06 April 2008

Pedihnya Perjalanan Menuju Tuhan

::santi widianti, penggiat isola pos 2001-2005

Agama kerap muncul dalam serangkaian aturan kaku yang dibakukan. Pemahaman me-ngenainya diseragamkan. Tak peduli pengalaman manusia yang beragam. Agama harus tunduk pada penafsiran yang telah ditetapkan kelompok manusia yang menjadi pucuk pimpinan agama. Barang siapa yang memiliki penafsiran yang lain, bersiap-siaplah untuk menghadapi tuduhan bidah, sesat, dan label-label lain.

Telah banyak orang yang nasibnya berakhir tragis hanya karena memiliki pemikiran yang berbeda. Sebut saja diantaranya Syekh Siti Jenar atau Al Hallaj. Ini menggiring kita untuk mempertanyakan apa-kah penafsiran agama hanya milik sekelompok manusia? Mereka mengklaim bahwa penafsiran ini atau pemikiran itu adalah sesuatu yang absolut, final dan tak terban-tahkan. Sesuatu yang paling benar. Seolah-olah mereka sudah bertemu Tuhan.

Novel berjudul Kabar Buruk Dari Langit: Luka Cinta Pencari Tuhan ini adalah karya terbaru dari Muhidin M. Dahlan setelah sebe-lumnya ia menulis antara lain buku Aku, Buku dan Sepotong Sajak Cinta dan Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Seorang Pelacur. Tulisan Kabar Buruk Dari Langit tak terlihat jelas pada sampul novel ini.

Huruf-hurufnya berwarna hitam de-ngan latar yang juga berwarna hitam. Sekilas, pembaca akan me-ngira judul novel ini adalah Luka Cinta Pencari Tuhan. Entahlah apakah ini kesalahan teknis atau suatu kesengajaan. Jika penulis memang sengaja mengaburkan tulisan Kabar Buruk Dari Langit, barangkali ia ingin mengabarkan pesan gelap dalam novel ini. Atau mungkin ia ingin berada di tempat yang gelap untuk melihat sisi yang terang.

Tokoh utama dalam novel ini dihinggapi kegelisahan meski ia berada dalam kemapanan. Sang tokoh yang tak jelas siapa namanya dan hanya kerap disebut Pangelmu ini mengalami mimpi aneh di bulan Ramadhan. Dalam mimpinya ada perempuan jalang yang dirajam. Keanehan tak berhenti di situ. Tiba-tiba ia juga berjumpa dengan seseorang bersayap yang mengaku malaikat Jibril yang mengajaknya mengisap ganja.

Penggambaran nyeleneh dalam novel ini bisa mengagetkan pembaca yang konvensional. Sementara bagi para pelahap karya-karya Danarto, kenyelenehan ini mengingatkan pada tokoh-tokoh dalam kumpulan cerpen Godlob. Memang, banyak tokoh yang nyeleneh ala Godlob dalam novel ini, meski tentu tak persis benar. Selain si malaikat pengisap ganja dan perempuan jalang yang disiksa, si Pangelmu bertemu pula dengan perempuan setengah gila yang terobsesi membunuh Nabi Muhammad SAW. Ujarnya, "Aku benci nama itu. Nama yang sering menjadi alasan suamiku untuk kawin dan terus kawin. Nama yang menjadikanku perempuan singgahan dan setelah itu ditinggalkan begitu saja tanpa penjelasan ..." (hal. 264).

Pada bagian ini, pengarang novel ini seperti hendak menyentil pembenaran perilaku yang seolah-olah suci atas nama agama, demi menutupi bopeng-bopeng kebanalan dan kerakusan syahwat manusia. Perempuan sebagai istri selalu menjadi pihak yang tak berdaya ketika disudutkan pada ancaman 'pilih poligami atau zina'. Persis seperti korban perampokan yang hanya disodori pilihan 'harta atau nyawa?'

Novel ini menuturkan bahwa perjalanan menuju Tuhan tidaklah mudah. Tak jarang manusia harus tersungkur dalam pencarian ini. Pangelmu yang beroleh nasib tragis, memilih mati meyakini iman yang diperolehnya dengan susah payah ketimbang menerima iman yang sudah jadi.

JUDUL BUKU
Kabar Buruk Dari Langit: Luka Cinta Pencari Tuhan
PENGARANG
Muhidin M. Dahlan
JUMLAH HALAMAN
562 halaman
PENERBIT
ScriPtaManent Yogyakarta
TAHUN TERBUT
Cetakan Pertama, Mei 2005

4 comments:

joko said...

memang pedih....saya sudah pulang

Anonymous said...

Perjalanan menuju Tuhan adalah perjalanan mendaki lagi sulit. Dalam agama Kristen dilukiskan sulitnya laksana memasukkan onta dalam lubang jarum.

O,ya pembaca budiman, ada buku baru judulnya Perjalanan Menuju Tuhan, karya A. Mustofa, diterbitkan Hanggar Yogyakarta.
Buku ini mencoba mendeskpisikan kemungkinan "jalan lain" selain jalan mainstream yang ditempuh kebanyakan orang menuju Tuhan.

Apa yang kita yakini benar bisa diyakini salah menurut orang karena mereka juga mempunyai paham kebenaran sendiri. Demikian sebaliknya.

joko

namaro said...

bagaimana dengan budha yang samsara? yesus yang nyaris tersalib, seorang nabi yang digergaji? seorang rasul yang menangis saat melihat anak peremupuannya pendarahan di atas unta saat memasuki madinah dan meninggal tak lama setelah tinggal di manidah? bagaimana tentang seorang lelaki yang berkata cinta pada sang rasul, lalu lelaki muliah itu menjawab "bersiaplah didera kemiskinan yang datang seperti air bah dari pegunungan menuju lembah"?
"pedihnya jalan menuju tuhan?" tak ada yang baru dalam hal ini..

Luigi Eddy said...

Memang pedih ,karena manusia di dunia ini adalah dlm rangka mencarihakikat Tuhan