14 August 2016

Wajah Indonesia dan Seni (di) Airport

Bingkai judul media daring (dalam jaringan) yang menjadi viral sepanjang Jumat (12/8) atau sepekan sebelum Republik Indonesia merayakan ulang tahun ke-71 memang bikin bulu kuduk meremang: D.N. Aidit hadir di Terminal 3 Ultimate Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Banten.

Bayangkan, di terminal penumpang yang baru dibuka 9 Agustus itu hadir –dalam bahasa intelijen kita, ”poster”– wajah Aidit. Saya pertegas, supaya bikin merinding warga ibu kota, di beranda depan Republik Indonesia hadir ”momok” yang melahirkan sebuah rezim bernama Orde Baru. Momok itu adalah Aidit, hantu itu adalah PKI. 

Munculnya pun bukan di hutan-hutan sawit di Sumatera atau Sulawesi Barat, melainkan di paras depan Indonesia. Saya mempersalahkan media daring yang menjadi penyambung histeria dangkal itu? Tidak! Sebab, itu adalah gambaran watak umum bagaimana republik ini mendaras sejarah Indonesia. Dan di Terminal 3 Ultimate itu kita dihadapkan kepada sejarah Indonesia dalam medium visual bernama lukisan. 

Lukisan, Bapak Polisi, bukan poster! Bukan pula selebaran gelap! 


Lukisan yang dipasang di situ pun bukan vandalisme seniman, melainkan proyek resmi Angkasa Pura II yang ingin di dinding bandara Indonesia ada sentuhan seniman kontemporer Indonesia terbaik. 

Juga, salah seorang di antara sepuluh seniman yang karyanya khusus dipajang di dinding bangunan bandara baru itu adalah Galam Zulkifli. Karena itu soal pemajangan karya, pameran tersebut memiliki kurator resmi yang ditunjuk. Kurator seni itulah yang meloloskan karya mana yang dipajang, bagaimana pemasangannya, dan pesan besar apa untuk ”Indonesia” yang ingin disampaikannya kepada publik.

Sosok kurator itulah yang membisu saat histeria Jumat ”memaksa” sebuah lukisan yang ”ada gambar Aidit-nya” diturunkan secara sepihak dari dinding terminal Angkasa Pura II. Tanpa perlawanan apa pun dalam perayaan histeria yang banal, pihak Angkasa Pura melakukan penyortiran diri yang membuat karya itu menjadi pesakitan.




Galam Zulkifli dan Sejarah Indonesia

Siapa Galam Zulkifli? Namanya sepotong pun tak masuk buku ”sejarah seni” versi Oey Hay Djoen. Tapi, pihak bandara bilang bahwa Galam adalah seniman kontemporer internasional. Dia adalah seniman otodidak, pembelajar yang keras. Bukan lulusan Institut Seni Indonesia (ISI), tapi mempelajari secara homeschooling silabus perkuliahan mahasiswa formal secara mandiri. 

Dia memang pernah berkuliah di Jurusan Seni Rupa IKIP Jogjakarta (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta), tapi tak selesai. Jika mahasiswa ditugaskan untuk menggambar puluhan sketsa guna mendapatkan nilai tertentu, sosok itu memaksakan diri untuk menugaskan dirinya sendiri membikin ratusan sketsa, ratusan bentuk, untuk mencapai stilisasi tertentu. 

Dia mirip santri yang belajar dalam atmosfer seni rupa Kota Jogjakarta dan bukan di bangku perkuliahan. Hingga pada tahap menjadi pelukis realis yang kuat, seniman yang dituduh ”menyusupkan Aidit” di terminal 3 itu telah menggambar ribuan wajah dan dia tak mau melukis hal lain, semisal pemandangan atau lukisan surealis.

”Setiap wajah manusia itu hidup,” ujarnya. ”Wajah itu organis, bukan mekanis. Setiap orang berbeda. Ada jejak DNA di sana. Maka, saya tak pernah menghafal wajah orang, melainkan mendalami karakternya. Sebagaimana sidik jari, wajah memiliki alamat jiwa. Kalau saya tak bisa menggambar wajah seseorang persis aslinya,  itu artinya wajah itu menolak untuk dilukis.”

Kemampuan realis tersebut diasah nyaris tiap hari dengan memakai dua tangan sekaligus, kiri serta kanan, dan itu sudah berlangsung empat dekade. Itulah yang membuat salah satu lukisannya terpilih, terkoleksi, dan dipajang di Museum Presiden RI di Istana Bogor.

Nah, tatkala terpilih sebagai satu di antara dasa seniman yang karyanya hadir di terminal 3, seniman kelahiran Sumbawa, 1971, itu menampilkan bagaimana ide yang membangun Indonesia hingga kini lewat wajah. Sekitar 600 wajah tokoh dalam 11 panel lukisannya (22 meter) adalah cara Galam Zulkifli membaca sejarah Indonesia lewat wajah dengan jalan seni visual.

Kehebohan itu tak pernah terjadi dan lukisan tersebut tak diturunkan dengan tragis tanpa pembelaan apa pun jika memahami secara cermat serta membaca konsepsi lukisan itu dan menonton video proses selama satu jam penuh bagaimana lukisan tersebut dibikin dari kanvas kosong hingga satu per satu dari 600-an wajah itu dilukis secara manual –banyak orang yang mengira itu disablon.

Lukisan kontroversial yang dibikin secara mandiri lebih kurang empat bulan itu bernama The Indonesian Idea (.ID/Ide).

Bagi Galam, Indonesia bukanlah sebuah antinomi yang memperlihatkan wajah yang tunggal. Ia adalah sebuah pembayangan bersama yang ditopang dari ide yang beragam. Ide atau pikiran yang kemudian bermetamorfosis menjadi ideologi praksis pergerakan sedemikian rupa itu berdialog dan mencari titik kompromi yang terkadang muskil.

Sebagai sebuah panggung, Indonesia adalah persembahan panjang tentang pencarian kebenaran lewat jalan perdebatan. Ide-ide dipertemukan untuk mencari formula, bukan saja bentuk negara, melainkan juga bagaimana mempertemukan keragaman ide dari tuturan bahasa yang berbeda-beda se-Nusantara menjadi sukma ”persatuan nasional”.

Proses menjadi Indonesia sesungguhnya kerja coba-coba yang serius. Bukan saja proses itu melahirkan ”pahlawan”, tapi juga ”pemberon-tak”. Bukan saja proses itu menobatkan sejumlah pemilik ide menjadi ”tokoh bangsa” yang tampil dalam silabus sejarah, tapi juga pengusung ide yang teralpa, bahkan terkubur karena pilihan ideologis yang kalah dalam pertaruhan.

Galam lewat pembacaan teks sejarah Indonesia secara serius meyakini bahwa ide-ide yang bertaruh dan diperjuangkan dengan keras kepala itulah yang membingkai wajah Indonesia yang terwariskan hingga kini.

Karya yang menjadi tumbal histeria Jumat tersebut sesungguhnya adalah proyek visual dengan ambisi menyambangi seluruh simpul, spektrum, nuansa seluruh semesta ide yang melahirkan rantai panjang tanpa putus ihwal keindonesiaan. 

Empat ratus wajah dengan latar ide(ologi) dan praksis (kerja) ditambah 200 wajah rakyat kebanyakan dari pelbagai suku bangsa di Nusantara yang oleh Soekarno-Hatta digarisi sebagai ”atas nama bangsa Indonesia” di teks proklamasi adalah kanvas, adalah ikhtiar menaikkan yang terinjak, memunculkan yang hilang, dan menyatukan yang terserak. 

Dari Tirto Adhi Soerjo hingga Dahlan Iskan; dari Kartini hingga Megawati; dari Musso hingga Chris John dan Taufik Hidayat; dari Kahar Muzakkar hingga Marsinah, Tukul, dan Munir; dari Aidit hingga Jokowi.

Karena itu, ketika ada yang menyuruh Galam mengingkari Aidit dalam kanvas besarnya, dia menolak keras. Sebab, bagi dia, Aidit dan belasan tokoh pemberontak dari kiri, kanan, atau tengah adalah bagian dari spektrum menjadi Indonesia. Menghilangkan belasan pembangkang dalam kanvasnya sama artinya dengan membonsai konsepsi karya yang dibikinnya secara cermat dan didalaminya dengan riset yang sungguh-sungguh. 

Menurunkan satu panel dari sebelas panel The Indonesian Idea sama halnya dengan merobek satu bagian dari sejarah Indonesia.

Galam Zulkifli justru mengambil posisi sebagai pelukis ambisius yang mengajukan keyakinan tak tergoyahkan bahwa di satu sisi ide-ide besar peradaban memaklumatkan keindonesiaan yang tampak utuh, satu, berkemanusiaan, demokratis, dan dialogis; namun di sisi lain kebesaran yang ideal itu adalah ilusi. 

Kita dibimbangkan terus-menerus bagaimana kita menempatkan ”pahlawan” dan ”pecundang” dalam wawasan keindonesiaan kita. Lewat ”jalan cahaya” sebagai metode visual, simulasi dari ilusi itu dipresentasikan Galam untuk menyadarkan kita betapa anugerah keragaman ide tersebut rapuh, goyah. Salah satu cara merawatnya adalah menampilkannya secara adil, berani, dannondiskriminatif di meja besar mata visual kita. 

Dalam bahasa PT Angkasa Pura II, menempatkannya di beranda depan Indonesia alias terminal 3 yang baru dan ”ultimate”.

Galam pada akhirnya mengajak semua orang melihat Indonesia secara arif, bijak, dan baru, sebagaimana semangat kebaruan yang ingin dimunculkan Terminal 3 Ultimate oleh Angkasa Pura II itu.

Sayang, hanya terminalnya yang baru, watak dan kepicikan melihat sejarah nasional masih dengan cara lama. Masih rabun jauh. Peristiwa seni di terminal 3 pada akhirnya menjadi kado perih saat kita merayakan tahun ke-71 Indonesia. Rezim baru, teknologi baru, kelas menengah baru, terminal baru, pikiran kusam. Demikian. (Muhidin M. Dahlan)

* Dipublikasikan pertama kali di Harian Jawa Pos (Minggu), 14 Agustus 2016