18 January 2015

Karikatur: Seni dan Jurnalistik

Karikatur adalah pendapat dan sekaligus pernyataan politik. Karena opini politik, maka karikatur dalam produk akhir di lembar koran/tabloid yang umumnya ditempatkan satu halaman dengan ruang opini, tajuk rencana, maupun surat pembaca.
 

Dua kehebohan dunia tentang karikatur (Jyllands-Posten/Denmark, 2005 dan Charlie Hebdo/Perancis, 2015) dan gugatan atas karikatur The Jakarta Post/Indonesia tahun 2014 menunjukkan bagaimana opini dalam karikatur itu mendapatkan respons publik yang luas. Bahkan respons itu mengguncang sendi-sendi hubungan diplomatik negara.
 

Posisi karikatur meregang di antara karya seni (pictorial) dan karya jurnalistik (editorial), sekaligus antara kebebasan warga dan kebebasan berekspresi dalam jurnalistik. Jejak karikatur jelas terkait erat dengan sejarah seni rupa karena memang produk karikatur adalah intervensi langsung seni dalam dunia jurnalistik.

12 January 2015

Bambana dan Kematian; Obituari untuk Sahabat

Pagi, 12 Januari 2015. Jasad sepupu saya akhirnya ditemukan setelah pagi sebelumnya tenggelam di hilir sungai di desa saya, Tondo, Kecamatan Sirenja. Bambana, saya dan warga yang berbahasa Kaili menyebutnya demikian. Pertemuan terakhir air tawar dan air laut. Di Bambana, di antara gumpalan lumpur di dasarnya menjadi tempat hidup ikan Lamotu (ikan berwarna merah dengan daging yang lembut). Ini spot memancing favorit tatkala senja tiba bersamaan dengan pasangnya air laut.

Ihran, demikian saya memanggil nama sepupu saya yang bernama Ibrahim itu. Usianya sama dengan saya. Artinya, saya dengannya sepantaran dan menjadi teman main. Ia pemberani dan jagoan. Ketika main umbul (nombua gambara) atau adu kelereng (nogoli), Ihran adalah pelindung saya ketika tanding dengan orang-orang di kampung atas (to pandake). Maklum, saya memang lemah fisik ketika kecurangan berakhir dengan perkelahian.

Tatkala musim panen cengkeh tiba, kerap Ihran saya mintai tolong memindahkan tangga bambu yang saya naiki untuk memetik buah di pucuk-pucuk pohon cengkeh. Laki-laki yang berjalan dengan kaki "o" ini juga sesekali membantu memundaki sekarung pupuk cengkeh bila pundak saya tak sanggup menggotong hasil petikan cengkeh itu.

Bila haus dan ingin minum kelapa muda; Ihran bisa sangat sigap naik ke atas pohon kelapa tanpa menggunakan tangga. Tatkala ingin makan mangga -- di kebun saya tak ada mangga dan juga tak ada uang untuk membelinya -- Ihran adalah teman yang sangat bisa dipercaya untuk mendapatkannya. Banyak cara dilakukannya. Sesekali mencurinya di halaman guru ngaji saat tengah malam sepulang dari bioskop; tapi lebih banyak bertualang dari sawah-sawah yang jauh untuk melempar mangga-mangga raksasa dengan potongan-potongan kayu.

10 January 2015

Politik Karikatur

KARIKATUR adalah pernyataan politik dan juga untuk meredamnya kerap menggunakan kekuatan politik pula. Bahkan dengan jalan kekerasan. Dalam konteks global, kita bisa menyaksikan bagaimana karikatur melahirkan ekses politik yang mengerikan.
 

Sebelum teror mengerikan yang menimpa redaksi Charlie Hebdo tampil di frontpage ratusan koran di lima benua di mayapada ini, tabloid ini sudah berkali-kali menggambarkan Nabi Muhammad dengan cara yang tak senonoh. Bukan cuma Islam, tapi tokoh agama samawi lainnya menjadi olok-olok karikatur majalah yang terbit di Paris, Prancis ini.
 

Charlie adalah satu rangkaian panjang bagaimana menggunakan karikatur sebagai cara untuk menyerang pandangan orang lain. Sejak September 2005, Denmark mengalami krisis diplomasi terparah sepanjang sejarah akibat pemuatan karikatur Nabi Muhammad yang dibuat Kurt Westergaard di koran nasional Jyllands-Posten.

Godaan Melecehkan Agama, dari PKI hingga Charlie Hebdo

“… adalah satu kenjataan bahwa partai2 Nasionalis dan Komunis di Indonesia tidak melakukan propaganda anti-agama; baik tentang al Qur’an, tentang mesjid, tentang isteri Nabi, tentang geredja, dan tentang hal2 agama pada umumnja” ~ Editorial Harian Rakjat/PKI, Februari 1965

Teror mengerikan yang menimpa tabloid Charlie Hebdo (CH) di kota yang melahirkan prinsip universil “Libert√©, Egalit√©, Fraternit√©” menjadi frontpage dari 400-an koran di semua benua di muka bumi ini. Dengan mengusung jurnalisme satir, pemuatan secara berulang-ulang karikatur yang melecehkan keyakinan orang lain, para jurnalis “left wing” yang bekerja di belakangnya menerima serangan balik paling mematikan dan menggegerkan dunia.

04 January 2015

Dokumen Diri

BERKAS survei dari sebuah harian nasional bertarikh 12 Juni 2004 itu hanya berisi dua pertanyaan sederhana: (1) Menurut Anda, penting atau tidak pentingkah membuat atau menyimpan arsip atau dokumen pribadi keluarga?” Hasilnya: 91,9% dari 999 orang yang disurvei dari 34 kota besar di Indonesia itu berkata penting. (2) Apakah Anda mempunyai kebiasaan membuat atau menyimpan arsip atau dokumen pribadi/keluarga?” Sejumlah 64,2% mengatakan tidak.

Berkas survei itu menunjukkan soal menarik, bahwa mendokumentasikan kisah diri sendiri itu penting, namun enggan mengerjakannya. Mengapa?

23 December 2014

Mario Teguh dan Laki-Laki Paria yang Terjungkal dari Masa Depan

Sosok Bapak Mario Teguh yang bijaksana–oleh mereka yang kalah bertarung dengan kekinian merebut masa depan yang menjanjikan–adalah diktator perasaan yang kejam. Bayangkan, dalam meme terakhir, Bapak Mario secara teguh dan meyakinkan bisa meraih ribuan like tanpa reserve. Meme itu seperti risalah tanah perjanjian yang diamini dengan hati bergolak-golak.

“Mohon jangan lupa ikut menyampaikan ‘Aamiin’ jika tahun 2015 kamu menemukan jodohmu”.

“Mohon jangan lupa ikut menyampaikan ‘Aamiin’ jika tahun 2015 kamu bisa umrah”.

Aamiin, Bapak Mario. Masa depan memang kemasan jualan paling laku disebabkan impi-impi yang dikandungnya. Bapak Mario sampai di sini adalah suksesor besar penjual meme harapan masa depan.

“Anak muda yang malas sudah tidak berguna sejak muda, KECUALI JIKA dia tegas bangkit mengeluarkan dirinya dari kesia-siaan hidup, dan melakukan yang harusnya dilakukan oleh anak muda yang bening hatinya, jernih pikirannya, dan sehat badannya – Mario Teguh”

22 December 2014

Politik Ibu

Bersyukurlah, Hari Ibu tidak diambil dari Hari Jadi PKK atau Dharma Wanita, melainkan Hari Kongres Perempuan Pertama tahun 1928. Itulah sebabnya, menjadikan 22 Desember sebagai Hari Ibu menjadi momentum bagaimana perempuan memperjuangkan nasib mereka sendiri lewat jalan politik dan berserikat.
 

Jika 21 April diperingati sebagai pernyataan emansipasi yang bersandar pada Kartini secara personal, maka 22 Desember emansipasi adalah maklumat gerakan ibu-kolektif, ibu pertiwi.
Oleh karena itu, makna ibu bukan saja merujuk pada perempuan dewasa yang berumah tangga, melainkan juga perempuan berkesadaran politik dan mengerti bahwa hak-hak hidupnya mestilah diperjuangkan dengan jalan berserikat dan propaganda di koran.
 

Bukannya jalan politik ibu ini tanpa perdebatan sama sekali. Bahkan pada Kongres Perempuan Pertama 22 Desember 1928 di Yogyakarta itu terjadi tarik-ulur isu-isu yang menjadi konsern perjuangan. Terutama perdebatan panas yang tiada ujung soal sikap terhadap poligami.

21 December 2014

Pameran Ong Hari Wahyu: Menafsir Api Bumi Manusia

Ong Hari Wahyu akhirnya melunasi janji: mengeluarkan “buku” seperti yang dimauinya dalam pameran tunggal “Joyo Semoyo: Melunasi Janji” di Bentara Budaya pada medio Desember 2014.

Sebagai pionir senirupa sampul buku, sudah ribuan sampul dibuat Ong. Rupa-rupa penerbit yang memesannya: dari penerbit rumahan hingga penerbit industri. Dan semua pesanan itu dilayaninya, baik dengan layanan cepat maupun layanan lambat yang membikin si pemesan diliputi rasa was-was.
Puluhan tahun praktik senirupa dengan medium sampul buku itu dilakoni Ong yang membuatnya menjadi alamat yang ikonik. Terutama sejarah estetika buku di Yogyakarta maupun di Indonesia.
Salah satu ciri khas estetika Ong adalah old-picture. Terutama gambar lawasan kehidupan rakyat jelata dan pembesar-pembesar kolonial. Bahkan dalam titik ambang tertentu, lawasan menjadi pilihan estetik Ong. 

Dengan estetika lawasan, Ong mengemas masa lalu dengan kritik kekinian. Dan Ong menggunakan sampul buku sebagai siasat menghadirkan riwayat untuk menghidupkan hayat.

12 December 2014

Korupsi Pemimpin Umat Islam yang Unyu-unyu

Kiai Haji cum politisi dari Bangkalan, Madura, minggu lalu tertangkap tangan KPK. Langkah peruntungan Kiai Haji Fuad Amin ini berhenti di gas saat karier politiknya terus ia gas di Bangkalan. Lho, kok pemimpin umat jadi maling?

Tapi, umat sudah tak kaget lagi.

Penyebabnya, kliping korupsi “pemimpin umat” Bangkalan ini “tak ada apa-apanya”, walaupun KH Imam Buchori Cholil sudah sembelih sapi merayakan syukur atas penangkapan ini. Di media daring dan cetak saja, kabar pemimpin umat yang nyambi sebagai maling ini jadi berita sehari-hari yang nyaris kehilangan greget.

Antiklimaks dari pemimpin umat yang melakukan amalan “malam berzikir, siang mencuri” ini semua-muanya sudah diambil oper Departemen Agama (Pada medio 2005 Buya Syafii Maarif di rubrik “Resonansi” Harian Republika menyebut kementerian yang dihuni manusia-manusia paling paham agama ini sebagai kementerian terkorup di Indonesia). Yang menarik, umumnya hal-ihwal yang ditilep Pemimpin Umat Yang Mulia ini terkesan materi yang dekat dengan keseharian umat. Lucu-lucu jadinya.

08 December 2014

Karta Pustaka

Karta Pustaka akhirnya tutup pintu untuk selama-lamanya dari Kota Yogyakarta pada pekan pertama Desember 2014. Setelah beroperasi sejak Maret 1968, hari-hari pelelangan ribuan koleksi buku Karta Pustaka, tak hanya menyedot perhatian publik kota, namun juga mencatatkan bagaimana Yogya menjadi kuburan bagi perpustakaan yang dikelola yayasan.
 

Nasib Karta Pustaka yang memiliki arsiran dengan Kedubes Belanda mestinya sudah diprediksi, saat KITLV di Leiden terguncang oleh isu kebangkrutan pada 2011. KITLV adalah institusi arsip milik Belanda yang menyimpan dokumen-dokumen penting tentang sejarah Indonesia. Begitu pentingnya posisi KITLV sehingga kerap disebut pusat dari segala pusat narasi Indonesia.