05 August 2007

Manifesto Menulis

:: sinar bulan

Sepanjang perburuan hampir satu tahun lamanya, saya tidak tahu bahwa buku ini bergenre novel. Kenyataan itu baru terkuak setelah Jalan Sunyi Seorang Penulis (JSSP)berada di tangan, dalam arti dibuka plastiknya di rumah. Saya belum tahu juga kala meraihnya dari sebuah etalase di outlet Lawang Buku.

Beberapa waktu sebelumnya, saya sempat googling dan menyambangi blog khusus resensi karya-karya Muhidin. Niatnya mencari wajah baru JSSP karena begitu sukar mendapatkannya di toko buku (baca: Gramedia). Ternyata kali ini GM Merdeka tidak keliru menempatkannya di rak novel. Kendati hurufnya kecil-kecil menyiksa penglihatan, tidak dapat disangkal bahwa buku ini enak dibaca.

Seratus halaman berlalu dalam sekedip, dan saya tergoda untuk meneruskannya setiap kali waktu terluang atau ingin meregangkan benak dari aktivitas kerja. Betapa tidak, setiap paragrafnya mengalir dan jarang sekali ditemukan pengulangan kata - jika bukan atas nama keindahan ramuan kalimat. Hal ini menunjukkan bahwa Muhidin pelahap buku yang rakus dan senantiasa subur akan variasi diksi. Usai membaca profilnya di bagian muka, tak urung timbul sangkaan bahwa novel ini merupakan memoar Muhidin sendiri.

JSPP konon adalah sebentuk revisi dari "Aku, Buku, dan Sepotong Sajak Cinta". Syukurlah judulnya diganti sehingga lebih melodius dan klop dengan untaian 'Manifesto Menulis' di sampul depan, "Ingat-ingatlah Kalian hai penulis-penulis belia, bila kalian memilih jalan sunyi ini maka yang kalian camkan baik-baik adalah terus membaca, terus menulis, terus bekerja, dan bersiap hidup miskin. Bila empat jalan itu kalian terima dengan lapang dada sebagai jalan hidup, niscaya kalian tak akan berpikir untuk bunuh diri secepatnya."

JSPP tak pelak suatu hidangan yang teramat unik. Selama ini, pembahasan mengenai profesi penulis nyaris identik dengan gemebyar pundi-pundi penuh royalti, popularitas yang hampir instan, dan warna-warna cerah nan semarak lainnya. Karakter penulis dalam JSPP mengungkap suatu warna lain yang pekat lagi kelam sepanjang jatuh-bangunnya, usahanya untuk bertahan hidup, bahkan saya turut menangis sambil tertawa getir kala si karakter membayangkan Karl Marx menjelma dari rak bukunya. Judul-judul bab yang relevan kian menjadikan buku ini sedap disimak.

Setelah membaca JSPP, kemampuan saya berbahasa gaul kian pudar. Terus terngiang aneka kata di dalamnya, misalnya 'bersicepat'. Inilah hasil mengincar yang tidak sia-sia sama sekali.

Judul: Jalan Sunyi Seorang Penulis
Penulis: Muhidin M. Dahlan
Penerbit: ScriPtaManent
Cetakan: I, Maret 2005
Tebal: 325 halaman
Beli di: Rumah Buku Alebene, Bandung


* Dicopy-paste dari situs pribadi Sinar Bulan

No comments: