27 April 2013

OSK

27 April 2013. Laki-laki kecil 9 tahun itu melangkah sunyi dalam gedung sekolah tua Katolik di Alun-Alun Utara Keraton Yogyakarta. Memanggul ransel berisi majalah sains edisi lengkap Kuark Tingkat II, mungkin hanya laki-laki kecil ini yang memakai kaos Kuark kuning-hijau itu.

Kedatangannya ke gedung tua SD Pangudi Luhur berlaga untuk kedua kalinya sebagai semifinalis Olimpiade Sains Kuark. Ia lolos ke semifinal setelah menjadi satu-satunya pendaftar dari sekolah asalnya di Padokan II, Kasihan, Bantul. Dan barangkali hanya ia sendiri pula yang berlangganan majalah sains itu di sekolahnya. Majalah yang dikirimkan padanya atas namanya sendiri. Kerap ia tersipu aduhai saat disinggung soal ini. Entah apa yang dibayangkan lelaki kecil ini dengan nama yang mengarah ke dirinya.

Di papan pengumuman yang menghadap ke selatan, ia mengetahui di mana ruangannya, di lantai berapa, di meja urutan berapa. Seperti laki-laki yang sudah berpengalaman menghadapi arena yang sama, berkali-kali, ia bergegas menaiki tangga. Takjub sesaat. Katanya: "Sekolah ini besar sekali."

Tentu ia belum tahu bahwa sekolah pasturan ini menjadi saksi berbagai peristiwa sejarah yang dipanggungkan di Alun-Alun Utara Kota Yogyakarta yang terlihat jelas. Gemuruh sejarah Indonesia. Arak-arakan politik, agama, sosial, upacara, dan ekonomi semua-muanya pernah terjadi di alun-alun utama Ibukota kaoem Republiken ini. Maklum saja, jarak gedung Pangudi  Luhur hanya seteriakan dari Istana Raja Mataram.

Laki-laki itu makin tertegun saat ia tahu, di ruangan 2, di lantai 2, ia orang pertama datang. Mengambil duduk di tengah ruangan. Ruangan besar itu bertambah-tambah lapangnya bagi tubuhnya yang kecil, kurus, dan pemalu.

Mengikuti Olimpiade Sains adalah kemauannya yang kuat. Sejak kecil, kira-kira berumur 2.5 tahun, di veteran I, Monas, Jakarta, di hadapan mantan Kepala Sekolah SD di Kota Sumbawa, ia memperlihatkan ketakjuban tak terperi saat melihat biang es untuk es krim ragusa yang legendaris itu mengeluarkan asap mengepul-ngepul dalam gelas berisi separuh air. Juga pernah menatap nanar film Hugo Cabret tentang mesin waktu dan suara-suara detakan jam di tengah kota Paris. Dan ia pun melahap buku tebal karya Brian Selznick yang diterjemahkan Bentang Pustaka. Seperti mendengar detakan mesin waktu yang ditabur di halaman-halaman buku.

Laki-laki kecil yang rendah diri, kurus, pemalu, tapi kuat bersepeda hingga 30-an kilometer itu tak mengenal Albert Einstein. Tapi nama Stephen Hawking dihapalnya. Novel Hawking bergenre anak-anak tentang perjalanan ke luar angkasa dilahapnya. Bahkan soal "Lubang Hitam" (Black Hold) menjadi musabab utama dia membikin email dengan dibantu secara gelap-ilegal oleh salah satu admin @radiobuku dan sekaligus deklamator sajak. Lewat email itu ia mengirim pertanyaan kepada redaksi majalah sains Kuark tentang "Lubang Hitam". Padahal, nyaris tiap hari di Youtube ia menonton hal-ihwal "Lubang Hitam" dan buana tata surya. Untuk apa bertanya jika ia sendiri sudah tahu jawabnya? Mungkin ini yang disebut eksistensi diri di ruang publik.

Di ruangan yang lapang dan lengang Pangudi Luhur, laki-laki tanggung dengan ujung celana hijau yang makin jauh dari mata kakinya itu menunggu gelisah. Seperti Einstein menunggu waktu di ruang seorang juru tulis di sebuah lab yang dituliskan dengan detail dan mengharukan oleh novelis Allan Lightman. Ia hendak menguap, tapi ditahannya. Hanya matanya yang merah dan rambut berantakan lupa disisir yang berbicara bahwa lelaki kecil ini mengantuk berat. Terlalu subuh ia bangun.

Empat puluh tiga menit tiga puluh delapan detik ruangan perlahan-lahan riuh. Berombong-rombongan anak-anak sebayanya memasuki ruangan dengan dibantu dengan sangat sibuk guru-gurunya. Dan laki-laki kecil ini seperti merasai sunyi yang hebat di tengah hiruk-pikuk rombongan dari pelbagai Sekolah Dasar dari pelosok kota Yogyakarta. Ia ke olimpiade ini tak diantar oleh satu pun gurunya. Mungkin karena itu juga ia tak mau memakai seragam sekolah dari mana ia berasal. Ia memilih netral dan independen: memakai kaos satu-satunya pemberian panitia Olimpiade Sains Kuark tiga bulan silam di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Sambil menunggu, mungkin laki-laki ini bisa membuka kembali majalah sains Kuark yang ada dalam tasnya. Tapi tak dilakukannya. Pasti dia malu sekali. Padahal sejak pukul lima subuh atau jauh-jauh hari sebelumnya ia sudah bilang membawa semua edisi Kuark yang diujikan dan dibaca saat menunggu waktu bel berbunyi tanda olimpiade dimulai.
Dan toh, laki-laki yang menyenangi ilmu pengetahuan alam dan dunia mesin dan mulai tak betah dengan hapalan agama dan ogah-ogahan dengan pelajaran bahasa Jawa ini tak juga membaca ulang majalah sains Kuark yang memberati tasnya. Ia malu. Tapi mungkin angin-anginan. Seperti hari-hari sebulanan sebelum hari ini. Majalah sains Kuark dibacanya serendengan dengan komik Tintin dan tablet game. Dalam sehari mungkin hanya setengah jam membaca Kuark, dua jam membaca komik, dan tiga jam bermain game. Buku pelajaran sekolah? Nyaris tak pernah dibukanya di rumah.

Dan kini laki-laki kecil dan tanggung ini di sini dengan mengantongi nomor 2160103044. Memakai kaos majalah sains Kuark, duduk gelisah dengan mata merah menahan kantuk, laki-laki pendiam dan rendah diri ini mengeluarkan peralatannya: sebilah pensil 2B, sebiji penghapus, dan sebuah peraut. Di meja kayu berwarna coklat itu ia menerima lembar soal. Satu setengah jam ia akan berada di dunia yang lain. Di dunia sains yang dilihatnya di game, Youtube, novel, dan komik. Tentang anatomi tubuh manusia, dunia hewan dan tumbuhan, astronomi, penyakit, kesehatan, gunung, laut, ekosistem, dan jagad besar.

Laki-laki kecil, tanggung, rendah diri, dan senyumnya malu-malu kepada mereka yang memujinya itu bernama Dipa Pinensula Whani. Fotonya saat berusia 3,5 tahun memakai caping memegang alat pertukangan: palu dan arit bisa dilihat di profil blog ini.

1 comment:

jejak bayangan said...

Siapa dulu ayahnya...