25 October 2016

Zen RS: Keple von Karangmalang

Di antara puluhan ribu kader HMI MPO di seluruh Indonesia yang berusia di antara 20 hingga 40 tahun, barangkali Zen RS adalah penulis esai terbaik. Tanpa tanding!

Anda tak salah, Zen RS memang kader organ hi-hi (hijau-hitam) dalam pengertiannya yang sesungguh-sungguhnya. Ia adalah kader milenial. Memasuki gerbang perjuangan umat di awal tahun 2000 di Kampus Karangmalang a.k.a IKIP atawa Universitas Negeri Yogyakarta.


Betapa sulitnya membayangkan pemain sepakbola sejak SMP di Cirebon ini datang ke Yogyakarta lewat penelusuran bibit unggul di Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan IKIP Yogya pada akhirnya masuk sebuah organisasi bergaris anti-Pancasila yang dibikin Kanda Eggy Sudjana.

Aneh? Tidak! Sebagaimana Anda bisa memahfumi sehabis membela Godean Putera di Kabupaten Sleman sebagai pemain amatir sewaan ia segera berlari-lari kecil ke keran air terdekat; wudhu!

Zen tipe kader yang setia dengan satu organisasi ekstra kampus. Setahu saya, HMI MPO adalah satu-satunya organ ekstra yang dipeluknya secara monogamis hingga ia DO. Padahal, godaan masuk KAMMI, PMII, GMNI, terbuka lebar untuknya. Tapi, playboy sejak lahir ini bukan kader yang suka menjadi pengurus organisasi.

Ia lanang-jagat; ia si Cebolang yang ingin mencoba banyak hal.

Termasuk pindah fakultas dari Fakultas Pendidikan Olahraga ke Fakultas Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Jurusan Sejarah. Hijrah ini juga menandai berpindahnya cara dia memperlakukan tubuhnya.

Di fakultas lama tubuh dipelihara dengan disiplin untuk tetap bugar; sementara di fakultas baru tubuh digunakan secara maksimal untuk merasakan kenikmatan duniawi, sebagaimana remaja Cebolang minggat dari rumah untuk mencari Tuhan. Termasuk dalam pencarian Tuhan itu ia memasuki dunia menulis. Kecerdasannya di atas rata-rata dan bacaan sastra serta sejarah yang sudah dimamahnya saat SMA membuatnya cepat sekali mendapatkan nama di antara teman-temannya.

Dalam menjajal kenikmatan menulis itu, ia menjajal beragama tema; mulai lingkungan, film, buku, tokoh, hukum, dunia mahasiswa, hingga kondom. Di majalah kampus LPM Ekspresi IKIP/UNY tulisan-tulisannya dominan dalam hal kuantitas dan kualitas. Maklum, ia tipe lanang-jagat dan bukan organisatoris.

Nah, di luar tema yang digarapnya saat ini dengan intens, yakni sepakbola dan sejarah, Zen RS—sebagaimana Cebolang—juga gandrung dengan tema-tema perkelaminan.

Dalam arsip Indonesia Buku yang saya jaga—kelola—selain mengamankan cawat cokelatnya yang entahlah Yuk Otim sudah cemplungkan ke mana—beberapa esai seks digarap Zen RS. Kurang intens, memang. Mungkin, karena ia masih canggung sebagai kader umat. Lewat email zenrs@lycos.com dan wagu@kompascyber.com, esai-esai itu dikirimkannya ke Kompas. Dan, tentu saja ditolak, Saudara!

Mengirimkan tema seperti itu ke koran yang diberkati rama-rama? Nauzubillah.

Esai berjudul “Dwifungsi Kondom” ini, misalnya. Astaga, Dwifungsi Kondom! Ditulis pada 4 Januari 2005, sesuai tanggal forensik digital, Zen RS ingin menceritakan: sudahlah, soal gitu-gituan, Jogja sudah setara dengan Bandung dan Jakarta. Secara terbuka, ia bilang dengan telengas: Hah, hari gini (saat SBY baru dua bulan jadi Presiden RI) di dompet masih gak ada kondom?

“Wah, kayak Agnes Monica di sinetron Cewekku Jutek sewaktu disetrap gurunya. Hii… hii…,” tulis Zen RS di esai “Agnes Monica dan Para Sosial” yang juga ditolak Kompas, 5 Agustus 2006.

Saat debat dalam organisasi kemahasiswaan, entah dia mewakili fraksi apa (UKM atau Jurusan), kader HMI MPO ini menceramahi pengurus Dewan Mahasiswa yang banyak dihuni aktivis KAMMI yang secara reguler menjadi ustaz-ustaz di liqo-liqo di pojokan kampus.

Zen marah betul. Karena dengan dalih kesopanan, mahasiswa-mahasiswa alumni liqo ini membekukan salah satu UKM seni tradisi karena mementaskan adegan yang dianggap jorok dan melanggar susila. Zen tak terima.

Sebagai “Cebolang Pencari Tuhan von Karangmalang”, ia tahu persis bahwa seks bagian dari warisan budaya timur, warisan agung leluhur. Dengan ilmu laduni sejarah yang ditimbanya secara agresif dari Prof. Haikal ia menolak anggapan bahwa seks itu budaya Barat.

Untuk memperkuat tesisnya, Zen menampilkan potongan sejarah soal Pangeran Puger yang ngemut konthol Amangkurat II yang sudah menjadi mayat. Tujuan Puger menyucupi sperma abangnya yang sudah mati itu demi mendapatkan wahyu yang enggak turun-turun. Gendheng.

Tapi, “Itu ada di Babad Tanah Djawi—kitab agung Islam Jawa,” kata Zen RS berapi-api dalam dakwahnya. Astaghfirullah!

Yang perlu digarisbawahi dari peristiwa itu adalah jiwa pengorbanan dari Zen. Dan, salah satu kata sifat dari seorang yang kelak menjadi manusia besar—dan/atau tak mungkin bakal meramaikan link berita nabi-nabi baru yang tumbuh subur di Tanah Priangan—adalah pengorbanan.

Cocote Zen RS tak pernah diam bila melihat penindasan dan fasisme berlangsung di depan matanya. Sudah dibuktikannya berkali-kali soal itu.

Jauh sebelum pembelaannya atas lakon jorok dari UKM Seni Tradisi oleh kekuatan fasis kemahasiswaan, ia bersama lima temannya solider dan memutuskan mogok makan seperti para biksu di Myanmar melawan fasisme Rektorat IKIP Karangmalang.

Bila ada sahabatnya yang dikatain ini dan itu dalam tulisan di blog oleh bahkan seorang pesohor sekali pun, tak segan-segan Zen RS maju di gelanggang dan membuka front polemik yang keras.

Sebagai temannya, saya menangkap aura enigmatik dalam dirinya. Apalagi dihubungkan dirinya adalah lanang-jagat yang mewarisi beberapa karakter penting dari Cebolang, ia bisa menjadi guru spiritual yang ditunggu-tunggu oleh para fansnya yang hanya menunggu waktu yang tepat saja bertransformasi menjadi muridnya dengan memanggil dirinya: “Aa”.

Nah, untuk mempercepat datangnya “Hari Itu”-lah saya sebagai teman lama mengeluarkan “Buku Saku” Aa Zen RS yang saya susun dan belum pernah terbit—atau saya lupa menerbitkannya. Isi buku ini keringat asin dari gemblengan pencariannya sebagai Cebolang yang telah melahap saripati duniawi Tanah Djawi.

Baca bagian pembuka buku saku ajaran Aa Zen RS ini:

——-

Kau Bertanya, Aa Menjawab

Tanya, Aa?

Dear, paparan Aa yang ringkas dan padat tentang ‘Ciuman Para Filsuf’ betul-betul membuatku tak habis pikir.

Bagaimana bisa para filsuf-filsuf asing itu begitu dahsyat bicara tentang ciuman.

Apakah karena peradaban barat memang sekuler?

Bagaimana dengan Indonesia?

Apakah para pemikir dan pemimpin Indonesia jago juga berciuman?

Jangan-jangan mereka hanya tahu ciuman tangan?

Plis, saya ingin Aa menguraikan bagaimana pandangan hidup para pemimpin dan pemikir kita mengenai ciuman.

Sincerely

 ——-

Aa Menjawab!

Dear, ciuman itu bukan persoalan sekuler atau tidak. Pernahkah kau melihat lumba-lumba berciuman? Bukanlah lumba-lumba tak mengenal sekularisma?

Ini cuma soal sederhana: di Indonesia, teknologi odol dan pasta gigi baru masuk di abad-20 saja, makanya tidak banyak yang berciuman.

Kalau Dinda lihat uraian Aa di bawah, Dinda akan tahu bahwa sejarah ciuman di Indonesia hampir mirip dengan nasionalisme di Indonesia.

Keduanya merupakan temuan baru abad-20. Kecuali si Yamin itu saja yang ngotot.

Jakarta, 16 Mei 2009

——

Nah, penasaran, kan, butiran-butiran dahsyat apa yang ada dalam buku saku Aa Zen RS tersebut. Menggelinjang, kau! Sebagai editor dan penyusun butiran itu, saya bocorkan tujuh kutipan pokok ajaran ciuman ala Aa Zen RS. Untuk menyesuaikan posisi dan hobi, saya pilihkan ajaran untuk para fans Aa dari sayap kiri. Yang akhi dan ukhti, bersabar, ya.

Dengan kutipan tujuh ajaran pokok ini makin meluas sebutan untuknya yang barangkali awalnya hanya akrab di antara teman-teman dekatnya, yakni keple. Ya, dialah Cebolang itu, ya dialah Keple von Karangmalang!

——

(1) SOEKARNO KISS

Beri aku 10 pemudi, akan kuubah dunia dengan simfoni ciuman yang menjebol dan membangun. Mana bibirmu? Ini bibirku! Ingat, JASMERAH: Jangan Melupakan Gairah!

——

(2) TAN MALAKA KISS

Tak pernah menikah saya. Berkeluarga tak ada dalam opsi jika Indonesia belum revolusi. Tapi, tidak berarti saya tak doyan bibir dan lidah perempuan. Bacalah memoar saya yang dahsyat itu: “Dari Lambe ke Lambe”. Jangan lupa beli, ya!

——

(3) TIRTOADISOERJO KISS

Ciuman itu bisa menyatukan antara bangsa jang terprentah dengan bangsa jang memrentah, antara bangsawan asal dengan bangsawan pikiran.

——

(4) SOERJOPRANOTO KISS

Boycott adalah senjata rakyat tertindas. Wahai para Njai, mogok dan boycot lah, jangan beri meneer-meneer itu ciuman barang se-sosor-pun.

——

(5) SEMAOEN KISS

Ciuman itu harus dilakukan dengan kompak, tidak bisa satu hisap dan satunya diam, kudu kompak, pokoknya harus “berbareng-bergerak”.

——

(6) DN AIDIT KISS

Ibu pertiwi sedang hamil tua, situasi sudah sangat genting. Pilihannya cuma dua: DICIUM atau MENCIUM?

——

(7) NJOTO KISS

Ciuman seorang seniman haruslah berdasarkan pengalaman rakyat. Jangan berlama-lama, segeralah TURBA: Turun ke Bawah! [Muhidin M. Dahlan]

* Pertama kali dipublikasikan mojok.co, 25 Oktober 2016

No comments: