10 August 2013

Museum Pemusnah Dokumen, Percobaan Kedua

:: gus muh

Buku puisi yang ganjil. Judul yang ganjil. Penyairnya pun ganjil. Masa paling bersinarnya di sepertiga akhir abad atom, sampai di peralihan abad, dan penyair itu belum meredup juga.

Kau baca pengumuman diskusi buku dari penyair yang sepertinya tahu cara membentengi medan kesadarannya dari kepikunan itu di halaman facebook dengan disesaki tanda tanya.

Bukan. Bukan itu. Bukan itu yang menyesaki pikiranmu, tapi ujian kedua yang kauhadapi. 

Pemusnahan dokumen fisik yang diam-diam tapi intensif kaulakukan di rumah 3x3 metermu itu hanyalah jangkar memperbaja pedalamanmu bahwa yang kaulakukan ini adalah benar. Terkadang kaubayangkan kau seperti aparatur negara yang paranoid terhadap isi buku, lalu merampas paksa buku itu, dan kemudian memusnahkannya. 

Kau mengelak disamakan dengan algojo-algojo buku itu. Kau memusnahkan untuk sebuah keabadian yang lain. Terlalu banyak buku menumpuk jelas adalah penyakit. Ia mirip benda kimiawi yang kadaluwarsa di gudang tua yang dirembesi air hujan yang jika tak dimusnahkan akan menyebarkan penyakit tak tertanggungkan.



Vonis dokter menyadarkanmu bahwa debu yang diproduksi buku adalah virus yang bisa membekap napasmu. Kesakitan itu memperbaja semangatmu bahwa kau tak hanya menyingkirkan buku-buku yang menonggaki tubuh-tubuh buku itu dari ruang pribadimu, melainkan juga membasminya dari ingatanmu. Sebab memiliki buku serumah adalah pertanda jiwa yang sakit.

Lantaran itu kau bersihkan sebersih-bersihnya jiwamu dari bukubuku tubuh-buku itu. Tiap hari mentalmu kau bentuk dengan mencabut roh-roh buku itu dengan perantaraan cahaya. Tiap hari ada tiga buku yang kaujagal di meja kecil berlapis kaca riben tebal. Lalu kau tampung roh-roh itu dalam perpustakaan dua ubinmu. Jalan terakhir kaulakukan adalah membakar bangkai buku itu di pinggir lapangan dekat kuburan ketika malam mulai pekat oleh gelap.

Memperbaja mental dengan melatihnya setiap hari membuatmu kehilangan rasa kasihan ketika sebuah buku kauletakkan di atas meja jagal. Buku apa pun itu, buku baru atau akuatik. Tanganmu makin terlatih. Perasaanmu makin membeku oleh dendam masa lalu. Kuli pelipis kirimu berkedut-kedut ketika tanganmu memegang pisau cutter yang berpipih tipis dan mengkilap itu. Dan tak lama kemudian, daging-daging buku itu berhamburan.

Kau yakin bahwa tindakan yang kau lakukan nyaris tiap hari ini adalah tindakan benar. Karena benar, maka penting untuk dibagi.

Ya, menjagal buku dalam kamar tertutup dan ruang terbuka tentu memiliki sensasi yang berbeda. 

Jika di ruang tertutup musuhmu adalah dirimu sendiri, sementara di ruang terbuka musuhmu bisa berlapis-lapis dan tak terduga.

Bahwa pemusnahan dokumen adalah tindakan publik. Bahwa penghancuran data adalah sebuah tontonan. Enigma pemusnahan bisa menarik perdebatan dan menjadi prosedur bila tindakan itu diketahui publik. Pada saat seperti inilah tindakan penjagalanmu ini berubah menjadi tindakan ideologis. Atau sebaliknya bisa juga dianggap kehinaan dari seorang anak kecil yang merengek-rengek mengemiskan perhatian.

Diskusi buku puisi Museum Pemusnah Dokumen itu berada di kedai kopi tua yang dikelola komunitas yang juga sudah tua di depan persis sebuah bioskop yang juga usianya sudah hampir seabad. Kau memacu sepedamu ke sana sambil mencangklong sebuah tas kulit berisi peralatan jagal buku sederhana. Kau melewati 27 gang kecil di kampung-kampung kota selama dua jam tiga belas menit. 

Mula-mula kau mencari toilet untuk bersalin pakaian yang basah oleh keringat. Kau basuh mukamu yang berdebu dan mengoleskan cairan parfum di beberapa bagian tubuhmu.

Kini kau tampak segar. Harum tubuhmu jelas tercium lembut, tidak mencolok, di antara hiruk-pikuk ruang diskusi. Ada beberapa penyair dan penulis esai yang kau kenal. Juga novelis. Selebihnya anonim. Jika bukan karena ayahmu yang memaksamu menyukai buku dan dokumen, barangkali kau tak pernah melihat pesta-pesta kecil seperti ini dan kau tetap akan terlempar dalam game-game yang memabukkan fantasi, harapan, petualangan dan animo menjadi seorang pemenang dan penakluk sebagaimana campuran antara semangat Colombus, Kubilai Khan, dan Napoleon.

Kau menuju meja paling sudut, meja paling jauh dari panggung kecil yang menjadi pusat dari pesta pemusnah dokumen ini. Belum juga kau duduk, di pintu depan terjadi kegaduhan kecil. Di kerumunan itu muncul laki-laki tua pendek berkepala plontos. Jalannya membungkuk tanpa tongkat. Tangan keriputnya disalami oleh banyak pengunjung muda tanpa barisan. Beberapa bahkan menciumi punggung tangannya dengan takzim sambil membayangkan tangan jenius itu yang menjadi pipa lahirnya karya-karya yang selama ini menjadi kiblat puisi Indonesia 50 tahun terakhir. Paling tidak laki-laki tua itu punya pengikut dalam hal gaya.

Ayahku pernah bilang, ketika lelaki tua itu menerbitkan buku puisinya yang pertama, arah kepenyairan bergetar. Di masa revolusi, gaya berpuisi berkiblat pada "atau", merdeka atau mati, semangat pilihan harus tegas. Kata-kata adalah perlawanan yang ekstrintik.

Zaman berganti ketika pengucapan berkiblat pada "dan", pilihan tak mengutub, tapi beragam walau terbatas, pembebasan makna dari kata. Puisi pun boleh bebas dari tuntutan kritis terhadap realitas sosial.

Ketika kreativitas kata yang terus mengeksploitasi pencarian diri dalam interior manusia terjebak pada kejumudan, laki-laki yang kini menjadi sangat renta ini muncul membawa perubahan penting.

Kata tak hanya dilepaskan dari kenyataan sosial yang membuat puisi menjadi tak ubahnya pamflet sosial, melainkan kata juga dicerabut dari ketakjuban yang berlebihan pada pedalaman manusia, kesunyiannya, kesendiriannya. 

Kata menjadi "dan/atau", kata tak dicerabut dari maknanya, tapi ditunda. Manusia sebagai subjek digeser ke benda-benda dan makhluk-makhluk yang lain. Semua boleh jadi subjek sekaligus objek, semua punya hak menyatakan diri dan membawa cerita. Anjing, hujan, batu, rumah, museum, pisau dapur, gunting, bulu, buku, jam tangan, adalah serangkaian benda-benda yang punya kesempatan merayakan suaranya. "Dan/atau" adalah penundaan dominasi dan perayaan hak berkisah untuk semua benda dan makhluk tanpa kecuali.

Kau kini bisa membenarkan dongengan ayahmu tentang penyair yang ditakzimi banyak orang ini. Mungkin mereka sudah melahap semua buku-bukunya. Sementara kau tidak. Atau belum. Kau menuju meja besar paling depan di mana buku-buku dijejer seperti pindang. Kau mengambil buku Museum Pemusnah Dokumen, satu eksemplar, membayar dengan kartu kredit, lalu kau kembali ke meja tersudut.

Sejak pukul 19.12 malam itu, kau resmi memegang buku penyair uzur itu untuk kedua kalinya dari dua buku yang berbeda. Yang pertama adalah buku puisinya yang pertama yang menggetarkan zaman dan membuat abad perpuisian lari dan menari, sementara yang kedua adalah buku ini, mungkin sekaligus buku terakhirnya, tentang abad kemusnahan. Lebih baik begitu. Orang tua yang terlalu berumur sama menjengkelkannya dengan anak belia yang selalu memaksa orang lain untuk memperhatikannya.

Dua jam berlalu. Lebih kurang begitu. Kau orang ketiga bertanya dari tempat terjauh. Lantas itu kau berdiri mengacungkan tangan. Moderator melihatmu dan menunjukmu.

Katamu terbata, pemusnahan dokumen adalah watak masa. Setiap masa kita saksikan pemusnahan yang berlangsung terus-menerus. Kata Borges, setiap sekian abad, perpustakaan Aleksandria harus dibakar agar masa kini berdiri kokoh.

Penghancuran adalah jiwa semua zaman di semua kawasan: Asia Timur dan Tengah, Eropa Timur dan Barat, Amerika Utara, Tengah, dan Selatan, Afrika. Hanya bentuknya saja yang berbeda.

Pemusnahan tak mesti dengan pembakaran dan pelarangan. Pemusnahan boleh jadi musabab alam seperti tsunami, kebakaran, badai ganas; juga tersebab oleh gerombolan pengerat seperti kutu dan serangga. Ada pula musabab sebuah buku musnah karena lenyapnya satu-satu bahasa. Yang lebih subtil lagi sebuah buku bisa musnah karena ditolak oleh penerbit. Atau bisa pula, walau terlihat seperti keteledoran kecil, buku musnah karena tertinggal di pinggri sungai saat dua sejoli beradu mesra, atau mungkin terjatuh di antara sambungan gerbong kereta api yang berjalan cepat.

Penghancuran terjadi setiap masa. Terjadi setiap hari. Kau bilang, kau sepakat dengan penyair uzur berkepala keriput dan matanya sudah berkantung tebal itu, bahwa museum pemusnah bisa berganti dengan apa saja: universitas, mobil boks yang tiap hari berkeliling kota mencari dokumen untuk dihancurkan, saudagar sampah, profesor yang mengalami kebangkrutan ekonomi, dan juga peralihan terknologi. Setiap jiwa adalah agen pemusnah.

Orang-orang celingukan. Heran campur resah. Siapakah aku ini? Aku pemuja ataukah sekaligus pemusnah? Aku produsen literasi metamodern atau sebetulnya pemusnah bahasa leluhur dari masa jauh?

Kau duduk kembali. Memperbaiki posisi duduk di kursi plastik kuning dan menarik napas panjang. Perhatian semua orang tertuju kembali pada penyair tua yang lebih memilih hidup sendiri di rumahnya yang teduh di bibir curut. 

Saat semua sudut mata tak lagi menghiraukanmu, kau keluarkan mistar besi sepanjang setengah meter. Kau rogoh cutter besar dengan pisau pipih yang bersih dan mengkilat. seperti dokter bedah kau cepat bertindak. 

Mistar itu menekan sisi binding buku Museum Pemusnah itu, sementara ujung pisau dengan kemiringan 30 derajat melukai daging-daging kertas itu. Kau bergerak cepat dan harus cepat agar tak terjadi huru hara yang tak diinginkan. 

Tapi tanganmu yang memegang kuat cutter itu tak secepat kerlingan mata. Seorang pemuda berkaos hijau pupus melihat tindakanmu. Ia berteriak untuk memanggil mata-mata yang lain. Kau terkesiap. Ada bulir keringat dingin timbul di keningmu. Kau jadi gugup. Mistar besi tergerak dari pijakan awalnya. Pisau bedahmu mencabik garis daging buku yang tak semestinya. Kertas-kertas itu terhambur di atas meja. Kau segera mencauk dengan refleks kertas-kertas itu. 

Belum sempat kau beranjak dari kursi plastik kuning itu sekepalan tangan didorong keras ke mukamu. Kau terduduk sambil memegang wajahmu. Dari nanar matamu kau tahu bahwa pelipismu mengucurkan darah. Tangamu mencauk darah mukamu, darahmu sendiri. Kau memang masih mendengar moderator dengan pengeras suara yang memekak menghentikan pengeroyokan atasmu karena ketakterimaan tindakanmu yang menghancurkan buku sang pujaan.

Kau juga masih bisa menjawab terengah-engah ketika moderator berkata siapa kau sesungguhnya. Kau menjawab pertanyaan moderator itu walau parau bahwa kau agensi sebuah zaman di peralihan teknologi. Kau bilang kau sahabat masa depan dan musuh masa lalu yang dibela membabi buta. Dan kau menunjuk penyair tua yang berada di podium dengan tangan tergetar dan muka tua yang memucat.

Setelah menerima tiga kali pukulan lagi dari sisi yang tak kauduga kau pun  limbung dan tak teringat apa-apa lagi hingga kau dapatkan dirimu di depan kasir sebuah rumah sakit tua tak jauh dari pusat kota, Pusat Kesehatan Oemat. Kau terima sejumlah nota, membacanya dengan cepat yang kemudian kautukarkan dengan kartu kreditmu. Dengan perban menambali dengan kuat kulit wajahmu yang bonyok, kau mengumpat dalam hati, serakah benar rumah sakit Islam ini memberi harga pada sejumlah obat dan pertolongannya.

Beberapa hari kemudian, jasad buku Museum Pemusnah Dokumen kau bakar di belakang rumahmu dan rohnya kau simpan dalam perpustakaan dua ubinmu. Kau tersenyum kecut mengingat sebuah koran harian lokal yang memberitakan kematian penyair tua di atas podium sebuah kedai kopi pada malam itu. Menurut koran lokal itu, penyair itu mati disebabkan jantungnya dicekik buku puisinya dan irigasi darahnya disumbat oleh museum rekaannya sendiri. (Bersambung)

1 comment:

Irwan Bajang said...

kampret... aku jadi kebayang terus pisau itu ngisi jariku!!!