29 April 2016

Menulis di Masjid

Pernah suatu masa yang jauh, masjid adalah tempat saya belajar. Sejak remaja, saya membiasakan diri mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah atau biasa diringkas menjadi PR di masjid. Bahkan dilanjutkan dengan tidur pulas hingga salat subuh menjelang.

Kebiasaan itu tetap berjalan hingga di awal tahun 2000. Bukan untuk tidur, tapi untuk menulis. Sebagai remaja dengan kos-kosan yang ribut di kanan kiri, masjid adalah kemewahan. Di masjid, suara untuk berbicara tak boleh mengalahkan keheningan. Bukankah di saat-saat hening kita bisa fokus berpikir dan menuangkan apa yang dipikirkan dalam tulisan.

Saya memiliki dua masjid favorit untuk menulis. Masjid pertama adalah Masjid Gedhe, Kauman. Saya kerap berlama-lama di masjid ini hanya karena desakan pada kenangan masa silam bahwa di serambi masjid ini Pelajar Islam Indonesia (PII) "lahir" oleh pemuda-pemuda macam Yoesdi Ghozali. Lagi pula masjid ini tak jauh dari Bintaran Tengah di mana saya tinggal dalam sebuah asrama bagi mahasiswa-mahasiswa baru yang datang dari sebuah kota yang jauh dan "asing".

Masjid kedua adalah Masjid IAIN Sunan Kalijaga. Saya lupa nama masjid ini sebelum berubah menjadi--gagah benar--Laboratorium Agama. Mungkin Al-Munawwarah yang di bawahnya terdapat salah satu UKM bidang jurnalistik, Arena. Saya berdiam di masjid ini tidak siang hari. Pasti sumpek dan banyak sekali manusia. Saya setiap pekan paling tidak dua kali bertiwikrama di sini yang umumnya mulai pukul 2 malam hingga usai salat subuh. Masjid ini tidak digembok. Maklum, kos saya tak jauh dari sini. Saya hanya butuh melintasi sebuah jalan besar, Jl Solo, dari perut kampung Demangan.

Saya ingat, saya mengerjakan resensi buku "Hantu-Hantu Marx" justru dalam masjid IAIN ini. Saya menulisnya dengan pena dan kertas bergaris-garis, dini hari, saat hantu-hantu sedang pakansi dan cari makan malam di rimbunan pepohonan Fakultas Adab.

Sebetulnya ada satu masjid lagi. Namanya Masjid Mujahiddin IKIP (UNY) Yogyakarta. Tapi nyaris tak pernah saya menulis di tempat ini. Hanya saja, buku Sosialisme Religius lahir dari sini. Sebab, saya tak ingat lagi bagaimana awalnya, saya, Bakkar Wibowo, Diana Dewi, beberapa gelintir aktivis HMI MPO meminjam lantai dua masjid ini selama tiga hari menyelenggarakan Pesantren Sosialisme Religius.

Di dua masjid inilah--mungkin tiga--saya menulis--lebih tepatnya belajar menulis, mengingat, dan beribadah. Dan itu sudah berlangsung sudah sangat jauh. Mungkin sudah dua puluh tahun.

Dan kini, kenangan itu datang lagi ketika "takmir" Masjid Jenderal Sudirman (MJS) di Kolombo mengundang saya memasuki masjid untuk kebutuhan penulisan dengan tajuk: "Menulis di Masjid". Selama dua hari, 29 dan 30 April saya memasuki (kembali) masjid untuk menulis.

Menulis itu pada akhirnya adalah ibadah. Dan saya tetap teringat kepada Kiai Zainal Arifin Thoha ketika saya diiyakan saja mengganti tadarus di bulan Ramadan dengan menulis yang rutin. [Muhidin M. Dahlan]





29 March 2016

Kita Butuh UU Buku, bukan Perpus DPR

Kita selalu memberi apresiasi kepada semua kalangan untuk memajukan dunia literasi di Indonesia. Termasuk anggota parlemen dengan impian spektakuler: membangun perpustakaan DPR termegah se-Asia Tenggara.

Saya selalu memuji website dpr.go.id, terutama saat mereka mengunggah edisi daring seluruh produk staatsblad sejak Indonesia Merdeka (1945) hingga kini. Ini pekerjaan luar biasa maju. Rupanya, membangun dokumen raksasa via daring tak cukup bagi legislator pengesah anggaran apa pun dari eksekutif ini.

Jika angan-angan punya gedung sendiri sejak satu dekade silam selalu mentok karena ditolak rakyat banyak, kini DPR meniti jalan memutar dan terkesan mulia: bangun perpustakaan termegah.

02 January 2016

Lima Teladan Retro untuk Resolusi 2016

Saya hampir tak dapat bagian untuk melakukan tabulasi soal apa yang keren dan bangsat di tahun 2015. Kronik peristiwa penting 2015 dan segala keperihannya sudah dibikin Kompas, Tempo, Kedaulatan Rakyat, Nova, Misteri, dan Kokok Dirgantara. Ketika semua sudah menampilkan yang terbaik yang mereka kuasai, saya tiba-tiba ingat kemampuan saya yang sampai saat ini masih saya miliki: menggali sumur masa lalu yang bisa sampai di bulan Januari 1900.

Untuk itu, izinkan saya memberi Anda bayangan resolusi di 2016 lewat cerita teladan sejumlah lelaki muda pemberani yang sialnya dilahirkan oleh sebuah kurun bernama “1915”.

01 January 2016

12 Pesan Tahun Baru dari Politbiro CC PKI

Jika Politbiro CC PKI tahu bahwa di tanggal terakhir tahun lalu, anak muda terbaik dari Perkumpulan Praxis yang sebelumnya ditunjuk sebagai Komisaris Krakatau Steel di Cilegon terpilih sebagai Dirjen Kebudayaan Baru NKRI "Harga Mati", pastilah seluruh arwah yang terluka seluka-lukanya itu bersorak.

Ini tentu hadiah terbesar kekinian dalam kebudayaan progresif di tubuh kapitalisme birokrasi kebudayaan.

Tapi sayang sekali, tak ada pesan khusus Tahun Baru Terakhir dari Politbiro untuk bidang kebudayaan. Sebab ada yang lebih genting dan penting dari kebudayaan, yakni soal ekonomi dan inflasi, soal korupsi, soal dana perusahaan asing (aseng), soal transmigrasi, dan soal proyek padat karya di bidang pertanian. 

Sayang sekali ya! Kalaupun ada untuk Dirjen Kebudayaan Baru kita, ya pesan yang ke-4: berantas (kebudayaan) birokrasi yang boros uang negara. Sebab jabatan Eselon I itu ya jabatan politik, ya jabatan birokrasi juga. Mumpung di birokrasi, bereskan (kapitalis) birokrat yang menyaru bekerja untuk kebudayaan. Di luar soal "berantas kapbir" itu, CC PKI gak punya pesan khusus lagi buat Dirjen Kebudayaan Baru kita.

Tapi begitulah Politbiro itu. Mendahulukan apa yang real, apa yang dirasakan langsung oleh Rakyat ketimbang, ya sudahlah.

Inilah dua belas pesan Tahun Baru terakhir dari Politbiro CC PKI sebelum semuanya disembelih oleh sejarah. Sebuah pesan yang begitu optimistis bahwa kemenangan sudah di depan mata dan sekaligus begitu berat.

25 December 2015

CC PKI Mengucapkan Selamat Hari Natal. Damai ya Ummat!

Di pojok editorial Harian Rakjat, 24 Desember 1964--atau setahun sebelum penyembelihan besar-besaran terjadi--saya membaca ucapan Selamat Natal terakhir dari CC PKI untuk umat Kristiani di Indonesia.

Salah satu ciri dan isi terpokok daripada hari Natal, tulis editorial ini, adalah ajakan dan seruannya: Damai di Dunia.

"Dunia kita sekarang ini bukanlah satu dunia yang damai, tetapi yang 'gaduh'. Di Vietnam Selatan ummat Kristen tidak dapat merayakan hari Natal dengan suasana damai. DI Konggo demikian. Di mana2 imperialis menebarkan mesiu dan kemiskinan, dan mencegah ummat Kristen merayakan hari Natal menurut harapan agama mereka. Dan yang lebih keterlaluan lagi, ialah bahwa kedjahatan ini dilakukan kaum imperialis dengan sering2 menggunakan nama agama pula!" tulis PKI (yang tak beragama) ini.

Untuk memuluskan jalan cita-cita ummat Kriten dalam Natal itulah, kominis-kominis Indonesia ini menyerukan: "Marilah kita berjuang lebih hebat melawan segala ketidakadilan sosial, melawan imperialisme. Selamat Hari Natal, selamat berjoang!"




Dari luweng-luweng curam, dari galian pasir pantai yang gelap, muara Sungai Berantas, Bengawan, dan Ciliwung, Central Comite (CC) PKI mengucapkan selamat "Hari Natal" dengan harapan: "Bahagia bagi Umat Kristen Indonesia dalam merajakan Hari Natal 25-26 Desember. Semoga kebesaran Hari Natal ini lebih mendorong semangat perdjuangan untuk Persatuan Nasional dan Perdamaian Dunia". (Muhidin M Dahlan)

24 November 2015

Wahai Khidir, Bimbinglah Yakusa HMI di Jalanmu!

Marilah memahami Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) secara jernih. Mungkin Anda menganggap bahwa HMI yang berdiri sejak 1947 (HMI47) itu sehimpunan mahasiswa rakus uang ketimbang dermawan, lebih suka pesta ketimbang zikir, jadi garong restoran ketimbang laskar shaum, produsen pemasok menteri penghuni lapas daripada pencetak penghuni surga, atau calon-tepat pembikin bangkrut BUMN macam Pelni ketimbang penggerak usaha dagang untuk anak-anak yatim dan mahasiswa tunaasmara.

Marilah memahami HMI sebagai himpunan dua bilangan: bilangan genap (MPO, dengan Ketua Umum Pertama: Kanda Eggy) dan himpunan bilangan prima (DPO, dengan Ketua Umum Pertama: Kanda Azhar).

Saya mengajak Anda semua memahami kembali dua watak HMI agar tidak tergelincir pada pandangan yang penuh syak-wasangka. Toh, seusai keduanya Kongres (MPO/Tangerang dan DPO/Pekanbaru), semuanya kembali baik-baik saja.

11 November 2015

Tak Ada Bung Tomo di Pertempuran 10 November

Pertempuran 10 November yang kemudian bertiwikrama menjadi “hari pahala-wan” adalah salah satu pertempuran paling mematikan dalam sejarah perang di Indonesia. Arek-arek Suroboyo bertempur habis-habisan untuk melawan sebuah ultimatum pendudukan setelah 84 hari kemerdekaan diproklamasikan secara hikmat di Jakarta Pusat.

Dan, Allahu Akbar, lahirlah sosok tokoh yang luar biasa jasanya dalam pertempuran paling mematikan itu. Namanya Sutomo. Dipanggil Bung Tomo, mungkin agar manusia pilihan jago nyangkem di mikrofon tidak melulu dimonopoli Bung-Yang-Satu-Itu; Bung yang ditegur Si Bung dari Surabaya ini pada akhir tahun 50-an karena mempraktikkan poligami di Istana Negara.

Mengherankan sebetulnya bagaimana nama Bung Tomo ini ujug-ujug jadi ikon utama pertempuran 10 November. Dalam prosesi penentuan 10 November dijadikan Hari Pahlawan, beberapa pemimpin inti laskar pemuda di depan Sukarno di Jakarta justru menihilkan siapa pahlawan utama dalam peristiwa yang menewaskan ratusan ribu orang dan melantakkan seluruh infrastruktur kota. Siapa gerangan si utama yang baik atau su-tomo itu, ya arek-arek Suroboyo secara keseluruhan.

02 November 2015

Dialita 65

Tiba-tiba saja saya berada di kerumunan Ibu-ibu paruh baya di ruang panitia Biennale Jogja di Jogja National Museum (JNM), Gampingan, Yogyakarta, 1 November 2015, malam. Secepat kilat, saya mengambil posisi jongkok. Dan klik. Kaget betul Astuti Ananta Toer karena kamera saya fokus ke putri Pramoedya Ananta Toer itu. Dan setelah itu Bu Besar, demikian ia biasa  saya panggil, menunjuk-nunjuk saya dan tertawa.

Di malam pembukaan Biennale Jogja, Astuti Ananta Toer termasuk dalam kelompok paduan suara yang tampil. Termasuk puteri Njoto, Irina Dayasih, yang bermandi keringat di "ruang sauna" JNM.

Kehadiran mereka di JNM tanpa tentara dan laskar di tengah keramaian pengunjung pameran seni rupa itu mengingatkan saya pada Ansambel Gembira Jakarta.

Mbah Tuti, Mbah Hartina, Mbah Elly, dan Mbah Murtini adalah anggota-anggota yang tersisa dari Ansambel Gembira Jakarta yang turut serta dalam paduan suara. Ansambel ini menjadi salah satu kelompok paduan musik di bawah Lembaga Musik Indonesia (LMI); salah satu komunitas kreatif Lekra di tahun 1960-an.

Keempat personel Gembira itu kini tergabung dalam kelompok baru bernama Dialita. Dialita yang merupakan akronim dari “Di Atas 50 Tahun” adalah salah satu kelompok paduan suara (choir) yang tampil di malam panggung pembukaan Biennale Jogja XIII.

25 October 2015

Infrastruktur Buku setelah Buchmesse

Pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan di Harmonie Hall Congress Center Messe Frankfurt memukau ribuan hadirin yang menyaksikan pembukaan Frankfuter Buchmesse, 13 Oktober silam. Menteri Baswedan memampatkan sedemikian rupa wacana penghormatan pada keragaman dan politik bahasa sebagai instrumen mempersatukan bangsa. Indonesia mampu keluar dari momok kebinasaan dan menjadikan keragaman sebagai kekuatan karena “Bahasa Indonesia” diciptakan 27 tahun mendahului terciptanya negara-bangsa. 

Pidato Menteri Baswedan di ajang “Perdagangan Buku antar-Bangsa” (PBB) itu memang samar dan tidak seperti Presiden Yang Terhormat Jokowi umumnya yang langsung pada duduk soal yang dibutuhkan dunia perbukuan nasional. Menteri Baswedan ingin mengatakan jika bahasa begitu penting, maka salah satu infrastruktur rumah bahasa yang terpenting, yakni buku, sangat urgen dibenahi.

Dalam konteks Frakfurter Buchmesse yang sudah selesai digelar selama sepekan, mestinya ada keberlanjutan kerja membenahi “bahasa” dan infrastruktur dari “rumah bahasa” itu. Terutama sekali soal Infrastruktur Penerjemahan Buku.

02 October 2015

Jenderal Besar H.M. Soeharto: Syuramkan Nasib si Merongos!

Ya, Jenderal Besar H.M. Soeharto adalah pemimpin besar dalam operasi pembantaian massal kaum kominis 1965 di seantero Jawa dan Bali, yang sekaligus jadi jalan pembuka pelengseran si Macan Asia-Afrika. Jika Panglima Besar Sukarno menjadi penggali Pancasila, maka Jenderal Besar Soeharto lewat 1 Oktober memaklumkan dirinya menjadi penyuci Pancasila agar tetap sakti. Cuma itu saja? Tentu saja tidak.

Jenderal Besar H.M. Soeharto adalah juga pemimpin tertinggi militer dalam operasi pendudukan Timor Timur—yang kemudian jadi kerikil yang mengganggu diplomasi Indonesia di luar negeri. Ya, Jenderal Besar H.M. Soeharto tahu dan merestui serdadu-serdadu loyalnya menembaki preman-preman dalam operasi petrus, serta aksi penembakan di Tanjung Priok, dan Talangsari.

Anda bisa menganggukkan kepala seraya berkata ya, ya, ya, dan ya bila terus menderet segala macam peristiwa yang berurusan dengan intimidasi, pembunuhan, dan pembantaian,yang dilakukan secara sistematis dengan melibatkan lalar ijo dan aparatus birokrasi.