22 May 2015

Dua Prosedur Meredam Ayam Galak untuk Jokowi

Saya sangat khawatir ayam-ayam saya menggelar pemberontakan jika terus-menerus hidup dalam kurungan besi yang kukuh, rapat, dan sempit di sisi kiri rumah saya di Bantul. Saya ngeri sendiri membayangkan pemberontakan mereka sebagaimana serangkaian percobaan pembangkangan ayam-ayam betina pimpinan Nona Ginger dalam film animasi Chicken Run. (2000, Sutradara: Peter Lord dan Nick Park; dan melibatkan 360 nama kru).

Tapi saya bukan Tuan dan Nyonya Tweedy yang berprinsip: yang tak bertelur harus mati! Betul, saya kerap dilamun godaan untuk berubah menjadi jagal. Beberapa kali malah sudah saya lakukan. Tapi bukan demi telur, tapi untuk mengurangi kapasitas kandang yang terbatas dan demi peruntukan daging yang tak seberapa. Maklum, ayam-ayam saya itu jenis pesolek. Dagingnya sedikit, bulunya yang banyak. Dan saya bukan peternak bulu. Apalagi musang berbulu tangkis seperti karya instalasi Bambang Toko.

Sebagai peternak samping rumah, saya merasa was-was kala ayam-ayam ini bertemu dengan Bilven Sandalista (nama sebenarnya), pencetak buku terjemahan “Kapital” karya Karl Marx dari Bandung. Jika sampai timbul watak pembangkangan berencana dari seisi kandang, sebagaimana ayam ternak Tweedy yang dipimpin Nona Ginger, bisa gawat. Ayam-ayam yang mulanya pesolek ini, seperti Nona Ginger yang memiliki kesabaran revolusioner mencoba pelbagai jalan pelarian, setelah membaca buku “Manifesto Komunis” yang disebar dari tangan ke tangan oleh Bilven, khawatir saya makin bergulung-gulung, mereka menjadi marxis dengan satu kepal: memberontak untuk kebebasan atau terjagal dalam mesin pembuat kue pie ayam.

Apalagi, ayam-ayam yang kini sudah tumbuh menjadi jantan-jantan muda berdarah panas itu menetas pada 1 Oktober ke kehidupan duniawi yang ganas-suram ini. Itulah sebabnya saya sebut mereka Generasi Gestok. Dan frase Gestok dalam sejarah NKRI semacam terompet darah dalam kultur berbangsa(t) kita.

DNA sejarah kehadiran yang muram itu, dan ditambah dengan tekanan dan pilihan yang hanya sejumput, memang membuat semesta bisa sangat absurd.

Saya sadar bahwa saya paranoid melihat gelagat ayam-ayam pesolek dengan paruh makin mengeras dan tajam. Dan salah dua cara meredam watak bombastis ayam-ayam jantan yang galak itu adalah: (1) jangan bikin kantong makanan di dadanya kosong. Penuhi terus dan terus. Memang menambah volume pakan yang membuat saya selalu bekerja keras menulis di KUD Mojokdotco demi tersedianya ransum. Dengan tembolok si jantan yang terus-menerus terisi, watak radikalnya perlahan-lahan dilahap lemak yang terus menggelambir.

Cara ke (2), ah Haji Lulung selalu mahabenar, jangan jauhkan jantan-jantan itu dari betina. Makin genit dan ngartis si betina, makin baik. Suara si jantan yang sok jago itu terus-menerus bikin gaduh jika si betina Anda jauhkan dari sisinya. Si jantan akan melakukan tindakan brutal apa pun jika terpisah dari si betina. Kecuali memang jantan yang bawaan wataknya pengecut/penakut saat melihat ada yang lebih kuat yang menjaga dan mendampingi si betina secara terus-menerus.

Sebagai majikan paranoid, saya tidak pernah anggap enteng ayam-ayam pecundang ini. Karena kerap pembangkangan berdarah tidak pernah dinyana-nyana datangnya. Kita mengira datang dari si jago yang sok, eh tahu-tahunya justru muncul dari para pecundang-cinta yang secara kuantitatif jumlahnya na’udzubillah. Jumlah sebesar itu jika berkomplot bisa menghancurkan si jantan sombong yang rakus dan sok jago. Bahkan merembet bisa melumpuhkan sang majikan.

Yang saya takutkan juga adalah, pejantan yang terlihat loyo, pecundang-cinta, pendiam, pasifis, dan entah apa lagi sinonim sebutannya, sesungguhnya mereka sedang menjalani asketisisme revolusioner macam Hatta (saya pinjam istilah jurnalis keren dan pintar, Farid Gaban, 2000). Hatta, prototipe asketisme revolusioner ini, demikian Mas Gaban menulis, hampir steril—tak minum alkohol, tak tertarik pada dansa-dansi, dan bahkan bersumpah takkan kawin sebelum Indonesia merdeka; sumpah yang benar-benar ditunaikannya.

Sadar dengan rupa-rupa kemungkinan itu saya mesti mengambil langkah antisipasi. Jantan berjumlah lebih dari sepuluh, jika yang masih kanak-kanak turut dihitung. Ini jumlah cukup banyak jika dibandingkan dengan betina yang hanya dua. Ini sungguh perbandingan yang timpang. Maka langkah yang saya ambil adalah menggilir si betina buat pejantan-pejantan dengan stok kecebong albino yang sedang banyak-banyaknya itu, baik jantan yang sok jago maupun jantan pecundang. Sebab semua berhak mendapat kebahagiaan dan kesenangan.

Jika tiba saatnya bertelur, si betina biasanya saya karantina supaya telurnya tidak dimangsa si jantan yang selalu punya insting untuk mematikan pesaingnya sejak dari telur. Jika waktu karantina sudah tiba—tiga hari sekali—seisi kandang yang dihuni mayoritas pejantan itu ributnya luar biasa. Suara-suara brengsek yang masuk lewat celah jendela itu sangat merusak instrumen lagu-lagu klasik mp3 donlotan yang saya putar dari laptop tua.

Tapi saya sudah ingat sebaik-baiknya prosedur yang mesti dilakukan: penuhi terus-menerus temboloknya dan jangan lama-lama pisahkan dari si betina.

Sebab lapar dan kesepian bisa melahirkan murka! Dan murka adalah pelumas terbaik yang membuat api bisa mempercepat datangnya Hari-H  keramaian!

Pak Jokowi tahu betul dua resep si majikan ini untuk meredam agresivitas ayam-ayam galak di kandangnya. Selain nonton bareng film Tjokro di Istana Negara, saya mengajak Pak Jokowi sudilah meluangkan sedikit saja waktu sibuknya untuk menonton film Chicken Run via Youtube. Hitung-hitung menjaga kewaskitaan dan siasat baru untuk membahagiakan aktivis-aktivis k*r* yang galak.

Dari kandang sisi kiri rumah, saya ucapkan salam jinak-jinak komisaris, Kamerad!



* Dipublikasikan pertama kali di web mojok.co, 22 Mei 2015

No comments: