26 April 2015

Seabad Bintang Mataram dan Industri Pusaka

Antara djam 9 malam, pertemuan conferentie laloe diboeka oleh voorzitter comite toean Daslam Hadiwasito. Hal mana ada satoe tanda bahoea soedah sampai temponja dalam kalangan Indonesier diadakan matjam itoe badan persatoean. (Bintang Mataram, April 1930)

Medio April 1930. Tujuh bond (klub amatir) sepakbola hadir di Jogjakarta untuk bertanding dalam sebuah kejuaraan di Alun-Alun Utara.

Bukan pertandingan di lapangan berpagar gedheg (anyaman bambu) tersebut yang kemudian dikenang sejarah, namun pertemuan ketujuh pengurus klublah yang kemudian dicatat menjadi fase penting yang melahirkan PSSI. Organ sepakbola boemiputra yang keluar dari bond-bond sepakbola bikinan Belanda. 

Bintang Mataram menjadi saksi bagaimana PSSI itu lahir dari lapangan berpagar gedheg di era: “Kapan Djokja djadi terang? Itoe boleh toenggoe 100 tahoen lagi”. 

Kini, di sini, April 2015, organisasi sepakbola yang disaksikan koran Bintang Mataram yang tahun ini usianya satu abad itu dibekukan.



Bintang Mataram adalah koran yang pertama kali terbit pada 1915 dan terhempas ketika PSSI belum lama lahir. Dan saat PSSI dibekukan, Bintang Mataram justru kembali muncul di Jogjakarta; bukan sebagai koran; melainkan kedai kopi.

Menghadirkan artefak pers dalam bentuk yang berbeda dan bersemangat kekinian adalah siasat dan sekaligus cara memuliakan kultur koran yang dipersembahkan masa silam atas kehidupan kita saat ini.

Artefak masa silam umumnya disebut pusaka (heritage). Dan pers adalah artefak yang berkenaan dengan gelombang pemikiran dan semua kisah pencarian dan pertumbukannya yang melelahkan. 

Dalam tradisi jurnalistik Indonesia yang panjang kita mendapatkan sebuah tradisi pencarian yang kompleks tentang format, pesan, dan kreativitas. Galib diketahui, pers produsen, penyalur, dan sekaligus industri informasi. Namun, pers juga adalah sebuah pembayangan tentang gerak maju sebuah masyarakat yang terus berubah dan penanda bagaimana kebangsaan dan kenegaraan dibentuk dan dibangun secara bersama.

Pada Bataviase Nouvelles yang terbit pertama kali tahun 1744, pers menjadi kekuatan yang mendistribusikan informasi ekonomi perdagangan dan sekaligus membentuk bayangan postur Kota Batavia masa depan sebagai kota ekonomi dan gaya hidup. 

Di era Kebangkitan Nasional yang memunculkan Medan Prijaji, peran pers bergeser ke titik pendistibusian gagasan kebangsaan. Praktik dari itu kita bisa lihat dengan munculnya gerakan-gerakan kebangsaan untuk kebebasan dan kemerdekaan yang semuanya bersandar pada tradisi jurnalistik semasa. Seperti Oetoesan Hindia/Surabaya (Tjokroaminoto), De Expres/Bandung (Douwes Dekker dkk); Doenia Bergerak/Surakarta (Marco Kartodikromo); Sinar Djawa/Semarang (Semaoen); Soeara Moehammadijah/Jogjakarta (Achmad Dahlan); dan seterusnya. 

Di era Indonesia Merdeka, pers menjadi ikon penting pencarian konsensus-konsensus politik bagaimana kita membentuk dan menata negara. Perang, diplomasi, dan liberalisasi partai adalah paras yang tergambar dalam perwajahan depan pers kita. Perwajahan pers kita itu bergeser secara signifikan saat Orde Baru membangun tatanan kebangsaan baru yang bersandar pada pembangunan ekonomi dan sosial. 

Pers yang berpolitik di masa "Revolusi Belum Selesai" kemudian menjadi pers yang mendistribusikan informasi dan gagasan pembangunan sosial serta “Demokrasi Pancasila”.

Tatkala nilai-nilai reformasi tentang perayaan kebebasan dan impian ketertiban hukum menjadi kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, perwajahan pers kita berada di lajur penguatan suara sosial dan politik massa yang kritis dan terbuka; sekaligus  secara perlahan-lahan perwajahan pers itu bermetamorfosis sebagai medium yang memediasi industri kreatif. Dalam praktiknya, postur pers yang muncul saban waktu adalah gabungan antara advertising, entertainment, traveling, plesure, edutainment, dan life style

Salah satu tendensi yang bisa kita rasakan di dalamnya adalah kemunculan edutainment dengan menjadikan dokumen historis sebagai pembelajaran baru yang kreatif.

Industri Pusaka

Pers yang sifatnya segera, sementara, pendek, yang bergerak bersama pendulum dalam masyarakat yang merindukan sesuatu yang lampau, abadi, yang dari sana ingatan dirawat, bisa kita kreasi dan pertebal arsirannya dalam industri pusaka.

Industri pusaka (heritage industry) adalah ekonomi yang bersandar pada lempengan ingatan masa lampau untuk kreativitas kekinian yang bisa terlihat dari tendensi praktik dalam penulisan novel, revitalisasi kota lama, investasi barang seni, dan bahkan pertunjukan ingatan yang berlangsung ekstensif.

Pers tidak bisa lagi kita kucilkan sebagai sekadar “produsen informasi”. Dan kelak setelah berhenti terbit kemudian dikumpulkan dalam satu kuburan massal bernama museum pers atau perpustakaan nasional. Dibiarkan fosil yang tergeletak di kamar berpendingin itu membeku dan menunggu diziarahi segelintir manusia langka bernama sejarawan.

Pers berpeluang berada dalam irisan industri pusaka tatkala dunia dilanda demam masa lalu di ruang kebudayaan populer. Lahirnya tayangan dokumenter atau film-film tentang Perang Dunia II atau Masa Keemasan Kerajaan dan Dinasti di negara-negara industri maju seperti Amerika, Inggris, Tiongkok adalah indikasi menarik bagaimana pertunjukan ingatan dalam kelampauan-jauh bisa menjadi industri kreatif baru hari ini. 

Dalam konteks Indonesia, tendensi itu bisa kita lihat dari lahirnya film-film berbasis Revolusi Kemerdekaan dan narasi tokoh-tokoh pejuang (KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy'ari, Soegija, Soekarno, dan kini Tjokroaminoto) yang dikemas dalam visual dan warna dengan citarasa yang sama sekali baru dan segar. Novel lama, sejarah kerajaan, padepokan silat, kisahan perjalanan dan film memoar; kini telah menjadi bahasa kebudayaan mengimbangi kesegeraan facebook, twitter, instagram, dan keluarga besar sosmed lainnya. 

Pada kenyataan Industri Pusaka semacam itulah kita tempatkan kembali peranan pers yang memiliki sifat umum: segera, sementara, pendek; sementara masyarakat juga bergerak ke arah pendulum lain, merindukan sesuatu yang lampau, abadi yang merawat ingatan.

Memuliakan Koran

Usaha menghidupkan pers yang pernah hidup di masa yang jauh di jantung kehidupan kekinian memang bukan sesuatu yang mudah. Namun hal itu bukan tidak bisa dilakukan, selain mencari cara gampangnya: mengonggoknya dalam kuburan bernama museum dan perlahan-lahan untuk dilupakan.

Newseum Indonesia, misalnya, memilih menghidupkan pers dalam medium senirupa (lukis dan desain grafis) dan sekaligus sebuah ruang kreatif. Kedai kopi “Bintang Mataram 1915” yang berada di Bantul, Yogyakarta, adalah salah satu usaha menghidupkan artefak pers Indonesia itu. 

Melalui “Bintang Mataram 1915″ nama artefak pers itu kembali dijadikan lingua franca dalam percakapan dunia gawai—atau paling tidak koran yang pernah berkegiatan di Jl Toegoe Jogja itu terekam lagi oleh mesin pencari google yang menjadi simbol kehidupan kiwari. 
Dari ruang kreatif itu, dari belakang meja kedai itu, kita bisa mengunjungi sebuah dekade awal abad kota di mana pers itu hadir. Merasakan lagi sebuah derak yang beriringan dengan semangat pergerakan yang sedang pasang di tiga dekade awal abad 20.

Demikianlah, Bintang Mataram tersuruk saat menyaksikan PSSI lahir di Jogjakarta. Tapi saat PSSI lelah dan tua dan dibekukan pemerintahan Joko Widodo, Bintang Mataram justru berkelip lagi dalam wajahnya yang lain. Bergabung dalam satu tarikan zaman yang menuntut kecepatan dan sekaligus generasi yang memendam kerinduan pada masa silam yang jauh.

* Dipublikasikan pertama kali koran Jawa Pos Minggu, 26 April 2015

No comments: