13 September 2016

Garuda September: Tari, Politik, dan Angkara

Alunan musik instrumen yang cepat khas Republik Ceko menjadi penanda masuknya sang garuda dan sang dalang di Malam Musik Antarbangsa di Bangka Culture Wave 2016.

Bukan, sama sekali bukan! Mereka tak membawa anak-anak wayang yang biasa Anda saksikan di pementasan wayang umumnya. Sebab, wayang yang dimainkan adalah lima wayang yang dibentuk berdasarkan struktur lima Kepulauan Nusantara terbesar: Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Wayang rupa ciptaan pengelola Rumah Garuda yang masyhur di Yogyakarta ini, Nanang R. Hidayat, dimainkan dan digerakkan tiga orang yang berlainan bangsa dan negara, berbeda bahasa, namun disatukan oleh simbol negara yang sama: elang. Atau dalam konteks Indonesia disebut garuda atau "raja-wali".


Republik Ceko yang terbentuk pada 1993 akibat perpecahan yang dikenal Revolusi Beludru, misalnya, menggabungkan elang dan singa sebagai simbol kenegaraannya.
Selain soal warna bendera yang sama, merah dan putih, Indonesia dan Polandia dipertemukan oleh simbol negara dengan meminjam wujud burung elang. Jika garuda Indonesia didominasi warna kuning keemasan, maka garuda Polandia berwarna putih.

Adalah Katerina Hankeova yang masuk ke Indonesia sejak 2015 dengan membawa kecintaan atas wayang kulit. Mahasiswa jurusan Antropologi untuk kawasan Asia Timur dan Selatan di Charles University, Praha, Republik Ceko ini justru memilih wayang kulit di Indonesia. Ia berusaha memahami Indonesia lewat wayang dan dunia pedalangan di P4TK, Yogyakarta.

Sementara itu, yang menjadi kompatriotnya adalah Ewa Miller yang berasal dari Kota Brzeg, Polandia dan sejak 2015 mendalami tari jawa klasik di Yogyakarta. Mahasiswa dari Universitas Wroclaw ini mengaku betapa sulitnya mempelajari tari Jawa yang pelan dan halus. Sangat berbeda jauh dengan minat musiknya yang cenderung hiphop dengan gerak cepat.

Berkolaborasi dengan aktor teater Unsrat UNY dan pegiat literasi nasional dari Indonesia, M. Faiz Ahsoul, ketiganya memainkan wayang garuda sebagai kenyataan (retakan) rupa-rupa sosial, rekatan imajinasi, dan perlambangan negara dalam konteks politik.

Ketiganya memainkan wayang garuda dengan energi yang melimpah dengan diiringi campuran musik khas Eropa Tengah/Timur dan alunan musik gamelan Jawa yang ritmis. Bentangan sayap yang dibentuk dari kain putih dan ditarikan Ewa Miller secara bergantian antara cepat dan gemulai bukan saja perlambangan garuda putih dari Polandia; garuda putih ini juga menjadi layar bagi sang dalang, Katerina dari Praha, untuk memainkan lima anak wayang yang dibentuk dari pulau-pulau. Dan, pentas yang berlangsung selama 12 menit itu diakhiri dengan penancapan gunungan Garuda Pancasila.

"Gunungan Pancasila itu adalah perlambang bahwa kepulauan yang dihuni berbagai suku bangsa dan bahasa itu dijaga oleh simbol nasional bernama Garuda Pancasila," jelas Nanang R. Hidayat.

Menurut penulis buku Mencari Telur Garuda (2012) dan disertasi doktoralnya di ISI Yogyakarta adalah wayang kepulauan ini, garuda disadari sebagai lambang negara yang nilainya dijunjung dalam berbagai pidato dan upacara, tapi sekaligus kerap diabaikan. Garuda dan nilai luhurnya bernama Pancasila adalah alam batin masyarakat Indonesia yang kelahirannya menjunjung cita adiluhung untuk mencoba menjembatani perbedaan suku bangsa dengan jalan yang unik dan imajinatif, yang oleh Sukarno dirumuskan dalam sila keramat: "Persatuan Nasional" dengan sebaris kalimat pengiring yang tak kalah rumitnya yang disarikan dari naskah tua Sutasoma karya Mpu Tantular: "Bhineka Tunggal Ika", berbeda tapi satu.

Garuda September: Politik Mitos dan Angkara

Pancasila adalah, meminjam kata-kata terakhir dari pentas wayang garuda adalah tanhana angkara, mengatasi angkara.

Angkara adalah realitas, sementara garuda (pancasila) lahir dan tercipta dari mitos yang kemudian menjelma menjadi pembayangan bersama.

"Garuda itu mitos dalam kehidupan politik dan sekaligus politik mitos. Ia adalah elemen yang menjadi sengketa tiada habisnya, juga dari mana bangsa yang plural seperti Indonesia didamaikan," kata Prof Jean Couteau. Budayawan asal Prancis yang sudah lama menetap di Bali dan menekuni dunia simbol dan ikon ini menegaskan jalan simbolik garuda itu dalam orasi budaya di pergelaran festival bertajuk Bangka Culture Wave, pada pekan kedua September 2016. Festival di Pantai Tongaci, Sungailiat, ini sekaligus menandai dibukanya Museum Garuda dan Buku. Di depan museum tampak patung Garuda Mukha setinggi 3.15 meter dan 9 patung garuda lainnya yang merupakan karya seniman patung asal Bali, I Made Ada. Dengan jasa Made Ade kemudian desa huniannya, Desa Pakraman Pakudui, Tegalalang, Gianyar, menjadi Desa Garuda karena kemampuan warganya menciptakan patung-patung garuda.

Yang unik adalah (mitos) garuda di Bangka merupakan perpaduan antara elang dan penyu yang secara koeksidensi Pantai Tongaci menjadi kawasan penangkaran penyu terbaik di Indonesia.

Garuda (penyu) di Bangka beserta rumah barunya bernama Museum Garuda dan Buku yang dirintis pengusaha Sian Sugito hendak menyatakan angkara politik yang dikenal sebagai Gestok atau September yang teramat kelam di tahun 1965, kita bisa atasi dengan tanda petik yang terus-menerus dibubuhkan kepadanya. Garuda bukan saja pernah menjadi saksi bisu pendarahan bangsa, tapi juga gelanggang klaim dan penghakiman: siapa penyelamat (garuda) Pancasila dan siapa pengkhianatnya.

Sudah lima puluh enam tahun sejak Garuda September itu dipentaskan di panggung politik Indonesia dan melahirkan mahapralaya bagi kemanusiaan. Kini, wayang garuda (penyu) yang diorkestrasi tiga penari dari tiga negara serumpun dalam simbol (politik) kenegaraan itu memperingatkan kembali, angkara itu tak pernah benar-benar lenyap. Ia selalu ada dan aktual. Termasuk perusakan lingkungan yang masif dan berpotensi melahirkan bencana ekologi besar.

Kita butuh imajinasi, metode, dan cara penyampaian garuda dan nilai-nilai agung Pancasila yang dibawa garuda tersebut agar menjadi watak warga sejak dari pendidikan dini. Bukan dengan jalan indoktrinasi, kekerasan ideologis lewat koersivitas, namun dengan jalan panjang gelombang pengajaran kebudayaan. Menari, musik, dan seni rupa adalah salah-tiga wujudnya. Dengan jalan kebudayaan itulah garuda bisa menjadi metode diplomasi kebudayaan dunia yang "serumpun" dalam perlambangan negara.

"Kami kira lewat garuda, bangsa dan negara Indonesia, Ceko, dan Polandia memiliki titik yang sama dalam kebudayaan. Kita bisa berkolaborasi," kata Katerina dan Ewa Miller. Ucapan keduanya nyaris presisi dengan pembangunan politik internasional Sukarno puluhan tahun silam yang menjadikan Ceko(slowakia) dan Polandia sebagai dua negara kolaborator yang hangat dari Eropa.

Garuda, pada akhirnya, adalah jalan yang memungkinkan untuk saling mengenal dan berdialog antarbangsa; gabungan rupa-rupa daerah (Garuda). [Muhidin M. Dahlan]

Katerina dari Republik Ceko memainkan Wayang Garuda di lokasi pembuangan Sukarno, Pesanggerahan Penumbing, Muntok, Bangka Barat. Foto: gev/warungarsip


* Pertama kali diterbitkan di media cetak oleh Jawa Pos Minggu, 11 September 2016.

No comments: