19 April 2015

KWAA: Jurnalis Progresif Asia Afrika Bersatu!

Ketika semangat KAA di ulangtahunnya ke-60 di tahun 2015 ini lebih menampakkan diri konferensi untuk bertukar kabar investasi dan bisnis-perjalanan (turisme) ketimbang isu geopolitik, saya teringat kaum jurnalis.

Dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 jurnalis dan penulis adalah darah utama yang membikin Dasasila Bandung -- atau lebih dikenal “Spirit Bandung” -- bergaung luas. Tapi jurnalis bukan sekadar pewarta dan penonton peristiwa. Dengan bersandar pada “Spirit Bandung” 1955 itu jurnalis Asia-Afrika membangun solidaritas sewindu setelahnya. Solidaritas itu bernama Konferensi Wartawan Asia Afrika (KWAA).

14 April 2015

Jokowi dan Kemkominfo

Setelah kasus KPK vs BG dua bulan silam itu, "kesan baik" Presiden Jokowi mengalami turbulensi yang hebat. Bukan saja guncangan itu terjadi dengan PDIP, pegiat antikorupsi, relawan pendukung, namun guncangan itu merembet tergerusnya "kesan baik" Jokowi dengan pers.

Puncak retaknya hubungan itu disimbolkan dengan ketakhadiran Presiden Jokowi di Hari Pers Nasional (HPN) di Batam, 9 Februari. Ketakhadiran itu simpul, Jokowi mengalami retak yang mendalam dengan media.

Jokowi yang selama ini dikenal sebagai "media darling" tiba-tiba saja terjun bebas dari batu mulia menjadi besi kehilangan pamor. Senyumnya kecut di depan layar televisi. Ucapan-ucapan pendeknya yang biasanya disambut dengan "tafsir positif" menjadi tawar.

30 March 2015

Dua Hari untuk Film Nasional

Jamak diketahui syuting pertama film besutan Usmar Ismail, “Darah dan Doa” atau populer dikenal “The Long March” dijadikan sandaran penetapan Hari Film Nasional. Tapi Hari Film yang kita peringati setiap tahunnya ini tak berlangsung mulus di era perkubuan politik film hingga pemerintahan Sukarno tumbang.

Usmar Ismail dan Djamaluddin Malik adalah satu kubu. Kubu lain adalah sutradara-sutradara kiri yang berafiliasi politik pada semangat Asia Afrika; termasuk di dalamnya Sukarnois di lingkaran BMKN/PNI, PKI, Lekra.

Posisi Usmar dalam perkubuan politik film ini ambigu. Terutama Usmar. Di satu sisi, ia adalah eksponen Lesbumi-NU yang menjadi sekutu dalam lingkar Nasakom. Mestinya posisinya “aman” saat politik Sukarno condong ke kiri. Sebab bagaimana pun NU adalah saudara politik PKI dan PNI di bawah Sang Bapak Pengasuh.

23 March 2015

Politik Layang-layang Jokowi

Mestinya tak perlu kecewa berlarat-larat kepada Yang Terhormat Presiden Jokowi. Mestinya para pengusungnya yang menyebut diri “relawan” paham sebaik-baiknya karakter kepemimpinan Jokowi. Apalagi dengan terburu-buru mengumumkan penarikan dukungan tatkala Jokowi melewati lima purnama kepemimpinannya mengatur negara.

Mari kembali ke khittah. Momentum kepemimpinan Jokowi dalam “Khittah Surakarta” itu, dan menjadi jualan politik yang menggemparkan seantero, adalah memindahkan pedagang kaki lima Surakarta dari tempat lama ke tempat baru dengan jalan damai. Jalan damai itu popular disebut “win-win solution”.

13 March 2015

Hello Kitty Halo Bantul

Setelah kasus pembunuhan “misterius” jurnalis Syarifudin alias Udin 18 tahun silam, tahun 2015 Bantul kembali menjadi penyumbang isu nasional dengan kasus tato “Hello Kitty”.

Sewon, tempat kejadian perkara, tentu tidak asing dengan tato. Maklumlah, tato adalah anak kandung seni. Dan sekolah seni legendaris itu, ISI namanya, pondasi gedung-gedungnya bercokol kuat di Sewon. Mahasiswa ISI tatoan dianggap biasa, lumrah. 

Namun bukan soal tato dari ISI yang menyumbang isu nasional. Hatta sudah berkali-kali seniman-seniman menyelenggarakan acara tatoan seperti Tattoo Merdeka di hari kemerdekaan, tahun lalu. Bukan pula tato yang merayapi seluruh jengkal kulit Bob Sick yang menaikkan hit Bantul 2015, melainkan tato unyu Hello Kitty yang menempel di kulit pemudi harapan bangsa yang masih berseragam putih abu-abu.

08 March 2015

Setengah Abad Api Diponegoro (Di)padam(kan)

"Kita pewaris2nya jang absah ini, harus melandjutkan api Diponegoro bernjala terus. Abadilah dikau!" ~ Editorial Harian Rakjat, 8 Januari 1955, hlm 1

Episode terakhir Java Oorlog dihidupkan kembali lewat eksibisi seni rupa di Galeri Nasional, Jakarta, pada 6 Februari - 8 Maret 2015, dengan tema: “Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa, dari Raden Saleh Hingga Kini”.

Selama satu purnama karya Raden Saleh berjudul “Penangkapan Pangeran Diponegoro”(1857) dipamerkan secara bersama-sama dengan karya seniman lain seperti Aditya Novali, Basuki Abdullah, Chusin Setyadikara, Eddy Susanto, Eldwin Pradipta, Entang Wiharso, Galam Zulkifli, Guntur Triyadi, Harijadi Sumodidjojo, Heri Dono, Indyra, Maharani Mancanegara, Manguputra, Nasirun, Oscar Matuloh, Pupuk Daru Purnomo, Raden Saleh, Soedjono Abdullah, Sri Astari, Srihadi Soedarsono, dan S.Sudjojono.

26 February 2015

Palu Arit Anindya Kusuma Putri

“Yang ia butuhkan syair kesejukan. Bukan hinaan dan cibiran. Buka matamu, inilah kenyataan. Buka hatimu, jangan hanya terdiam. Aku ada. Ada. Ada.” ~ God Bless, Syair untuk Sahabat.

Sebagaimana lirik God Bless, Anindya Kusuma Putri, Sang Putri Kita, saat-saat ini butuh syair kesejukan, bukan hinaan, apalagi airmata nasional. Sang Putri Kita mesti dikuatkan bahwa foto baju yang dipakainya bersablon palu-arit itu tak bersalah sama sekali. Anggap saja ini cobaan pertama dari popularitas yang sedang diraihnya dengan susah payah.

Ya, Sang Putri Kita jelas sosok populer saat ini. Tiga kali dalam sepekan ia menyabet gelar popularitas itu dari dunia daring.

Pada 20 Februari, pesta pemilihan Sang Putri Kita yang dihelat stasiun teleisi swasta menjadi tren topik di twitter berbarengan dengan tren kebrengsekan maskapai singa air yang tiada tandingannya dalam sejarah penerbangan di negeri bawah angin ini. Pada 21 Februari, kemenangan Sang Putri Kita masuk dalam 10 besar berita terpopuler online di portal-portal berita terkemuka di Indonesia.

Rehat 2 hari, Sang Putri Kita kembali masuk dalam berita terpopuler online. Bahkan, jadi terpopuler nomor satu, setelah foto Sang Putri Kita memakai kaos bersablon palu arit. Keterpopuleran senyum Sang Putri Kita bersama kaos ikoniknya itu beririsan dengan aura negativa Tony Abbott dan berita bakar begal di Pondok Aren.

16 February 2015

Kanda Eggi Sudjana yang Baik dan Benar

“Waspadai, bangkitnya gerakan neo-PKI, kita tidak boleh memberi kesempatan bagi mereka untuk kembali melukai keutuhan NKRI. Diberi sedikit kuasa saja, sudah pasti sadis. Sejarah mencatat, HMI, NU, Muhammadiyah dan TNI AD inilah yang menjadi musuh utama PKI.” – Kanda Eggi Sudjana, 2014

Bagi penonton program perkelahian politik di televisi, nama Kanda Dr. Eggi Sudjana, S.H, M.Si tentu tidak asing. Terutama bagi pencinta dan pembela Jokowi, nama Kanda Eggi Sudjana adalah hama yang direkomendasikan berada di saf depan yang layak mati disantap pestisida produksi revolusi hijau.

Bagi mereka yang berpikir pendek, nama Kanda Eggi gampang sekali digelincirkan jadi durjana. Penisbahan yang keterlaluan dan ahistoris. Kanda Eggi Sudjana itu kader terpilih di organisasi mahasiswa Islam dengan moto Yakusa. Yakusa adalah akronim, tapi dalam diri Kanda Eggi, Yakus(z)a mudah dijorokin artinya sebagaimana alamat yang melekat di kata itu; bajingan tengik yang ditakuti gengster kriminil.

04 February 2015

Tisu Basah Fredy S di Bareskrim Polri

Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un. Indonesia Raya kehilangan satu lagi pengarang berbakatnya: Bambang Eko Siswanto, atau lebih dikenal dengan nama pena Fredy S. Fredy pergi diam-diam dalam keriuhan jagat raya. Ia bahkan tak mengganggu linimasa media sosial yang biasanya jika ada penulis terkenal mangkat menjadi barisan parade panjang dengan membawa pamflet bertuliskan #RIP.

Fredy S memang tidak seperti Sitor Situmorang atau Pramoedya Ananta Toer yang kematiannya diabadikan media massa seantero negeri dan karya-karyanya bisa dibacakan berhari-hari. Fredy kalis dari semua itu. Bahkan katalog Perpustakaan Nasional Republik Nasional (PNRI) emoh merekam karyanya karena mungkin dianggap buku jorok; seberapa puluh pun judul yang ditulis Fredy.

28 January 2015

Ibu Megawati yang Konsisten sampai Pikun

“Untuk saat ini hanya Ibu Megawati yang kami yakini tetap tepat memimpin kami agar bisa solid.” ~ Rieke Diah Pitaloka, penulis dua buku puisi.

Konsistensi adalah sikap tetap sama dari awal sampai akhir. Lebih lengkapnya ini menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia: kon.sis.ten (a) tetap (tidak berubah-ubah).

Pernyataan penyair dan sekaligus kader-tengah-jalan Rieke Diah Pitaloka yang saya kutipkan di atas adalah bukti konsistennya Ibu Mega. Bagi Ibu, menjadi Ketua Partai itu harus konsisten. Dari awal sampai akhir.

Ketika teman-teman seangkatannya sudah tinggal tenang duduk di beranda rumah sambil ngemong cucu, memelihara tanaman, memberi makan ikan lohan, beternak ayam ketawa, atau berlari-lari kecil tiap pagi di gang kecil, Ibu Mega tetap tegak di singgasana partai. Seperti Ratu Elizabeth yang anggun.