01 February 2014

Agro Literasi

:: gusmuh

Setelah melanglang ke beberapa negara, pada akhirnya sastrawan masyhur Leo Tolstoy kembali ke kampung halamannya. Di Yasnaya Polyana, demikian nama kampungnya di selatan Rusia, Tolstoy mengelola sekolah desa dan bertani. Pada masa menjadi “petani” inilah lahir dua magnum opus-nya yang kemudian jadi warisan literasi dunia, War and Peace (1863) dan Anna Karenina (1873).


Tolstoy adalah titik temu tanah-tani dengan tradisi literasi. Bagi Tolstoy, bertani adalah salah satu prinsip hidup menjadi “majikan atas diri sendiri dan tidak menghendaki apa pun yang dimiliki orang lain!”
 

Titik temu literasi dan tanah-tani itu adalah agro literasi; sebuah tumbukan kesadaran memelihara pengetahuan, mengasah kebijaksanaan, mempertajam visi sembari menyandarkan kehidupan pada kehidupan tanah-tani.


Secara progresif, tanah pada dasarnya alas kehidupan manusia dan bukan barang komoditas. Seperti dalam selarik puisi Wiji Thukul ”Nyanyian Akar Rumput”, “kami rumput/ butuh tanah/ dengar!// Ayo gabung ke kami/ Biar jadi mimpi buruk presiden!” 
Saat tanah menjadi barang dagangan, bukan saja kemiskinan yang lahir, melainkan guncangan-guncangan sosial dan politik. Polanyi di buku The Great Transformation menyebutnya sebagai “fictitious commodity”. Pengapitalan tanah adalah pengkhianatan atas kehidupan. Pengkhianatan atas tanah inilah yang kemudian melahirkan ledakan-ledakan perlawanan dalam linimasa sejarah.
 

Sadar dengan soal dasar ini, Tolstoy yang notabene berasal dari keluarga aristokrat dengan tanah yang sangat luas pada titik klimaks hidupnya kemudian membagi-bagikan tanahnya kepada para petani dan gelandangan yang ada di Yasnaya. Ia membongkar konsepsi “hak milik” yang menjadi privilege keluarganya. Di atas tanah bersama itulah, Tolstoy mendirikan sekolah desa dan mengajarkan kebijaksanaan dan pencerahan yang mengendap di alam literasi.
 

Terpengaruh oleh Tolstoy itulah, pekerja sosial Ashoka Siahaan mendirikan padepokan dengan nama yang sama dengan kampung Tolstoy, “Yasnaya Polyana”. Bahkan pada medio 2011, padepokan yang berada di lereng Gunung Slamet, Purwokerto, Jawa Tengah ini dikunjungi Vladimir I Tolstoy. Kepala Museum Tolstoy di Moskow ini adalah cicit Tolstoy.
 

Padepokan Yasnaya Polyana di Dusun Peninis, Windujaya, Kedungbanteng, Batu Raden itu adalah contoh paling jelas dari agro literasi. Terutama Indonesia sebagai negara agraris. Yasnaya Polyana memadukan Padepokan Filosofi sebagai sumber pemikiran dan Pondok Tani sebagai sumber penghidupan.
 

Diskusi buku dan diskursus filsafat berjalan beriringan dengan kegiatan pertanian organik yang berkelanjutan (bukan hanya sesaat dan tibanan). Padepokan ini mengajarkan petani pentingnya konservasi dan pelatihan bagaimana “bertani yang baik”, sekaligus mengajarkan kaum terpelajar untuk memahami kehidupan petani sehari-hari lewat praktik langsung berbulan-bulan di lahan.
 

Di Pondok Tani Organik Yasnaya Polyana petani dan kaum terpelajar berbaur mengikuti pelatihan sayur organik, penggemukan sapi dan kambing organik, pembibitan lele, pembuatan nutrisi, maupun penanaman padi sri.
 

Semua aktivitas agro literasi itu adalah upaya yang gigih menanamkan sikap mandiri yang sebenar-benarnya. “Bangga Menjadi Petani” bukan hanya sekadar kredo, melainkan tindakan sehari-hari.
 

Yasnaya Polyana yang dihidupkan Leo Tolstoy (Rusia) dan Ashoka Siahaan (Purwokerto) pada akhirnya menabalkan pasase bahwa pengetahuan bukan tujuan utama, melainkan alat mencapai kebijaksanaan. Rumah Penulis dan Pondok Tani yang berdiri di lahan luas Yasnaya adalah padu-cara bagaimana mengendarai pengetahuan untuk kebaikan kehidupan manusia.

No comments: