23 July 2007

Kalian Mau Jadi Penulis atau Pengeluh?

::muhidin m dahlan

Ada seorang profesor berkata kepada seorang penulis partikelir: “Semua sudah pernah ditulis, dan ditulis dengan lebih baik daripada kamu bisa melakukannya. Jika kamu berniat menulis tentang cinta, tragedi, dan petualangan... lupakan saja, karena semua itu sudah dilakukan Shakespeare, Dickens, Tolstoy, Flaubert. Kecuali jika kamu mempunyai sesuatu yang benar-benar baru untuk dikatakan, jangan jadi penulis. Pelajarilah akuntansi!”

Atas komentar seperti ini, sastrawan kelahiran Chicago, Irving Wallace (1916-1990), gusar dan membentak: “Kata-kata ini konyol, benar-benar bodoh. Bukankah setiap emosi tak pernah persis sama. Bukankah tak pernah ada yang melihat cinta atau merasakan benci persis seperti kau melihatnya.”

Kisah itu adalah salah satu semangat pembangkit energi menulis yang tersaji dalam buku Chicken Soup for The Writer’s Soul. Buku yang disusun Jack Canfield, Mark V Hansen, dan Bud Gardner ini saya dapatkan dari Toga Mas Jogja pada 22 Juli 2007. Terus terang, saya belum pernah membaca buku Chicken Soup. Tapi membaca buku ini persepsi saya tentang menulis jadi bertambah dan kegairahan pun kembali menyala.

Di sini ada 42 kisah yang coba membekap energi negatif yang menghalangi seseorang menjadikan menulis sebagai profesinya. Ditulis bergaya esai pendek dan dengan bahasa yang menggugah. Mungkin pembaca Indonesia tak terlalu akrab dengan nama-nama di dalamnya dan buku-buku mereka, tapi semangat mereka menjadikan menulis sebagai profesi adalah semangat para ksatria di medan tempur dan patut ditauladani.

Sedari awal saya sudah haqqul yaqin bahwa sebagai sebuah profesi jelas menulis bukan jalan main-main. Diperlukan sabuk pengaman yang ketat agar tak terhempas terbuang. Betapa banyak penulis yang hanya berkoar-koar ingin ingin dan ingin menulis. Tapi lebih banyak lagi yang terantuk sedikit saja terus meringis cengeng. Mereka mengeluh tak bisa menulis karena kesibukan ini dan keruwetan itu.

Salahkah mengeluh? Tentu saja tidak jika diartikan bahwa keluhan dan kesengengan itu hanya sebuah usaha menghilangkan katarsis atau ketertekanan diri oleh virus block writing. Tapi ada juga yang kerap menjadikan mengeluh sebagai pekerjaan utama. Dia lebih banyak mengeluhnya daripada terus menerobos kesulitan menulis. Nah, jika kesibukan mengeluh itu yang membuat mereka depresi lalu lumpuh, itu namanya penyakit. Dan pastilah menulis lebih banyak berhenti pada angan-angan.

Nah, tipe manusia seperti ini yang membuat masygul Carmel Bird, penulis buku Dear Writer: The Classic Guide to Writing Fiction. Dia tak habis pikir, bagaimana bisa menulis itu perkara gampang-gampang saja. Bagi Bird, menulis itu memang menyenangkan. Namun bukannya tanpa risiko. Bahkan bisa dibilang menulis adalah ritual antikeluarga dan antisegalanya. Untuk itu, penulis kelahiran Tasmania itu menekankan lajur keberanian untuk tetap bisa menulis dan ngotot mengesampingkan pekerjaan rumah tangga, kehidupan sosial, mengesampingkan hal-hal yang menghambat dalam menulis. “Jika Anda ingin aman dan terbebas dari bahaya dan gangguan, jangan menulis...,” tegas Bird.

Nyaris saja Cristine Clifford bunuh diri setelah tahu bahwa semua keluarganya terserang kanker. Tapi impiannya menjadi penulis komik terkenal yang kemudian menyelamatkan kesuraman hidupnya. Di tengah derai kesedihan yang menyayat hati dan maut menguntit raga, dia pindah dari satu toko buku ke toko buku lainnya hanya untuk mengejar mukjizat. Dia juga dikatai gila oleh penjaga toko ketika menanyakan buku komedi tentang kanker. Dia ingin mencari tahu barangkali ada selapis tipis lelucon dalam kesakitan kanker itu. Usaha yang melelahkan itu berbuah hasil. Kedua bukunya yang ditujukan untuk anak-anak—Not Now... I’m Having a No Hair Day! dan Our Family Has Cancer, Too!—memenangkan penghargaan dan mendapat sambutan internasional.

Mungkin kalian tak mengenal nama Alexander Murphy Palmer Haley (1921-1992). Tapi kalau disebutkan judul buku The Autobiography of Malcomm X, pastilah kenal. Alex-lah penulis buku masyhur itu. Tapi buku Roots yang justru melambungkan namanya dan diganjar Pulitzer Prize pada 1977. Tapi nyaris tak banyak yang tahu bagaimana Alex memulai semua itu sebagai putera imigran Tennesse yang jadi budak di geladak kapal, sesekali membantu para pelaut menuliskan surat cinta mereka buat perempuan-perempuan di darat, dan dihinakan karena berkulit gelap. Tapi dia tak tertekuk walau dipanggil oleh tentara neo-Nazi sebagai simpanse dalam sesi wawancara untuk majalah Playboy. Buku Roots dikerjakannya selama 12 tahun untuk meriset genealogi leluhurnya, Kunta Kinte, dan ditolak oleh banyak penerbit sebelum sukses dan dia menjadi pembicara paling ditunggu. Ketenarannya mungkin setara dengan Oprah Winfrey saat ini.

Nyatalah bahwa menulis berarti sebuah laku ketekunan. Bahkan untuk menulis tentang koboi saja, penulis prolifik yang telah menulis 300 buku fiksi, Chet Cunningham, mesti ke toko buku dan memborong 25 novel koboi. Dari novel-novel itu dia mencatat kata-kata dan berbagai frase yang lazim dipakai di era dan dunia koboi, seperti permainan senjata api koboi kuno. Dengan cara itulah Cunningham menciptakan tokoh dan karakter yang unik di novelnya Bushwhacker on the Circle K.

Adalah Patricia Lorenz pada September 1992 nekad meninggalkan pekerjaannya yang telah memberinya gaji yang pantas selama bertahun-tahun. Awalnya dia nyaris gila karena menulis ternyata tak seromantik yang dia bayangkan sebelum kunci itu ditemukannya. Bahwa, walaupun bekerja di rumah, menulis juga butuh disiplin dan keberanian untuk jangan nonton TV. Dia menyusun jadwal hariannya dan disiplin melaksanakannya: 8 kilometer naik sepeda selama lima hari, setiap hari minum lima gelas air, lima menit membaca kitab suci, lima artikel dibaca setiap hari, dan lima artikel diposkan setiap minggu.

Pada akhirnya dengan ketekunanlah dan bukan tabiat lebih suka mengeluh ketimbang memaksakan diri bekerja sampai titik keringat penghabisan, profesi menulis bisa menjadi sandaran utama kehidupan.

Di Indonesia, menyandarkan hidup dari menulis mungkin masih barang asing dan pilihan yang terkesan nekad. Tapi buku ini sudah menunaikan tugasnya untuk memancing kita merancang kerja kepenulisan sebagai sebuah karier yang menantang dan sekaligus menakjubkan.

6 comments:

peranita said...

sebenarnya dah bosan baca chicken soup, enakan sop ayam ato mie ayam ato ayam goreng. lo?
ya..Gusmuh, aku jadi pengen ngubek2 lemari buku gramedia lagi...
penasaran aja...
penulis?
not my way of life..but i like it!

Muhidin M Dahlan said...

Pera, kalau dirimu sudah kekenyangan makan chicken soup, malah saya nggak sama sekali kecuali buku ini. Sebetulnya saya nggak terlalu suka sama sup ayam atau mie ayam, tapi lebih gandrung pada SUP IKAN (segar) dan tentu saja rawon (black soup)....

Aji Setiawan said...

Menulis itu mudah...

kasman said...

pokoknya saya mau meulis
apapun komentar orang tentang tulisanku

emang gue pikirin...
yang penting semangat dulu...

Muhidin M Dahlan said...

@Kasman:Benar, mesti semangat dulu. Dan untuk kesekian kalinya Pram saya kutipkan di sini: Menulislah terus. Jangan pedulikan apa dibaca orang atau tidak. Suatu saat pasti tulisan itu akan berguna.

SEKJEN PENA 98 said...

Di sini ada cerita
Tentang cinta
Tentang air mata
Tentang tetesan darah

Disini ada cerita
Tentang kesetiaan
Juga pengkhianatan

Disini ada cerita
Tentang mimpi yang indah
Tentang negeri penuh bunga
Cinta dan gelak tawa

Disini ada cerita
Tentang sebuah negeri tanpa senjata
Tanpa tentara
Tanpa penjara
Tanpa darah dan air mata

Disini ada cerita tentang kami yang tersisa
Yang bertahan walau terluka
Yang tak lari walau sendiri
Yang terus melawan ditengah ketakutan!

Kami ada disini
www.pena-98.com
www.adiannapitupulu.blogspot.com