30 June 2012

Dokumentasi Sepakbola Indonesia

:: gusmuh

“Klub-klub dan orang penting di Indonesia tak peduli dengan dokumentasi olahraga.” -- Nick van Horn, KITLV

SALAHSATU fungsi dokumentasi bisa diperikan dari satu scene film bersetting kota perdikan Ukraina, Lutsk, Everything is Illuminated (2005). Sebuah dialog pendek antara Jonathan Foer, arsiparis sejarah keluarga berusia belia dan pemandu wisata Alex.

Alex: “Kenapa kamu mengoleksi benda-benda itu?”
Jonathan: “ Karena aku takut, aku akan lupa…”

Dokumentasi ada agar kita bisa berjaga dari kelupaan, seperti kita sedikit sekali mengingat ihwal Ribut Waidi saat mangkat 3 Juni 2012. Publik sepakbola Indonesia hanya mengingatnya pada sebuah momen: sebutir golnya mengantarkan tim nasional juara SEA Games Jakarta 1987 saat melawan Malaysia.

Informasi apa lagi yang bisa dikorek dari Waidi, selain ia “anak ajaib” PSIS Semarang yang mengantar klub ini menjadi pemuncak Piala Perserikatan? Berapa kali, misalnya, ia memperkuat timnas di level internasional? Nihil.

Dari Waidi kita kemudian membicarakan gua panjang dokumentasi sepakbola Indonesia. Mungkin ada catatan. Tapi dokumentasi yang siklus waktunya tak terorganisasi dengan rapi, sebagaimana kalau kita membuka portal American Soccer History Archieves. Catatan-catatan itu mengendap dalam kesunyian absolut di lembar-lembar koran semasa.

Umat sepakbola Indonesia ini bejibun jumlahnya. Pemandangan paling mutakhir bisa disaksikan saat final Piala Suzuki AFF 2010 di Stadion Utama Gelora Bung Karno Desember 2010. Ada sekira 100 ribu penonton yang menyaksikan, termasuk Presiden RI. Dengan antusiasme yang menggelagak dan suporter yang begitu fanatik, punyakah kita Pusat Dokumentasi Sepakbola Indonesia yang berwibawa?

Dalam dunia sastra kita punya Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin. Dunia film kita punya Pusat Dokumentasi dan Informasi Perfilman (Sinematek). Dan di dunia senirupa kontemporer kita punya Indonesia Visual Art Archieve (IVAA).

Dokumentasi sepakbola? Setelah menulis sejarah (politik) sepakbola, sejarawan Freek Colombijn berujar, sepakbola Indonesia itu memang anomali lantaran negeri ini punya 250 juta penduduk yang nyaris semuanya penggila bola, tapi segelintir kecil saja ilmuwan sosial yang menulisnya. (Darmanto, 2012)

Bagi saya, pusat dokumentasi sepakbola Indonesia itu tak terletak di PSSI atau lembaga mana pun. Dokumentasi terlengkap day by day sepakbola Indonesia itu ada di penerbitan pers.

Indonesia Buku pernah menugaskan arsiparisnya, Iswara NR, menjelajahi dokumentasi sepakbola Indonesia di “Pusat Dokumentasi” bernama “koran” ini: masa Hindia Belanda, Orde Karno, Orde Harto, hingga Reformasi.

Di masa Hindia Belanda, koran-koran Pembrita Betawi, Djawa Tengah, Pandji Poestaka, Doenia Baroe, Oetoesan Indonesia, Bintang Hindia, Bintang Timoer, Sinar Deli, Pewarta Deli, Sinar Sumatra, Pertja Selatan, Pemberita Makassar, hingga Pewarta Borneo sudah menyisipkan kabar-kabar sepakbola di halaman khusus, seperti “Kabar Sport”. Macam begini: “... waktoe saja melihat keseblah I.C. (Inlandsch Club) hati saja berdebar, saja rasa tentoe kalah, sebab orangja boleh bilang semoea ketjil tambahan lagi Inlander makan sajoer berlawan sama Europa makan daging ....” (Pantjaran Warta, 9 September 1910)

Ketika PSSI lahir di Yogyakarta pada 19 April 1930, koran Djawa Tengah, “Pusat Dokumentasi” ini, mencatat dengan rinci: “... lantas diambil kepoetoesan, I.V.B. didiriken dengan nama ‘Persatoean sepakraga seloeroeh Indonesia’ dengan zetel di Mataram. Dalem pilihan bestuur, ternjata Ir Soeratin diangkat sebagai voorzitter ... kedoedoekan boeat consul ditetepkan di Soerabaja boeat Oost Java, Solo boeat Midden Java, dan Jacarta boeat West Java... Bendera P.S.S.I. ditetepken merah poetih....”

Mau disebut lagi? Sin Po, Keng Po, Sin Jit Po, dan Sin Tit Po adalah koran-koran yang bisa disusuri jika kita ingin mengetahui peran Tionghoa dalam dunia sepakbola Indonesia yang kemudian peran mereka “menghilang” sejak masa Orde Baru hingga kini.

Sejarah sepakbola kita juga tak terputus pada masa Jepang menduduki Indonesia, lantaran rantai itu bisa kita susuri lewat Asia Raja, Tjahaja, Soeara Asia, Sinar Matahari, Sinar Baroe, Pembangoen, Kanpo, Kung Yung Pao, Djawa Baroe, dan Keboedajaan Timoer.

Ketika berada di era—pinjam kata-kata penasehat PSSI dari PKI, Njoto—“sport itoe politik”—dokumentasi sepakbola Indonesia terpecah-pecah di lembaga penerbitan seperti Kedaulatan Rakjat, Merah Putih, Berita Indonesia, Gelombang Zaman, Fikiran Rakjat, Pelita Rakjat, Java Post, Pesat, Pantja Raja, Indonesia Raja, Pedoman, Harian Rakjat, Api Islam, bahkan di majalah Olahraga.

Semangat menggelora tentang sepakbola masa itu bisa diwakili oleh quote Presiden Soekarno di majalah Olahraga, 1 April 1953: “Bola disukai oleh anak di kota dan di desa, dan mulai ketjil kita semua sudah menjadi pemain bola. Di sekolah, kita mulai main sepakbola setjara teratur, meskipun belum sungguh-sungguh. Marilah kita langsungkan kemadjuan itu!!!”

Hingga di era Harto dan Reformasi, dokumentasi tampil makin beragam dengan pemberian ruang lebih luas, seperti tampak di Sinar Harapan, Merdeka, Jawa Pos, dan Kompas.

Bahkan Kompas melepas salahsatu “sisipan”-nya yang kemudian bermetamorfosis jadi tabloid olahraga prestisius, Bola, yang digawangi Sumohadi Marsis pada 1984. Jayanya Bola kemudian diikuti Go yang pada akhirnya tumbang.

Salah satu fenomena yang paling mencengangkan tentu saja kemunculan Harian Cetak dan Daring. Harian cetak diwakili TopSkor pada 2005 yang memulai era baru bahwa olahraga, terutama sekali sepakbola, menjadi peristiwa harian yang memiliki daya pukau tiada selang. Sementara daring diwakili detik.com (sport/sepakbola) yang membuat denyut dokumentasi berdegup tiap saat.

Semangat Dokumentasi
Saya percaya, kita punya sumber dokumentasi yang kaya. Jika ada lembaga yang berdiri dan peduli tentang “Arsip Sepakbola Indonesia”, maka syarat utamanya menyatukan semua cerita dalam koran-koran itu.

Pembangunan “Pusat Dokumentasi” ini tak perlu menunggu selesainya “Hambalang” atau “restu” dari pemangku sepakbola “Pintu VII” Gelora Bung Karno. Sebab yang dibutuhkan “cukup” kesenangan mengkliping kabar sepakbola sebagaimana kita bisa dapatkan dari pemain legendaris Persib Bandung, Max Timisela.

Atau sosok “the jack” yang seorang arsiparis sepakbola di KITLV Leiden, Nick van Horn, sebagaimana sekuplet kisahnya saya temukan di blog “belakanggawang” (2012). Sejarawan ini sendirian bekerja mengumpulkan buku, naskah, kliping (cetak maupun mikrofilm), video, dan lain-lain. Ironisnya, ia mencari data-data itu dengan blusukan di Museum Taman Mini, Kwitang Pasar Senen (dua-duanya di Jakarta) dan Jl Bawean Surabaya.

Kita juga bisa seperti Max dan Horn, selain tekun mengkliping, sekaligus rajin memburu artikel seperti Politik Sepak Bola Indonesia karya Freek Colombijn (2000). Tak luput ia mengumpulkan buku apa pun yang berkisah tentang sepakbola Indonesia, mulai dari  Tionghoa Surabaya dalam Sepakbola karya Aji (2009), Trilogi Esei Bola Sindhunata, hingga buku Letkol Maulwi Saelan, Sepakbola (1973) yang diolok-olok Tempo (12 Januari 1974) sebagai buku penuh blunder dari penjaga gawang PSSI era 50-an yang dijuluki “Benteng Beton”.

Kita percaya hanya dengan dokumentasi yang kuat, kita kaffah saat memberi klaim kehebatan pemain dari pelbagai era, dengan memakai statistik ala Pandit Football Indonesia: lebih cepat dan tajam mana di mulut gawang lawan: Bambang Nurdiansyah ataukah Bambang Pamungkas; Saelankah lebih kokoh di bawah mistar gawang ataukah Hendro Kartiko; dan lebih perkasa mana sebagai libero: Ronny Pattinasarani atau Firman Utina.

Dengan dokumentasi pula kita bisa merunut wajah buruk pengurus sepakbola; mulai dari suap 1958 yang melibatkan Ramang cs; suap 1978 yang melibatkan Ronny Pasla cs; hingga koruPSSI di era Nurdin Halid.

Dipublikasikan pertamakali, Jawa Pos, Lembar EURO 2012 "Bola Kultural", 29 Juni 2012

1 comment:

rumahbaca said...

Tulisan yang amat bagus :) Kenapa Firman Utina diadu dengan Ronny Pattinasarani di posisi libero ? Lebih cocok mungkin Bejo Sugiantoro hehehe

salam kenal :)

@Hasbisy / hasbisy.blogdetik.com