06 June 2012

Cultural Olympiad: Yunani dan Indonesia

::gusmuh

Yunani memang ibukota olahraga dunia. Tapi tidak untuk sepakbola. Karena itu di Euro 2004 yang berlangsung di Portugal 8 tahun silam, Yunani bukanlah kesebelasan apa-apa. Bersama Latvia, mereka kerap diolok-olok sebagai kesebelasan turis belaka. Di Grup A misalnya, yang diunggulkan tentu Portugal dan Spanyol. Dan Yunani hanya sekadar tim pelengkap dan kalau bisa jadi landasan pacu untuk mendapatkan angka penuh melaju ke babak pertandingan berikutnya.
Tapi semua ramalan melempem. Sebab tak ada yang menyangka tim Yunani datang dengan kekuatan penuh, semangat yang menggebu, dan restu para dewa. Tak ayal, tuan rumah Portugal mereka permalukan di pertandingan pembuka. Tandukan banteng Spanyol mereka tahan dan membuat negara itu pulang lebih awal. Kokok perkasa ayam jantan Prancis yang menjadi favorit juara di turnamen kali ini mereka sumpal. Dan kereta cepat Ceko yang tak pernah terkalahkan sepanjang pertandingan mereka luluhlantakkan dan sekaligus memupus mimpi Ceko menjadi juara EURO 2004.
Di puncak upacara, negeri 1001 dewa itu pun menggenapkan negara mereka sebagai ibukota segala olahraga. Tak terkecuali sepakbola. Yunani jawara.
Dan setelah itu, arus balik menghantam Yunani. Dewa-dewa menjauh di Piala Dunia 2006 dan 2010 dan Euro 2008. Tak hanya sepakbola dijauhi dewa, tapi juga negara dan masyarakatnya. Yunani kini tak ubahnya negara gagal, pinjam istilah cendekiawan Ahmad Syafii Maarif (2010). Yunani—juga Italia—kini menjadi pusat gravitasi krisis Eropa.



Kabinet jatuh bangun dalam hitungan bulan dihajar krisis ekonomi. Tiga kali partai menyerahkan mandat karena tak sanggup membebaskan Yunani dari kutukan ekonomi: Antonis Samaras dari Partai Konservatif “Demokrasi Baru”, Alexis Tsipras, lalu Partai Radikal Kiri “Syriza” (Partai Komunis dan Demokrasi Kiri menolak bergabung), dan Evangelos Venizelos dari Partai Sosialis Yunani.
Kini, babak penentuan diserahkan ke tangan hakim Panagiotis Pikrammenos dengan anggota kaum cendekia, filsuf, veteran militer, dan diplomat.
Oleh publik Yunani, Fernando Santos memang masih diberi tuah para dewa sebagaimana Otto Rehhagel di Euro 2004. Mereka memenangi 7 dari 10 laga kualifikasi. Pasukan dewa yang dihuni pemain-pemain klub lokal ini hanya sekali kalah dari 19 kali pertandingan. Mereka juga juara Grup F unggul dari tim kuat Kroasia.
Tapi dewa-dewa muda itu datang ke Ukraina-Polandia meninggalkan kehidupan sehari-hari rakyat yang melarat dengan politik yang nyaris kehilangan asa. Bayangkan, 25 hari sebelum berlaga, mereka menyaksikan politik parlemen: 300 anggota dilantik, satu hari memundaki amanah, lalu dibubarkan keesokan harinya.
Tiga Persamaan
Di Indonesia, kita menyebut negeri 1001 dewa itu dengan nama YUNANI. Penyebutan yang melenceng sebetulnya dari istilah yang secara resmi mereka gunakan untuk menyebut diri mereka: Helas, Greece, atau Hellenic. Tak terlalu jelas asal-usul kata itu. Mungkin kata itu tersisip dalam pembayangan kita atas Kota Yunan dari Cina yang masuk bersamaan dengan datangnya pedagang-pedagang Arab dan Cina memperluas jalan sutra abad ke 13-16.
Dalam selembar manuskrip kuratorial Cultural Olympiad 2003, tercatat Yunani dan Indonesia dipertemukan tiga persamaan yang unik: (1) revolusi; (2) pulau; dan (3) wayang.
Kita tahu, kedua negara ini lahir dari proses panjang dan berdarah-darah untuk keluar dari belenggu kolonialisme. Sekian lama Yunani disekap oleh Kekaisaran Ottoman di Turki. Dengan bantuan Inggris, Prancis, dan Rusia, mereka bisa meneriakkan pekik kemerdekaan pada Februari 1830. Kita pun demikian. Silih berganti negara-negara Atas Angin datang untuk memeras kekayaan dan merayah martabat manusia Nusantara. Setelah Portugis, datang Spanyol, lalu Belanda, dan puncaknya Jepang. Barulah setelah itu kita bisa merdeka pada Agustus 1945.
Kelelahan kedua negara itu berhadapan dengan kolonialisme menjadi titik temu yang mengesankan. Pengalaman itu memberi tekanan memori yang kuat tentang rasa percaya diri dan pencarian identitas nasionalisme kedua negara yang tentu saja jauh dari persoalan kedekatan geografis.
Hal yang kedua yang mempertemukan Yunani dan Indonesia ialah kedua negara itu sama-sama negara kepulauan atau archipelago. Berbatasan dengan Bulgaria, Mecedonia, dan Albania di utara dan Turki di timur, terhampar ribuan pulau negara Yunani.
Sebagaimana Yunani, Indonesia pun memiliki corak demografis yang sama yang terdiri dari 13.000 pulau dengan dihuni penduduk sekitar 250 juta jiwa. Di negara kepulauan itu kedua negara ini dipersatukan oleh laut dan kehidupan mitos tumbuh demikian subur di setiap ceruk daerahnya.
Hal yang ketiga yang mempertemukan kesamaan kedua negara ini adalah kesenian; dalam hal ini wayang yang begitu sangat populer di masyarakatnya. Di Indonesia dikenal dengan wayang kulit dan di Yunani dikenal dengan karaghiozis. Menggunakan karakter dan media wayang, masyarakat kedua negara merayakan dunia sehari-hari dan menampilkan citra dirinya dengan terbuka.
Tak terlalu mengherankan, hubungan Indonesia dan Yunani sudah berlangsung berabad-abad lamanya melewati jalur pedagangan dan agama negara-negara Arab dan Turki, melalui persentuhan (budaya) secara tak langsung.
Persamaan sejarah kawasan dan kultural itulah yang pada 2004 dibawa ratusan seniman dan budayawan di bawah koordinasi Taufik Rahzen dalam upacara Cultural Olympiad ke Yunani. Mestinya pintu gerbang hubungan kultural itu diikuti misi ekonomi dan politik. Ternyata tidak.
Ekspor Indonesia ke Yunani hingga 2012 ini saja nyaris mendekati 0 persen. Sementara misi politik “studi banding” anggota Badan Kehormatan (BK) DPR  pada 23-30 Oktober 2010 justru dikalungi kutukan dan makian karena memboroskan dana rakyat.

Memang, kita sudah lama menyaksikan bagaimana jalan kebudayaan dan jalan ekonomi politik di Indonesia berpisah dan saling memunggungi.

Tulisan ini pernah dimuat Jawa Pos, "Bola Kultural", 6 Juni 2012

No comments: