06 May 2013

Persamuhan (Buku) Sastra Jogja

::gus muh 

Persamuhan adalah pertemuan, perbincangan, dan sekaligus peristiwa kultural dalam sistem berkomunikasi sebuah komunitas. Persamuhan bisa pula dianggap sebagai refleksi bersama tentang suatu hal dalam sebuah ruang dan waktu secara bersamaan. Keserentakan komunikasi dalam ruang dan waktu yang sama menjadi jantung dari persamuhan. Tidak saja persamuhan itu menempatkan percakapan langsung dari pelbagai agensi (buku) sastra dari macam-macam kota, namun juga menjadikan (buku) sastra sebagai jantung persamuhan.

Sepanjang tahun 2012 hingga Mei 2013 terdapat dua persamuhan (buku) sastra yang menarik untuk dicatat kembali. Tidak saja persamuhan itu menempatkan percakapan langsung dari pelbagai agensi (buku) sastra dari macam-macam kota, namun juga menjadikan (buku) sastra sebagai jantung persamuhan.

Persamuhan pertama yang ingin saya catat kembali adalah "Musyawarah Agung Penulis Cerita Silat & Sejarah Nusantara". Persamuhan yang digelar sebagai upacara kebudayaan pertama Borobudur Writer & Cultural Festival pada 28-31 Oktober 2012 itu menghadirkan lebih kurang 300 peserta dan sebagian dari itu adalah peneliti, penulis, pembaca, maupun penerbit cerita silat. Persamuhan ini, walaupun diselenggarakan di Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, tapi pembukaan dan penutupan dilangsungkan di Kota Yogyakarta.

Atmosfer yang terjadi adalah buku cerita silat kembali ditandai dalam sekuen waktu bersama, percakapan secara bersama, dan sekaligus secara bersama melacak lini masa penting jatuh bangunnya cerita silat dalam gelombang sejarah (buku) sastra Indonesia.

Buku cerita silat tak hanya dikeluarkan dari kutukan sebagai bacaan kelas sudra dunia sastra, melainkan juga ditarik ke tengah, diperlihatkan, diperdebatkan, dan dicatat kembali pencapaian-pencapaian estetiknya.


Persamuhan kedua adalah Apresiasi Sastra (Apsas) yang sudah lima tahun secara berturut-turut menggelar persamuhan (buku) sastra di Yogyakarta. Persamuhan ini menarik oleh sebab dua hal. Mereka adalah perwakilan dari sebuah masa yang tak pernah dibayangkan oleh generasi SH Mintardja yang pada "Musyawarah Agung" dianugerahi Sang Hyang Kamahayanikan Award.

Generasi digital ini atau akrab saat ini disebut media sosial membawa pembaharuan di segala lini tentang cara berkumpul, berkomunikasi, dan membangun intimasi.


Apsas adalah anak kandung globalisasi yang lahir dari revolusi komunikasi bernama intenet. Salah satu khas dari generasi digital ini adalah matinya jagoan. Mereka bisa berkomunikasi dengan siapa saja, kapan saja, di mana saja. Batas usia, wilayah, waktu, nyaris nihil.

“Generasi Z” ini bisa tahan hingga 20 jam dalam sehari berada dalam labirin gadget yang ada di sakunya. Mereka pada detik ini menyapa seorang presiden, sementara pada saat yang sama sibuk menggoda pemilik avatar dengan tampilan yang mengudang berahi.

Generasi atom yang lahir ketika abad 20—abad yang senang sekali memproduksi diktator dan penjagal di medan perang besar—mengutuk generasi ini karena merayakan kesunyian dan kesendirian. Namun para pengutuk lupa bahwa setiap masa melahirkan generasi dan teknologinya.

Di titimangsa ini Apsas adalah anomali. Ia berada di antara perpindahan titik-titik yang dinamis antara sastra dibangun oleh individu per se dan keinginan kodrati merayakannya secara bersama dalam persamuhan.

Mereka menyebut persamuhan sebagai kopdar (kopi darat). Tapi berbeda dengan kongkow, arisan, seminar. Di sini, buku yang menjadi jantung persamuhan. Buku pula yang mendapatkan kehormatan berada di depan, sementara penulis berlega hati untuk duduk di barisan belakang menyaksikan bagaimana anggota yang lain membaca buku itu secara bebas.

Sementara atmosfir lain yang terbangun dengan dihadirkannya hampir semua agensi (buku) sastra: penulis, penerbit, penjual, perpustakaan, dan pembaca.

Buku adalah juga “mata uang” dalam persamuhan Apsas yang menjadikannya berbeda dengan “Musyawarah Agung”. Pembaca kritis dibayar dengan buku dan penonton yang berpendapat juga dibayar dengan buku. Dan “uang buku” itu dipilih secara bebas pula.

Inilah kehangatan egalitarianisme dalam persamuhan sebuah generasi baru di era baru. Tak ada senioritas. Tak ada hirarki mana lebih tinggi, penulis yang tinggal di Kawasan Thamrin Jakarta Pusat ataukah di pojok kampung Ciseel, Lebak, Banten. Tak ada sentimen mana yang lebih jenial, sastrawan urban dari Bandung ataukah dari Kendal. Asal kota hanyalah penanda tiket keberangkatan dan kepulangan. Mereka datang dengan satu keinginan yang sama: merayakan (buku) sastra dalam persamuhan.

Sastra Tak Habis


Selain Apsas, generasi baru komunitas sastra Jogja yang memiliki corak yang sama dengan memanfaatkan internet sebagai penanda masih bisa dideretkan. Sebut saja beberapa: Rumah Puitika, Literati, Lidah Ibu, Media Sastra, Assarkem, dan Indie Book Corner.

Generasi baru komunitas sastra ini lahir dalam semangat egalitarianisme dan kebebasan berpendapat. Ciri utama mereka tak terbebani oleh masa silam yang terus-menerus diagung-agungkan, walaupun mereka mengenal sejarah masa silam mereka dengan sangat mudah via wikipedia.

Generasi “kini & di sini” ini menjawab tantangan di hadapan mereka dengan enteng. Tanpa tokoh dan yayasan yang formalis. Dan tentu saja tak jerih komunitasnya mati cepat. Sebab mereka tak bersandar pada struktur, melainkan komunikasi yang intim di jejaring sosial. Dan di jejaring itu, informasi apa pun bergerak dalam hitungan detik; mulai dari peristiwa sastra hingga penyair yang patah hati.

Ciri yang paling menonjol adalah mereka tak hanya merayakan sastra, tapi sekaligus menjadi produsen pengetahuan sastra lewat penerbitan-penerbitan buku secara mandiri. Teknologi produksi (buku) sastra yang makin personal memungkinkan terbentuknya kultur egalitarianisme dalam berkarya. Jenis bacaan tak lagi didikte penerbit (modal) besar, tapi ditentukan oleh sesama komunitas.

Generasi yang ke mana-mana membawa kabel gadget ini terus berkarya dan berkumpul. Tak mesti bikin persamuhan di pusat budaya semacam Taman Budaya, Gedung Kebudayaan, melainkan bisa di café, warung kopi, maupun taman kota. Syarat suatu tempat layak jadi tempat persamuhan hanya dua: ada wifi dan colokan listrik.

Generasi ini juga yakin dunia merekam dengan detail apa yang mereka lakukan. Mereka nyaris tak ada dalam arsip perpustakaan kampus yang memiliki jurusan “Sastra Indonesia”. Atau di perpustakaan tua yang dikepit rumah-rumah niaga yang makmur di Malioboro.

Mereka menanam nama di perpustakaan digital paling besar di jagad ini. Ketik saja kata kunci tentang mereka maka mesin pencari internet menyodorkan data mahabanyak dalam waktu sekian detik.

Sastra, pada akhirnya, selalu berdetak dalam kota (yang ditanami pita-pita wifi). Kini. Di sini. Tak pernah hilang dan sunyi.


* Versi ringkas dimuat Kedaulatan Rakyat, Minggu 5 Mei 2013

1 comment:

ekspedisi.org said...

mantap..Bagus Artikelnya...