannaya dengan berbagai orang yang selama ini mengatasnamakan agama, akhlak, idealisme…
Nidah Kirana, cewek asli Gunungkidul sebagai tokoh utama digambarkan sebagai muslimin yang taat, tubuhnya tertutup jubah dan jilbab besar. Hampir semua waktunya dihabiskan untuk shalat, baca Al Quran, dan berzikir… Tapi di tengah jalan ia diterpa badai kekecewaan. Organisasi garis keras yang mencita-citakan tegaknya syariat Islam di Indonesia yang diidealkannya bisa mengantarkannya ber-Islam secara kaffah, ternyata malah merampas nalar kritis sekaligus imannya. Setiap tanya yang dia ajukan dijawab dengan dogma yang tertutup…
Kesadarannya memberontak ketika banyak hal yang ditemuinya saling bertentangan. Dalam kekecewaannya, Nidah berkelana. Berpetualan dari satu organisasi ke organisasi lain. Dia berontak pada "Tuhan"nya dengan caranya. Mulai mencoba merokok , mencicipi narkoba, sampai akhirnya berpetualang pada satu pria ke pria lainnya. Dan pertahanan diri yang lemah mendorongnya untuk memenuhi hasrat nafsu manusiawinya, BERCINTA,BERSETUBUH dengan dalih pemberontakan.
Hal ini yang menjungkir balikkan lagi keyakinan dan kepercayaannya. Yang tampang ustadz, menidurinya, yang seniman menidurinya, yang aktivis menidurnya. Dalam suasana hati yang luluh lantah, kepercayaannya pada laki-laki, perkawinan,dan cinta pun menjadi Nihil.
Dan dengan perasaan marah, kecewa, dia berusaha untuk bangkit dan tak mau kalah. Maka dicarinya pembenaran-pembenaran yang dapat menguatkan hatinya. Hingga dia pun dapat berdiri tegak, mengangkat dagu, dan menantang dunia, tuhan, dan realitas. Nidah menasbihkan diri untuk melacurkan diri. Sebagai bentuk pemberontakannya pada Tuhan terkasihnya
This book is recommended to read, apalagi katanya…ini kisah nyata lho. Di Gramedia novel ini sudah dipajang dengan editan disana sini.
.:bacalengkap:.
.:kembali:.
::diana sasaBuku ini pertamakali kubaca sekitar tahun 2003- 2004. Saat itu masih susah untuk dapet buku ini, soalnya sempat mau dibakar segala setelah muncul kontroversi. Aku dapat dari nitip seorang kawan yang jalan-jalan ke Jogja. Itupun dia dapetnya mesti muter seluruh toko buku dan cuma dapet satu, yang tinggal satu-satunya. Harganya 28.000. Aku tahu buku itu dari seorang teman.
Pertamakali membaca buku ini, aku merasa ditelanjangi. Semua kalimat yang ditulis seperti menterjemahkan apa yang aku alami. PERSIS…!!! Pemberontakannya pada Tuhan, Ketidak percayaannya pada Cinta, Perkawinan, dan Laku-laki. Semua sedang kualami. Aku dalam kondisi depresi dan kecewa yang berat. Hanya saja aku belum menentukan pilihan akan kemana membawa alur perahu kehidupanku, Tokoh di buku ini sudah, Dia memilih menjadi pelacur sebagai bentuk pemberontakan dan sekaligus aktualisasi atas kekecewaanya.
Nidah Kirani, dalam kegamangan hatinya menemukan komunitas islam kanan yang mendekatkannya pada konsep-konsep ketuhanan dengan sandaran hati. Nidahpun tersentuh, terpesona dan jatuh hati pada kesantunan dan kelembutannya. Maka totalitaspun diberikannya. Namun yang diterimanya kemudian, bukan kepuasan melainkan kekecewaan. Kesadarannya memberontak ketika banyak hal yang ditemuinya saling bertentangan. Banyak kemunafikan, manusia-manusia bertopeng di sekitarnya. dia pun mulai mempertanyakan eksistensi Tuhannya.
Dalam kekecewaannya, Nidah berkelana. Dari satu organ ke organ lain. Mengeksplorasi habis-habisan kecerdasannya. Mengungkapkan semua ide dan hasrat ingin tahunya. Bertemu satu laki-laki ke laki-laki lainnya. Dan pertahanan diri yang lemah mendorongnya untuk memenuhi hasrat nafsu manusiawinya, BERCINTA,BERSETUBUH dengan dalih pemberontakan. (Padahal sebeneranya hanya cara lain untuk melampiaskan kejenuhan, kekesalan,kekecewaan, dan kebuntuan hati)
Laki-laki yang ditemuinya, yang menidurinya, adalah figur-figur yang dalam penampakannya menampilkan sisi-sisi idealis, sisi sisi religius,sisi-sisi yang ‘BAIK’. Hal ini yang menjungkir balikkan lagi keyakinan dan kepercayaannya. Yang tampang ustadz, menidurinya, yang seniman menidurinya, yang aktivis menidurnya. Dalam suasana hati yang luluh lantah, kepercayaannya pada laki-laki, perkawinan,dan cinta pun menjadi Nihil.
Dan dengan perasaan nista, putus asa, marah, kecewa, dia berusaha untuk bangkit dan tak mau kalah. Maka dicarinya pembenaran-pembenaran yang dapat menguatkan hatinya. Hingga dia pun dapat berdiri tegak, mengangkat dagu, dan menantang dunia, tuhan, dan realitas. Di perantarai seorang dosen pembimbing skripsinya , Nidah menasbihkan diri untuk melacurkan diri. Sebagai bentuk pemberontakannya pada Tuhan terkasihnya
COMMENT/KOMENTAR
Jika membaca buku ini dalam kondisi kosong, depresi, anda akan hanyut dan terbawa dalam kemurungan berkelanjutan. Jika membaca buku ini dalam kondisi berbunga-bunga atau gembira, anda akan lekas bosan. Jika membaca buku ini ketika sedang serius dan minat untuk berdiskusi, anda akan menemukan pencerahan dan bahan diskusi menarik. Baca saja ketika sedang tenang. Saya membeli buku cetakan terbaru, membacanya lagi, dan efeknya biasa saja.
.:bacalengkap:.
.:kembali:.
::nurdianaKapitalis buncah krisis Wallstreet,
Gramedia takut buku berpalu-arit.
Das Kapital laris menyusul bursa saham krisis,
Marx muncul ditampilkan banyak penulis.
Di negeri begini jelita,
Di kala nama LEKRA kembali mengemuka,
Palu Arit jadi perkara,
Hiruk sastrawan angkat suara.
Pak Djoko Moeljono pun menggelitik,
kenapa Gramedia takut Palu Arit,
Heri Latief kacian pada yang takut
buku LEKRA ber-Palu Arit.
Arbhi tak terkejut Gramedia kecut,
hantu orba dibantu tuyul masih melotot,
mendirikan bulu kuduk,
maka Gramedia=Gramofon orba.
Bisai menilai:
penolakan Gramedia jadi iklan gratis
LEKRA Tidak Membakar Buku,
kan dicari orang jadi bestseller laris.
Ari Condro berseloroh,
Gramedia takut Palu Arit,
Trilogi LEKRA
jual undergriund saja.
Chalik Hamid ikut berkisah:
Palu Arit bukan hantu lagi,
di Eropa hiasan pakaian,
di pasar bebas berkibaran,
bersama gambar Marx, Che Guevara,
Gramedia kok ketakutan,
lalu bertanya: kita sudah masuh jaman Orba jilid dua?
Tentu saja jawabnya:
ya, iya; tandanya orba masih kuasa.
Asep Sambodja bersuara pula:
menilai penting Trilogi LEKRA
yang menghantui Gramedia,
anjurkan para pengajar sastra,
dan pada para guru,
membaca LEKRA Tidak Membakar Buku.
Setengah abad Perang Dingin,
CIA menggerayangi dunia;
penjajah membangun banyak penjara,
Nusa Kambangan, Digul, dan pembuangan;
sepertiga abad orba kuasa,
para intel dan baju hijau,
membantai membunuh musnah,
membasmi sak cindil abange,
tak lenyap dan tak juga punah,
pemuja Palu Arit bermunculan lagi.
Panji merah ber-Palu Arit,
berkibar megah di negeri Naga,
berpenduduk seperlima dunia,
kini tengah mempesona.
Partai berlambang Palu Arit,
memimpin pembebasan rakyat Nepal,
menggulingkan kerajaan feodal,
mendirikan negara demokratis federal.
Di kala umat lah buka mata,
mulut terrajut mulai menganga,
bebas menulis dan bersuara,
nama LEKRA mulai mengemuka,
DR Tjaniago bersajak pula,
mengangkat Marx, Lenin, Liu Shaoqi,
guru dan sobat Mao Zedong;
dan Heri Latief sering menyanjung,
Darsono, Semaun, Musso, Tan Malaka,
jelas semua pemuja Palu Arit.
Palu Arit bersejarah lama,
palu lambang rakyat pekerja,
arit lambangkan kaum tani,
tanpa buruh dan tani,
mana umat bisa hidup di bumi,
Palu Arit mulia tiada tara.
Palu Arit ditakuti dan dimusuhi,
kaum penghisap dan lintah darat,
antek penghasut Perang Dingin,
dan penerus fasis rezim orba.
Palu Arit dipuja rakyat pekerja,
lambang kekuatan,
senjata perjuangan,
demi kebebasan dari penghisapan.
30 Oktober 2008.
(diundung dari milis 'sastrapembebasan')
.:bacalengkap:.
.:kembali:.