12 April 2014

Jakarta Barat Milik Masjumi di Pemilu 1955, PKI Nomor 4

:: gusmuh

Jakarta Barat yang terdiri dari Kecamatan Tanah Abang, Gambir, Petamburan, Kebayoran Lama, Kebayoran Baru, dan Kebon Jeruk mutlak milik Masjumi yang memeroleh suara 53.716.

Saingan terberat Masjumi tentu saja PNI (43.817). Sementara PKI kurang berkembang dan hanya beroleh suara 18.875. Bahkan suaranya dikalahkan oleh Partai NU. 

Artinya, dalam dua tahun konsolidasi PKI setelah berada di masa gelap antara tahun 1948-1952, ibukota memang bukan target anak-anak muda yang menggerakkan mesin partai komunis di Indonesia ini. Mereka fokus di daerah-daerah di Jawa, terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mungkin mereka menunda menguasai ibukota dan disimpan untuk pemilu berikutnya (jika masih ada).

Poskan Komentar

PKI Pemenang Pemilu 1955 di Karesidenan Semarang

Karesidenan Semarang terdiri dari Kota/Kabupaten Semarang, Salatiga, Kendal, Demak, dan Purwodadi. Bagi PKI, Semarang adalah tanah kelahiran. Kota ini melahirkan "SI-Merah" atau Islam Kiri a'la Indonesia yang kemudian bermetamorfosis menjadi Partai Komunis Indonesia pada awal dasawarsa 1920-an.

Kemenangan mutlak di Kota/Kabupaten Semarang semacam proklamasi bagi PKI bahwa mereka sudah semestinya berjaya di tanah kelahiran. Bagaimana mungkin mengimpikan kejayaan di daerah lain, sementara kampung halaman keok. Selain Semarang, PKI juga menang mutlak di Purwodadi dan Kota Salatiga.

Adapun pesaing utamanya, PNI, finish di peringkat kedua dengan lumbung suara terbesar berada di Kendal. Sementara Partai NU, pasti berjaya di Demak yang mendapat julukan "Kota Wali". Walaupun begitu, suara PKI di daerah ini cukup signifikan yang artinya tak keok-keok amat.

Suara PKI secara keseluruhan di Karesidenan Semarang adalah 477.648 dan disusul PNI yang meraih 224.352 suara.

Poskan Komentar

11 April 2014

Di Karesidenan Surakarta PKI Juara Pemilu 1955

:: gusmuh

Partai Komunis Indonesia (PKI) berjaya di 3.021 TPS di Karesidenan Surakarta, antara lain di Kota Besar Surakarta (Solo), Boyolali, Sragen, Klaten, Karanganyar, Sukoharjo, dan Wonogiri.

Kemenangan ini menjadikan Karesidenan Surakarta, terutama Solo, sebagai kota merah yang diperhitungkan dalam sejarah (politik) Indonesia. Merahnya Solo di Pemilu 1955 adalah pembuktian kuantitatif dari sebuah sejarah panjang di mana kota ini melahirkan pembangkang-pembangkang semacam Marco dan Misbach serta tanah yang subur bagi lahirnya koran-koran pamflet.

Huru-hara politik Madiun 1948, Solo/Karesidenan Surakarta juga menjadi salah satu titik sentral mula-mula bagaimana api itu membakar politik hingga menjadi panggung pembunuhan besar-besaran dari kalangan kiri-merah secara horisontal di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Surakarta, terutama Solo, pada akhirnya merupakan simbol bagaimana Jawa memangku komunis dengan manis di suatu masa yang jauh.

Kecuali Sragen dan Karanganyar, PKI memang berjaya. PKI bahkan menang telak di Solo, Boyolali, Sukoharjo, dan Klaten.

Poskan Komentar

10 April 2014

PKI Pemenang Pemilu 1955 di Yogyakarta

:: gusmuh

Sebutan untuk Yogyakarta memang lengkap. Ibukota Revolusi, Kota Seni dan Budaya, Kota Pelajar, Kota Raja. Bila deret itu kita tambahkan, maka bisa berbunyi "Kota Merah" setelah PKI memenangkan Pemilu 1955 dengan total suara 238.870, disusul PNI 209.190 suara dan Masjumi 136.520 suara.

Memang, sudah bisa diduga bahwa PKI merajai suara di Kota Yogyakarta. Kemenangan PKI di Yogyakarta bukan saja soal kuantitas, tapi juga simbolik. Kota kecil ini melting pot Indonesia; pertemuan harmonis antara masa silam dan modernitas; perjumpaan yang mulus antara feodalisme dan demokrasi; kerajaan dan republik.


Dalam konteks Pemilu 1955, di kota ini juga, panggung kampanye paling megah didirikan oleh seniman-seniman ASRI Yogyakarta yang memang menjadi calon legislatif PKI dari golongan "orang-orang non partai".

Poskan Komentar

Di Pemilu 1955, PKI Posisi 3 di Jawa Barat

:: gusmuh

PKI insyaf seinsyaf-insyafnya, Jawa Barat bukan basis utama mereka. Hampir sepanjang tahun, kampanye di media-media PKI untuk Jawa Barat adalah perlawanan sengit atas DI/TII. Bagi PKI, frasa "DI/TII" semacam kode untuk Jawa Barat bagaimana beratnya tantangan membumikan marxisme di daerah Sunda ini.

Dan faktanya, memang tak terlalu mengejutkan: Masjumi dan PNI merajai suara untuk daerah pemilihan Jawa Barat.

Khusus di Kota Bandung, PKI membututi PNI yang notabene adalah sekutu ideologi dalam selimut impian Sukarno (nas-kom). Demikian juga di Ciamis, suara perolehan PKI cukup signifikan (99.5 ribu suara) yang menempatkannya finish di tempat kedua setelah PNI.

Di Kota Cirebon, saingan utama PKI bukan Masjumi, melainkan Partai NU yang keluar sebagai pemenang. Di sini, PKI menjadi runnerup. Namun, hasil berbeda sukses diraih PKI di Kota Cirebon. PKI menjadi pemenang di Kota Cirebon dengan 12.665 suara, yang disusul PNI (9.536) dan Masjumi (6.255).


Poskan Komentar

09 April 2014

19 Janji PKI di Pemilu 1955 yang Diperjuangkan Sampai Mati Setelah Pemilu

"Mentjoblos Palu Arit Berarti Memilih PKI | Apa Artinja Djika Saudara Memilih PKI?"

Headline itu 28 September itu begitu mencolok. Juga di sisi kanannya ada logo PKI yang sangat besar. PKI memang memasang headline ini sebagai cara agar kadernya mengawasi kerja para elite-nya untuk memperjuangkan mati-matian apa yang sudah dijanjikan. Untuk membela soal budaya habis-habisan agar berada dalam poros yang sama dengan ekonomi-politik, saya sudah menuliskannya di buku Trilogi Lekra Tak Membakar Buku.

Dalam konteks Pemilu, jika PKI itu mengatakan membela petani, mereka memasang caleg dari petani atau orang yang tahu betul bagaimana bekerja membela para petani. Dan ini mereka buktikan dengan perjuangan mengawal praktik UU Pokok Agraria (UUPA) dan UU Bagi Hasil.

Jadi, bukan omong-kosong. Membela petani, tapi caleg yang dipasang artis syuuur yang berpose di sawah bersama petani di Jawa Barat. Dalam kenyataan sehari-hari kerja politik PKI, fenomena seperti itu tak ditemukan. Jika ada, pasti ditindak.


Begitu juga kalau membela tentara/prajurit miskin, nelayan, intelejensia, buruh, pemuda, seniman, sastrawan, perempuan, pengusaha kecil/nasional, dan sebagainya.

Mau tahu ke-19 janji PKI yang diperjuangkannya paska Pemilu? Ini janji-janji itu:

Poskan Komentar

08 April 2014

40 Komik Strip PKI Pemilu 1955

:: gusmuh

PKI tahu persis bagaimana memakai seni populer untuk mempengaruhi pemilih dan sekaligus mengajarkan warga desa yang masih banyak buta huruf untuk mencoblos di "Hari Raya" Pemilihan Umum (Editorial Harian Rakjat/PKI memang memberi judul "Hari Raya" untuk 29 Sept). Dengan seni populer ini, komik, PKI ingin menerabas beberapa langkah pesaingnya untuk mendapatkan perhatian masyarakat desa. Ingat, Harian Rakjat yang menyebarkan komik strip ini adalah koran dengan oplah terbesar dimasanya, sekira 50 ribu eksemplar (bandingkan dengan Pedoman/PSI hanya sekira 20 ribuan).

Komik strip PKI ini dibagi dalam tiga kelompok: (1) Persiapan jelang pencoblosan; (2) Saat pencoblosan; (3) Perhitungan kotak-suara.

Di bagian awal (10 panel), dengan tokoh utama Achmad (Aidit? -- nama kecilnya "Achmad"), seorang kader teguh pendirian, pemilih dituntun bagaimana prosedur mencoblos (PKI) yang baik, benar, dan tepat.

Di bagian kedua (15 panel) menggambarkan secara simulatif warga yang berduyun-duyun dengan bersemangat ke TPS, mendaftar, memasuki bilik suara, dan mencoblos. 


Adapun bagian ketiga (15 panel) adalah penggambaran si pemilih melipat kembali suara, keluar dari bilik, dan menyerahkan kembali surat-suara di meja Panitia Pemungutan Suara. 

Nah, dalam unggahan ini saya sertakan 10 dari 40 panel komik strip PKI yang menunjukkan dengan cara populer simulasi persiapan, pencoblosan, dan suasana usai nyoblos. Jika ada waktu lain yang lebih luang diunggah semuanya:

Poskan Komentar

07 April 2014

Caleg "Orang-Bola" dari PKI di Pemilu 1955

:: gusmuh

Kalau benar partai-partai itu mendukung dunia sepak bola, berani dong memberi jatah calon legislatif dari "orang-bola". PKI sadar sepak bola itu penting. Bukan hanya teori belaka, tapi teraplikasi dalam tindakan politik. Partai lain yang menjadi lawan-lawan di Pemilu 1955 sepertinya tak pernah berpikir setaktis PKI ini. Ini eksperimen PKI yang sangat menarik sebelum puluhan tahun berikutnya kita menyaksikan partai-partai merekrut para atlit di dunia olahraga menjadi anggota parlemen.

Tindakan PKI adalah: mengambil tiga "orang-bola" untuk maju sebagai caleg. Satu kliping yang dimuat di Harian Rakjat tepat di hari pentjoblosan 29 September 1955, membuktikan tindakan politik itu. Siapa saja tiga "orang-bola" yang menjadi caleg PKI itu. Mari perkenalkan satu-satu.

Poskan Komentar

06 April 2014

Dunia Bebas, Dunia Gratis

:: gusmuh

Di abad 20, soal hak cipta (right) bagi penemu dan industri adalah masalah hidup-mati. Serupa hak sejengkal tanah bagi seorang petani. Namun di era digital, perbincangan right nyaris mengalami antiklimaks. Ada tiga buku yang menyoroti sejarah panjang dunia hak cipta, kultur bebas, dan terbuka luasnya budaya gratis di masa depan. Yakni, Dunia Tanpa Hak Cipta (DTHC) karya Joost Smiers dan Marieke van Schijndel; Budaya Bebas (BB) karya Lawrence Lessig; dan Gratis: Harga Radikal yang Mengubah Masa Depan (G) karya Chris Anderson.

Poskan Komentar

09 March 2014

M.H. Lukman, Hikayat Seorang Anggota Dewan

:: gus muh

Dengan anugerah berupa akal dan hati yang diberi Tuhan di bumi Indonesia, makilah orang-orang komunis sebagai dajjal di atas dajjal. Jangan sia-siakan umur dengan toleransi yang longgar agar paham orang-orang komunis yang tak bertuhan itu dapat hidup kembali di bumi Pancasila; walau mereka keluarga kiai haji dan menjalankan wiridan tiap hari.

Tak cukup disembelih, bahkan ketika mati tanpa kubur dan jasad pun orang-orang komunis masih perlu dituntut pertanggungjawabannya. Tanggung jawab apa? Mungkin terbalik. Lebih tepatnya ucapan terima kasih yang berzirah tuntutan pertanggungjawaban karena telah menjadi tumbal untuk berdirinya sebuah orde yang dipanggul oleh serdadu-serdadu yang tak pernah memenangi perang.

Orang-orang komunis itu semacam domba kurban yang dikirimkan Tuhan dalam jumlah massal kepada Ibrahim untuk menggantikan batang leher Ismail. Dan tiap tahun, di sini, oleh pewaris kapak Ibrahim, domba-domba komunis itu dijadikan kurban dengan cara apa saja.

Tapi tahukah apa itu “moral komunis”? Salah satu “moral komunis” yang dijalankan sehari-sehari oleh yang berteguh dengannya adalah membela manusia dan menjaga keluarga dari nafsu bermewah-mewahan.

Poskan Komentar