07 April 2014

Caleg "Orang-Bola" dari PKI di Pemilu 1955

:: gusmuh

Kalau benar partai-partai itu mendukung dunia sepak bola, berani dong memberi jatah calon legislatif dari "orang-bola". PKI sadar sepak bola itu penting. Bukan hanya teori belaka, tapi teraplikasi dalam tindakan politik. Partai lain yang menjadi lawan-lawan di Pemilu 1955 sepertinya tak pernah berpikir setaktis PKI ini. Ini eksperimen PKI yang sangat menarik sebelum puluhan tahun berikutnya kita menyaksikan partai-partai merekrut para atlit di dunia olahraga menjadi anggota parlemen.

Tindakan PKI adalah: mengambil tiga "orang-bola" untuk maju sebagai caleg. Satu kliping yang dimuat di Harian Rakjat tepat di hari pentjoblosan 29 September 1955, membuktikan tindakan politik itu. Siapa saja tiga "orang-bola" yang menjadi caleg PKI itu. Mari perkenalkan satu-satu.


Perkenalkan, Caleg RAMLAN. Dia kapten kesebelasan nasional, PSSI. Semacam "Bambang Pamungkas" pada masa itu. Berasal dari klub PSMS Medan yang "ketika melawan Salzburg dia mendjadi bintang lapangan jang terbaik dan palang-pintu kesebelasan kita jang rapat".

Ada lagi, Caleg WITARSA. PKI bilang, sosok ini adalah "kanan luar jang paling tjepat, paling tjepat, paling tjekatan dan paling taktis". Membayangkan Witarsa, kayak membayangkan Andik Vermansyah Persebaya Surabaya. Witarsa adalah pemain muda yang lagi-lagi kata PKI "pemain muda jang banjak harapan, jang berkali2 membela nama nasional kita dengan gol2nya yang manis".

Kalau RAMLAN dan WITARSA adalah caleg dari pemain yang masih aktif merumput, maka caleg ketiga dari "orang-bola", JAHJA JACUB, adalah penulis esai-esai sepak bola dan redaktur koran yang sekaligus anggota Komisi Kesebelasan Nasional Indonesia. Kata PKI, tulisan dan analisis JACUB tentang tiap-tiap pertandingan, tiap-tiap pemain berpengaruh besar atas perkembangan sepak bola semasa.

Poin-poin yang digarap PKI terkait isu sepakbola ini adalah seperti termaktub dalam sebaris kalimat ini: "Dan ditempat saudara sepakbola madju pesat tetapi lapanganbola kurang. Saudara djangan ketjilhati, ada djalan pemetjahannja". Pemecahan yang dimaksud PKI itu adalah coblos caleg-caleg dari "orang-bola" yang tahu persis bau keringat Timnas yang membasahi seragam mereka saat bertanding.

Tak berhenti di situ saja dengan menjadikan "orang-bola" sebagai caleg. Kepada suporter penggila Timnas pun, jika mereka mencoblos gambar PKI, dijanjikan bakal melihat Timnas kesayangan mereka berlaga melawan kesebelasan-kesebelasan India, Uni Sovyet, dan Hongaria.

Sayang, kliping yang saya kumpulkan hanya menemukan serangkaian panjang pertandingan Lokomotif Uni Sovyet sebulan setelah pencoblosan 29 september 1955. Artinya, PKI pegang janji kampanye mendatangkan tim Eropa Timur yang menjadi sekutu politiknya.

Pertandingan pertama Lokomotif berlangsung 6 November 1955 melawa "Persidja Djakarta" di Lapangan IKADA (sekarang Monas). Pertandingan ini disiarkan langsung RRI yang ditonton langsung Presiden Sukarno dan diguyuri hujan lebat. Kesebelasan buruh keretapi Uni Sovjet ini sukses mempecundangi "Persidja" 5-0 tanpa balas. Padahal, Persidja dihuni sederet nama keren: Freddy Davies (Gawang); Back: Hiem Tjang, Tamela (Saelan); Depan: Rudi Jan, Djamiat, Hassan, Pattypilohy, Wiem Pie.

Total gol yg dilesakkan kesebelasan buruh keretapi Uni Sovjet ini sepanjang turnya ke Indonesia yang disponsori PKI adalah 32 gol. Ke-32 gol Lokomotif itu hasil dari melawan Persidja (Jakarta 5-0), Persebaja (Surabaya 4-0), PSMS (Medan 9-0), PSP (Padang 7-0), PSSI-B (9-0), dan PSSI-A (3-1) sepanjang November 1955.

Sepakbola memang menjadi perhatian PKI, selain soal catur tentu saja. Nah, kembali ke soal caleg "orang-bola" tadi, yang kata PKI, jika "Saudara2 bisa memilih mereka sebagai anggota Parlemen. Dalam daftar apa mereka tertjantum? Dalam daftar PKI. Djangan lupa: tandagambar PKI adalah Palu-Arit".


"Tjarilah gambar PALU ARIT dalam kartu-suara! Tusuklah disini, ditempat pertemuan gambar tangkaipalu dengan arit, sampai berlubang!"


No comments: