08 November 2007

Tuhan Izinkan Aku Rajam Pelacur (4-terakhir)

oleh heri bahtiar, ss, m.si

Aku terlebih ngeri pada lengking amarahmu. “Semua lelaki adalah bangsat. Juga semua aturan yang mereka buat dengan membawa-bawa Tuhan dan agama. Nantikan kutukanku, lelaki”. Apakah agaknya, karena perempuan suka mengutuk itu lantas Tuhan tak pernah mengirimkan utusan dari jenis golonganmu? Tuhan mengutus rasul-Nya jelas melalui tujuan yang sepenuhnya hikmah, bukan karena prasangka bias gendermu yang naif, karena kompetisi kuasa atau permainan zero sum game dalam oposisi biner (binary opposition): harus lelaki atau perempuan saja yang dominan menghuni kolong langit ini.

Nidah, aku sama sekali tidak peduli dengan sumpah serapahmu itu, tetapi aku takut betul pada keperkasaan nafsu amarah! Bahkan amarahmu itu telah menutupi lelakonmu dari cara mengambil hikmah, dosa yang dihikmahi katamu. Apa mungkin? Sebab menurutku, salah satu adab menghikmahi dosa itu yang pertama-tama adalah dengan pertaubatan. Jika pertaubatan sudah diterima, maka masa lalu itu moga-moga bukan lagi disebut atau bermakna dosa lagi, atau lebih tepatnya bisa disebut bekas dosa. Tetapi apakah pernah terlintas di hatimu tentang pertaubatan?

Alih-alih berbicara tentang taubat, engkau malah berprentesi menjadi Dewi Api, yang panas amarahnya bisa menghanguskan biji-biji besi menjadi logam, katamu. Bagaimana mungkin menghikmahi dosa jika engkau masih senantiasa bangga hati dengannya. Sungguh amat jauh dengan panggang dari api. “Janganlah engkau mengaku beriman sedangkan engkau belum pernah menghadapi ujian yang berat.” Atau, engkau cobalah dengar, rasa penyesalan bakal menimpa para penghuni neraka, “Yaa laitani kuntu turoba…! (Duh, alangkah beruntungnya seandainya dulu aku diciptakan Allah menjadi hanya seberkas debu saja. Pasti beratnya penderitaan ini tidak bakalan menimpaku).

Nidah, sebetulnya aku ingin mendengar dari mulutmu sendiri cerita dan contoh konkret kasusmu supaya aku bisa mengukur, apakah kau betul-betul mempersiapkan pilihan untuk sad ending (suul khotimah) ataukah happy ending full barakah (khusnul khatimah). Sebab, jika kuikuti pernyataanmu huruf demi huruf, menurut impresiku, dan semoga aku salah, engkau sedang menuju jalan sad ending. Apa memang begitukah maumu?

Aku juga ingin berdiskusi dengan temanmu yang membawa-bawa si “Deutch ubers all” Erich Fromm, tentang Tuhan alam dan Tuhan sejarah. Katanya, Tuhan alam dan Tuhan yang berada di tempat yang siapa pun tak bisa menjangkaunya atau bahkan kau dan aku sama sekali belum pernah memikirkannya. Sementara “Tuhan Sejarah” adalah Tuhan yang menyata, Tuhan yang merealitas, Tuhan yang hidup dalam tafsiran dan alam pikiran manusia” (Nidah; 14). Itu mengandung contraciditio in terminus, tidakkah kau mengerti? Betul konsep Erich tentang Tuhan alam, jika yang dimaksud itu ialah Allah yang “laisa kamislihi syaiun, wa huwa ‘ala kulli syaiin qadir” (Tidak ada sesuatu pun yang menyerupainya, dan Dia maha kuasa atas segala sesuatu (QS.46:11).

Allah itu tidak ada sesuatu pun yang menyamainya, atau yang dalam term Jawa disebut “tan keno kinoyo ngopo” . Tidak memungkinkan terjadi pertanyaan, ”Tuhan itu seperti apa dan dimana”. Tetapi penyebutan Tuhan alam itu salah, sebab alam itu makhluk atau ciptaan, sedangkan Tuhan itu yang menciptakan makhluk atau alam (Khalik).

Sementara di sisi lain, konsepsi tentang Tuhan pada kebanyakan agama dan terutama pada agama ardhi (bumi), memang sebagainya merealitas. Tetapi ingatlah kau Nidah, ada konsep tentang Tuhan yang tidak merealitas, melainkan hanya tafsirannya saja yang merealitas objektif dan menyejarah. Dalam ajaran Islam, ada keyakinan prinsip bahwa, ”karena kita tidak tau apa pun tentang Allah, atau Allah itu tidak mungkin dipahami oleh manusia, maka Allah mengabarkan diri-Nya sendiri kepada manusia”.

Jadi di dalam ajaran Islam, ada konsep tentang Tuhan oleh Tuhan yang diwahyukan kepada manusia melalui perantaran Rosul-Nya. Nah, interpretasi tentang konsep Tuhan inilah menyejarah sesuai dengan tingkat pemahaman akal manusia yang tergantung skala spasi temporalnya pada konteks sejarah, budaya dan kemanusiaan.

Lantas, apa yang kau maksud tidak percaya lagi pada iman formal? Sebab semau agama mempunyai doktrin keimanan formal. Kalau begitu, apakah model keimananmu yang bukan iman formal itu semacam kaimanan tanpa terikat dengan agama tertentu seperti penghayat kepercayaan itu? Rasanya tidak Nidah, sebab seluruh term dan kosakatamu adalah Islam. Itulah tadi yang aku sebut dua bahaya darimu, pada “keberanian” dan tekadmu melawan iman formal.

Aku tidak terkejut mendengar kisahmu tentang esensi dan substansi kemanusiaan, yang kadang bertubrukan dengan performa sosial mereka. Sebab Tuhanku selama ini telah mengajariku bahwa keutamaan seseorang ini adalah pada taqwanya, dan hal itu terkadang terkesan saling menegasikan. Etos ascetisme atau kesalehan (al-zuhdu) terkadang berbenturan dengan status sosial ekonomi atau kode lain dalam stratifikasi sosial. Aku, kalau boleh ingin memberimu sumbang saran, sumbang pikiran, “Tolong menolonglah dalam kebaikan dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan.”

Menurutku permohonan izinmu untuk menjadi pelacur, itu sama sekali bukan sebuah permohonan. Sebab seperti argumenku di atas, hal itu lebih tepat disebut memaksa-maksai Tuhan, alangkah hebatnya engkau Nidah? Engkau memflait ac-compli Tuhan. Dalam konteks ayat di atas maka engkau melalui memoarmu itu nyata-nyata “telah bertolang-menolang” dalam dosa dan permusuhan. Barangsiapa membiarkan terjadinya maksiat padahal ada kuasa untuk menolaknya, maka ia berarti ambil bagian dalam dosa itu.

Nidah, sebagai pelengkap memoir-bandinganku ini, dalam pembicaraan-pembicaraan pada bab seterusnya, aku ingin mengajakmu mengurai benang masai pengalamanku, yang semoga pertama-tama bisa meneguhkan keyekinanku tentang betapa pentingnya menghikmahi pengalaman. Seterusnya kemudian, semoga bisa diambil i’tibar, entah betapa pun kecilnya, dari cara menghikmahi getirnya pengalaman itu. Terlebih,siapa tahu kita bisa mengamalkan ayat Gusti Allah yang lain, agar kita bisa saling “tawasau bil haqq watawasau bi al-shabr. Saling menasehati dengan keberanian dan sabar (QS.103:3).

* Digunting dari “Pendahuluan” buku Tuhan, Izinkan Aku Rajam Pelacur! Memoar Autobiografi Kerang yang Terluka. Untuk lebih lanjut silakan baca buku dengan judul tersebut.

7 comments:

kkkkk said...

aku mo minta file "tuhan ijinkan aku menjadi pelacur" dalam bentuk pdf/word/alamt sharenya dong!!!
mohon kirimkan ke email hawk_keem@yahoo.com

deki said...

ass. kalo boleh minta filenya juga ya " Tuhan ijinkan aku jadi pelacur "
kelihatannya bukunya menarik banget, nanti tolong dikirim ke alamat ini:
all_aboutkiki14@yahoo.com
makasih

Anonymous said...

k q ingin baca buku2x dalam bentuk e-book dong.... atw bisa g k dikirim d email aq (mhieng.spunk@gmail.com)

Harisafietha said...

Ini bagus sekali bahkan cewek saya sangat favorit dengan cerita ini...... So, I Like This!!!!!!!!!!!!

YbnAv on said...

Assalamualakum, saya boleh minta file "tuhan ijinkan saya menjadi pelacur" dalam bentuk ebook atau pdf g?
soalnya buat temenku yang kayaknya sama kejadiannya dengan cerita itu jadi aku pengen nunjukin ke dia..
mohon dikirim ke ybnav_on@yahoo.com ya..
terima kasih bantuannya

fredyrio panny said...

bro minta dong file pdfx....
fredyriopannypongtengko@gmail.com

Husnatilahunga Herman said...

Bagus banget, tlong dong file pdfnya... husnadjtilahunga@yahoo.co.id.
Tq ya...