04 June 2016

Warisan Kiri yang Siap Dihancurkan!

Ketika di bulan Mei sekelompok ormas dan didukung segelintir purnawirawan TNI seperti Kivlan Zen menuding-nuding patung warisan komunis di jantung ibu kota Jakarta.

Patung yang lebih dikenal publik dengan "Tugu Tani" itu terletak di lingkaran strategis. Pertemuan antara Menteng-Cikini, Senen, Thamrin, dan Gambir. Patung pak tani bercaping dengan membawa senjata laras panjang dan bu tani membawa bakul ini berdiri di area yang luas dan di bawahnya bunga-bunga berbagai warna penyerap karbondioksida tumbuh subur.

Tudingan bahwa ini patung kiri adalah benar adanya. Patung karya seniman Manizer Bersaudara ini adalah sumbangan Uni Soviet kepada Indonesia. Bahkan pada saat diresmikan pada 1963 oleh Sukarno, tampak hadir Wakil Perdana Menteri Anastas Mikoyan.

14 May 2016

Kejaksaan yang tak bisa move on, baca ulang tuh surat kebirimu dari MK. Dasar parasit buku!

Bunyi berita dari Jogja:

Kejaksaan Tinggi Daerah Istimewa Yogyakarta menyita sebuah buku berjudul Sejarah Gerakan Kiri Indonesia untuk Pemula. Buku itu disita dari penjual di toko buku Shopping Center, Yogyakarta. Buku dianggap memutarbalikkan sejarah terkait Partai Komunis Indonesia (PKI).

Asisten Intelijen Kejati DIY, Joko Purwanto, mengatakan, buku setebal 528 halaman yang ditulis 32 orang itu disertai ilustrasi provokatif perihal pembantaian yang terjadi sekitar tahun 1965. "Arahnya untuk mempengaruhi anak-anak muda soal ajaran itu (komunisme)," kata Joko, Jumat, (13/5/2016).

BACA JUGAJokowi Minta Penertiban Paham Komunis Tidak dengan SweepingJK: Lagu Genjer-genjer Menyakiti TNIJK: Paham Komunis Sudah Gagal Joko mengungkapkan, buku yang dibeli seharga Rp200 ribu keluaran penerbit Ultimus tersebut tak hanya dijual melalui toko buku. Namun juga secara daring.

Menurutnya, penjual sudah kehabisan stok dan menduga buku itu sudah beredar di masyarakat. "Penjual buku itu menyediakan pemesanan," kata dia.

Bagi para penjual buku aliran kiri, lanjut Joko, tak akan ada langkah hukum dari aparat. Namun, kejaksaan memberikan peringatan agar tidak menjual buku serupa kembali. Sementara, buku yang telah disita tersebut akan dilaporkan ke Kejaksaan Agung.

* * *

Plis deh Kejaksaan. Masih ingat tarung drajat di Pengadilan Mahkamah Konstutisi sejak awal Januari hingga Oktober 2010?! Kewenangan situ dikebiri Mahkamah Konstitusi. Nggak kek dulu-dulu lagi, asal sensi, sita. Asal ada ormas lapor, sweeping. Lalu bakar bareng-bareng.

Wewenang kelian sudah awu-awu, sudah dianu-anu. Menyita, merampas, lalu membakar bersama-sama sudah tak punya landasan hukum. Masak lupa sih.

12 May 2016

Debat Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu vs Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid

Namanya Ryamizard Ryacudu. Jabatan: Menteri Pertahanan RI.

Namanya Hilmar Farid. Jabatan: Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Keduanya adalah aparatus birokrat yang bekerja membantu presiden yang sama: Ir Joko Widodo.

Tema debat: Pancasila, Tuhan, Kominis, dan Hal-hal Merampas Lainnya. Panggil keduanya di Istana Merdeka. Disiarkan secara LIVE oleh dua televisi-berita, live blog oleh web goal.com, serta live tweet oleh selebitas twitter yang ada di barisan penjabat BUMN Bapak Presiden RI Ir Joko Widodo.

Pancingan bisa dimulai dari kutipan kata-kata keduanya yang saling sikut, penuh sangkalan, dan saling membanting.

Marhaban Ya Sweeping Buku Kiri

Dampak dari Pengadilan Rakyat Internasional atau International People's Tribunal untuk korban pembantaian massal 1965 di Den Haag, Belanda (10-13 November 2015) melahirkan sebuah simposium terpenting sejak Orde Harto tumbang. Simposium Tragedi 1965 di Jakarta pada 18-19 April itu tak saja menunjukkan respons positif pemerintahan Jokowi atas pelanggaran berat HAM masa lalu, tapi juga menjadi panggung untuk melihat bagaimana elite politik dan para jenderal berpikir dan berkata-kata.

Salah satu kutipan paling penting dalam 18 tahun Reformasi berjalan saya kira yang diucapkan jenderal berdarah panas yang juga menjabat Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu: “Pancasila adalah ciptaan Tuhan”. Konteks ucapan itu adalah semua takfiri Pancasila mesti menyingkir sejauh-jauhnya jika ingin berhadapan dengan laskar dan jenderal-jenderal titisan Tuhan. Dan setelah itu, meledaklah di media sosial agitasi gerakan sapu bersih. Salah satunya isu sweeping buku.

Saat diskusi buku Ideologi Saya adalah Pramis di pergelaran “Jogja Itoe Boekoe” di pekan pertama Mei di UIN Sunan Kalijaga, Cak Udin (santri lapak buku murah) menceritakan pengalamannya yang tak tersebar luas ke media massa. Saat membuka lapak bertajuk “Buku Murah” di Gresik dan Pare-Kediri, Jawa Timur, semua buku kiri yang dijualnya dengan modal pas-pasan disikat dan diambil begitu saja oleh aparat yang katanya sudah mendapat mandat dari “atasan”.

29 April 2016

Menulis di Masjid

Pernah suatu masa yang jauh, masjid adalah tempat saya belajar. Sejak remaja, saya membiasakan diri mengerjakan pekerjaan sekolah di rumah atau biasa diringkas menjadi PR di masjid. Bahkan dilanjutkan dengan tidur pulas hingga salat subuh menjelang.

Kebiasaan itu tetap berjalan hingga di awal tahun 2000. Bukan untuk tidur, tapi untuk menulis. Sebagai remaja dengan kos-kosan yang ribut di kanan kiri, masjid adalah kemewahan. Di masjid, suara untuk berbicara tak boleh mengalahkan keheningan. Bukankah di saat-saat hening kita bisa fokus berpikir dan menuangkan apa yang dipikirkan dalam tulisan.

Saya memiliki dua masjid favorit untuk menulis. Masjid pertama adalah Masjid Gedhe, Kauman. Saya kerap berlama-lama di masjid ini hanya karena desakan pada kenangan masa silam bahwa di serambi masjid ini Pelajar Islam Indonesia (PII) "lahir" oleh pemuda-pemuda macam Yoesdi Ghozali. Lagi pula masjid ini tak jauh dari Bintaran Tengah di mana saya tinggal dalam sebuah asrama bagi mahasiswa-mahasiswa baru yang datang dari sebuah kota yang jauh dan "asing".

Masjid kedua adalah Masjid IAIN Sunan Kalijaga. Saya lupa nama masjid ini sebelum berubah menjadi--gagah benar--Laboratorium Agama. Mungkin Al-Munawwarah yang di bawahnya terdapat salah satu UKM bidang jurnalistik, Arena. Saya berdiam di masjid ini tidak siang hari. Pasti sumpek dan banyak sekali manusia. Saya setiap pekan paling tidak dua kali bertiwikrama di sini yang umumnya mulai pukul 2 malam hingga usai salat subuh. Masjid ini tidak digembok. Maklum, kos saya tak jauh dari sini. Saya hanya butuh melintasi sebuah jalan besar, Jl Solo, dari perut kampung Demangan.

Saya ingat, saya mengerjakan resensi buku "Hantu-Hantu Marx" justru dalam masjid IAIN ini. Saya menulisnya dengan pena dan kertas bergaris-garis, dini hari, saat hantu-hantu sedang pakansi dan cari makan malam di rimbunan pepohonan Fakultas Adab.

Sebetulnya ada satu masjid lagi. Namanya Masjid Mujahiddin IKIP (UNY) Yogyakarta. Tapi nyaris tak pernah saya menulis di tempat ini. Hanya saja, buku Sosialisme Religius lahir dari sini. Sebab, saya tak ingat lagi bagaimana awalnya, saya, Bakkar Wibowo, Diana Dewi, beberapa gelintir aktivis HMI MPO meminjam lantai dua masjid ini selama tiga hari menyelenggarakan Pesantren Sosialisme Religius.

Di dua masjid inilah--mungkin tiga--saya menulis--lebih tepatnya belajar menulis, mengingat, dan beribadah. Dan itu sudah berlangsung sudah sangat jauh. Mungkin sudah dua puluh tahun.

Dan kini, kenangan itu datang lagi ketika "takmir" Masjid Jenderal Sudirman (MJS) di Kolombo mengundang saya memasuki masjid untuk kebutuhan penulisan dengan tajuk: "Menulis di Masjid". Selama dua hari, 29 dan 30 April saya memasuki (kembali) masjid untuk menulis.

Menulis itu pada akhirnya adalah ibadah. Dan saya tetap teringat kepada Kiai Zainal Arifin Thoha ketika saya diiyakan saja mengganti tadarus di bulan Ramadan dengan menulis yang rutin. [Muhidin M. Dahlan]





29 March 2016

Kita Butuh UU Buku, bukan Perpus DPR

Kita selalu memberi apresiasi kepada semua kalangan untuk memajukan dunia literasi di Indonesia. Termasuk anggota parlemen dengan impian spektakuler: membangun perpustakaan DPR termegah se-Asia Tenggara.

Saya selalu memuji website dpr.go.id, terutama saat mereka mengunggah edisi daring seluruh produk staatsblad sejak Indonesia Merdeka (1945) hingga kini. Ini pekerjaan luar biasa maju. Rupanya, membangun dokumen raksasa via daring tak cukup bagi legislator pengesah anggaran apa pun dari eksekutif ini.

Jika angan-angan punya gedung sendiri sejak satu dekade silam selalu mentok karena ditolak rakyat banyak, kini DPR meniti jalan memutar dan terkesan mulia: bangun perpustakaan termegah.

02 January 2016

Lima Teladan Retro untuk Resolusi 2016

Saya hampir tak dapat bagian untuk melakukan tabulasi soal apa yang keren dan bangsat di tahun 2015. Kronik peristiwa penting 2015 dan segala keperihannya sudah dibikin Kompas, Tempo, Kedaulatan Rakyat, Nova, Misteri, dan Kokok Dirgantara. Ketika semua sudah menampilkan yang terbaik yang mereka kuasai, saya tiba-tiba ingat kemampuan saya yang sampai saat ini masih saya miliki: menggali sumur masa lalu yang bisa sampai di bulan Januari 1900.

Untuk itu, izinkan saya memberi Anda bayangan resolusi di 2016 lewat cerita teladan sejumlah lelaki muda pemberani yang sialnya dilahirkan oleh sebuah kurun bernama “1915”.

01 January 2016

12 Pesan Tahun Baru dari Politbiro CC PKI

Jika Politbiro CC PKI tahu bahwa di tanggal terakhir tahun lalu, anak muda terbaik dari Perkumpulan Praxis yang sebelumnya ditunjuk sebagai Komisaris Krakatau Steel di Cilegon terpilih sebagai Dirjen Kebudayaan Baru NKRI "Harga Mati", pastilah seluruh arwah yang terluka seluka-lukanya itu bersorak.

Ini tentu hadiah terbesar kekinian dalam kebudayaan progresif di tubuh kapitalisme birokrasi kebudayaan.

Tapi sayang sekali, tak ada pesan khusus Tahun Baru Terakhir dari Politbiro untuk bidang kebudayaan. Sebab ada yang lebih genting dan penting dari kebudayaan, yakni soal ekonomi dan inflasi, soal korupsi, soal dana perusahaan asing (aseng), soal transmigrasi, dan soal proyek padat karya di bidang pertanian. 

Sayang sekali ya! Kalaupun ada untuk Dirjen Kebudayaan Baru kita, ya pesan yang ke-4: berantas (kebudayaan) birokrasi yang boros uang negara. Sebab jabatan Eselon I itu ya jabatan politik, ya jabatan birokrasi juga. Mumpung di birokrasi, bereskan (kapitalis) birokrat yang menyaru bekerja untuk kebudayaan. Di luar soal "berantas kapbir" itu, CC PKI gak punya pesan khusus lagi buat Dirjen Kebudayaan Baru kita.

Tapi begitulah Politbiro itu. Mendahulukan apa yang real, apa yang dirasakan langsung oleh Rakyat ketimbang, ya sudahlah.

Inilah dua belas pesan Tahun Baru terakhir dari Politbiro CC PKI sebelum semuanya disembelih oleh sejarah. Sebuah pesan yang begitu optimistis bahwa kemenangan sudah di depan mata dan sekaligus begitu berat.

25 December 2015

CC PKI Mengucapkan Selamat Hari Natal. Damai ya Ummat!

Di pojok editorial Harian Rakjat, 24 Desember 1964--atau setahun sebelum penyembelihan besar-besaran terjadi--saya membaca ucapan Selamat Natal terakhir dari CC PKI untuk umat Kristiani di Indonesia.

Salah satu ciri dan isi terpokok daripada hari Natal, tulis editorial ini, adalah ajakan dan seruannya: Damai di Dunia.

"Dunia kita sekarang ini bukanlah satu dunia yang damai, tetapi yang 'gaduh'. Di Vietnam Selatan ummat Kristen tidak dapat merayakan hari Natal dengan suasana damai. DI Konggo demikian. Di mana2 imperialis menebarkan mesiu dan kemiskinan, dan mencegah ummat Kristen merayakan hari Natal menurut harapan agama mereka. Dan yang lebih keterlaluan lagi, ialah bahwa kedjahatan ini dilakukan kaum imperialis dengan sering2 menggunakan nama agama pula!" tulis PKI (yang tak beragama) ini.

Untuk memuluskan jalan cita-cita ummat Kriten dalam Natal itulah, kominis-kominis Indonesia ini menyerukan: "Marilah kita berjuang lebih hebat melawan segala ketidakadilan sosial, melawan imperialisme. Selamat Hari Natal, selamat berjoang!"




Dari luweng-luweng curam, dari galian pasir pantai yang gelap, muara Sungai Berantas, Bengawan, dan Ciliwung, Central Comite (CC) PKI mengucapkan selamat "Hari Natal" dengan harapan: "Bahagia bagi Umat Kristen Indonesia dalam merajakan Hari Natal 25-26 Desember. Semoga kebesaran Hari Natal ini lebih mendorong semangat perdjuangan untuk Persatuan Nasional dan Perdamaian Dunia". (Muhidin M Dahlan)

24 November 2015

Wahai Khidir, Bimbinglah Yakusa HMI di Jalanmu!

Marilah memahami Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) secara jernih. Mungkin Anda menganggap bahwa HMI yang berdiri sejak 1947 (HMI47) itu sehimpunan mahasiswa rakus uang ketimbang dermawan, lebih suka pesta ketimbang zikir, jadi garong restoran ketimbang laskar shaum, produsen pemasok menteri penghuni lapas daripada pencetak penghuni surga, atau calon-tepat pembikin bangkrut BUMN macam Pelni ketimbang penggerak usaha dagang untuk anak-anak yatim dan mahasiswa tunaasmara.

Marilah memahami HMI sebagai himpunan dua bilangan: bilangan genap (MPO, dengan Ketua Umum Pertama: Kanda Eggy) dan himpunan bilangan prima (DPO, dengan Ketua Umum Pertama: Kanda Azhar).

Saya mengajak Anda semua memahami kembali dua watak HMI agar tidak tergelincir pada pandangan yang penuh syak-wasangka. Toh, seusai keduanya Kongres (MPO/Tangerang dan DPO/Pekanbaru), semuanya kembali baik-baik saja.