08 October 2016

Rumah Kertas - Carlos Maria Dominguez

Bukuku TakdirkuSejak kalimat pembuk, novel ini menjanjikan untuk dibaca cepat dan menjadi teman duduk yang asyik.

"Pada musim semi 1998, Bluma Lennon membeli satu eksemplar buku puisi Emily Dikinson, Poems, di sebuah toko buku di Soho, dan saat menyusuri puisi kedua di tikungan jalan pertama, ia ditabrak mobil dan meninggal." (hlm. 1)

Masalah pun langsung dijeratkan kepada pembaca, seperti dua ruas belokan: Bu Dosen Bluma meninggal karena ditabrak mobil atau Bu Dosen Bluma tewas karena buku puisi.
Ini "memoar" menggugah tentang buku dan pemanggul-pemanggulnya yang setia. Tentang mereka yang takdirnya tumbuh dan tumpas bersama buku. Tentang cinta dan ketaklukkan pada pesona yang diuarkan buku. Dan juga soal kutukan buku yang tanpa kabar mengantarkan pembaca ke sebuah dunia bibliografi dengan ketakjuban yang tak putus-putus.

Carlos Maria Dominguez (CMD) lewat novelet ini berambisi meletakkan buku sebagai nubuat hidup-mati dan kegilaan yang aneh ketimbang sekadar dunia niaga dalam pelbagai pasar raya buku. Terutama dalam sebuah masyarakat yang percaya magis lebih dari apa pun sebagaimana masyarakat di seantero Amerika Latin dan negeri bekas jajahan lainnya di Asia dan Afrika.


Novelis kelahiran Buenos Aires, Argentina pada 1955 dan tinggal di Montevideo, Uruguay ini menandaskan bahwa buku adalah dunia khas, oleh karena itu pengalaman membaca selalu menjadi praktik yang memukau dalam wabah kelisanan yang menjerat kota di mana gawai dengan kabel-kabel kecil menjuntai kita temukan di setiap pejalan dalam kota hingga di kampung-kampung. Kata Carlos Maria, itu fenomena yang ditemukannya di Buenos Aires, juga di kota-kota negara bekas jajahan lainnya. (hlm. 13)

Dalam pengembaraan mencari tokoh Carlos Brauer yang diyakini punya hubungan dengan kematian Bluma Lennon di paragraf pertama di jalanan Cambridge, London, Carlos Dominguez menyindir dengan telangas dunia buku yang riuh ini. Kata penulis novelet yang aslinya berjudul La casa de papel ini, begitu banyak novel yg terbit, begitu sedikit yang mempercakapkannya. Orang-orang sibuk dengan gosip dan percakapan apakah ia menghadiri undangan peluncuran buku atau tidak, apakah bukunya menyasar kritikus akademis atau peresensi koran Demikianlah, lalu ada penulis yang tiba-tiba kaya dengan buku payahnya karena divisi pemasaran yang bekerja seperti pemabuk yang dianugerahi jam kerja tanpa batas. (hlm 15)

Buku ini memandu kita memasuki dunia fiksi ciptaan Marquez, Borges, Lope de Vega hingga Quevedo. Buku ini memperkenalkan kita peta Amerika Latin lewat pesona buku-buku bermutu yang diciptakan para penulis mereka. Juga peta perniagaan buku tua dan kisah penerbit-penerbit antiquariat lewat kisah kegilaan seorang bibliofil asal Uruguay bernama Carlos Brauer.

Tak ada satu pun dinding rumahnya melompong dari buku. Ia pemburu buku-buku cetakan pertama, dan sekaligus memperlakukan buku dengan sangat hidup. Bahkan, ia menata bukunya menyerupai sosok figuratif seseorang yang membaca buku. "Kami bahkan tidak tahu apakah judul-judulnya dipilih dengan sengaja, meskipun teman kami melihat satu buku terbitan Conde de Siruela; bagian kepalanya, buku-buku Bravarios del Fondo de Cultura Economica; kakinya beberapa terbitan Losada. (hlm 40)

Bukan sampai di situ saja. Maksud saya, bukan hanya menyingkap misteri hubungan praktik membaca dengan kebiasaan orang sambil mendengarkan musik (hlm. 41-42); atau pertemuannya dengan dosen sastra Amerika Latin Bluma Lennon di Cambridge yang ingin mati ditabrak mobil dengan buku puisi Emily Dickinson di tangannya, dan si Brauer apa boleh bikin mengulurkan koleksi Poems-nya untuk dibawa mati si dosen cantik (hlm. 47); Carlos Dominguez justru menemukan dan mencatat kegilaan paling puncak Brauer yang membangun rumah dengan berdindingkan buku-buku.

Bermula dari kutipan bahwa buku bisa melindungimu dari angin dan hujan serta musim dingin yang membekukan nadi. Juga tentu saja dari apatisme yang akut dengan cara perpustakaan yang dikelola pemerintah menyelamatkan buku dari vandalisme dan tangan-tangan maling, Brauer pun memutuskan meninggalkan Kota Montevideo dan menuju pesisir di kawasan Rocha. Ia bertekad membangun rumah di sana. Rumah buku. Dalam perpindahan itu ia bawa serta bertruk-truk bukunya sebagai, ya ampun, sebagai bahan baku bangunannya. Brauer tak sedang membuat perpustakaan atau taman bacaan untuk masyarakat terpencil, tapi bereksperimen mempertemukan dan mengikat buku-buku dengan semen.

Mula-mula Brauer menyuruh kuli merangkai kusen jendela di atas pasir, kusen untuk dua pintu, lalu membangun satu sisi dinding batu, dan perapian. Dan, si kuli pun dibebaskan memilih buku-buku sesukanya untuk dijadikan dinding dan lantai dalam adonan semen dan kapur. Buku sebagai pengganti batu bata, pikir Brauer, cukup artistik. Dan lebih penting lagi mengakhiri cerita-cerita percekcokan antarpenulis atau kontradiksi antara Spinoza, botani Amazonia, dan Aeneas-nya Virgilius. Ia pun memupur dalam adonan semen semua kecerewetan apa pun perihal penjilidan buku yang kuat dan asal-asalan, apakah ada ilustrasi etsa dan ukiran di dalamnya. Yang penting bagi kuli itu adalah menyusun buku itu serupa batu untuk dinding. Satu ensiklopedia misalnya dipasang oleh si kuli di sudut. Sejilid Borges diulurkan Brauer kepada si kuli untuk dipaskan di bawah kusen jendela, Vallejo untuk pintu, Kafka di atasnya, dan di sampingnya Kahn dan edisi hardcover Farewell to Arms-nya Hemingway. Tak usah ditanya di mana Cortazar dan Vargas Llosa yang doyan menulis tebal-tebal itu. Atau Valle-Inclan dan Aristoteles, Camus dan Morosoli, Shakespeare dan Marlowe. Semuanya sudah lengket satu dengan lainnya dalam ikatan semen. Semuanya menemui takdirnya menjadi tembok-tembok di Rumah Kertas, La casa de papel.

Nah, tahulah kita bahwa buku tak sekadar soal laba-rugi, adu syahwat proyek buku ajar di sekolah, dan serangkaian pidato dengan mengutip angka-angka persentasi minat baca yang jeblok. Buku melampaui kisah fraktal macam itu. Buku, seturut Carlos Maria Dominguez, adalah soal takdir di mana nasib manusia ditentukan dengan cara yang tak pernah biasa. Juga takdir mengeras dalam "Rumah Buku". [Muhidin M. Dahlan]



Judul: Rumah Kertas
Judul Asli: La casa de papel
Penulis: Carlos Maria Dominquez
Penerjemah: Ronny Agustinus
Penerbit: Marjin Kiri, September 2016
Tebal: 76 hlm

* Dipublikasikan pertama kali di Harian Koran Tempo, 8-9 Oktober 2016 dengan judul "Kisah Para Penggila Buku".



No comments: